
Joan senang dengan perjalanannya hari ini, dia bisa bertemu dengan Melly yang sudah lama dirindukannya.
Berapa hari di ibukota membuat Joan rindu kampung halaman nya, merindukan suasana ketenangan, merindukan ayah, ibu dan adik-adiknya, merindukan semua aktivitas kesehariannya.
Saat mereka bertiga kembali ke rumah, seseorang sudah menunggunya di rumah. Selir Ouyang sedang duduk bersama seorang perempuan yang berumur lima puluh tahunan tetapi masih terlihat cantik dan bersemangat.
Mereka sedang berbicara dengan nada lembut ketika trio anak muda ini datang.
Anak-anak ini tidak melupakan sopan santun ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, mereka menunjukkan penghormatannya dan menyapa ke dua orang tua itu.
"Selamat siang ibu, selamat siang bibi Be"
"Selamat siang bibi, selamat siang nyonya"
Joan turut menyapa...
"Selamat siang, kalian bersenang-senang hari ini"
Kata selir Ouyang menanggapi kata-kata mereka sedang nyonya yang dipanggil oleh Little Fox dan Ocha sebagai nyonya Be hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Mari kalian duduklah di sini, kebetulan nyonya Be datang untuk menemui Joan hari ini?"
Mereka bertiga duduk berendengan di kursi depan ke dua orang tua itu.
"Joan kamu belum mengenalku tetapi kamu pasti kenal anakku Mona, perkenalkan aku nyonya Lam Be Mu, ketua sekolah Pedang Terbang, anak-anak siswa kami pernah datang ke desa Genteng berapa bulan lalu".
"Oh maaf nyonya Be kalau aku tidak mengenalimu, benar siswa-siswi sekolah Pedang Terbang pernah berkunjung ke desa kami dan kami sangat berterimakasih atas kunjungan itu, kapan kalian akan berkunjung kembali ke desa Genteng ".
Kata Joan sambil mengingat keuntungan yang dibawa oleh siswa siswi Pedang Terbang yang banyak membelanjakan uang mereka.
"Ya, aku mau memohon maaf atas ketidak sepahaman yang terjadi dengan wakil kepala sekolah kami saat itu".
"Dia mendapatkan perintah dari kepala sekte kami untuk meminta hak distribusi bahan-bahan mistis yang ada di desa Genteng tetapi wakil kepala sekolah memiliki ambisinya sendiri sehingga dia berpikir untuk mengambil kendali atas desa Genteng".
"Kami sudah menegurnya untuk itu dan menurunkan jabatannya menjadi penilik sekolah saat ini".
"Banyak siswa-siswi kami termasuk anakku Mona melaporkan banyak hal yang menarik dalam pembelajaran di sekolah kalian, hal-hal yang tidak mereka dapatkan di sekolah kami. Jadi kami ingin menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan sekolah kalian kalau kalian tertarik untuk berkerja sama secara setara".
__ADS_1
Joan senang mendengarkan penawaran itu. Tentu kerjasama itu akan memberikan kesempatan kepada anak-anak di desa Genteng untuk bisa menginjakkan kakinya di ibukota dan mereka bisa mendapatkan tempat praktek dan pengalaman yang lebih luas lagi. Juga jenjang karir yang lebih baik di ibukota bagi mereka yang sungguh-sungguh memiliki kemampuan.
Joan sudah lama berencana untuk mengirimkan adik-adiknya ke ibukota untuk belajar. Jadi sangat menyenangkan mendapatkan tawaran kerjasama itu
"Little Fox adalah lulusan terbaik tahun ini dari sekolah Pedang Terbang".
Kata selir Ouyang menambahkan agar Joan mau menerima tawaran kerjasama itu. Selir Ouyang berpikir bahwa Joan ragu-ragu dengan tawaran kerjasama itu saat melihat Joan hanya tercenung saja, padahal Joan lagi bersungguh-sungguh menyimak baik-baik perkataan nyonya Be sambil memikirkan ke tiga adiknya.
Dalam kehidupannya sekarang ini, dia tidak pernah bersekolah tetapi dalam kehidupannya sebelumnya dia adalah seorang sarjana pertanian yang lulus dengan nilai sempurna.
Hal itu yang membuat keluarganya heran dengan pengetahuannya yang luas dan menganggapnya sebagai reinkarnasi dari Dewi.
Kalau dia bisa baca tulis, meskipun tidak bersekolah. Orang-orang di desa Genteng tidak pernah bertanya-tanya tentang hal itu karena mereka tahu ayah Joan, pak Joko adalah seorang cendekiawan yang berasal dari ibukota.
