Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Anak buah


__ADS_3

Sekejap kedipan mata, kelima orang itu sudah ada dihadapan Joan lagi, berbeda dengan sikap mereka sebelumnya. Kali ini mereka sudah kehilangan sikap mereka sebelumnya yang terasa ganas dan kejam, terlihat sekali sikap mereka begitu rendah hati di hadapan Joan.


"Nona..."


"Panggil aku nona muda".


"Siap nona muda, kami bawahanmu menunggu perintah".


"Ehm kalian kuberi nama panggilan dulu".


Joan memberikan nama panggilan mereka, pimpinan mereka diberi nama Li Mo, empat wakil pimpinan yang lain diberi nama panggilan En Nem, Pi Tu, Wo Lu dan So Ngo.


Selesai memberikan nama, Joan memberikan perintah kepada Wo Lu dan So Ngo untuk memanggil semua awak kapal dari perompak bajak laut tengkorak hitam.


Mereka berdua segera kembali ke pelabuhan sementara Joan bersama Li Mo dan Pi Tu menunggu di sana. Tiba di pelabuhan, Li Mo segera memanggil seluruh bawahnya turun.


"Woi semua yang di atas kapal turun kemari, tidak ada seorangpun boleh tinggal termasuk tukang masak, harta yang mau diangkut sangat banyak, kita perlu semua orang untuk mengangkatnya".


Mata semua perompak itu berbinar-binar mendengar bahwa hasil jarahan mereka kali ini sangat banyak, biasanya cukup berapa puluh orang untuk mengangkat jarahan mereka tapi kali ini pimpinan mereka sudah memerintahkan agar semua awak kapal turun, tidak boleh kurang satupun.


Mereka semua bergegas turun, tidak berjalan melewati tangga tetapi berlompatan dari tempat mereka masing-masing. Mereka segera berbaris di hadapan Li Mo dan Pi Tu.


"Hitung dulu semua, jangan ada yang ketinggalan satu pun"


Kata Pi Tu...


Meskipun mereka heran karena perintah seperti itu tidak biasa mereka dengar tetapi mereka tetap melakukan perintah pimpinan mereka.


"Hitungan mulai.... Satu, dua, tiga,.....semua ada seribu duaratus sembilan orang, eh masih kurang satu, siapa itu".


"Oh itu, mualim satu, dia tadi ketiduran di dapur".


"Panggil dia cepat, tidak boleh kurang satupun orang".

__ADS_1


Seseorang segera meninggalkan kumpulan orang itu bergegas naik ke kapal kembali, tidak lama kemudian dia membawa seseorang yang terlihat masih mengantuk, mendorongnya dengan keras kehadapan pimpinannya ".


"Ini dia tuan, lagi enak-enak tidur sampai ngiler ".


"Ha ha ha"


Mereka semua serempak tertawa.


"Diam, waktunya untuk berkerja, ayo semua ikuti aku untuk mengangkat jarahan kita".


Semua perompak itu bersorak, sambil berbaris dengan tidak beraturan, mereka mengikuti ke dua pimpinan mereka. Orang-orang di pelabuhan itu melihat mereka dengan perasaan takut, perompak itu terlihat kuat, badan mereka terlihat kuat dan dipenuhi dengan tato berbagai gambar.


Tuan kota Jin Bo menjadi heran mendengar bahwa mereka semua diperintahkan untuk mengangkat jarahan, karena dia tahu, mereka tidak menyiapkan apapun. Dia melihat kepada Andi, yang terakhir ini hanya tersenyum melihatnya. Andi sudah mengerti apa yang sedang terjadi, kalau bicara jarahan justru seharusnya mereka lah yang akan mendapatkan banyak jarahan dari para perompak ini.


Para perompak akhirnya tiba di gudang dimana Joan dan ketiga pimpinan perompak itu sedang menunggu kedatangan mereka. Pintu terbuka lebar, mereka semua segera berlarian ke dalam gudang untuk mendapatkan kesempatan menjadi orang pertama yang akan mengangkat jarahan harta itu.


"Apa-apa an ini".


Mulut semua orang menganga kebingungan saat mereka menjumpai gedung itu kosong tanpa satu pun barang di sana, hanya ada mereka dan ke tiga pimpinan mereka bersama perempuan muda yang tadi membawa pimpinan mereka ke tempat itu, sementara mereka tertegun.


Terdengar suara pintu ditutup, mereka berbalik melihat ke belakang dan melihat kedua pimpinan yang membawa mereka ke gudang, sedang menutup pintu gudang sambil menyeringai kepada mereka.


