
Melihat pangeran pertama pergi begitu saja setelah mendengar kata-kata Joan seperti seekor anjing yang lari ketakutan sambil memasukkan ekornya diantara kedua kaki belakangnya, Andi tertawa melihatnya.
"Perkataanmu sangat menohok, lihat dia kabur dengan malu".
"Ah aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku saja".
Melly, Bai Ji Gur dan Mona, juga beberapa perempuan muda yang duduk di sekitar mereka yang turut mendengarkan percakapan mereka menjadi kagum kepada Joan.
Perempuan-perempuan muda di jaman itu sulit untuk berbicara dengan terus-terang seperti apa yang dilakukan Joan, apalagi berbicara tentang pernikahan yang biasa diatur oleh orang tua bahkan untuk mereka yang tinggal dilingkungan istana, pernikahan juga biasa ditentukan oleh Kaisar.
Banyak perempuan muda yang tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka diminta untuk mengisi harem istana untuk menjadi selir, tidak ada hak mereka untuk menolaknya, justru mereka harus diwajibkan merasa bahagia dan bangga meskipun itu sangat bertentangan dengan isi hati mereka karena hal seperti itu lazim dilakukan dan bagi keluarga mereka merupakan kebanggaan besar bahwa anak mereka diminati oleh Kaisar.
Memang menjadi perempuan muda yang cantik justru kadang bukan menjadi berkah, malah menjadi bencana. Tentu saja untuk kebanyakan orang, adalah kebanggaan dan keberuntungan jika hal itu terjadi.
Jadi bagi para perempuan muda itu, pernyataan Joan itu seperti nyala lilin di malam yang gelap dalam pikiran mereka. Joan seolah-olah telah mewakili mereka untuk berbicara tentang apa yang tabu, yang selama ini ingin mereka ungkapkan kepada dunia.
Seorang Kasim kecil mendekati meja mereka, mengatakan bahwa Kaisar memanggil pangeran ketiga untuk menemuinya di ruang belajar.
"Hormat pangeran ketiga".
Kasim kecil itu membungkukkan sedikit badannya untuk menunjukkan penghormatannya.
"Ada apa"; Andi menjawabnya.
"Kaisar memanggil anda untuk menemuinya".
"Baiklah, silahkan memimpin".
Andi menjawab Kasim kecil itu, sambil menolehkan kepalanya ke arah Joan, Andi berkata;
"Aku akan pergi menghadap Kaisar, tinggallah dahulu sebentar di sini".
"Ya, pergilah. Selesaikan urusanmu. Aku akan menunggumu di sini".
Melly melihat kepergian Andi, dia bergegas untuk datang, membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menunjukkan rasa hormatnya.
"Salam Puteri Agung".
__ADS_1
"Duduklah, kenapa berdiri di situ".
Kata Joan kepada Melly.
"Maaf, itu tidak pantas".
Kata Melly sambil menggoyangkan tangannya.
"Tidak pantas apanya, kamu kan sahabatku, tidak perlu menganggapku begitu tinggi. Puteri Agung itu cuma sebuah gelar saja. Tidak perlu merepotkanmu dengan memanggilku seperti itu, panggil saja namaku seperti biasa nya ".
"Mana bisa seperti itu, ini lingkungan istana, kalau aku menurutimu, bisa-bisa kepalaku lepas dari lehernya".
Kata Melly sedikit bercanda sambil duduk di kursi yang baru ditinggalkan oleh Andi.
Saat mereka sedang berbicara, pangeran pertama datang kembali ke meja Joan, dia mengusir Melly dengan pandangan matanya. Melly memahaminya dan dengan perasaan enggan, dia bermaksud untuk bangkit berdiri tetapi Joan menahan tangannya.
"Maaf pangeran pertama, carilah kursi lain. Aku masih mau berbicara dengan temanku ini".
Kata Joan sambil memandang wajah pangeran pertama.
"Kamu berani, aku suka keberanianmu. Pantas adikku menyukaimu".
"Tapi kamu tidak bisa menyukai adikku, dia tidak pantas untukmu".
"Maksudmu kamu yang pantas!".
Joan bisa menebak maksud dari perkataan pangeran pertama sehingga dia menjawab dengan tajam.
Pangeran pertama segera menjawabnya;
"Ya itulah maksudku".
"Apa yang kamu lihat dari adikku. Pangeran ketiga itu orang yang lemah. Kamu akan rugi bila menjadi kekasihnya ".
Sambungnya lagi.
