Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Paman We


__ADS_3

Laki-laki tua itu memimpin kelompok Joan berkuda sekitar sepuluh kilometer memasuki jalan setapak yang dipenuhi dengan semak belukar yang cukup tinggi sehingga sulit untuk melihat keadaan di sekitarnya, jalan itu berputar-putar seperti labirin sebelum membawa mereka masuk ke dalam sebuah perkampungan yang terletak di tebing gunung.


Joan memperhatikan dengan cermat keadaan jalan itu dan diam-diam mencatat beberapa tanda dari jalan yang telah mereka lalui, dia tahu tanpa pimpinan mereka, orang akan sulit untuk tidak tersesat ketika menyusuri jalan itu.


Gerbang masuk perkampungan itu dijaga oleh beberapa orang yang segera membukakan pintu gerbang itu saat melihat mereka datang. Terlihat bahwa penjaga-penjaga itu sangat menghormati laki-laki tua itu, mereka memandang Joan dan kelompoknya dengan rasa ingin tahu yang terlihat jelas saat mereka melihat bahwa laki-laki tua itu terlihat sangat menghormati Joan. Tidak biasanya mereka melihat laki-laki tua itu memperlakukan tamunya seperti yang sekarang dia lakukan terhadap Joan.


Joan juga ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan laki-laki tua itu tetapi dia merasakan firasat bahwa laki-laki tua ini mungkin punya hubungan baik dengan kedua orang tuanya.


Ada banyak rumah sederhana yang tersebar di perkampungan itu, laki-laki tua itu membawa mereka ke rumah yang meskipun juga sederhana tetapi terlihat paling besar diantara rumah yang lainnya.


Ruang itu terlihat seperti ruang pertemuan, ada meja bundar yang besar yang bisa menampung dua puluh kursi di sekelilingnya, mereka pun duduk mengitari meja itu, beberapa orang yang lain duduk di kursi yang ada didekat meja bundar itu.


Makanan kecil dan minuman disuguhkan kepada mereka yang ada di situ. Joan menunggu laki-laki tua itu untuk memulai pembicaraan meskipun dia sangat ingin tahu apa maksud laki-laki tua itu membawa mereka ke tempat ini tetapi karena dia adalah tamu yang diundang untuk datang, dia tidak berusaha untuk membuka percakapan itu lebih dahulu.


Setelah semua orang itu duduk, laki-laki tua itu melihat sekelilingnya sebelum pandangannya berakhir kepada Joan, dia mengangkat tangannya untuk memberikan penghormatan kepada Joan sebelum berkata:


"Maafkan kami nona kalau mungkin kami mengejutkanmu, perkenalkan namaku We Di, nona bisa memanggilku paman We, kami semua di sini adalah orang-orang pelarian, buronan dari kerajaan Sendawar tetapi raja Sendawar menganggap bahwa kami adalah kaum pemberontak dan mereka melabeli kami sebagai bandit gunung, ha ha ha".


Laki-laki tua itu tertawa sesudah mengatakan hal itu, dia menganggap itu hal yang lucu untuk raja Sendawar menganggap mereka sebagai gerombolan bandit. Laki-laki tua yang meminta dipanggil sebagai paman We itu kemudian melanjutkan perkataannya.


'Tentu saja itu hanya dia karang sendiri, kami bukan bandit atau perampok, kami hanya kelompok orang yang menderita ketidakadilan saja dan terpaksa harus bersembunyi di tempat ini karena kami sudah tidak punya tempat tinggal yang aman lagi".


"Mungkin nona heran mengapa kami mencampuri urusanmu dengan pasukan prajurit kerajaan Sendawar tadi tapi aku punya alasan sendiri".


"Eng, maaf nona....".

__ADS_1


"Joan, itu namaku, ini Andi, dia adalah kekasih ku, yang lain ini saudaraku Mo Ying, Mo Yi, Mo...".


Joan memperkenalkan dirinya dan juga semua yang ada bersamanya. penjaga Mo bersaudara sangat terharu saat Joan menyebabkan mereka sebagai saudara. Paman We mendengarkan perkataan Joan, setelah itu dia menyelanya.


