
Di ruang belajar Kaisar seorang perempuan paruh baya melaporkan kejadian semalam kepada seorang pria dihadapannya.
"Bagaimana semalam, apa berjalan dengan baik".
Perempuan itu terdiam, ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Mengapa, apa kalian gagal"
Pria itu seolah mengerti apa yang sudah terjadi, menegaskan apa yang menjadi dugaannya.
"Tidak demikian yang Mulia, sebenarnya kami berhasil untuk membius dan memberikan obat afrosidiak kepada pangeran ketiga, namun dua perempuan muda itu gagal untuk membangunkan pohonnya".
Kaisar memandang tajam kepada perempuan dihadapannya sambil mengerutkan keningnya.
"Oh ya, padahal itu obat yang sangat kuat yang dibuat oleh tabib kekaisaran sendiri. Mengapa..... apa mungkin dia sebenarnya belum pulih kembali".
Rupanya selama ini Kaisar sudah mengetahui kalau pangeran ketiga terkena kutukan sejak dia dilahirkan tetapi memang dia sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada selir Ouyang karena mengkuatirkan kondisi hati selir Ouyang.
Kaisar meminta pangeran ketiga untuk tinggal bersamanya di istana sebenarnya karena Kaisar juga mencari jalan untuk mengobatinya.
"Mungkin bukan hal itu yang menjadi penyebabnya, semalam dia terus-menerus memanggil nama Joan dalam tidurnya. Mungkin cintanya yang dalam yang menyebabkan dia memiliki pengendalian diri yang kuat".
"Ya, semoga seperti yang kamu katakan tetapi bagaimana kalau dia benar-benar belum pulih kembali".
Kata Kaisar dengan nada penuh kekuatiran.
"Bagaimana kalau kita coba lagi malam ini yang Mulia, besok mereka akan kembali ke desa Genteng, kukira tidak ada salahnya kita mencoba kembali ".
__ADS_1
"Baiklah, coba sekali lagi malam ini, kita tidak bisa menggunakan obat bius itu lebih dari dua kali berturutan karena dampaknya akan buruk".
Malam itu sekali lagi pangeran ketiga dibius, kali ini tidak perlu memanggilnya atas perintah Kaisar karena pangeran ketiga pulang dari kediaman selir Ouyang dalam keadaan sedikit mabuk.
Dia dibius di kamarnya sendiri tetapi kali ini tidak seperti malam sebelumnya, bukan hanya tertawa seperti malam sebelumnya. Perempuan-perempuan muda yang mencoba untuk merayunya dalam kondisi tidak sadar itu ditendangnya dari tempat tidurnya saat salah satu diantara mereka sudah mau menciumnya. Tiba-tiba pangeran ketiga menggumamkan sebuah perkataan yang tidak jelas dan kemudian menendang satu demi satu perempuan-perempuan itu sampai ada anggota tubuh mereka yang patah, bahkan salah satu dari mereka jatuh menimpa permaisuri.
Tidak seperti malam sebelumnya, dimana pengawal kekaisaran mengangkat tubuh pangeran ketiga, kali ini mereka kegirangan karena dapat menggotong tubuh perempuan-perempuan muda dan .... permaisuri, yang ini mereka lakukan dengan hati-hati, takut kalau-kalau mereka akan kehilangan anggota badan mereka karena kemarahannya.
Esok harinya kembali saat bangun Andi merasakan sakit kepala, berbeda dari malam sebelumnya. Malam itu dia mimpi berjalan dengan Joan di taman, saat dia mau memeluk untuk mencium Joan.
Pangeran pertama datang mengganggu mereka. Andi yang marah segera berkelahi dengan pangeran pertama dan dia menendang pangeran pertama dengan keras.
Permaisuri yang sudah ditangani oleh tabib kekaisaran datang kembali menemui Kaisar, meskipun tidak ada luka pada tubuhnya namun badannya terasa pegal dan kakinya terkilir karena ditimpa oleh salah satu perempuan muda itu semalam.
Kaisar sedikit tersenyum melihat kondisi permaisuri yang berjalan masuk dengan terpincang-pincang. Usulan untuk menjebak Andi itu mulanya datang dari permaisuri yang melaporkan bahwa pangeran ketiga sudah membangun pohonnya bersama Joan.
