Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Token kekuasaan tertinggi


__ADS_3

Raja bersama Kasim dan tiga orang jendral nya berjalan melewati pos penjagaan di depan istana dingin, menyusuri jalan setapak di antara pohon-pohon Cemara yang menjulang tinggi menuju ke paviliun utama di istana dingin.


Seorang penjaga sudah melaporkan hal ini kepada tuan Arthur, dia tidak menyuruh Joan dan kelompoknya untuk bersembunyi, malah dia tetap menyuruh mereka untuk tetap diam di tempatnya masing-masing.


Raja sangat terkejut saat masuk ruangan itu karena menemukan lebih dari selusin orang duduk dan kelihatannya mereka sudah menunggunya untuk datang, dia berpikir bahwa komandan itu sudah berbohong kepadanya. Apanya tidak ada seorangpun yang datang berbulan-bulan, lalu orang-orang dihadapannya saat ini apa bukan orang?


Raja tidak segera memanggil prajuritnya yang berjaga di depan istana untuk datang karena kalau mereka berniat menyerangnya, sebelum penjaga itu datang, kemungkinan besar dia pasti sudah tertangkap atau dibunuh.


Jadi raja memantapkan hatinya untuk tetap tenang, dia menyapa tuan Arthur.


"Salam kakak dan kakak ipar, kelihatannya kalian sedang reuni keluarga saat ini"


Katanya sambil melihat Joan yang memang wajahnya memiliki kemiripan sekitar delapan puluh persen dengan ibunya.


Tanpa bangkit dari tempat duduknya, tuan Arthur membalas perkataan raja.


"Benar kami sedang reunian, ini anakku yang sudah lama berpisah dari kami, namanya Joan".


Katanya sambil melambaikan tangannya kepada Joan, dia meneruskan perkataannya.


"Joan sapalah paman raja".


Joan bangkit berdiri dan memberikan salam kepada raja.


"Joan memberikan salam kepada paman raja".


"Ha ha ha, kamu memang anak yang baik, apakah kamu membawakan apa yang telah ayahmu janjikan kepadaku".


Tanpa basa-basi, raja meminta Joan untuk menyerahkan token kekuasaan pimpinan tertinggi pasukan rahasia kepadanya.


Joan melihat kepada ayahnya untuk meminta persetujuannya, ayahnya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.

__ADS_1


"Joan tidak mengerti kenapa ayahnya menyuruh untuk menyerahkan token itu kepada raja tetapi dia tidak menyela perkataan ayahnya, Joan mengambil token itu dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya kepada raja.


Mata raja berbinar-binar saat melihat Joan menyerahkan token kekuasaan tertinggi itu, sebenarnya token itu bukan hanya bisa digunakan untuk menggerakkan pasukan rahasia negara itu tetapi token itu justru adalah hak legitimasi atas pemerintahan kerajaan Sendawar.


Meskipun dia menjadi raja saat ini tetapi tanpa token kekuasaan tertinggi itu, dia selalu dibayang-bayangi oleh kekuatiran akan pemberontakan dari pejabat-pejabat militer di negara Sendawar.


Token kekuasaan tertinggi itu diwariskan dari nenek moyang pendiri kerajaan Sendawar, hanya mereka yang memperoleh pengakuan dari token kekuasaan tertinggi ini yang benar-benar diakui sebagai raja di negara ini oleh para leluhur kerajaan.


Raja segera memotong jarinya sedikit untuk meneteskan darahnya ke atas token itu, setelah menunggu sekian lama, tidak ada reaksi apa-apa, dia memeras jarinya untuk menambahkan lebih banyak darah tetapi tetap tidak ada apapun yang terjadi.


Wajahnya menjadi pucat, ketiga jendral yang ada disampingnya terkejut melihat hal itu, mereka segera menjauhinya, ketiga jendral itu mengerti apa arti dari pengakuan token kekuasaan. Kalau tidak terjadi apa-apa saat darah raja diteteskan di atas token, itu berarti dia tidak memiliki garis keturunan murni yang memiliki hak kekuasaan atas kerajaan Sendawar.


Raja melihat kepada tuan Arthur dengan tatapan waspada tetapi yang dilihatnya hanya tersenyum tanpa arti, tuan Arthur menggelengkan kepalanya dan dia berkata.


"Jangan menatapku seperti itu, aku juga tidak menerima pengakuan dari token itu, kalau token itu menerimaku untuk apa aku melarikan diri darimu".


Rupanya tuan Arthur juga pernah meneteskan darahnya ke token kekuasaan itu tetapi sama seperti yang dialami raja, dia juga tidak menerima pengakuan dari leluhur juga tetapi mengapa raja tua memberikan token kekuasaan itu kepadanya.


"Mungkinkah?".


