
Paman We memandang pada lukisan foto tiga orang itu, dia terdiam lama sambil memegang foto tersebut. Menghela nafasnya akhirnya dia membuka mulutnya.
"Ini foto tuan muda Arthur dan nyonya muda, nyonya Yoan, aku adalah kepala pelayan dari tuan tua, ayah dari tuan muda, orang tua tuan muda sudah meninggal dunia ketika dia masih kecil dan aku lah yang merawatnya sejak dia masih anak-anak. Tuan tua mewariskan token ini kepada tuan muda kami tetapi raja mencoba untuk merebut token itu darinya dengan memfitnah tuan muda berencana melakukan pemberontakan tetapi itu tidak benar, hanya saksi-saksi palsu yang dibayar mahal untuk membelokkan kebenaran".
Paman We diam sejenak sebelum melanjutkannya.
" Waktu itu, tuan muda melarikan diri bersama nyonya muda yang saat itu dalam keadaan hamil tua, jadi mungkin dalam pelarian mereka, nona muda dilahirkan. Seluruh anggota keluarga kami dimusnahkan, hanya beberapa orang yang berhasil lolos tapi akhirnya kami berpisah jalan, tuan muda dan nyonya tidak tahu pergi kemana saat itu dan aku berhasil melarikan diri ke hutan ini dan kemudian mendirikan perkampungan ini. Aku keluar pada saat-saat tertentu dengan menyamar sebagai pengemis tua untuk mencari dan menampung orang-orang yang mendapatkan ketidakadilan dari kerajaan ini".
"Sebenarnya setelah berjalannya waktu, aku mendengar bahwa tuan muda dan nyonya telah tertangkap dan sekarang ada di dalam penjara di pengasingan di istana dingin".
"Orang tuaku masih hidup ".
Joan merasakan sedikit kebahagiaan mendengar bahwa kemungkinan besar ayah dan ibunya masih hidup.
"Raja tidak membunuh mereka?".
Paman We menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Joan.
"Ya raja memang tidak membunuh mereka, itu karena mereka tidak menemukan token yang dicarinya, itulah sebabnya selama bertahun-tahun, raja tidak pernah berhenti mengejarku karena dia pikir token itu ada padaku, aku sebenarnya juga tidak tahu token itu ada dimana?. Itu sebabnya aku sangat terkejut melihat token itu ada di tanganmu".
"Selain liontin ini yang menemaniku sejak aku dilahirkan, tidak ada lagi yang diberikan orang tuaku. Foto dan token ini aku dapatkan dalam suatu kejadian yang aneh"
Joan lalu menceritakan kepada mereka tentang kejadian saat dia bertemu dengan tupai putih yang kemudian membawanya untuk melewati portal teleportasi yang membawanya ke rumah di pulau kecil itu.
Penjaga Mo bersaudara ikut tercengang mendengar cerita Joan, mereka belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya.
"Dari sanalah aku mendapatkan ke dua item ini".
Kata Joan sambil menunjukkan kedua item itu kepada mereka.
"Itu memang hal yang aneh, kalau dapat kukatakan itu sebuah keajaiban".
Kata paman We menanggapi ucapan Joan
__ADS_1
"Ya, kami setuju dengan hal itu, itu memang keajaiban".
Andi yang diam saja dari tadi, ikut menegaskan. Dia mengingat saat itu dengan hiruk pikuk, ratusan prajurit menyapu hutan yang kecil itu tetapi tidak menemukan Joan. Seharian mencari sampai putus asa, tiba-tiba Joan muncul dari udara tipis langsung kepelukannya.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa mengumpulkan pasukan personil Elang hitam ini kalau mereka tersebar di seluruh negeri ini".
Kata Joan sambil melihat token yang ada di tangannya, tidak ada yang terlihat istimewa pada token itu, selain gambar kepala burung yang tercetak di permukaannya.
"Teteskan darahmu di atas token itu, hanya keturunan dari raja Sendawar yang dapat mengaktifkan token itu. Kalau token itu bereaksi maka dirimu adalah benar-benar anak dari tuan muda Arthur".
Saat Joan mau menggigit jarinya untuk mengeluarkan sedikit darahnya, tiba-tiba mereka mendengar keributan di luar rumah itu. Seorang anak muda masuk ruangan itu dengan tergesa-gesa dan berkata.
"tuan We, kita diserang".
"Duar".
