
Andi menarik Joan untuk meninggalkan keluarganya di ruang tamu, dia mengajak Joan berjalan-jalan di taman belakang. Andi sudah menyuruh Mo Yi mengusir semua penjaga dan pelayan di taman itu.
Tidak puas dengan itu Andi memasang aray persembunyian sehingga tidak ada seorangpun disekitar tempat itu yang dapat melihat mereka.
Belakangan dia selalu merasa merindukan bibir Joan yang manis, terbayang-bayang ciuman yang menggairahkan dan pertama kali dia rasakan dalam hidupnya, memang kalau belum pernah dicoba, tidak ada keinginan untuk itu. Tetapi sekali dirasakan jadi bikin ketagihan.
Andi menarik Joan dihadapannya, dia memeluk Joan dan tanpa ba bi bu lagi, dia mendaratkan bibirnya diatas bibir Joan, ********** dengan rakus tanpa menyisakan sedikit remah di sana.
Joan merasakan kekosongan oksigen di otaknya, dia tersengal-sengal dan tersedak. Anehnya meskipun hal itu sedikit membuatnya panik pada awalnya tetapi selalu berikutnya menjadi kemanisan di jiwanya.
Joan pikir kenapa dalam kehidupan sebelumnya dia tidak cepat-cepat menemukan kekasih untuk diajak bereksperimen melakukan berbagai jenis ciuman itu.
Setelah berjalan berapa saat akhirnya ciuman yang menggairahkan itu berakhir juga. Andi meraba bibir Joan yang sedikit bengkak, sambil meminta maaf.
"Maaf, kalau aku menyakitimu, aku selalu tidak dapat menahan diri jika berdua saja denganmu".
"Tidak apa-apa, cuma lain kali lebih lembut sedikit ya, kasih tahu dulu biar aku bisa siap-siap "
"Baiklah, aku akan memberitahumu kalau lain kali aku akan melakukannya".
Andi senang karena bukan hanya tidak marah tetapi Joan minta dia berlaku lebih lembut untuk lain kali.
Itu berarti ada lagi untuk selanjutnya dan selanjutnya, selanjutnya lagi
Membayangkan hal itu Andi jadi senyum-senyum sendiri sampai gak sadar kalau air liurnya menetes....
Joan melihat Andi yang linglung sambil senyum-senyum sendiri jadi takut kalau Andi lagi kesambet, apalagi air liur mengalir dari sela bibirnya.
__ADS_1
Dia mengeluarkan sapu tangan dan menyeka wajah Andi dengan saputangannya, setelah itu meletakkan sapu tangan itu di tangan Andi.
"Simpan ini, nanti dicuci".
Andi senang melihat perhatian Joan padanya. Dia merasakan keharuman sapu tangan itu saat Joan menyeka wajahnya. Saat Joan meletakkan sapu tangan itu di tangannya.
Andi memegang sapu tangan itu dengan erat, dia pikir dia tidak akan mencucinya, sayang kalau bau harum itu hilang. Andi menyimpan sapu tangan itu di saku bajunya.
"Bagaimana dengan urusanmu di istana, apa sudah diselesaikan. Selesaikan dulu semuanya dengan baik sebelum pergi kembali ke desa Genteng".
"Ya tenang saja, semua sudah diselesaikan, Aku sudah minta ijin kepada Kaisar untuk bisa membantu mengawasi pembangunan dermaga dan galangan kapal di pantai Kersik".
"Kita bisa berangkat lusa, setelah aku menyelesaikan urusan administrasi untuk pengaturan pekerjaan di sini"
Sambungnya lagi.
Kata Joan kepada Andi.
"Aku mau mengajakmu makan di paviliun Hong siang ini, ayo kita pergi berdua saja tidak usah ajak yang lain. Mereka hanya akan mengganggu kita saja".
Andi melepaskan aray persembunyiannya dan mereka pamit kepada selir Ouyang, Little Fox dan Ocha mau mengikuti mereka tetapi dengan tegas Andi menolaknya.
