
Malam itu ada pesta yang meriah untuk menyambut kehadiran anggota keluarga baru di desa Genteng. Penduduk desa menyambut pertambahan anggota baru warga desa Genteng.
Mereka tidak menamakan diri mereka sebagai Klan tetapi ikatan kekeluargaan mereka lebih dari klan manapun di benua Etam. Mereka benar-benar hidup seperti keluarga yang besar, meskipun berdasarkan hirarki kekuasaan tetap ada perbedaan dengan pendapatan yang mereka masing-masing peroleh tetapi tidak ada kecemburuan karena semuanya mendapatkan fasilitas yang setara berdasarkan konstribusi yang mereka berikan.
Orang tua, janda-janda tua dan anak-anak Yatim Piatu mendapatkan jaminan pemeliharaan dan perawatan yang baik dan setara. Mereka bebas mengutarakan pendapat tanpa tekanan dan semua bisa menyampaikan usulan dan memberikan kontribusi bagi pengembangan desa Genteng.
A Sen sekarang menjabat sebagai ketua divisi pengawasan pos-pos penjagaan yang sebelumnya dijabat oleh master Lung.
Master Lung sekarang menjabat sebagai kepala sekolah desa Genteng untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar menjadi kader penerus kelangsungan kepemimpinan desa Genteng di masa depan.
Hari-hari berjalan seperti biasa tetapi dibalik rutinitas yang berjalan sewajarnya, persiapan untuk menyambut kehadiran para penyerang dari prajurit kekaisaran Langit terus dilakukan, penggalian terowongan dan pembangunan bunker terus dikerjakan.
Joan selalu berusaha untuk menghindari adanya korban tetapi bisa saja ada kecelakaan yang tidak bisa dihindari. Jendral A Bong sudah memiliki rencana yang brilian untuk menyambut kedatangan para prajurit dari kekaisaran Langit yang memungkinkan mereka untuk menaklukkan para prajurit kekaisaran Langit tanpa penumpahan darah tetapi itu tidak berarti mereka mengabaikan persiapan untuk menghadapi peperangan yang kemungkinan akan terjadi.
Di tebing-tebing perbukitan desa Harau dibuat lobang-lobang untuk menempatkan para penembak meriam. Penembak meriam itu bukan menggunakan senjata meriam yang kita kenal di jaman ini.
Penembak meriam ini adalah ahli beladiri yang menguasai ilmu untuk melontarkan bola-bola api dan kekuatan mereka diisi oleh batu-batu roh.
Jadi di dalam lobang-lobang penembak meriam juga ditempat kotak penyimpanan batu roh.
__ADS_1
Meskipun batu roh itu berharga mahal tetapi Joan sama sekali tidak sayang karena menurutnya, keselamatan warga desa Genteng lebih bernilai dari semua batu roh yang mereka miliki, lagian mereka tidak kekurangan batu roh karena pelelangan yang pertama itu memberikan mereka jutaan batu roh.
Mereka juga akan mudah mendapatkannya kembali jika kehabisan. Andi memiliki pertambangan batu roh, Little Fox yang menjadi penanggung jawab dari pertambangan batu roh itu sehingga mereka tidak takut untuk kekurangan batu roh.
Tentu saja Little Fox tidak berkeberatan untuk mengirimkan jutaan batu roh ke desa Genteng karena dia merasa dia dan Andi sudah menjadi bagian dari desa Genteng, jangan lupa dia juga calon mantu dari ketua Badan Otorita Desa Genteng.
Hubungannya dengan adik bungsu Joan juga tambah lengket. Di jaman itu biasa anak gadis umur delapan atau sembilan tahun sudah bertunangan tetapi karena Joan berasal dari jaman modern yang menganggap bahwa gadis seusia itu masih waktunya untuk bermain dan belajar.
Jadi Joan mengawasi mereka berdua secara ketat dan tidak mengijinkan Little Fox untuk berpacaran berduaan, adik bungsu selalu dijaga oleh Jono yang mengawalnya kemana-mana sehingga Little Fox menjadi bete dan kesal karena niatnya untuk berduaan saja dengan Jessy tidak pernah kesampaian.
