
Mereka memacu kuda-kuda nya dengan cepat, Joan tahu penyelidikannya tidak menghasilkan apa-apa kecuali dia mengerti sedikit bahwa keluarganya kemungkinan adalah keturunan raja negara Sendawar tetapi tidak lebih dari itu. Joan tidak tahu kemana lagi dia akan mencari jejak dari kedua orang tuanya tetapi saat ini mereka harus terlebih dahulu menghindari pengejaran dari prajurit kerajaan Sendawar.
Pasukan prajurit yang mengejar mereka tentu saja ada ditingkat yang berbeda dari penjaga yang mereka temui di rumah tua itu. Saat raja mendengar bahwa ada penyusup yang ditemukan oleh penjaga yang mengawasi rumah tua itu, dia langsung memerintahkan para prajurit elit istana untuk mengejar Joan.
Kuda-kuda para prajurit ini adalah kuda-kuda yang terbaik yang didatangkan khusus dari gurun pasir di negara timur tengah yang terkenal dengan ketangguhan dan ketahanannya, kuda-kuda itu bisa melakukan perjalanan dalam seminggu tanpa berhenti beristirahat.
Sebentar saja mereka sudah memperpendek jarak dengan kelompok Joan, Andi menoleh ke belakang untuk melihat pasukan prajurit itu sudah mendekati mereka, sepertinya mereka tidak akan bisa melarikan diri lagi. Andi memutuskan untuk menghadang pasukan prajurit itu, dia memerintahkan Mo Ying dan Mo Yan menemani Joan untuk pergi lebih dahulu sementara mereka akan mencoba untuk menahan mereka.
Joan sudah memiliki rencana untuk menghadapi mereka tetapi dia perlu mempersiapkan diri lebih dahulu, dia sudah membicarakannya dengan Andi sebelumnya.
Andi dan penjaga-penjaga Mo melompat turun dari kuda mereka dan sambil memegang tali kekang membawa kuda-kuda itu kebalik pepohonan di pinggir hutan itu, bersembunyi di sana menunggu pasukan prajurit yang akan datang.
Saat seluruh pasukan prajurit itu sudah melewati mereka, Andi berseta para penjaga Mo kembali menaiki kuda mereka dan mengikuti pasukan prajurit itu dari belakang, mereka akan memastikan bahwa tidak ada seorangpun dari pasukan prajurit itu yang akan lolos dari ruang cap jiwa Joan.
Joan , Mo Ying dan Mo Yan yang sudah menunggu di satu tempat, dia menyiapkan aray ilusi dengan cepat, itu melingkupi jalanan sejauh seratus meter, dari kejauhan sudah terdengar teriakan para prajurit yang memacu kudanya dengan cepat.
Joan bertiga berdiri dengan tenang di tengah jalan menunggu para prajurit itu datang. Saat komandan pasukan prajurit itu melihat Joan bertiga berdiri di tengah jalan, dia memandang dengan heran, apa yang akan dilakukan oleh perempuan muda itu dengan berdiri di sana. Komandan pasukan itu turun dari kudanya, menyerahkan kuda itu ke tangan salah satu prajuritnya dan berjalan dengan langkah tegap menghampiri Joan.
Komandan itu mendapatkan laporan tentang dua orang yang terpantau menyusup ke rumah tua milik buronan kerajaan Sendawar, jadi ketika dia melihat mereka hanya bertiga saja, dia tidak menduga bahwa memiliki anggota yang lain.
"Salam nona, aku komandan Su dari kerajaan Sendawar, tuanku raja mengundang nona untuk datang menemui raja kami sebagai tamu kami".
Berlawanan dengan dugaan Joan bahwa komandan itu akan langsung menangkap mereka, dia malah dengan ramah menyapa Joan.
__ADS_1
"Maaf, kami tidak mengenal raja mu dan kami sedang terburu-buru untuk kembali".
Jawab Joan sambil membalas penghormatan dari pihak lain.
"Kalian tidak bisa kembali begitu saja nona, kalau kalian tidak mau ikut kami dengan baik-baik, maka kami akan memaksamu untuk melakukannya".
