
Badan Otorita Desa Genteng menyadari mereka tidak mungkin bisa melawan sejuta prajurit, kekuatan dari ruang dimensi cuma bisa mempengaruhi seribu orang bergantian dalam setiap menit tetapi tidak mungkin menjebak sejuta prajurit. Kalau perang itu dipaksakan maka akan banyak timbul korban jiwa dan Joan selalu berusaha untuk menjadikan peperangan sebagai alternatif terakhir.
Jadi saat jendral Loe Som Bong mengusulkan untuk bernegosiasi demi perdamaian, dia menerimanya lagipula dari sejak awal, Badan Otorita Desa Genteng tidak memiliki niat sedikitpun untuk memulai pemberontakan. Joan menyadari bahwa kelahirannya kembali di dunia itu adalah agar dia menjadi duta perdamaian untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan negara dimana dia berada.
Andaikata negosiasi perdamaian itu tidak berhasil, mereka juga merencanakan hal yang lain untuk bisa memikat jendral besar Wong.
Garam sangat sulit diperoleh di negara itu dan harganya sangat mahal, hanya para bangsawan dan orang-orang kaya saja yang bisa menikmati garam pada saat itu. Jadi Jendral besar benar-benar sangat terkejut mendengar berita yang diucapkan oleh jenderal Loe Som Bong.
"Benarkah, desa ini bisa memproduksi garam sendiri, luar biasa, sungguh luar biasa kalau kekaisaran kita memiliki tambang garam sendiri".
Jendral Wong menganggukkan-anggukkan kepalanya sambil mengelus jenggotnya, dia sungguh merasa sangat senang dan sudah membayangkan kemuliaan yang akan diperolehnya dari Kaisar kalau dia pulang kembali.
"Jadi apakah itu berarti, mereka mau menyerahkan tambang garam itu kepada kekaisaran dan mau menyerahkan Badan Otorita Desa Genteng untuk menjadi bagian dari pemerintahan kekaisaran Langit. Kalau mereka bersedia, kita akan menempatkan pejabat militer di sini dan mereka harus menyerahkan seluruh hasil dari bahan-bahan mistis dan juga garam itu kepada kita, ha ha ha".
Jendral Wong sudah membayangkan kekayaan dan kekuasaan besar yang akan dia peroleh. Dia berencana untuk menjadikan desa Genteng menjadi basis militer.
Jendral Loe Som Bong yang mendengarkan hal itu menjadi tertegun, tidak mungkin bagi Badan Otorita Desa Genteng untuk menyerahkan kekuasaan atas desa Genteng kepada kekaisaran atau militer karena Joan mau mempergunakan kekayaan desa Genteng hanya untuk mensejahterakan masyarakat.
Tidak mungkin juga untuk mereka menyerahkan diri untuk dipimpin oleh seorang perwira militer yang dapat diperkirakan akan memerintah secara otoriter dan sewenang-wenang. Itu bisa dilihat dari pandangan mata yang dipenuhi keserakahan saat mereka mendengar berita tentang garam yang disebutkan oleh jenderal Loe Som Bong.
"Maaf jendral sepertinya itu tidak mungkin, mereka bersedia untuk menyerahkan sebagian hasil garam ini kepada kekaisaran tetapi mereka meminta otonomi khusus untuk desa Genteng, daerah Khusus desa Genteng".
"Brakk".
Jendral Wong membantingkan telapak tangannya memukul meja yang ada dihadapannya, meja itu segera hancur menjadi bubuk. Wajah mereka menjadi pucat melihat kehebatan ilmu beladiri jenderal Wong.
"Apa, mereka minta otonomi khusus, tidak bisa. Tunduk atau kami hancurkan. Desa Genteng milik kekaisaran Langit, beritahu mereka kalau besok pagi mereka tidak mau menyerahkan kekuasaan Badan Otorita Desa Genteng, kami akan meratakan desa Genteng ".
__ADS_1
"Siap jendral, aku akan bernegosiasi dengan mereka, tetapi ada baiknya tuan mengikuti kami agar mereka lebih mudah untuk menekan mereka ".
Jendral Loe menahan dirinya, dia marah karena sekarang dia memihak kepada Joan tetapi dia bisa menguasai dirinya untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kemarahannya. Dia dengan tenang menjawab dan mengusulkan hal itu seolah dia berpihak kepada jenderal Wong.
Jendral Wong merasa senang dengan usulan Jenderal Loe karena merasa jenderal Loe mendukungnya sepenuhnya.
"Baik, aku akan ikut denganmu. Kita tunjukkan siapa penguasanya disini".
Mereka makan minum dan bercengkerama tentang pengalaman mereka dalam menjalani beberapa peperangan.
Sore harinya, jendral Loe bersama jendral Wong dan beserta perwira pembantu utamanya berangkat bersama menuju ke desa Genteng.
