Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Pertempuran


__ADS_3

Pertempuran itu terasa berat sebelah meskipun jumlah dari pihak musuh lebih besar tetapi mereka tidak punya keunggulan karena bukan saja kemampuan mereka yang tidak setara namun juga karena mereka tidak menguasai medan.


Hutan di sekitar desa Genteng sudah ditata ulang oleh Joan, selain mempertahankan hutan produksi, Joan juga membuat pertahanan alami di dalam hutan di sekitar desa dengan membuat pola labirin sehingga orang bisa masuk tetapi akan sulit keluar bila tidak menguasai polanya.


Hutan itu juga memiliki vegetasi yang sangat lebat sehingga orang sulit untuk melihat matahari dari kedalaman hutan itu. Ini menyebabkan orang yang lolos dari penyergapan itu akhirnya hanya berputar-putar di dalam hutan.


Mereka semua berasal dari ibukota, tentu saja mereka sangat asing dengan profil daerah itu. Pimpinan dari pasukan pembunuh itu sangat menyesal telah menerima tugas itu karena mereka membawa rekan sebanyak tiga ratus orang tetapi sekarang hanya ada sepuluh orang yang dapat meloloskan diri. Itupun mereka adalah orang-orang yang berilmu paling tinggi diantara orang-orang yang dikirimkan untuk tugas ini.


"Uh, sialan, mengapa tidak ada yang memberitahu kita kalau ada Master Lung di sana. Kukira ini tugas yang mudah, hanya menangkap pangeran ketiga yang lemah karena keracunan. Siapa mengira".


"Ya benar, tadi aku melihat dia tidak seperti orang yang keracunan. Siapa yang bilang dia lemah, rasanya aku mau memotongnya menjadi lima bagian dan bagaimana desa kecil itu memiliki pasukan yang begitu kuat"


"Ya, bukan hanya kuat tetapi pasukan mereka bukan hanya terdiri dari pasukan penjaga bayangan pangeran ketiga tetapi juga ada kulihat diantara mereka anggota organisasi pembunuh Bayangan hitam dan yang mengejutkan aku, ada master Lung, dia wakil ketua pimpinan organisasi pembunuh Bayangan hitam".


"Itulah yang membingungkan aku, meskipun organisasi pembunuh Bayangan hitam itu merupakan saingan kita selama ini tetapi mereka tidak pernah bersilangan dengan mereka. Aku lalu mendengar bahwa pangeran pertama juga telah menugaskan mereka untuk memburu pangeran ketiga. Kenapa hari ini mereka justru membantunya ".


Para pembunuh itu saling berbicara diantara mereka, tentu saja dibenak mereka yang paling liar sekalipun, tidak akan pernah mereka pikirkan bahwa pasukan pembunuh bayaran Bayangan hitam ini sudah bergabung dengan desa Genteng karena mereka semua tahu tingkat kesulitan bagi orang-orang semacam mereka untuk meninggalkan organisasi.


Mereka biasanya lebih suka bunuh diri daripada mengkhianati organisasi karena seumur hidup mereka tidak akan pernah lepas dari menjadi buronan bahkan keluarga mereka juga tidak akan terlepas dari bahaya meskipun keluarga tidak mengerti profesi mereka yang sebenarnya.


"Benar, tetapi kok kelihatannya kita semua dari tadi hanya berputar-putar di tempat ini ya".


"Coba kita berjalan lagi, Kok Seng lukai kulit pohon yang sudah kita lewati agar kita tidak kembali melalui jalur yang sama"


Kok Seng yang bernama lengkap Mang Kok Seng ini segera melakukan perintah bosnya. Dia yang berjalan paling belakang, menorehkan pisaunya ke tiap pohon yang mereka lewati dalam jarak berapa meter tetapi setelah berjalan seharian, betapa frustrasinya mereka karena mereka menemukan bahwa mereka kembali di jalan semula dimana mereka berada sebelumnya.


Setelah mencoba berapa jalur lain dan tetap kembali juga ke jalan semula, mereka hanya bisa berpandangan saja dan mulai merasa stres tetapi seorang di antaranya memiliki ide, dia memanjat naik ke sebuah pohon yang cukup tinggi untuk melihat keadaan sekelilingnya tetapi yang dia lihat, hanya hijaunya dedaunan yang lebat yang mengisi semua bidang tanah hutan sejauh matanya memandang.


Dia melompat turun kembali, menemui rekan-rekannya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berkata dengan berat


"Maaf, kelihatannya tidak ada jalan keluar yang terlihat dari atas, lebih baik kita mendirikan tenda dan beristirahat untuk malam ini dan besok baru kita akan kembali mencari jalan keluar ".


"Ya benar, aku juga sudah merasa lelah".


Mereka segera mendirikan tenda dan beristirahat di sana malam itu, mereka tidak berani membuat api unggun karena takut itu akan menarik perhatian musuh. Mereka hanya bisa makan daging kering dan roti yang keras untuk makan malam.


Itupun mereka sudah merasa sangat bersyukur mengingat teman-teman mereka yang tidak tahu bagaimana dengan nasib mereka saat ini. Malam itu ditakdirkan menjadi malam yang panjang bagi mereka. Sudah dibuat giliran untuk berjaga tetapi tetap saja itu tidak membuat mereka menjadi tenang sehingga tidak ada seorangpun yang bisa tidur nyenyak malam itu.

__ADS_1


Ditengah malam, bola-bola mata bersinar biru seperti menyala terang dikegelapan malam, sontak membuat yang berjaga menjadi berwaspada. Sedikit gerakan itu otomatis membangunkan rekan-rekannya yang lain yang hanya menutup mata tapi sulit untuk tidur nyenyak.


