Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Bertemu lagi.


__ADS_3

Perjalanan sebulanan itu tidak terasa membosankan apalagi banyak tempat-tempat indah yang melewati lewati, buat Andi itu sangat menyenangkan untuk bisa bersama-sama dengan Joan meskipun sedikit kesempatan hanya untuk berduaan saja tetapi buatnya itu sudah terasa memuaskan tapi mungkin di lain waktu, dia akan berkeliling dunia berdua saja bersama Joan.


Andi melihat Joan sangat senang untuk berpergian ke tempat-tempat baru, menikmati budaya, pemandangan dan terutama kuliner. Joan suka mempelajari hal-hal yang baru, setiap kali dia menemukan menu masakan yang baru, dia bukan hanya menikmatinya tetapi juga rajin untuk bertanya dan belajar kemudian mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya.


Mungkin itu menjelaskan mengapa Joan terlihat sangat berpengetahuan dan membuat banyak hal yang terasa sebagai keajaiban bagi banyak orang. Itu membuat Andi dan Mo bersaudara juga mulai suka memperhatikan hal-hal yang baru dan menarik bagi mereka.


Mendekati kota yang menjadi tujuan mereka, Joan sedikit merasa gelisah, mungkinkah di kota ini pada akhirnya dia akan menemukan rahasia terbesar dalam hidupnya. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah seorang anak yatim-piatu, di sini dia adalah anak angkat dari keluarga Joko yang menerimanya dari orang tuanya. Yang dia tidak mengerti apa hubungan dirinya yang dahulu dan yang sekarang tetapi yang jelas keduanya dihubungkan oleh liontin yang sama yang selalu menemaninya selama ini.


Tidak mau memusingkan dirinya dengan pemikiran itu, Joan memperhatikan gerbang kota yang ada di hadapannya. Itu kota yang sangat besar dengan tembok besar yang menjulang tinggi setinggi dua puluh meter, diatasnya ada pos pengintaian untuk melihat dikejauhan.


Untuk memasuki kota itu, masing-masing orang harus membayar sepuluh keping tembaga, kelihatannya untuk penduduk kota itu, mereka cukup memperlihatkan identitas mereka dengan sebuah token kependudukan mereka.


Dengan bea masuk sepuluh keping tembaga itu mereka menerima sebuah token pengunjung yang berisi catatan tentang identitas mereka. Mereka juga harus menyerahkan uang seratus tembaga sebagai deposit jaminan yang akan dikembalikan saat mereka akan keluar dari kota tersebut dengan menukarkan token itu kembali.


Mereka tidak mengerti mengapa mereka harus membayar sejumlah deposit sebagai jaminan saat memasuki kota tersebut. Setelah beberapa saat mereka di sana, barulah mereka menyadari bahwa deposit itu adalah jaminan untuk mereka mendapatkan biaya perawatan atau biaya penguburan kalau mereka terluka atau terbunuh di kota tersebut.


Rupanya ada banyak kekerasan yang biasa terjadi di kota tersebut sehingga jaminan deposit itu menghindarkan pemerintah kota itu untuk mengeluarkan biaya bagi pengunjung yang terluka atau bahkan terbunuh di sana. Joan pikir itu juga bisa diterapkan untuk orang-orang yang akan memasuki area perburuan di hutan larangan. Hutan larangan sudah menjadi satu destinasi wisata desa Genteng untuk perburuan binatang roh dan hanya dibuka setahun sekali yang sudah masuk di dalam jadwal acara nasional di kekaisaran Langit.


Joan mencatat hal itu dan menyimpan catatannya kembali supaya dia tidak melupakannya dan segera melakukannya setibanya mereka kembali ke desa Genteng.

__ADS_1


Membawa kuda dan kereta mereka ke dalam kota, Joan mendapatkan bahwa jalanan kota itu benar-benar dipenuhi oleh kepadatan orang yang mengingatkannya akan kondisi kota Jakarta dalam ingatannya akan dunianya sebelumnya.


