Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Penghadang


__ADS_3

Maaf baru pulang dari perjalanan menempuh jalanan yang rusak parah, baru sampai rumah jam 22.00 malam, jadi kuusahakan ini buat satu episode, sekali lagi maaf dan terimakasih untuk pengertiannya.


Setelah beristirahat semalam, pagi-pagi mereka sudah bersiap untuk berangkat kembali. kuda dan kereta sudah disiapkan, Joan dan Mo Ying naik ke dalam kereta sedang yang lainnya naik ke kuda masing-masing. Mo Ying dan Mo Yan memimpin di depan kereta, Andi seperti biasa berkuda di samping kereta dan yang lain berkuda di belakang kereta.


Saat rombongan ini sudah keluar dari kota, memasuki jalanan yang diapit oleh pepohonan hutan di kiri kanan jalan, tiba-tiba banyak sosok tubuh dengan membawa macam-macam jenis senjata yang keluar dari pinggir hutan dan menghadang kuda-kuda mereka. Dua ratusan orang menghadang rombongan itu, dua puluh empat orang menghadapi dua ratus orang, tentu itu keunggulan jumlah yang signifikan.


Seseorang yang merupakan pemimpin mereka maju ke depan, Mo Yi dan Mo Yan memandang orang-orang itu, mereka ada di negara asing, tidak ada orang yang mereka kenal di negara ini, untuk apa orang-orang ini menghadang perjalanan mereka.


Mo Yi menjura kepada mereka sambil berkata;


"Maaf tuan-tuan mengapa kalian menghalangi jalan kami, apakah kami entah bagaimana sudah menyinggung kalian, kami minta maaf"


Melihat dari jendela kereta, Joan segera mengenali orang itu sebagai salah satu dari kelompok orang yang sudah memperhatikannya di rumah makan itu.


"Kalian tidak menyinggung kami, hanya saja kalian sedang tidak beruntung karena bertemu dengan kami. Serahkan dua perempuan muda itu kepada kami, juga semua kekayaan yang kalian miliki termasuk kuda-kuda kalian, kami akan berbalik hati untuk tidak membunuh kalian".


Mo Yi dan Mo Yan segera menyadari bahwa orang-orang ini adalah para perampok yang biasa merampok orang-orang di daerah itu, di rumah makan mereka sudah memperhatikan betapa royalnya Joan memberikan tip kepada para pelayan. Jadi mereka berpikir bahwa orang-orang ini pasti keluarga bangsawan kaya, lagian pengawal mereka terlihat biasa saja dan tidak seperti pengawal yang lain terlihat mereka tidak membawa senjata, jadi mereka pikir ini pasti mangsa yang empuk.


Para penjaga itu bukan tidak membawa senjata, hanya mereka menaruhnya di dalam cincin penyimpanan mereka karena mereka tidak ingin tampil mencolok di negara asing dimana mereka menjadi tamu di negara tersebut.


"Maaf tuan-tuan, kami sedang dalam perjalanan, kami tentu tidak bisa berjalan kaki jadi tidak mungkin kami menyerahkan kuda-kuda kami, perempuan muda yang kalian maksud juga adalah nona muda kami bagaimana kam. bisa menyerahkan kepada kalian".

__ADS_1


Mo Yi menjawab mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jengkel melihat tanggapan Mo Yi, orang itu meraung dalam kemarahan.


"Kurang ajar, dasar orang yang tidak mau dikasihani, kalau begitu kami akan membunuh kalian dulu, baru akan merampas kekayaan kalian dan hemm, aku akan menikmati perempuan-perempuan cantik ini baru akan ku serahkan untuk anak buah.....".


Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya.


"Argh....".


Dia menjerit kesakitan saat wajahnya terlempar kesamping karena Andi yang marah mendengar Joan dilecehkan tidak bisa menahan dirinya lagi untuk terbang dari kudanya dan menendang wajah orang itu, dua buah giginya jatuh ketanah dan pipinya menjadi bengkak karena tendangan itu. Dengan mulut yang dipenuhi darah, orang itu berteriak histeris.


"Kurang ajar, serang dan bunuh mereka semua".