Mereka sudah dalam keadaan siaga tempur ketika sinar mata itu meredup dan menghilang begitu saja. Tidak ada seorangpun yang berniat memeriksa apa yang diwakili oleh sinar mata berwarna biru itu. Hening dalam berapa saat, mereka pelan-pelan melepaskan kewaspadaan mereka dan hendak kembali beristirahat ketika tiba-tiba.


"Whoarrrr".


Satu raungan yang keras membuat tanah yang mereka injak menjadi bergetar, sontak mereka terbangun lagi dan memegang erat senjata mereka. Mereka diam menunggu menantikan serangan yang akan datang tetapi tidak ada gerakan apapun, keadaan kembali dalam keheningan yang aneh.


Mereka saling memandang satu dengan yang lain. Menggeleng, sama-sama tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tidak ada apapun yang berlaku seolah suara itu bukan berasal dari dekat mereka.


"Whoarrrr".


Raungan itu terdengar lebih keras lagi, tanah kembali bergetar, membuat mereka tidak dapat berdiri dengan tegak, tidak ada apa-apa lagi. Masih keheningan yang sama, tidak ada gerakan apapun.


Dahi mereka dipenuhi dengan keringat, malam itu sangat dingin tetapi entah kenapa mereka merasakan udara menjadi panas.


Mereka merasa sangat tertekan, seorangpun berteriak melemparkan kekesalannya.


"Sialan, jangan cuma bisa menakut-nakuti kami, keluar, bunuh kami kalau kalian mampu".


Tidak ada suara apapun yang keluar untuk membalas pertanyaannya. Keheningan yang aneh, bulu kuduk mulai berdiri. Suara raungan itu tidak terdengar lagi.


"Whoarrrr, Whoarrrr"


Dua raungan terdengar berturut-turut, tanah bergetar kembali lebih keras, tubuh mereka bergoyang tetapi kembali tidak terjadi apa-apa.


Hal itu berulang setiap setengah jam sekali, malam itu mereka benar-benar stres dan lelah. Mata mereka masing-masing dilingkari oleh garis hitam. Tidak ada seorangpun dari mereka yang tertidur, mereka hanya berdiri sepanjang malam dengan perasaan lelah dan tidak berdaya.


Saat tirai malam terangkat dan sinar matahari masuk disela-sela diantara rimbunnya dedaunan, mereka melihat sekelilingnya. Tidak ada jejak kaki apapun di atas tanah di sekitar mereka, dari raungan dan getaran tanah. Mereka menyimpulkan seharusnya hewan yang sangat besar yang datang semalam.


Aneh tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka, tidak ada jejak kaki, tidak ada ranting yang patah, seolah semalam hanya suara semalam hanya ilusi.


Di bagian yang lain, agak jauh dari tempat mereka berada. Sekelompok orang yang tampak gembira bersama-sama mengelilingi api unggun yang hampir padam, menikmati kopi panas yang uapnya masih mengepul dan daging panggang masing-masing ditangan mereka.


"Bagaimana Andi, apakah kita akan menangkap mereka saat ini ataukah kita membiarkan mereka untuk satu malam lagi".


Master Lung yang bertanya, dia terlihat sangat senang sekali.

__ADS_1


"Terserah master Lung, apakah masih mau bermain dengan mereka lagi, aku sudah memberi kabar kepada Joan dan dia akan datang besok pagi "


"Okelah, kalau begitu sambil menunggu kedatangan nona, kita biarkan mereka menikmati kesenangan semalam lagi"


Mo Yi dan kawan-kawannya berpikir, kesenangan apa, yang ada pasti perasaan stress dan gelisah yang dialami oleh sepuluh orang dari kelompok pembunuh bayaran Atap langit itu. Memang semalam adalah perbuatan mereka, mereka membawa sepuluh ekor Serigala berjubah perak itu untuk mengitari tenda orang-orang itu. Membawa badak bercula tiga untuk meraung di dekat tenda orang-orang yang tidak beruntung itu. Ada pintu rahasia untuk keluar masuk labirin itu yang tidak mungkin diketahui orang lain selain para penjaga desa Genteng.


Hari itu kembali menjadi hari yang melelahkan dan membingungkan bagi sekelompok orang tersebut. Kembali mereka mencari jalan keluar dan kembali berputar-putar hanya untuk menemukan bahwa mereka akan kembali di titik semula, ada banyak pohon yang ditandai dengan cara berbeda. Anehnya mereka tetap tidak bisa menemukan pohon yang sudah ditandai di hari sebelumnya.


Malam itu saat mereka sudah sangat lelah, kejadian semalam terulang lagi. Lingkaran hitam di mata mereka semakin tebal dan mereka semakin stres.


"Ah, kami menyerah, sudah habis saja kami. Lebih baik aku mati terhormat di tangan kalian. Ayo keluar dan bunuh kami sekarang".


"Menyerah, ha ha ha".


Sesosok tubuh tiba-tiba terlihat di sana, seorang perempuan muda.


"Get On".


Perempuan itu mengatakan sesuatu, sekejap sepuluh orang itu menghilang dan dalam sekejap juga, mereka sudah muncul kembali, berbaris dengan rapi dihadapan perempuan itu. Kali ini dia tidak sendirian, sekelompok pria tiba-tiba muncul di belakangnya.


Mereka dengan perasaan kagum dan pandangan memuja melihat punggung kecil perempuan itu dan sepuluh pembunuh bayaran Atap langit itu membungkuk dan memberi hormat.


"Nona muda"


Dan nomor -nomor baru diberikan sebagai nama.


Rong Tus Lu


Rong Tus Pat


Rong Tus Mo


Rong Tus NEM


Rong Tus Tu


Rong Tus Lu

__ADS_1


Rong Tus Ngo


Rong Tus Pul....


__ADS_2