Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Tupai putih


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang, rombongan itu berkemas untuk melanjutkan perjalanan, Joan meminta maaf karena dia harus meninggalkan mereka sebentar untuk buang hajat, diperjalanan urusan seperti itu memang sangat merepotkan bagi perempuan, tidak seperti laki-laki yang bisa melakukan hal itu dimana saja.


Joan melangkahkan kakinya agak jauh ke dalam hutan itu, Penjaga bayangan sudah memeriksa dan mendeteksi tidak ada binatang buas di daerah itu, jadi Andi tidak mengkuatirkan Joan, lagipula bagaimana dia bisa mengikuti Joan untuk urusan itu.


Setelah merasakan bahwa sudah tidak ada orang lain di sekitarnya, alih-alih dengan memasang aray persembunyian. Joan masuk kedalam ruang dimensi pertaniannya yang memang mengikutinya dimanapun dia berada seperti halnya dengan cincin ruang untuk menyimpan barang-barang.


Hanya cincin ruang tidak bisa menyimpan mahkluk hidup, ruang dimensi pertanian Joan bukan hanya bisa menyimpan mahkluk hidup bahkan bisa mengkloning dan menggandakan mahkluk hidup yang dimasukkan ke dalam ruang itu. Hanya itu tidak berlaku bagi manusia, untuk manusia ruang itu hanya bisa digunakan untuk mempengaruhi dengan memberikan cap jiwa yang membuat orang tersebut menjadi patuh dan mengikuti apapun perintah Joan.


Dalam ruang dimensi pertaniannya, Joan memiliki rumah seperti di jaman modern dengan peralatan modern juga. Jadi untuk mandi dan untuk buang hajat tentu saja dia lebih senang melakukannya di wc daripada memakai ember kayu seperti orang di jaman kuno ini.


Setelah selesai dengan urusan rumah belakang, Joan memperhatikan keadaan di luar dari dalam ruang dimensi pertaniannya. Ruang dimensi pertaniannya seperti dikelilingi oleh kaca riben, bisa melihat orang diluar tetapi orang diluar tidak bisa melihat apa yang ada didalam.


Setelah memastikan tidak ada orang di luar, Joan keluar dari ruang dimensi pertaniannya, dia kembali merapikan pakaiannya, bersiap kembali ke rombongannya. Saat dia mau melangkahkan kakinya, dia mendengar suara gemerisik di semak belukar yang ada di depannya, dia melihat seekor binatang kecil seperti tupai tapi bukan seperti tupai umumnya yang berwana abu-abu, tupai ini memiliki bulu putih seputih salju.


Tupai itu memutarkan matanya yang bulat, memandang Joan dengan tatapan ingin tahu. Joan merasa tupai itu sangat lucu, dia mau mengkloning tupai itu untuk dipeliharanya tapi tupai itu masih jauh dari jangkauannya.


Joan mengeluarkan sebutir kenari, menaruhnya di tangannya dan mencoba untuk merayu tupai itu agar mau mengambil kenari di tangannya.


"Sini putih, ayo datanglah. Aku punya banyak buah kenari untuk mu".

__ADS_1


Sambil berkata demikian, Joan beringsut pelan-pelan agar tidak mengejutkan tupai itu. Tupai itu masih tidak bergerak, hanya memandang kenari di tangan Joan dengan waspada. Sebelum Joan sempat bereaksi, tupai itu sudah melompat secepat kilat dan mengambil kenari itu dari tangan Joan.


Joan terkejut melihat tindakan tupai itu, Joan terpana melihat kecepatannya sehingga dia terlambat untuk bereaksi, tupai itu sudah menjauh lagi darinya. Joan mengambil buah kenari yang lain, dia kembali beringsut mendekati tupai berwarna putih itu.


Ketika sudah dekat dengannya, tupai itu kembali melompat dan mengambil buah kenari itu lalu melompat kembali secepat kilat menjauhi Joan. Kembali Joan terpana, lagi-lagi dia terlambat bereaksi. Joan menjadi sangat.... sangat penasaran.


Tanpa disadari Joan, dia melangkah semakin jauh ke dalam hutan, tupai putih itu seperti menggodanya, tupai itu tidak seperti tupai liar pada umumnya yang akan lari jauh-jauh saat melihat orang.


Tetapi juga bukan seperti tupai yang jinak yang mau untuk menerima makanan dari orang, tupai itu tidak mendekat tetapi juga tidak menjauh dari Joan. Dia menelan buah kenari itu meletakkannya dalam kantung yang ada di pipinya sehingga pipinya terlihat menggembung yang membuatnya jadi terlihat menggemaskan.