Baru saja dia meneriakkan kata-kata itu, tendangan Andi kembali mendarat di pipi kirinya yang membuat kembali memuntahkan gigi yang lain dan langsung membuatnya jatuh pingsan ditempat.


"Sayang, jangan bunuh mereka".


Hati Andi langsung mencelos mendengar Joan memanggilnya "sayang". Dia tersenyum sambil menyerang seseorang yang ada di dekatnya, orang itu langsung terlempar menabrak sebuah pohon sebelum kemudian pingsan, tanpa mengambil senjata mereka. Hanya dengan tangan kosong, Andi dengan kelompok Mo bersaudara menghajar dua ratus orang itu, tentu saja dengan kemampuan dua ratus orang perampok yang sangat rendah, tidak ada seorangpun dari mereka yang cocok untuk berhadapan dengan Andi dan kelompok Mo bersaudara yang selama ini menjadi penjaga bayangan Andi.


Dalam perjalanan ini, mereka tidak berkerja seperti biasa dimana mereka menjadi penjaga bayangan. Kali ini mereka menjadi pengawal biasa saja, tidak perlu harus mengawal dan mengawasi dari bayang-bayang tetapi secara transparan mengawal Andi dan Joan.


"Bag, bug, bug"

__ADS_1


"Ah..."


"Aduh"


"Ampun...".


Suara pukulan, suara kesakitan dan suara memindahkan pengampunan berselang-seling bergema di hutan yang sunyi itu.


Tidak terlalu lama untuk membuat dua ratus orang itu tergeletak tidak berdaya, sesuai pesan Joan, mereka tidak membunuh seorangpun dari dua ratus perampok itu, hanya sekedar menciderai mereka setidaknya mereka tidak akan bisa bangun dari tempat tidurnya selama sebulan ke depan.


Memandang para perampok yang sudah tidak berdaya itu, bahkan ada yang berpura-pura mati, tidak ada seorangpun dari mereka yang terluka, jangankan terluka bahkan debu dan kerutan di baju tidak ada pada mereka seolah-olah mereka tidak terlibat dalam perkelahian sebelumnya.


Andi dan para penjaga dari Mo bersaudara menaiki kuda-kuda mereka dan segera meninggalkan hutan itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Para perampok yang melihat kelompok itu pergi, dengan lega bangkit dari tempat mereka berbaring, mereka bersyukur bahwa orang-orang itu tidak membunuh mereka, mereka mendengar waktu Joan berkata kepada Andi untuk tidak membunuh mereka. Jadi para perampok itu menjura ke arah kelompok Joan pergi sambil berkata;


"Terimakasih nona".


Ya kalau bukan karena kebaikan hati Joan, tentu mereka akan habis dibunuh oleh Andi dan Mo bersaudara yang sejak mengikuti Joan, mereka memang tidak pernah lagi membunuh musuh.


Setelah sekian lama, baru kali ini juga mereka terlibat dalam perkelahian, biasanya Joan yang menyelesaikan pekerjaan mereka untuk menaklukkan orang dengan kemampuannya untuk mempengaruhi jiwa, membuat orang-orang yang menentangnya justru berubah menjadi bawahannya. Ini juga karena permohonan Andi untuk mengasah kemampuan beladiri para penjaganya yang oleh karena kemampuan Joan jadi menganggur selama mengikuti Joan.

__ADS_1


Joan tidak menggunakannya kali ini karena selain kemampuan beladiri orang-orang ini terlalu rendah, dia juga tidak berencana untuk tinggal lama di daerah ini. Jadi dia tidak perlu menggunakan kemampuannya untuk menaklukkan orang-orang ini, lebih baik untuk meneruskan perjalanannya.


Perjalanan selanjutnya berjalan dengan lancar tanpa gangguan lagi, mereka melewati desa-desa, persawahan, pegunungan dan sungai-sungai. Kalau ada tempat-tempat yang indah, Joan pasti berselfi, tentu bukan dengan hp atau kamera tetapi dengan lukisan yang dibuat oleh Mo Yu yang memang memiliki keahlian melukis.


__ADS_2