Karena tidak bisa membujuk Joan akhirnya harimau itu menunjukkan taringnya, dengan suara keras komandan itu berkata kepada Joan.
"Prajurit tangkap mereka".
Perintah komandan itu kepada para prajurit, Joan baru mau mengaktifkan ruang dimensi cap jiwanya saat tiba-tiba dia mendengar suara orang mengomando serangan dari pinggir hutan di sebelah kirinya.
"Serang, jangan biarkan ada dari mereka yang lolos".
Komandan itu juga terkejut, sambil menangkis serangan pedang dari seorang yang mendatanginya, dia berkata dengan dingin kepada Joan.
"Hem, rupanya kalian sengaja memancing kami ya, dasar pemberontak sialan".
Joan hanya terdiam, dia tidak mengerti darimana orang-orang ini datang dan mengapa mereka membantunya. Mo Ying dan Mo Yan tetap berdiri di samping Joan. Andi dan penjaga Mo yang muncul dari belakang pasukan prajurit itu juga terkejut dengan perkembangan tidak mereka prediksi itu tapi akhirnya mereka pun ikut melibatkan diri dalam pertempuran itu.
Joan langsung menarik dan menyimpan kembali aray ilusinya saat dia mendapati orang-orang itu menyerang para prajurit itu. Dia tidak mau sampai mengambil korban dari orang-orang yang tidak bersalah kepadanya.
Orang-orang itu seolah sudah mengenali mereka sehingga tidak ada dari mereka yang menyerang kelompok Joan sehingga komandan itu menjadi lebih yakin bahwa Joan merupakan bagian dari kelompok pemberontak itu".
__ADS_1
Seorang laki-laki tua tampaknya menjadi pemimpin dari orang-orang yang baru datang itu. Joan mengenalinya sebagai laki-laki tua yang dibelikannya bakpao kemarin.
Tetapi berbeda dari laki-laki tua yang dia temui sebelumnya yang kelihatan begitu lemah, sebaliknya laki-laki itu terlihat begitu gagah dan kuat sepertinya dia sedang menyamar menjadi seorang pengemis pada waktu dia menemui Joan.
Setelah beberapa dupa pertempuran itu selesai dengan kekalahan di pihak pasukan prajurit kerajaan Sendawar, saat komandan itu melihat bahwa mereka sudah tidak memiliki lagi kekuatan untuk melawan mereka, dia langsung memimpin prajuritnya untuk menyerah karena tidak ingin mengorbankan nyawa para prajuritnya.
Joan segera mengerti bahwa komandan ini orang yang baik, yang lebih memperdulikan bawahannya daripada kehormatannya. Laki-laki tua itu memerintahkan bawahannya untuk memperlakukan para tawanan itu dengan baik.
Andi dan penjaga Mo sudah berkumpul kembali dengan Joan. Laki-laki tua itu mendatangi mereka, dia menjura untuk memberi hormat kepada Joan.
"Apakah nona baik-baik saja".
Kata laki-laki tua itu kepada Joan.
"Ya, kami baik-baik saja, terimakasih atas pertolongan kalian pada kami".
Joan tetap berterimakasih kepada mereka meskipun dia dan kelompoknya tahu bahwa mereka sebenarnya tidak memerlukan pertolongan mereka, malah sebenarnya tindakan itu malah mengacaukan rencana yang sudah Joan susun untuk menangkap pasukan prajurit itu dengan bersih tanpa ada korban yang tidak perlu. Pertempuran itu bagaimanapun sudah memakan banyak korban, ada berapa orang yang tewas dari ke dua pihak dan puluhan orang terluka.
Untungnya kelompok Joan semuanya baik-baik saja karena kemampuan beladiri mereka memang diatas rata-rata orang.
"Mari nona, kita pergi ke tempat kami dulu, sementara anak buahku akan membereskan kekacauan di tempat ini".
Seorang bawahannya datang menghampiri dengan membawa seekor kuda untuk laki-laki tua itu, dia dengan sigap menaiki kudanya, beberapa orang menaiki kudanya masing-masing dan mengikutinya bersama Joan dan kelompoknya.
__ADS_1