Mereka menaiki tunggangan mereka masing-masing, saat mereka tiba di gerbang desa, mereka dipersilahkan untuk meninggalkan kuda-kuda mereka dan menaiki kereta yang sudah disiapkan.
Jendral Wong dan perwira pembantunya tercengang melihat kereta mereka dihela oleh monster badak bercula tiga. Semula dia merasa marah karena tidak ada satupun petinggi desa Genteng yang menyambutnya tetapi kemarahannya sirna saat melihat monster badak bercula tiga itu.
Menyusuri jalan desa, seperti tamu-tamu lain sebelumnya mereka juga diajak untuk menjalani tour dan melihat-lihat keadaan desa Genteng, sekolah, taman, perkebunan, pertanian, peternakan dan tempat penyulingan biogas. Seorang guide menjelaskan tentang semua apa yang mereka lihat bersama.
Jendral Wong memandang semua itu dengan keserakahan yang terlihat jelas di matanya. Kali ini dia tidak lagi akan berusaha menghancurkan desa Genteng tetapi dia mau menekan Badan Otorita Desa Genteng agar secara sukarela menyerahkan kekuasaan mereka kepadanya.
Di depan Aula beladiri sudah berbaris anak-anak kecil dan remaja laki-laki dan perempuan yang membawa pita-pita berwarna-warni menyambut kedatangan jenderal-jenderal dari kekaisaran Langit itu.
Seorang anak perempuan kecil yang cantik, mengalungkan sebuah karangan bunga kepada Jenderal Wong. Jendral Wong terpaksa harus berlutut untuk menerima pengalungan bunga itu, kemarahannya langsung lenyap menerima perlakuan yang dirasa sangat menghormatinya.
Jendral-jendral lain juga menerima pengalungan bunga dari anak-anak kecil yang lain, laki-laki dan perempuan, ada total dua puluh orang jendral bersamanya. Jendral Wong sangat gembira, dia memeluk dan menggendong anak perempuan itu, membawanya dalam pelukannya dan dia berjalan masuk ke dalam ruang aula pertemuan itu.
Pengurus Badan Otorita Desa Genteng ada semua dalam ruangan itu. Pak Jono, Master Lung, tetua Ji, Ro, Lu, Pat menyambut kedatangan jendral-jendral itu. Joan berdiri paling depan, mereka membungkukkan sedikit badannya untuk memberikan penghormatan kepada Jenderal Wong.
__ADS_1
Jendral Wong hanya memandang sekilas dan melangkah kakinya menuju kursi yang sudah disediakan bagi mereka. Pengurus Badan Otorita Desa Genteng tidak merasa tersinggung dengan perlakuannya dan mereka juga melangkahkan kakinya untuk menduduki kursi mereka masing-masing.
"Tuan-tuan, perkenalkan aku jendral besar Wong Nge Dan, aku diperintahkan untuk menghancurkan desa kalian oleh Kaisar tetapi aku tidak akan melakukannya asal kalian mau menyerah kepada ku, aku akan berbicara kepada Kaisar untuk mengijinkan kalian tinggal di tempat ini tetapi kekuasaan di desa ini harus kalian serahkan sepenuhnya kepada kami ".
Tanpa basa basi, jendral Wong menyatakan keinginannya.
"Maaf tuan jendral, kami tidak akan menyerahkan kekuasaan desa ini kepada siapapun bahkan kepada Kaisar karena desa ini bukan milik siapapun tetapi milik semua penduduk desa ini, kami tidak bisa mewakili mereka untuk menyerahkan desa ini kepada bapak atau kepada Kaisar".
Pak Jono berbicara sebagai ketua mewakili pengurus Badan Otorita Desa Genteng.
"Kurang ajar, kalian memang mau berniat memberontak, Tidak perlu pasukanku, aku sendiri bisa menghancurkan kalian semua disini sendirian".
Kata jendral Wong sambil bangkit berdiri diikuti oleh perwira tinggi yang lain.
"Jendral Wong yang terhormat, dengarkan aku".
Suara perempuan yang lemah lembut dan terdengar muda tetapi tegas terdengar di ruangan itu.
Jendral memandang kepada perempuan muda yang berdiri di hadapannya. Dia mengernyitkan dahinya, melihat wajah yang lembut itu yang memandangnya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Jendral Wong baru mau membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, saat dia mendengar perempuan itu berbicara kembali dengan lembut.
"Get On"...
Semua jendral itu menghilang dari pandangan semua orang di ruangan itu. Tidak ada seorangpun yang terkejut karena mereka sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Jendral Loe Som Bong yang dari tadi berdiri diam di samping Jenderal Wong hanya menundukkan kepalanya. Mungkin sambil berpikir.
__ADS_1
"Rasain sekarang apa yang kurasakan, he he he".