
Di perjalanan panji-panji dikibarkan, bukan panji dari kekaisaran Langit, justru itu Panji dari organisasi perusahaan pengiriman kargo milik desa Genteng karena Joan tidak ingin mendapatkan perhatian dari masyarakat atau pejabat pemerintahan dari daerah yang dilalui.
Kalau mereka tahu rombongan itu berisikan pangeran dan Puteri Agung dari Kekaisaran Langit maka dapat dipastikan, perjalanan itu akan tertunda-tunda karena mereka harus menjalani upacara penyambutan di setiap daerah yang mereka lalui.
Meskipun begitu, tetap saja rombongan itu menarik perhatian orang untuk memperhatikannya karena panji-panji sekolah Pedang Terbang juga ada di antara rombongan itu.
Juga seragam dan atribut yang menandakan bahwa mereka berasal dari sekolah Pedang Terbang yang sangat dikenal masyarakat umum di negara tersebut.
Tanpa penyambutan pun, perjalanan itu juga tidak cepat karena mereka sungguh menikmati perjalanan tersebut dengan berkunjung ke tempat wisata di daerah yang mereka lalui. Joan pada waktu perjalanan ke ibukota begitu terburu-buru untuk segera sampai sehingga dia melewatkan kesempatan untuk melihat-lihat hal-hal yang menarik dalam perjalanan itu, kondisi ini berbeda saat perjalanan pulang, tidak ada lagi yang harus dikejar, jadi dia juga bisa santai menikmatinya.
Andi sudah tidak malu lagi untuk berjalan bersama Joan tetapi kali ini dia benar-benar menjaga sikapnya karena tidak ingin mempermalukan Joan lagi.
Sebenarnya perjalanan itu sempat tertunda sehari, itu bukan karena mereka berhenti untuk berwisata tetapi karena nyonya Be dan dua guru pendamping yang bersamanya. Saat mereka menikmati makan nasi yang dimasak dari beras mistik untuk pertamakalinya, seperti yang lain mereka mengalami pembersihan dalam meridian dan mengalami lonjakan kultivasi.
Itu menyebabkan tubuh mereka mengeluarkan kotoran yang selama ini mengendap dalam tubuh mereka. Nyonya Be sangat heran, bukankah mereka bukan tidak pernah merasakan nasi dari beras mistik, sekolah Pedang Terbang juga membeli beras mistik secara teratur dari desa Genteng, kenapa reaksinya jauh berbeda.
Nasi dari beras mistik yang mereka makan selama ini memang dapat meningkatkan kekuatan dan menyehatkan tubuh namun itu berlangsung secara perlahan, ini sangat berbeda dengan nasi yang mereka rasakan saat ini, bukan hanya lebih harum tetapi juga langsung membuat mereka melakukan terobosan.
Tentu saja berbeda karena beras yang mereka belum berasal dari panenan padi di lahan sawah desa Genteng, sedangkan yang mereka makan sekarang, itu berasal dari ruang dimensi pertanian Joan sendiri.
Para ahli beladiri di benua itu biasa menaikkan kultivasi mereka melalui penyerapan energi alam atau lebih cepat dengan mengkonsumsi energi dari batu roh tetapi itu pun lebih lamban daripada percepatan yang diperoleh dari mengkonsumsi nasi dari beras mistik milik Joan.
"Apakah beras mistik premium ini tidak dijual untuk umum".
Nyonya Be menanyakan hal itu setelah dia selesai membersihkan dirinya.
"Ya, itu hanya dijual secara ekslusif kepada Kaisar karena produksinya tidak terlalu banyak dan sebagian besar kami konsumsi sendiri, itupun terbatas hanya untuk jajaran manajemen Badan Otorita Desa Genteng, juga untuk anak-anak dan orang tua saja.
"Ups kalau begitu, bisakah aku mendapatkannya juga".
Kata nyonya Be dengan malu-malu karena dia sangat berminat dengan beras itu. Nyonya Be mendapati bahwa bukan hanya kultivasi nya meningkat tetapi juga kulitnya menjadi lebih halus, kerutan yang mulai muncul diwajahnya pun menghilang, dia bisa merasakan kulitnya yang sudah mulai kaku menjadi kenyal kembali.
"Mudah saja nyonya, aku akan memberikanmu jatah lima kilogram per bulan melalui bibi Ouyang".
__ADS_1
"Kalau begitu, berapa aku harus membayarnya".
Nyonya Be tahu, beras itu sangat mahal harganya. Beras yang berasal dari lahan sawah saja sudah berharga beberapa batu roh apalagi beras ini merupakan beras super premium yang dia tidak tahu bagaimana menghasilkannya, mungkin ingin berasal dari laboratorium yang tersembunyi.