Saat mereka sedang mencari tempat penginapan, Joan melihat keributan kecil terjadi di depannya, tampak seorang lelaki tua yang berpakaian sederhana sedang dimaki-maki oleh berbagai orang, wajah laki-laki tua itu terlihat pucat karena ketakutan dan rasa malu.


Joan turun dari keretanya dengan Andi yang mengikuti dibelakangnya, dia mau menanyakan kepada orang-orang itu apa yang diperbuat oleh laki-laki tua itu.


"Maaf permisi, ada apa ini".


Melihat seorang perempuan muda dengan beberapa orang yang terlihat sebagai pengawalnya, orang-orang itu segera menyadari bahwa perempuan muda di depan mereka itu pasti seorang nona muda dari keluarga besar. Mereka segera membuka ruang bagi Joan.


"Oh ini nona, laki-laki tua ini mau mengambil bakpao itu tanpa membayarnya sehingga kami memarahinya".


Joan melihat laki-laki itu gemetar, mungkin karena lapar, dia menundukkan kepalanya dengan rambut panjang yang terurai menutupi wajahnya, tangannya masih memegang sebuah bakpao dengan erat seolah takut ada orang yang akan mengambilnya.


"Ambillah uang ini dan tolong berikan kepadanya apapun yang dia mau makan, aku akan memberikan lagi kalau uangnya kurang dari apa yang dia makan".


"Oh baiklah nona, ini sudah lebih dari cukup".


"Ya, kebetulan kami juga mau makan, tolong siapkan menu makanannya".

__ADS_1


Kata Joan sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah makan itu, laki-laki tua itu mengangkat wajahnya dan melihat Joan dengan tatapan terimakasih tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya bergumam di dalam hatinya saja


"Seperti nona, perempuan muda ini juga baik hatinya".


Andi memandang sekilas pada laki-laki tua itu, dalam penglihatannya dia sedikit terkejut saat melihat tatapan tajam dari laki-laki tua itu saat dia mengangkat wajahnya karena Andi merasa laki-laki tua itu tidak sesederhana seperti yang terlihat.


Saat Joan dan kelompoknya duduk di kursi yang sudah disediakan, dia melihat ke arah laki-laki tua yang juga sedang melihatnya. Joan langsung tercengang, dia berkata kepada Mo Ying.


"Bukankah itu laki-laki tua yang kita temui di kota Bohoq".


"Mana ? mungkin hanya terlihat mirip saja nona, bagaimana mungkin laki-laki tua itu berada di tempat ini".


"Ya, mungkin hanya mirip saja".


Joan juga memikirkan itu, kelihatannya tidak mungkin untuk laki-laki tua itu bisa berada di kota ini yang jaraknya ratusan kilometer dari kota Bohoq. Mereka yang naik kereta saja baru sampai pada hari ini, bagaimana mungkin laki-laki tua yang miskin itu bisa tiba secepat itu untuk menemui mereka.


Joan ragu-ragu saat memikirkan hal itu namun dia tetap merasa bahwa laki-laki tua itu adalah orang yang sama yang dia tolong di kota Bohoq ataukah mungkin laki-laki ini kembarannya. Meskipun hal itu memungkinkan tetapi Joan tidak berniat untuk menanyakan hal itu kepadanya.


Joan masih memiliki banyak hal yang penting yang harus dia kerjakan di kota ini daripada menyelidiki laki-laki tua yang terlihat seperti seorang pengemis itu. Lagipula laki-laki tua itu tidak terlihat seperti orang yang hebat yang harus diperhatikannya.

__ADS_1


Joan membenamkan dirinya untuk menikmati makanan dan minuman di hadapannya, menemukan rasa masakan baru yang membuatnya tidak dapat menahan lagi rasa laparnya, dia sudah tidak lagi memperhatikan hal-hal yang lain.


Laki-laki tua itu memegang bungkusan bakpao yang baru dibelikan Joan, dia tersenyum, merasa yakin dengan apa yang sudah dia pastikan di dalam hatinya, laki-laki tua itu berbalik dan meninggalkan tempat itu


__ADS_2