"Terimakasih untuk perkenalannya nona Joan, saat aku melihatmu di kota Bohoq, kebetulan aku melihat liontin yang ada di lehermu, maaf, bolehkah aku melihatnya sebentar".


Joan terkejut mendengar bahwa paman We ini mengatakan melihatnya di Bohoq, berarti dugaannya sebelumnya benar, dia laki-laki tua yang sama.


Melihat wajah Joan, paman We segera mengerti.


"Ya nona Joan, akulah laki-laki tua yang meminta makanan di Bohoq dan juga meminta bakpao di kota ibukota kemarin, aku biasa berjalan-jalan di kota kalau senggang. Kenapa aku bisa cepat datang ke ibukota setelah bertemu denganmu di Bohoq. Itu karena aku tidak melewati perjalanan darat seperti mu tetapi lewat udara ".


"Terbang....".


"Ha ha ha, aku tidak terbang sendiri nona tetapi aku punya tunggangan terbang".


"Tunggangan terbang, maksud mu binatang mistis yang bisa terbang, burung!!".


"Benar nona, kami punya berapa hewan tunggangan terbang di sini".


Joan, Andi dan Mo bersaudara terkejut mendengar hal itu karena di kekaisaran Langit, mereka tidak pernah mendengar ada orang yang memiliki hewan tunggangan terbang. Joan berpikir seandainya dia bisa mengkloning hewan tunggangan terbang itu pasti hal itu akan memudahkan mereka untuk berpergian kemana saja.


"Ya nona, nanti aku bisa menunjukkannya kepada kalian tapi sebelumnya, maaf, bolehkah aku melihat liontin mu dulu".


Joan melepaskan kalungnya dari lehernya dan menyerahkannya kepada paman We, laki-laki tua itu melihat kepada liontin di tangannya, memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, terlihat ada kesedihan di matanya dan matanya berkaca-kaca seperti mau menahan tangisnya.

__ADS_1


Paman We menyerahkan kembali liontin itu kepada Joan, lalu berkata lagi kepada Joan.


"Siapa yang memberikan liontin ini padamu".


"Aku tidak tahu paman, liontin ini sudah bersamaku sejak aku masih bayi, aku tinggal bersama orang tua angkatku di desa Genteng di Kekaisaran Langit di Benua Etam".


"Orang tua angkatku mengatakan bahwa ayah ibuku memberikan aku kepada mereka karena saat itu mereka sedang dikejar oleh musuh yang tangguh, aku benar-benar tidak tahu siapa ayah dan ibuku karena orang tua angkatku lupa menanyakan nama ayah dan ibuku. Mereka hanya memberitahu namaku saja kepada orang tua angkatku".


"Aku hanya memiliki liontin ini dan juga dua hal ini".


Joan berkata sambil menunjukkan lukisan foto keluarga kecil yang dia temukan di pulau kecil itu bersama token yang dia ambil waktu itu.


"I...ni...ini..."


Laki-laki tua itu berkata dengan gemetar saat memandang token yang diserahkan Joan kepadanya.


"Bagaimana token ini ada di tanganmu, ini identitas yang sangat kuat, kamu tidak tahu apa yang diwakili oleh token ini, token inilah yang membuat aku selama ini diburu oleh raja karena mengira token ini ada dalam tanganku".


Paman We menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, ia menyerahkan token itu kembali kepada Joan lalu ia melanjutkan perkataannya.


"Token ini adalah token komando kekuasaan tertinggi pasukan rahasia Elang Sakti yang berkekuatan satu juta prajurit terhebat di negara ini, ini sebenarnya bukan sebuah kesatuan tetapi anggotanya tersebar di seluruh negara dan mereka akan berkumpul kembali saat pemegang token ini memanggil mereka ".


Paman We mengambil gambar foto keluarga kecil itu, dia menatap foto itu dalam-dalam.


"Ini adalah.......".

__ADS_1


__ADS_2