"Bagaimana kamu tahu dia lemah!, meskipun pangeran ketiga adalah saudaramu tetapi akulah yang lebih mengerti tentang kondisi fisiknya. Pangeran ketiga tidak selemah yang kamu pikirkan ".
__ADS_1
Joan menjawab dengan bersemangat.
"Hah, apakah itu benar!".
"Ya memang benar sekali, aku sudah merasakannya sendiri, kekuatannya benar-benar luar biasa. Dia bisa mengangkat pohonnya tiga kali sehari".
Pangeran pertama memandang Joan seperti baru melihat hantu, dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Tidak pernah ada dalam pikirannya yang paling liar sekalipun bahwa pangeran ke tiga akan melakukannya dengan Joan.
Bukan kerena hubungan badan seperti itu merupakan hal yang tabu tetapi karena dia tahu persis kondisi pangeran ketiga sejak kecil. Kakek dari pihak ibunya, yaitu permaisuri saat ini yang telah meramu kutukan itu pada pangeran ketiga sejak bayinya.
Di negara itu tidak ada yang tahu kondisi sebenarnya dari pangeran ke tiga kecuali selir Ouyang, ibu pangeran ketiga. Kakeknya, ibu permaisuri dan dirinya sendiri.
Pangeran pertama terperangah, dia kaget dengan jawaban Joan, dia tidak bisa membayangkan bahwa Joan mengerti kondisi fisik pangeran ketiga yang dia sendiri tahu bahwa dari kecil, pangeran ketiga sudah menderita kutukan yang membuatnya tidak dapat menampilkan fungsi kejantanannya.
"Bagaimana mungkin dia sembuh, itu kutukan yang sangat kuat ".
Lain dari yang dipikirkan pangeran pertama, lain juga yang dimaksudkan oleh Joan karena pikiran Joan, pangeran pertama pasti berpikir bahwa tubuh pangeran ketiga lemah karena racun yang membuat tubuhnya menjadi lemah akibat penyimpangan tenaga dalamnya.
Selama Di desa Genteng, Andi sudah menunjukkan kekuatan fisiknya yang luar biasa. Andi biasa mengangkat dan memanggul batang pohon yang besar sebesar lingkaran lengannya, membawanya dari pinggir hutan larangan ke desa Genteng.
Joan pikir pasti pangeran pertama tidak berpikir bahwa pangeran ketiga sudah sembuh dan racunnya sudah lenyap dari tubuhnya.
Joan tidak tahu ada penyakit kutukan seperti itu di tubuh Andi, jadi dia tidak berpikir sejauh apa yang dipikirkan oleh pangeran pertama.
Sebenarnya penyakit kutukan itu juga sudah sembuh secara alami akibat penggunaan air mistis yang dikonsumsi Andi selama ada di desa Genteng. Kultivasinya juga sudah meningkat secara signifikan setelah mengkonsumsi bubur mistis
Pangeran tidak dapat duduk tenang lagi setelah mendengarkan perkataan Joan. Pangeran pertama berdiri kembali dan tergesa-gesa tanpa pamit kepada Joan, dia keluar dari ruangan itu untuk menemui ibu permaisuri, dia perlu melaporkan berita yang baru dia dengar kepada ibunya.
Ibunya pasti akan sangat terkejut mendengar berita yang tidak terduga itu. Kakeknya selalu mengatakan bahwa kutukan itu benar-benar ampuh dan tidak ada seorangpun yang bisa menyembuhkan kutukan itu karena itu didapatkan dari suku pedalaman pemelihara cacing Gu.
Bagaimana mungkin itu bisa disembuhkan. Pangeran pertama menjadi sangat kuatir, padahal rencana selanjutnya setelah dia gagal dalam rencana sebelumnya untuk membunuh pangeran ketiga adalah mengungkapkan rahasia itu kepada Kaisar.
Bagaimana mungkin calon putera mahkota tidak memiliki kemampuan untuk memiliki keturunan. Pangeran pertama sudah merencanakannya dengan baik. Dia berencana untuk menjebak pangeran ketiga untuk kemudian mengungkapkan ketidakmampuannya untuk mengangkat pohonnya.
Tetapi kata-kata Joan meruntuhkan semua skenarionya, semua hal yang dia rencanakan langsung hancur berkeping-keping.
Ha kalau dia tahu bahwa bukan hanya Joan yang sudah salah paham dengan maksud perkataannya, dia juga salah paham dalam memahami perkataan Joan ....
__ADS_1