Saat mengejar tupai itu kekedalaman hutan, Joan tidak menyadari ada kabut putih tipis yang memenuhi tempat itu, Joan melangkahkan kakinya melewati kabut tipis itu dan dia tidak lagi terlihat dalam pandangan mata.


Mereka kembali dengan cepat dan melaporkan situasinya. Andi beserta penjaga bayangannya segera mendatangi tempat itu, selain jejak kaki Joan, tidak ada jejak kaki tambahan di sana. Tidak ada jejak perkelahian, hanya jejak kaki Joan yang menuju kedalaman hutan.


Mereka memeriksa dengan cermat, setelah sekitar dua ratus meter dari tempat itu, jejak kaki itu menghilang. Joan hilang, lenyap seperti kabut tipis yang menghilang saat fajar.


Andi menjadi sangat geram, tanpa diperintahkan lagi semua penjaga bayangannya menyebar menyusuri hutan itu, membongkar setiap semak belukar, memotong daun-daun pohon yang lebat tetapi tidak ada jejak Joan sama sekali, mereka berteriak memanggil namanya tetapi tidak ada suara lain selain gema suara mereka sendiri. Joan benar-benar menghilang.


Nyonya Be menganalisa kejadian itu, tidak ada jejak perkelahian, apakah itu berarti Joan diculik tetapi tanpa jejak perkelahian, apakah itu berarti Joan pergi dengan sukarela. Andi tahu dengan kemampuan Joan, tidak ada orang sekuat apapun yang bisa mendekatinya, asal berada dalam jangkauannya, seberapapun tinggi ilmu beladiri orang itu pasti dapat ditaklukannya.

__ADS_1


Peristiwa itu sungguh memusingkannya. Rombongan dari Andi tidak lagi melanjutkan perjalanan, barang-barang yang sudah dikemas, mereka bongkar lagi. Danau itu tidak jauh lagi dari kota Krikilan. Jadi Andi mengirim Little Fox untuk memimpin rombongan sekolah Pedang Terbang untuk melanjutkan perjalanan mereka ke desa Genteng. Nyonya Be tidak mau ikut mereka ke desa Genteng sebaliknya dia memutuskan untuk menemani Andi mencari Joan


Andi meminta Mo Yan untuk membawa berita ini ke desa Genteng dan meminta agar master Lung dan keempat tua-tua segera datang ketempat itu. Andi menerka-nerka siapa yang sudah begitu berani untuk menculik Joan, Apakah itu pangeran pertama tetapi apa motifnya, bukankah prinsip Joan untuk tidak bersedia membagi suaminya dengan perempuan lain justru melapangkan jalannya untuk menjadi putera mahkota atau itu kakek dari pangeran pertama yang memang sangat membenci keluarga ibunya.


Tidak ada lagi orang lain yang dapat dipikirkannya selain kedua orang itu.


Tidak berapa lama Letnan Jenderal Loe Shoe Sha sudah datang membawa sepuluh ribu prajurit, mereka kembali menyusuri setiap jengkal tanah di hutan itu, membuat kegemparan yang luar biasa bagi penghuni hutan yang biasanya tenang itu, burung-burung berhamburan terbang ke atas pepohonan, binatang-binatang hutan berlarian tidak tentu arah tetapi mereka bersyukur karena tidak ada yang tertarik untuk memburu mereka, seolah-olah semua orang itu sedang mencari sesuatu yang lebih penting daripada semua binatang hutan itu.


Bahkan para prajurit itu juga menyelam sampai ke dasar danau tetapi tidak ada apa-apa yang diketemukan di dalamnya.


Joan benar-benar lenyap


Kemanakah Joan?


Ayo bantu Author memikirkan kemana Joan. Pembaca dapat mengusulkan saran untuk membawa cerita ini kemana?


Kalian bisa bergabung dalam grup chat untuk bisa berbagi saran tentang cerita Joan ini ke depannya. Novel ini murni imajinasi author bukan novel translate atau mengcopy novel orang lain. Novel ini mengalir saja sesuai dengan kecepatan jari author.


Jadi author minta bantuan pecinta novel ini untuk dapat bergabung dalam grup chat. Pergilah ke halaman awal dan klik gambar kepala orang di sebelah kanan atas dengan tulisan ayo Chat dan bergabunglah dengan author. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2