"Benar yang mulia, kami gagal lagi. Tidak tahu apakah memang pengendalian dirinya begitu kuat atau memang hanya Puteri Agung saja yang bisa membangunkan pohonnya".
"Bagaimana kalau kabar yang didengar pangeran pertama itu salah dan sebenarnya pangeran ketiga tidak bisa membangunkan pohonnya "
"Yah kalau begitu anda harus melupakan untuk mendudukkan dia sebagai calon putera mahkota".
"Bagaimana putera mahkota tidak bisa membangkitkan pohonnya. Kerajaan ini akan dikutuk jika Kaisar berikutnya tidak memiliki keturunan ".
Kata perempuan paruh baya itu.
"Ini......".
__ADS_1
Pria itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Tetapi kalau memang hanya Puteri Agung yang bisa membangkitkan pohonnya, apakah anda bisa mengubah aturan yang selama ini berlaku untuk mengijinkan pangeran ketiga hanya menikahi satu isteri saja".
Kaisar memandang perempuan yang ada dihadapannya, dia mencoba memahami apa yang ada di benak perempuan itu. Bukankah seharusnya dia tidak perlu bertanya tentang peraturan itu.
Bukankah dia selama ini menghendaki agar puteranya sebagai pangeran pertama yang akan menduduki jabatan putera mahkota, mengapa dia justru seolah-olah sedang memperjuangkan pangeran ketiga untuk bisa duduk sebagai putera mahkota dan mengabaikan puteranya sendiri.
"Ehm itu sulit dikatakan karena aturan itu bukan dibuang olehku".
"Kalau begitu, satu-satunya jalan, anda harus menyerahkan kedudukan putera mahkota kepada kandidat pangeran yang lain".
Rupanya perempuan yang adalah permaisuri bukan memikirkan kepentingan pangeran ke tiga tetapi hanya sekedar memancingnya untuk memperkatakan hal itu
"Mungkin saja, kelihatannya pangeran ketiga juga tidak terlalu memperhatikan hal itu. Dia lebih suka untuk berkelana di luar daripada mengurusi urusan pemerintahan"
"Baiklah, aku akan mempertimbangkan hal ini kembali, Terimakasih atas apa yang telah kamu kerjakan ".
"Baiklah Kaisar, aku undur diri dulu".
Permaisuri, berjalan keluar dari ruangan belajar itu dan melangkahkan kakinya kembali ke paviliunnya sendiri. Kaisar sedikit susah hati memikirkan pangeran ketiga. Selir Ouyang sebenarnya tidak mencintainya dengan sepenuh hati, saat dia menikahinya, Kaisar berjanji kepada ayah selir Ouyang untuk memberikan tahta kerajaannya kepada putera sulung dari selir Ouyang, itu sebabnya ayah dari permaisuri menyumpahi bayi dalam kandungan selir Ouyang dengan kutuk bahwa dia tidak akan dapat membangkitkan pohonnya.
Permaisuri melakukan ini karena kecemburuan akan tahta bagi puteranya sendiri. Mengapa tahta putera mahkota harus diberikan kepada putera selir dan bukan untuk putranya sendiri sebagai putera sulung pangeran.
Kaisar memang orang yang lemah pendiriannya, meskipun dia tahu permaisuri melakukan permainan seperti itu, Kaisar hanya diam saja seolah tidak mau mencampuri urusan haremnya. Mungkin Kaisar pikir itu juga sebagai seleksi untuk calon Kaisar berikutnya, siapa yang dapat bertahan sampai akhir yang pantas jadi penerusnya.
Selir Ouyang sendiri tidak punya keinginan agar anaknya dapat menjadi pewaris tahta, justru dia ingin agar anaknya memiliki kebebasan untuk menentukan masa depannya sendiri, hidup seperti burung yang tidak dikekang dalam kurungan emas.
__ADS_1
Itu sebabnya selir Ouyang meminta anugerah kepada Kaisar untuk mengijinkan kedua anaknya yang lain untuk menjalani kehidupan diluar istana. Kaisar justru sangat mencintai selir Ouyang sehingga Kaisar menyetujui permintaannya dan mengijinkan kedua anaknya untuk tinggal dikediaman selir Ouyang, hanya pangeran ketiga yang sejak kecil tinggal bersamanya di istana.