Joan tidak menduga nyonya Be akan memberikan penawaran kerja sama antara sekolah Pedang Terbang dengan sekolah mereka di desa Genteng.
Yang pertama kali terbersit dalam pikirannya adalah nyonya Be akan memprotes perlakuan yang sekolah Pedang Terbang terima di desa Genteng. Memang benar apa yang terlihat belum tentu itu apa yang terjadi.
Jadi memang tidak boleh buru-buru mengambil kesimpulan sebelum benar-benar jelas persoalan yang sesungguhnya terjadi.
"Oh nyonya Be, justru aku senang kalau sekolah Pedang Terbang mau berkerja sama dengan kami. Ijinkan atas nama Badan Otorita Desa Genteng, aku mengundang sekolah Pedang Terbang untuk mengirimkan utusan ke desa Genteng untuk membicarakan kerja sama dengan sekolah kami lebih lanjut".
Kata nyonya Be sambil bangkit berdiri, diikuti oleh semua orang yang ada di ruangan itu. Mereka saling memberi hormat, kemudian mereka mengikuti selir Ouyang untuk mengantarkan nyonya Be sampai di kereta kudanya.
Sampai kereta nyonya Be hilang dari pandangan mata, barulah mereka kembali ke dalam rumah.
Ocha dengan bersemangat menceritakan kepada ibunya tentang kejadian di rumah makan, bagaimana Joan mempermalukan nona Bai Ji Gur dan bagaimana Joan bertemu dengan sahabat lamanya Melly.
Selir Ouyang senang melihat ketiga anak muda itu bercerita bergantian. Terlihat mereka sudah seperti saudara kandung saja.
Saat mereka lagi asyik bercengkerama, Andi tiba di rumah itu bersama dengan dua penjaga kepercayaannya, Mo Yi dan Mo Yan.
Andi masuk ke dalam ruangan itu, mendekatinya dari belakang diam-diam kemudian tanpa malu-malu dia memeluk Joan di hadapan semua orang itu. Selir Ouyang terlihat senang dengan tindakan intim puteranya pada Joan.
Sambil tersenyum dia menggoda Andi.
"Lihat anak ini, sudah ada kekasihnya, begitu cepat melupakan ibunya. Biasanya kalau dia datang, ia akan memelukku terlebih dahulu".
__ADS_1
"Kalau dia tidak mau memeluk mama, biar aku saja".
Kata Ocha datang dan memeluk mamanya.
"Lha aku peluk siapa?"
Kata Little Fox berjanda eh bercanda.
"Peluk dia saja".
Kata Andi sambil menunjukkan jarinya pada Mo Yi.
"Wau jangan, aku masih suka perempuan".
Kata Mo Yi, mereka semua tertawa bersama.
Andi melepaskan pelukannya dan dia menggandeng tangan Joan.
"Ah aku merindukan mu".
"Baru tidak bertemu seminggu saja, sudah rindu, bagaimana kalau setahun".
Kata Ocha menggoda kakaknya.
"Kalau setahun, aku akan mengikatnya disisiku".
Kata Andi kembali dan mereka sekali lagi tertawa bersama..
Selir Ouyang tersenyum melihat kegembiraan anak-anaknya. Mo Yi dan Mo Yan juga terlihat santai bersama keluarga selir Ouyang karena memang mereka sudah mengikuti keluarga itu sejak mereka masih anak-anak.
Mereka diseleksi secara ketat dari anak-anak Yatim Piatu yang diketemukan oleh penjaga bayangan keluarga Ouyang dari seluruh penjuru negeri.
Dididik dan dilatih untuk menjadi penjaga bayangan berikutnya. Anak-anak ini menjalani pelatihan hidup yang sangat keras dan kejam untuk anak-anak kecil seusia mereka.
Ada beberapa dari mereka yang lemah akan tersingkir dengan sendirinya, entah mati dalam pelatihan atau dalam tugas mereka untuk membunuh musuh.
Mereka dilatih untuk melindungi dan mengorbankan nyawa mereka jika diperlukan untuk keselamatan tuan mereka.
__ADS_1
Ada seratus anak pada mulanya dan hanya tiga puluh satu anak yang bertahan hingga dewasa.
Untungnya keluarga Ouyang tidak memperlakukan mereka dengan buruk, malah meminta merasa sangat bersyukur melayani keluarga selir Ouyang yang memperlakukan mereka seperti anggota keluarga sendiri.