Terdengar suara ledakan yang keras dan rumah itu bergetar, mereka semua segera keluar dari rumah itu. Joan melihat bola-bola api melesat dari kaki bukit yang jauh di bawah, tampak prajurit yang membawa pelontar api menembakkan bola-bola api ke perkampungan itu.
"Sialan, bagaimana mereka dapat melacak kita di sini".
"Ini pekerjaanmu".
"Ya benar sekali, aku sudah melepaskan jejak pelacakan saat dibawa ke tempat ini".
Kata komandan pasukan itu sambil tersenyum kemenangan.
"Uh betapa cerobohnya aku".
Kata paman We menyesali kebodohannya, dia langsung menyelesaikan komandan itu dengan sebuah pukulan keras ke kepalanya.
"Ayo ikut aku"
Kata paman We sambil mengajak mereka semua untuk mengikutinya, sementara anak buahnya membalas serangan dari prajurit kerajaan Sendawar.
__ADS_1
"Bagaimana mereka, apakah kita tidak membantu mereka".
Kata Joan yang merasa tidak enak hati meninggalkan kelompok pemberontak itu menghadapi serangan prajurit itu karena dia pikir sebenarnya serangan itu seharusnya ditujukan kepadanya.
"Tidak apa-apa, mereka bisa bertahan, tidak mudah untuk para prajurit itu untuk mengusir kita dari sana".
Kata paman We tanpa menunjukkan kekuatirannya sama sekali. Paman We memimpin mereka berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Mereka tiba di sebuah lapangan terbuka, di sana ada beberapa ekor tunggangan terbang burung Elang putih yang sangat besar, hampir dua meter tingginya, bentangan sayapnya panjangnya sekitar empat meter.
Satu tunggangan dapat dinaiki oleh dua orang, ada pelana diatasnya, terasa nyaman saat diduduki selama penerbangan, hanya dalam pengenalan yang singkat Joan sudah menguasai cara untuk menerbangkan tunggangan terbang itu.
Dua puluh lima tunggangan terbang segera lepas landas ke angkasa, baru saja terbang, ada lima puluh lebih tunggangan terbang menghadang penerbangan mereka.
Mereka segera terlibat dalam pertempuran angkasa, bola-bola api ditembakkan dari tangan penunggang yang duduk di belakang tetapi berbeda dengan mereka, para prajurit dari kerajaan Sendawar itu hanya memiliki seorang penunggang untuk setiap tunggangan terbang mereka.
Ada senjata seperti sebuah senapan mesin di depan nya, jadi serangan mereka sangat efektif, sudah dua tunggangan terbang dari anak buah Pama We yang dijatuhkan. Joan mengemudikan tunggangan terbangnya dengan tenang sementara Andi menyerang lawan-lawannya.
"Cobalah untuk menyingkirkan penunggang mereka, aku membutuhkan tunggangan mereka".
Kata Joan kepada Andi dan Mo Yi melalui telepati.
Andi dan Mo Yi segera mengerti maksud Joan, memang diantara yang lainnya, mereka berdualah yang paling tinggi kultivasinya.
Andi melompat dari punggung tunggangannya dan menyerang seorang penunggang yang ada di dekatnya, sebelum orang itu menyadari, dia sudah terlempar dan jatuh ke tanah, tidak tahu bagaimana nasibnya jatuh dari ketinggian seperti itu
Joan mengaktifkan ruang dimensinya dan menarik setiap tunggangan terbang yang sudah kehilangan penunggangnya. Serangan Andi dan Mo Yi sangat efesien, sebentar saja mereka sudah mendapatkan tiga puluh tunggangan terbang.
Para penunggang lainnya terkejut saat melihat tunggangan terbang mereka hilang satu persatu, mereka menjadi sangat ketakutan sehingga dengan cepat mereka berbalik dan melarikan diri.
Paman We juga terkejut melihat hal itu, dia melihat Andi dan Mo Yi menyerang para penunggang itu, dia melihat para penunggang yang jatuh itu tetapi yang dia tidak mengerti, kemana perginya tunggangan mereka.
Joan tidak mau repot-repot menjelaskan, dia tidak mau orang lain tahu rahasia ruang dimensinya. Lagian dia tidak akan mengeluarkan tunggangan terbang yang baru diperolehnya di sini. Joan pikir alangkah baiknya kalau tunggangan terbang itu dibiakkan di desa Genteng.
__ADS_1
Itu pasti akan memberikan mereka keuntungan yang besar kalau mereka membuat jasa penerbangan antar kota.