
Joan masih asyik mengejar tupai putih itu, dia tidak menyadari bahwa dia dicari oleh seluruh prajurit dan penjaga bayangan diseluruh pelosok hutan itu tetapi bagaimana mereka tidak bisa menyadari kehadirannya atau Joan sendiri juga tidak menyadari pencarian besar-besaran yang dilakukan pihak lain.
Joan baru menyadari dia berada di sebuah taman bunga, ada sebuah rumah yang cukup besar di tengah taman itu, tupai putih itu menyeringai kepadanya lalu melompat masuk ke dalam rumah itu melalui jendela yang terbuka.
Joan baru menyadari kemungkinan tupai itu milik seseorang, dia sedikit merasa bersalah karena mau mengambil tupai yang bukan miliknya tetapi memang tupai putih itu terlihat menggemaskan, jadi dia tidak berpikir panjang lagi untuk mengejarnya, kalau bisa menangkapnya.
Joan melihat kebelakang untuk melihat jalan darimana dia datang tadi, dia menjadi tercengang saat di tidak lagi melihat pohon-pohon Pinus di jalan yang tadi dilaluinya. Joan masih mengingatnya dengan jelas tetapi kenapa tidak ada lagi pohon Pinus di sana.
Joan berbalik dan menyusuri kembali jalan yang dilaluinya tadi berdasarkan ingatannya, terkejut dia menatap dengan tidak percaya pada pemandangan yang ada di depannya. Tidak ada danau itu lagi, tidak ada rombongan besar lagi, yang ada dia sedang berdiri di pinggir pantai, deburan ombak dan sapuan angin laut yang kencang bergema di telinganya.
Dia melihat sekelilingnya, tidak percaya dia menggosok matanya, melihatnya kembali dia ada di sebuah pulau kecil di tengah lautan yang luas. Apa ini ilusi ataukah dia sedang bermimpi. Tidak, dia pasti menyadari kalau ini ilusi, dia mencubit pahanya dan merasa kesakitan. Jadi dia tidak bermimpi tetapi bagaimana dia ada di pulau ini.
Setelah berdiri beberapa saat memikirkan apa yang terjadi tanpa mendapatkan solusi apapun, Joan melangkahkan kakinya kembali ke dalam taman itu. Joan pergi sampai di depan rumah itu.
Joan mengetuk pintu rumah itu, memberikan salam tetapi tidak ada yang membalasnya. Joan mengetuk pintu itu berapa kali tetap tidak ada tanggapan balasan dari dalam rumah itu. Dia memberanikan diri untuk meraih handel pintu, mendorong pelan, ternyata pintu itu tidak terkunci, Joan membuka pintu itu, melihat dalam ruang tamu yang cukup luas tetapi hanya ada dua buah kursi dan sebuah meja di dalamnya. Ruangan itu tampak bersih dan rapi, tidak ada jejak debu di perabotan rumah itu menandakan bahwa pemiliknya pasti orang yang suka kebersihan.
Ada beberapa lukisan terpajang di atas dinding, lukisan- lukisan itu semuanya menggambarkan tentang keluarga yang terdiri dari tiga orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan muda yang menggendong bayi di dalam pelukannya. Joan melihat lebih dekat untuk menyadari bayi ini mengenakan kalung dengan liontin yang persis sama dengan miliknya.
Untuk lebih meyakinkan, Joan mengambil liontin yang selalu dia pakai sebagai kalung di lehernya, dia mendekatkannya ke gambar dalam lukisan itu Tidak diragukan lagi, itu memang serupa dengan liontin miliknya.
Ibunya lalu mengatakan bahwa liontin itu diturunkan dari keluarga ibunya dan merupakan pusaka keluarga, hanya yang mengherankan Joan, bukankah dia membawa liontin itu sejak dia ada di dunianya sebelumnya. Kenapa ibunya mengatakan bahwa liontin ini sudah ada bersamanya sejak bayi.
Itu menjadi pertanyaan besar yang dia tidak pernah lagi pertanyakan pada pak Joko dan isterinya tetapi melihat liontin pada bayi itu. Itu menimbulkan lebih banyak lagi pertanyaan di hatinya. Kalau bayi itu dia? Siapa orang tuanya sebenarnya?
__ADS_1
Joan tersentak, sesuatu membuncah dalam benaknya, apa bayi ini adalah aku dan kedua orang ini adalah ayah dan ibuku tetapi bagaimana mungkin, aku tidak berasal dari jaman ini.
Ada rasa keakraban yang aneh meliputi perasaannya, tanpa sadar Joan mencucurkan air matanya. Joan menyapukan tangannya pada wajah perempuan itu, tubuhnya bergetar hebat.
"Ibu, ayah, kalian dimana?"