"Cobalah"


Joan menerima token itu dengan ragu-ragu tetapi dia merasakan ada keakraban yang tidak bisa dijelaskan dari hatinya terhadap token itu.


Dibawah tatapan dari semua orang di ruangan itu, Joan menggigit ujung jarinya dan meneteskan darahnya ke atas token tersebut.


"Weng"


Suara mendesing terdengar tiba-tiba di ruangan itu, secercah cahaya keemasan melonjak keluar dari token kekuasaan itu, aura keagungan keluar bersamaan dengan cahaya yang semakin meluas dan melingkupi tubuh Joan.


Aura Joan juga berubah, tubuhnya mengalami metamorfosis, seolah-olah seperti Dewi yang mulia yang turun dari nirwana.

__ADS_1


Semua orang dari kerajaan Sendawar yang ada di ruangan itu tidak bisa lagi menahan dirinya, tiba-tiba lutut mereka sudah tertekuk di lantai, mereka semua bersujud kepadanya.


"Tuanku raja".


Andi dan kelompoknya tidak bergerak sedikit pun, terpesona dengan apa yang sedang terjadi. Andi sedikit kuatir dengan itu, dia takut kalau Joan akan meninggalkannya.


"Tidak, ini tidak benar, aku lah raja yang diakui".


Raja meraung dengan kemarahan yang meluap-luap, dalam kemarahannya tanpa diduga dia melompat dari tempatnya untuk menyerang Joan, dia baru bergerak, tendangan Andi sudah sampai duluan di dadanya, tubuh raja terlempar menabrak dinding yang ada di belakangnya dan segumpal darah keluar dari mulutnya.


Raja mau bangkit berdiri berdiri tetapi Andi tidak memberikan kesempatan, dia melancarkan serangannya lagi dan raja langsung jatuh pingsan.


Tuan Arthur kemudian mengeluarkan mutiara perekam suara, itu diberikan oleh raja bersama dengan token tetapi tuan Arthur tidak pernah menunjukkan bahwa dia memiliki mutiara perekam suara sehingga raja tidak mencurigainya.


Tuan Arthur mendengarkan rekaman suara itu kepada Kasim dan ketiga jendral itu sehingga mereka menjadi sangat marah ketika mengetahui bahwa pangeran pertama atau raja itulah pembunuh raja tua yang sebenarnya.


Salah satu dari Jendral itu melucuti jubah raja, memanggil beberapa prajurit penjaga istana untuk membawa raja itu ke tahanan. Mulanya para prajurit itu sangat terkejut dengan perubahan situasi itu, mengapa raja yang seharusnya datang untuk menangkap pemberontak malah akhirnya menjadi tersangka pembunuhan raja tua tetapi setelah mendengarkan rekaman pembunuhan raja tua, mereka juga menjadi sangat marah sehingga akibatnya raja mengalami berapa pemukulan lagi dalam perjalanannya ke penjara.


Semua orang menatap Joan dengan takjub, Joan menjadi mati rasa dengan semua pandangan orang kepadanya, dia tidak ingin menjadi raja. Joan sudah mengatakan kepada Andi untuk menolak kedudukan Kaisar kekaisaran Langit. Lha sekarang kok dia diminta untuk menjadi raja di kerajaan Sendawar apalagi sudah diteguhkan dengan pengakuan leluhur.


Setelah bersilang kata sampai jauh malam dengan kedua orang tuanya, jendral-jendral dan menteri-menteri serta penasehat raja dan berkonsultasi dengan Andi akhirnya Joan bersedia untuk menjadi Ratu kerajaan Sendawar tetapi dengan catatan, mereka tidak boleh melarangnya untuk berpergian setiap enam bulan sekali karena Joan bercita-cita untuk berkeliling dunia apalagi dia sudah punya tunggangan terbang saat ini .


Ayahnya menjadi Perdana menteri yang akan menjalankan segala urusan pemerintahan, jadi Joan hanya menjadi raja dalam nama saja. Untuk Andi, dia akan memiliki kedudukan istimewa yaitu suami Ratu, he he he.


Kayaknya cerita ini akan berakhir satu episode lagi, besok hari.


Salut untuk para author yang bisa membuat ratusan bahkan ribuan episode. Terus terang untuk membuat kelanjutan tiap episode sangat berat bagiku.


Terimakasih sudah mau membaca cerita novel ku yang sangat sederhana ini, terimakasih untuk semua saran dan koreksi nya.


Ada cerita baru yang kutulis hari ini, judulnya: Gadis Luar biasa.

__ADS_1


Episode pertama muncul malam ini, tetap dengan tema transmigrasi ke masa lalu. Moga para pembaca di sini juga mau ikut membaca lagi di cerita Gadis Luar biasa.


Tetap sehat dan jangan lupa bahagia...


__ADS_2