Little Fox menyadari kekuatiran Joan, dia juga menganggap Jessy masih terlalu kecil untuk menikah, lagian dia juga masih meniti karir dan mau mempersiapkan rumah dan kehidupan yang layak bagi keluarga nya nanti, malu dong kalau masih bergantung pada orang tuanya.
Semua mulut terowongan yang tersebar di lembah Harau bermuara pada satu tempat yaitu hutan tempat Padang rumput yang berisikan bunga-bunga halusinasi yang bisa mempesonakan orang yang mencium baunya dan membuat mereka terhipnotis.
Pembangunan pelabuhan dan prasarananya juga dikerjakan dengan penuh dedikasi oleh prajurit elit yang dipimpin jenderal A Bong. Jalan dari desa Genteng ke Pelabuhan yang menyusuri pinggiran hutan larangan dikerjakan oleh mantan pembunuh bayaran dari kedua organisasi pembunuh Atap Langit dan Bayangan hitam yang dulu sering bersaing bahkan berapa kali bentrok, sekarang sudah berdamai dan menjadi satu keluarga bersama desa Genteng.
Joan sendiri belum memiliki rencana untuk pelabuhannya tetapi dia berpikir tidak ada salahnya untuk membangun pelabuhan itu dan selama itu tidak ada satupun pejabat pemerintahan Kekaisaran Langit yang menyadari bahwa negara mereka memiliki garis pantai.
Mereka pikir negara mereka adalah negara daratan saja di tengah benua Etam. Kekaisaran Langit tidak punya kekuatan maritim. Joan sangat senang ketika mengetahui bahwa desa Genteng ternyata memiliki garis pantai, pantai ini yang mereka sebut pantai Kersik menjadi destinasi wisata baru yang menjadi favorit warga desa Genteng.
__ADS_1
Mereka sangat senang karena berpikir bahwa hanya mereka warga desa Genteng yang untuk sementara itu tahu bahwa ternyata negara itu punya garis pantai karena hal itu tidak akan mungkin bisa terus disembunyikan, untuk sementara ini, biarlah mereka bersenang-senang dulu dengan kepemilikan eksklusif pantai Kersik.
Pantai Kersik dipenuhi oleh butiran pasir putih yang halus dan berkilau di bawah terik matahari, pepohonan kelapa tampak teratur tertanam di sepanjang garis pantai, tidak ada yang menanam semua pohon kelapa itu. Alam sudah begitu murah hati menyediakannya bagi mereka.
Penduduk desa Genteng belum pernah menikmati buah kelapa, Joan memperkenalkan cara untuk minum air dan makan buah kelapa. Segera buah ini menjadi buah favorit untuk penduduk desa Genteng dan khususnya bagi para penjaga yang bertugas untuk mengawasi pantai itu.
Mereka sekarang sering terlihat berdiri di pucuk pohon kelapa. Penjaga bayangan pun rutin mengadakan pertandingan untuk memanjat dan mengambil buah kelapa sebanyak-banyaknya. Melihat hal itu Joan teringat dengan monyet pemanjat pohon kelapa yang banyak diperkerjakan oleh petani kelapa di Indonesia.
Didalam ingatannya, dia perkirakan para penjaga bayangan ini justru lebih cepat dari monyet, ya tentu saja, mereka lebih tinggi dan lebih besar dari monyet.
Penjaga bayangan jelas lebih cekatan, mereka bisa dengan mudah melompat ke pucuk pohon kelapa tetapi dalam lomba memanjat pohon kelapa ini tidak diijinkan untuk melompat, hanya memanjat saja.
Pertandingan ini sangat seru dan menjadi hiburan bagi para pekerja di sore hari saat mereka selesai dengan pekerjaannya.
Kelapa hasil dari pertandingan itu sebagian dibawa ke desa Genteng untuk dinikmati oleh penduduk desa saat makan malam tiba. Rasa buah dan air kelapa yang segar ini disukai oleh penduduk desa Genteng
__ADS_1