Mereka pergi makan ke rumah makan paviliun Nusantara, rumah makan yang sangat terkenal di ibukota. Rumah makan ini terkenal karena kelezatan makanannya yang konon kokinya berasal dari mantan koki kekaisaran.
Rumah makan ini didirikan oleh orang bermarga Po yang konon berasal dari negeri yang sangat jauh di garis katulistiwa yang bernama jawadwipa, namanya adalah Po Ni Djan. Mereka datang dengan naik kapal selama berbulan-bulan sebelum sampai di benua Etam.
Keluarga Po punya pengetahuan yang mendalam tentang wilayah pulau-pulau di luar benua Etam. Andi mau mengajak Joan kesana bukan untuk hanya untuk makan tetapi untuk bersama-sama melihat lukisan dan ornamen yang mengisahkan perjalanan mereka dari negeri asal mereka sampai ke benua Etam.
__ADS_1
Andi berpikir karena mereka berencana untuk menjelajahi lautan maka mereka harus mencari informasi lebih dulu akan keadaan lautan dan pulau-pulau disekitar Benua Etam.
Joan tentu saja menyetujui hal itu dan dia juga ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Po, apakah keluarga ini juga berasal dari negara yang sama dengannya tetapi berasal dari abad yang berbeda.
Kemungkinannya pada jaman ini belum ada negara yang bernama Nusantara. Pulau pulau di Nusantara masih terdiri dari negara-negara kecil dan terasing.
Hati Joan sangat gembira dan ia bersemangat untuk cepat-cepat melihat seperti apa paviliun Nusantara itu.
Dengan berjalan kaki, mereka berdua ke paviliun Nusantara yang letaknya tidak terlalu jauh juga dari rumah selir Ouyang. Untuk ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh Joan lebih suka berjalan kaki daripada naik kereta karena dia bisa melihat keramaian dan juga mempelajari berapa hal yang menurutnya menarik di ibukota.
Joan memperhatikan jalanan, toko-toko bahkan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan di siang hari itu. Andi melindungi Joan dari panasnya matahari dengan menggunakan payung bambu yang cukup besar untuk memayungi mereka berdua.
Tiba di depan paviliun, mereka disambut oleh pelayan-pelayan perempuan yang berpakaian kebaya, Joan menjadi sangat gembira, itu mirip kebaya pada jaman modern yang dipakai oleh perempuan Jawa.
Meskipun kebaya sebenarnya diyakini berasal dari jaman kekaisaran Ming di China pada tahun 1300-1600 SM yang mengacu pada pakaian tunik cina namun dipengaruhi dengan budaya di Nusantara yang pada akhirnya berujung pada kebaya yang kita kenal di di Indonesia saat ini.
Joan memperhatikan perempuan-perempuan muda itu dan banyak mengajukan pertanyaan, meskipun pelayan-pelayan perempuan itu sangat ramah namun mereka tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan Joan sehingga dengan sopan, mereka meminta Joan untuk langsung bertanya kepada pemilik rumah makan.
Seorang pelayan mengajak mereka untuk masuk ruang makan, disepanjang lorong menuju paviliun itu, seperti kata Andi, ada banyak lukisan yang melukiskan gambaran lautan, kapal-kapal, pantai yang dipenuhi tanaman kelapa dan juga berapa lukisan tentang anak-anak yang bermain.
Juga ada patung kayu berukir yang jelas Joan kenal sebagai ukiran dari daerah Jepara di Jawa tengah.
Dalam paviliun yang terasa kuno, suara musik gamelan terdengar lembut, di pojokan barat paviliun tampak berapa pemain gamelan sedang memainkan alat musik mereka.
Joan benar-benar menjadi terpesona melihat pemandangan itu, dia seperti kembali ke masa lalunya. Pada waktu sekolahnya dulu, dia suka sekali mempelajari kesenian tradisional dari Indonesia.
Bahkan dia punya sekumpulan wayang kulit di dalam lokernya yang dia dapat saat mengadakan kunjungan wisata ke pulau Jawa.
__ADS_1