"Glugh"


Mereka menelan ludah kembali ke tenggorokan. Memandang kembali kepada lima orang pemimpin mereka dengan pandangan tidak mengerti.


"Get on".


Suara lembut terdengar di gendang telinga mereka.


"Slap".


Semua orang itu lenyap, seperti cara mereka hilang begitulah cara mereka kembali. Tetap berdiri bersama tetapi kali ini dalam barisan yang lebih teratur, sikap mereka jauh lebih hormat.

__ADS_1


"Salam hormat kepada nona muda, bawahan menyapa tuan".


Melihat waktu satu dupa, Andi mengajak tuan kota untuk menemui Joan, mereka masuk ke dalam gudang itu hanya untuk melihat seribu duaratus lima orang itu memberikan salam hormat kepada Joan.


Tuan kota Jin Bo terbelalak matanya, tidak percaya dengan apa yang dia saksikan, bagaimana orang-orang kejam ini yang belum lama bersikap kasar kepada mereka, sekarang terlihat begitu menghormati, bukan, bukan menghormati tetapi terlihat patuh kepada Joan.


Bagaimana mungkin, apa aku bermimpi, dia mengucek matanya sekali, melihat kembali, mereka tetap ada di sana berbaris dengan tertib di hadapan Joan.


"Baiklah, kalian sekarang sudah menjadi bagian dari kami. Kalian adalah bagian dari Blue Phoenix klan".


Joan pikir lebih baik menamakan kelompok mereka sebagai Klan Blue Phoenix karena lebih enak diucapkan dan terdengar lebih keren daripada klan desa Genteng. Itu juga untuk mengingat jasa Blue baginya. Joan melanjutkan perkataannya.


"Kantor pusat perusahaan kita ada di desa Genteng di Kekaisaran Langit, kalian bisa pergi ke sana lain waktu, tetapi untuk saat ini kalian punya kehidupan baru. Tidak ada lagi perompak bajak laut tengkorak hitam, kalian akan mendapatkan pekerjaan baru untuk mengawal pengiriman paket barang antar negara melalui laut karena kami akan mendirikan perwakilan perusahaan pengiriman kargo di kota ini karena kota pelabuhan ini paling dekat dengan teluk Blue Phoenix".


"Siap nona muda, tetapi bagaimana dengan keluarga kami".


Kata Li Mo kepada Joan.


"Untuk keluarga kalian, aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan tuan Jin Bo".


Joan memanggil tuan Jin Bo kehadapannya dan bertanya kepadanya;


"Tuan Jin Bo, bisakah kami memperoleh lahan di dekat kota ini untuk kami membangun pemukiman bagi keluarga mereka, jangan kuatir saya akan memberikan harga yang pantas".


Tuan kota memandang Joan dengan rasa hormat, dia bukan hanya senang karena Joan sudah melepaskan mereka dari bahaya tetapi dengan menempatkan kantor cabang perusahaan kargo mereka di kotanya, mereka otomatis akan mendapatkan jaminan perlindungan secara cuma-cuma dari pengawal perusahaan kargo Blue Phoenix.


"Tidak masalah nona muda, kalian sekarang adalah warga kehormatan kota ini, tidak perlu membayar, kebetulan ada lahan milikku yang terletak dua kilometer dari tempat ini, kalian bisa menggunakannya untuk saat ini".


"Tidak tuan kota, kamu tidak dapat memberikannya secara cuma-cuma, kami akan membayarnya".


Meskipun Joan sudah menyelamatkan mereka dari bahaya perompak tetapi Joan tidak ingin berhutang budi jadi dia tetap mengusulkan pembayaran lahan itu tetapi tuan kota juga merasa untuk mengikatkan diri kepada Klan Blue Phoenix jadi dia bersikeras tetapi setelah dipikirkannya lagi, dia tahu Joan tidak akan berubah pikiran, jadi dia mengambil jalan tengah.


"Baiklah nona muda, aku akan menerima pembayaran darimu, bagaimana dengan dua puluh ribu keping emas untuk lahan dua ratus hektar milikku dan seribu keping emas sebagai kompensasi untuk masyarakat yang selama ini menggarap lahan itu".

__ADS_1


"Baiklah, kami setuju dengan kondisi ini, terimakasih tuan kota ".


Tercatat pelabuhan kota Merak menjadi cabang pertama dari perusahaan kargo Blue Phoenix di luar kekaisaran Langit. Joan menempatkan dua puluh orang pemuda yang belum menikah yang dibawanya dari desa Genteng untuk menetap di kota pelabuhan itu untuk mengelola perusahaan kargo mereka.


__ADS_2