Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Pernikahan 2


__ADS_3

Joan bukannya mau menolak pernikahannya dengan Andi tetapi dia ingin Andi memikirkan persoalan pernikahannya dengan sebaik-baiknya. Meskipun Joan mencintainya, Joan tidak ingin membuat Andi berkorban terlalu besar untuknya.


Andi yang mendengarkan penjelasan Joan akhirnya mau mengerti, dia tahu Joan berpikir untuk kebaikannya sendiri. Andi sendiri juga tidak ingin menikah secepatnya meskipun wajar untuk menikah di usia tujuh belas tahun pada jaman itu.


Andi ingin mencari jalan keluar yang tepat agar ayahnya bisa mendapatkan kandidat yang lebih baik darinya, meskipun kakak pertamanya berulang kali mau mencelakainya tetapi Andi tidak membencinya justru dia bersedia untuk membantu pangeran pertama mendapatkan tahta tetapi karena selama ini Kaisar selalu menampakkan keterpihakkan kepada Andi yang membuat pangeran pertama menjadi iri sehingga ingin mencelakakan Andi.


Joan juga mengetahui Kaisar ingin menjadikan Andi untuk menjadi penerusnya karena Kaisar menilai pangeran ketiga ini paling cakap dan bijaksana diantara pangeran lain.


Pangeran pertama sebenarnya kandidat yang lebih kuat tetapi ambisinya terlalu tinggi dan suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Kaisar tidak terlalu senang dengan sikap pangeran pertama, jadi Kaisar lebih mengedepankan pangeran ketiga untuk calon penerusnya.


Pangeran ketiga bukan orang yang ambisius dan lebih suka hidup bebas tetapi seperti kata Kaisar, kadang seseorang harus berani mengorbankan kenyamanannya untuk kepentingan bangsa dan negaranya.


Banyak orang memiliki pemikiran ini pada awal masa jabatannya tetapi sayangnya ketika jabatan diperoleh, seiring dengan kenaikan jabatan, naik juga statusnya, bertambah kekayaan dan kekuasaannya, berubah pergaulannya, juga gaya hidupnya akhirnya lupa dengan sumpah jabatan yang pernah diucapkan, akhirnya korupsi, nepotisme, kolusi dan perbuatan dosa dilakukan hanya untuk mempertahankan ego dan kenyamanannya.


Masa tua pun dinikmati di hotel prodeo.


Dalam berapa hari itu, jendral Wong Nge Dan dan jenderal Loe Som Bong mengurus urusan administrasi untuk kepindahan tugas mereka ke wilayah kerja mereka yang baru.


Kaisar resmi memberikan nama kota pelabuhan itu menjadi kota pelabuhan Sejedewe karena kota itu berbeda dengan kota-kota lain di negara Kekaisaran Langit, kota Sejedewe merupakan kota pelabuhan satu-satunya di negara tersebut dan kota itu tidak dibuka untuk masyarakat umum tinggal tetapi menjadi pangkalan militer angkatan laut negara Kekaisaran Langit diperintah oleh gubernur militer jendral Wong Nge Dan.


Kota Sejedewe yang terletak di dalam teluk pantai Kersik diapit dua bukit kembar yang menjadi bagian dari hutan larangan. Joan mau melestarikan hutan larangan itu sehingga Badan Otorita Desa Genteng yang sekarang menjadi daerah otonomi Khusus. Ayah Joan resmi diangkat Kaisar sebagai Adipati daerah otonomi khusus desa Genteng.


Badan Otorita Desa Genteng tetap mempertahankan nama desa Genteng, mereka tidak mau merubah kata desa itu menjadi kota, ini desa yang sangat besar bahkan sudah lebih besar dari kota Krikilan untuk luas wilayahnya.


Adipati Joko tetap menjabat sebagai ketua Badan Otorita Desa Genteng dan itu menjadi satu peraturan untuk seterusnya bahwa Adipati daerah otonomi Khusus desa Genteng otomatis menjadi ketua Badan Otorita Desa Genteng.


Pengurus Badan Otorita Desa Genteng terdiri dari ketua, wakil ketua, tua-tua desa Genteng, ini dimaksud dengan penasehat dan pelindung desa Genteng dan ketua-ketua kordinator yang membawahi dan mengatur unit-unit kerja desa Genteng.


Adipati akan selalu berasal dari keturunan keluarga tuan Joko tetapi untuk wakil ketua dan koordinator bisa dipilih dari semua penduduk desa Genteng yang memiliki kapasitas dan kredibilitas yang bersedia mencalonkan diri dan dipilih secara demokratis oleh penduduk desa Genteng dalam pemilihan umum desa Genteng setiap sepuluh tahun sekali.


Jendral Wong Nge Dan dan jenderal Loe Som Bong datang ketempat kediaman nyonya Ouyang Ku untuk berpamitan kepada Joan karena mereka akan kembali ke desa Genteng.