"Tidak perlu nyonya, itu sebagai tanda terimakasihku atas kesediaan sekolah Pedang Terbang untuk berkerjasama dengan sekolah kami ".
Jawab Joan sambil tersenyum.
Nyonya Be menjadi tersentuh hatinya, dia memegang tangan Joan tanpa berkata-kata lagi.
Andi yang berkuda disamping kereta mensejajarkan kudanya di dekat jendela.
"Joan, di depan ada danau yang indah, apakah kita akan beristirahat dulu di sana".
Joan mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta dan berseru dengan gembira.
"Baiklah, kita berhenti dulu sebentar di sana, aku mau mencuci wajahku".
Tidak lama kemudian rombongan itu berhenti dipinggir sebuah danau, seperti yang dikatakan Andi. Itu memang danau yang indah dengan pepohonan Pinus yang tumbuh teratur seolah ada orang yang telah menanamnya tetapi tidak ada satupun rumah disana, jadi mustahil jika ada orang yang menanamnya.
Mereka berjalan sampai ketepian danau itu, di atas permukaan danau itu tumbuh beberapa bunga teratai dengan bunganya yang berwarna merah, Joan mengambil bunga itu mencari biji teratai, mengupasnya dan memakannya, dia memberikan berapa biji bunga teratai itu kepada Andi dan Nyonya Be.
"Cobalah, rasanya enak, ini juga menyehatkan, bisa untuk mengobati insomnia juga untuk anti penuaan dan memberikan tenaga instan".
Mereka mengambil biji teratai itu dari tangan Joan, meskipun ragu-ragu tetapi karena mereka melihat Joan memakannya, mereka ikut memakannya juga dan memang rasanya enak.
"Biji teratai ini banyak kegunaannya, kita bisa kumpulkan bijinya untuk dikeringkan, kita bisa merebusnya untuk dibuat camilan buat menemani perjalanan".
Mendengar itu beberapa penjaga langsung turun ke dalam danau untuk mengumpulkan biji teratai, setelah berkerja berapa waktu, mereka dapat mengumpulkan biji teratai itu sekitar tiga kilogram. Joan merasa senang dengan itu.
Saat Joan melihat beberapa ekor ikan besar yang berenang di permukaan kolam itu, ia ingin menangkap ikan itu namun dia tidak memiliki pancing.
Andi melihat Joan menatap ikan-ikan yang berenang di permukaan danau dan dia segera mengerti.
__ADS_1
"Mo Yi perintahkan untuk mencari kayu bakar, kita akan memanggang ikan di sini"
"Siap tuan!".
"Mo Yu, Mo Shan, Mo Yan".
Mereka langsung menghilang ke dalam hutan dipinggir danau itu, tidak berapa lama untuk membuat berapa api unggun, hanya ikannya dari mana?
Andi mengangkat kedua tangannya, memutar di depan dadanya, menarik dan kemudian mendorong tangannya ke arah danau itu
"Blarr".
Suara keras terdengar dan ikan-ikan besar tersedot keluar dari danau itu berlompatan ke atas rerumputan di pinggir danau itu.
Mo Yi juga melakukan hal yang sama dengan Andi, hanya dua kali saja mereka melakukan hal itu sudah terkumpul lebih dari dua ratus ekor ikan.
Siswa-siswi sekolah Pedang Terbang dengan kagum melihat kegiatan ke dua orang itu, mereka segera mengambil ikan-ikan itu, membersihkannya kemudian menusuk ikan itu dengan ranting pohon yang mereka sudah kumpulkan dan masing-masing memanggang ikan itu di atas api unggun.
Joan mengambil kompor dan tabung gas kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi, Joan mengambil panci, menambahkan air mistik ke dalamnya, memasukkan bumbu dapur dan dia membuat gulai kepala ikan yang membuat Mo Yi mengiler ikan makan juga.
Tentu saja Andi tidak mengijinkannya, itu masakan eklusif yang dibuat oleh Joan, jadi harus dia yang memakannya.
Joan menuangkan gulai kepala ikan itu ke berapa piring dan dia memberikannya.....
Andi terdiam melihat piring itu melewatinya....
Ternyata Joan memberikan piring kepada nyonya Be
"Nyonya Be, silahkan!"
Andi ternganga, Mo Yi pun tertawa...
Joan mengambil piringnya sendiri dan mulai makan gulai kepala ikannya. Saat Andi yang merasa sedih melihat tidak ada bagiannya. Joan tertawa dan menyodorkan sepiring gulai kepala ikan kepada Andi....
__ADS_1
Giliran Mo Yi yang merasa sedih.