Joan merasa pasti bahwa lukisan itu adalah gambar keluarganya, meskipun dia tidak pernah memiliki ingatan dalam pikirannya tetapi hatinya merasa sangat yakin 100% bahwa itu lukisan dari keluarganya sendiri.
Joan tersentak kembali, saat dia menyadari bahwa ada kemungkinan mereka tinggal di tempat ini. Ada beberapa kamar di sana, Joan masuk ke dalam kamar-kamar itu satu persatu, melihat ke dalamnya tetapi hanya kamar kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya.
Joan menjadi kalap, dengan air mata berlelehan, dia keluar dari rumah itu, berkeliaran di seluruh pulau yang cukup besar itu sambil berteriak-teriak.
"Ibu..... Ayah..... kalian dimana?"
Tupai putih itu, dimana dia? Joan kembali ke dalam rumah itu dan mencari-cari tupai itu di dalam rumah itu, bukankah dia tadi masuk kedalam rumah itu melalui jendela, mengapa dia tidak menemukannya.
Tidak menemukankannya sama sekali, merasa frustasi, Joan duduk di kursi itu menekankan tangannya pada dahinya, dia berpikir.
Joan berdiri kembali, memeriksa rumah itu sekali lagi, memeriksa kembali lukisan-lukisan itu dengan lebih teliti.
Joan menurunkan semua lukisan itu, memeriksanya satu persatu, bahkan dia membongkar lukisan itu dari bingkainya. Akhirnya pada lukisan terakhir, dia mendapati dibalik lukisan itu sebuah peta, tidak begitu memperhatikan isi peta itu, Joan memasukkan lukisan itu ke dalam ruang dimensinya.
Joan melihat di samping lukisan itu tergantung sebuah token yang diikat dengan pita berwarna merah. Dia mengambil token itu dan menyimpannya juga, meskipun merasa sedikit bersalah karena mengambil benda-benda yang bukan miliknya tetapi Joan tidak bisa menahan keinginannya untuk menyimpan benda-benda itu, yang dia pikir punya kaitan erat dengan dirinya.
__ADS_1
Joan tidak mengambil semua lukisan itu, dia hanya mengambil lukisan yang memiliki gambar peta dibelakangnya, dia sudah menyimpannya dalam ruang dimensinya.
Joan melihat sekelilingnya lagi, dia sudah memasuki setiap ruangan di rumah itu. Tidak dapat menemukan seorangpun dan tupai putih itu, Joan memiliki firasat tertentu. Sepertinya tupai itu hanya bertugas untuk menuntunnya ke rumah itu saja.
Yakin dengan dugaannya, Joan keluar dari rumah itu, dia membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatannya kepada siapapun pemilik rumah yang tidak diketahuinya.
Joan berbalik mengikuti jalan darimana dia datang, berbeda dengan kondisi yang dialaminya sebelumnya. Kali ini jalan yang dia lalui tidak lagi mengarah ke pantai itu. Dia melihat pohon-pohon Pinus itu ada dalam jarak pandangnya. Kabut tipis itu kembali menyelimuti dirinya, Joan terus berjalan ke depan dengan tenang, tidak lagi terburu-buru seperti tadi.
Semua komandan prajurit melaporkan kepada Letnan Jenderal Loe Soe Sha dan pangeran ketiga bahwa meskipun mereka sudah menelusuri seluruh petak hutan itu dari ujung ke ujung, benar-benar tidak ada jejak Joan sedikitpun.
Andi sungguh-sungguh masygul, baru kembali bersama Joan setelah dia dipenjarakan berapa bulan. Tidak diduganya ketika kebahagiaan datang, Joan menghilang.
Andi sudah bertekad, jika dia menemukan Joan, dia akan katakan kepada Joan bahwa dia tidak akan mau lagi menjadi putera mahkota. Dia sudah tahu dengan jelas di dalam hatinya, tidak ada lagi yang lebih penting dalam hidupnya kecuali Joan.
Andi tidak akan mau menukarkan Joan dengan kemuliaan apapun. Kalau Joan ditemukan, dia akan mengirimkan surat kepada Kaisar bahwa dia tidak lagi berminat untuk bersaing memperebutkan tahta kekaisaran, biar dia menjadi rakyat biasa saja asal bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Joan.
Andi melangkahkan kakinya ke tempat terakhir jejak kaki Joan, dia bersandar di batang pohon, memejamkan matanya.
"Brugh".
Hanya sejenak Andi kehilangan kewaspadaannya, seseorang menerkamnya, hampir refleks untuk memukul orang itu. Andi mencium bau tubuh yang familiar menempel di dadanya.
"Joan".
__ADS_1
Tanpa berkata-kata lagi Andi memberikan ciuman yang dalam, kali ini Joan tidak lagi menolaknya. Sudah hampir malam, Joan sadar Andi sangat mengkuatirkannya.