Joan akan tinggal dulu untuk beberapa saat karena menunggu Andi yang masih ada urusan penting yang tidak bisa diabaikan sebelum kembali ke desa Genteng.

__ADS_1


Jendral Wong Nge Dan dan jenderal Loe Som Bong kembali ke desa Genteng dengan membawa dua puluh kereta kuda, karena mereka membawa seluruh keluarganya, bawahan, pelayan dan perabotan rumah tangganya.


Hanya keluarga samping yang ditinggalkan untuk menjaga rumah dan aset keluarga.


Rombongan itu cukup menarik perhatian masyarakat pada kota-kota yang dilalui karena rombongan jendral ini dikawal oleh seribu orang prajurit.


Sore harinya Joan berjalan-jalan menyusuri ibukota bersama dengan Little Fox dan Ocha. Little Fox membawanya menuju rumah makan yang terletak di pinggir danau.


Rumah makan itu berupa bangunan kayu dengan atap jerami, sederhana namun tetap terlihat cantik dipandang.


Mereka masuk ke dalam rumah makan itu untuk bersantai menikmati hilir mudiknya perahu-perahu di atas danau. Memberi makan ikan-ikan emas yang ada banyak di danau tersebut.


Joan jadi ingat danau Toba di Indonesia tetapi di danau Toba tidak ada atraksi memberi makan ikan.


Ketika mereka masuk ruangan rumah makan itu, seorang gadis cantik yang sedang berjalan sambil berbicara dengan temannya tidak segaja bertabrakan dengan Joan yang asyik melihat pemandangan di atas danau itu sehingga Joan tidak memperhatikan apa yang ada di depannya.


"Brugh"


" Ugh, maafkan aku, aku tidak melihatmu";


Kata Joan meminta maaf terlebih dahulu karena memang dia tidak melihat gadis itu berjalan ke arahnya tetapi seharusnya gadis itu bisa menghindarinya, kayaknya mereka sama-sama meleng.


"Maaf! matamu di mana? Jalan begitu lebar, kenapa kau ambil jalan yang sama denganku".


Gadis cantik itu mengumbar kemarahannya kepada Joan. Joan tidak ingin memancing keributan sehingga dia sekali lagi meminta maaf.


"Maafkan aku nona, benar seharusnya aku tidak di jalanmu".


Joan mau meneruskan langkahnya setelah mengatakan hal itu tetapi gadis itu justru menghadangkan tubuhnya di depan Joan.


"Maaf, maaf, enak saja. Kamu tidak lihat gaunku menjadi kusut karena tersentuh tubuh kotormu".


Joan terkejut mendengar perkataan yang kasar itu.

__ADS_1


Little Fox dan Ocha yang bersama Joan langsung menjadi marah.


"Nona, jangan keterlaluan, hanya berbenturan bahu saja, bagaimana gaunmu bisa menjadi kusut. Berapa harga gaunmu, biar aku membayangkannya".


Ledek Little Fox kepada gadis itu.


"He kamu anak kecil tidak usah ikut-ikutan, aku sedang bicara pada anak kampung ini".


Rupanya gadis itu tidak mengenali Little Fox dan Ocha yang memang berpakaian sederhana saja saat itu.


"Tidak cukup kamu meminta maaf, kamu harus menampar dirimu sendiri tiga kali, baru aku akan memaafkanmu".


Gadis itu meneruskan perkataannya dengan arogan.


Little Fox menjadi sangat marah, dia mau melangkah ke depan tetapi Joan memegang bahunya dan menggelengkan kepalanya, memberikan syarat agar little Fox tetap tenang


"Kamu mau aku menampar diriku, baiklah aku akan mengabulkannya".


"Plak, plak, plak"


Tiga kali suara tamparan terdengar. Gadis itu berteriak dengan keras, pipinya menjadi bengkak kemerahan. Dia melihat tangan Joan sedikit bergerak tetapi justru tangannya sendiri tanpa dapat dikendalikan sudah menampar pipinya sendiri.


"Aduh, kenapa kamu tidak sabaran, aku baru mau menampar pipiku tetapi kamu sudah memberikan contoh bagiku"


Teman gadis itu memandang Joan dengan ketakutan, dia juga melihat tangan Joan sedikit bergerak, tiba-tiba malah gadis itu yang menampar dirinya sendiri.


"Siapa yang mau menampar pipi sendiri, pasti kamu yang sudah mempengaruhi ku"


"Tunggu di sini, kalau kamu berani, kamu tidak tahu siapa diriku. Aku nona muda dari kediaman keluarga Bai"


Gerutu gadis itu dan dia segera keluar dari rumah makan itu


Joan, Little Fox dan Ocha tentu saja tidak takut dengan ancaman itu. Mereka tetap memesan makanan ringan dan duduk di kursi yang menghadap ke danau sambil melemparkan remah-remah roti untuk diperebutkan oleh ikan-ikan yang berenang di danau itu.

__ADS_1


__ADS_2