Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
A Sen


__ADS_3

A Sen agak merasa aneh saat dia keluar dari ruangan dimensi pertanian, dia tidak dapat mengingat apa yang dia alami. Dia hanya merasakan ada suatu perubahan dalam jiwanya. Jiwanya merasa bebas dari tekanan dan kebingungan yang biasa dirasakannya.


A Sen juga memandang kepada Joan dengan rasa yang berbeda, dia tidak lagi merasakan adanya kebutuhan untuk dekat dengan Joan tetapi ada rasa hormat yang dalam dan juga rasa memiliki sebagai sebuah keluarga, rasa sayang kepada saudara perempuannya sendiri. Dia tidak mengerti tetapi dia menyukai perasaan itu.


Penduduk di desa itu saling menghargai dan menghormati, tidak ada rasa iri hati, juga rasa lebih hebat dari yang lain meskipun ada diantara mereka yang kemampuannya lebih tinggi dari yang lain tetapi mereka semua sangat menghormati Joan, meskipun Joan tidak pernah menghendaki pengkultusan tetapi nyaris semua orang menganggapnya sebagai Dewi di dalam hati mereka.


Joan dengan segala ide dan gagasannya telah mengubah wajah dan budaya desa itu, dari desa yang kecil, pelan tapi pasti berubah menjadi lebih besar dan lebih luas, bahkan tanpa disadari oleh mereka bahwa luas wilayah desa Genteng sudah lebih luas dari kota Krikilan apalagi dengan perluasan ke arah garis pantai.


Hanya orang di desa Genteng yang mengetahui keberadaan pantai Kersik. Orang di luar desa Genteng belum ada satupun yang mengetahuinya apalagi dalam keadaan darurat militer yang diberlakukan saat itu untuk menghadapi penyerbuan oleh pasukan prajurit kekaisaran Langit.


Kalau kekaisaran Langit mengetahui akan garis pantai yang dimiliki oleh desa Genteng, juga pelabuhan yang mereka bangun saat itu, dapat dipastikan bahwa mereka akan lebih bernafsu lagi untuk merebut desa Genteng.


Tidak ada sedikitpun keinginan di hati Joan dan Badan Otorita Desa Genteng untuk memisahkan diri dan membuat negara yang terpisah dari kekaisaran Langit tetapi oleh karena fitnah pangeran pertama, tidak ada jalan lain bagi Badan Otorita Desa Genteng kecuali mempertahankan diri dari penyerbuan itu.


Persiapan menghadapi penyerbuan telah rampung dikerjakan dan mereka sudah bersiap untuk menunggu kedatangan pasukan prajurit kekaisaran Langit.


Mata-mata di ibukota sudah mengirimkan pesan melalui burung pembawa pesan bahwa mereka akan sekaligus mengirimkan sejuta prajurit karena mereka sudah mendengar bahwa sepuluh ribu prajurit dibawah pimpinan Jenderal Loe Som Bong sudah ditaklukkan oleh Badan Otorita Desa Genteng.


Letnan Jenderal Loe Soe Sha berserta delapan ribu pasukan prajurit dari provinsi Kubar juga sudah datang, berkumpul bersama dengan pasukan prajurit elit dari jendral Loe Som Bong.


Mereka membangun perkemahan di depan lembah Harau.


Jendral Loe Som Bong beserta dengan para perwira menempati tenda yang paling besar, panji-panji bendera pasukan mereka dipasang di sekeliling perkemahan, berkibar dengan gagahnya.


Berita sejuta pasukan prajurit dari ibukota yang bergerak melewati kota provinsi Kubar sudah sampai ke kota Krikilan, penduduk kota Krikilan sekali lagi dilanda kecemasan. Sebagian penduduk kota sudah mengungsi keluar daerah.


Pasukan besar ini dipimpin langsung oleh jenderal besar pertama dari Ibukota yang sudah sangat berpengalaman dalam banyak pertempuran dengan negara lain. Jendral ini sangat dihormati oleh Jenderal Loe Som Bong karena dia adalah murid kesayangan dan banyak belajar strategi peperangan dari jendral besar yang bernama Jendral Wong Nge Dan.


Jendral Wong sudah banyak memenangkan pertempuran dan belum pernah menderita kekalahan sekalipun. Itulah sebabnya Kaisar memanggilnya dari perbatasan untuk menaklukkan desa Genteng.

__ADS_1


Sebenarnya pada waktu jendral Wong dipanggil untuk menaklukkan desa Genteng, dia merasa sangat terhina karena berpikir bahwa tugas itu tidak layak baginya karena bagaimana desa kecil dengan penduduk dua ribu orang membutuhkan penanganan dari sejuta prajurit dan mau menolak tugas itu tetapi saat dia mendengar bahwa murid kesayangannya sudah dikalahkan dan jenderal Loe Som Bong tertawan. Dia segera menyetujui perintah penyerangan itu untuk membebaskan Jendral Loe Som Bong dari tawanan Badan Otorita Desa Genteng.


Saat pasukan besar itu bergerak ke desa Genteng, dari kejauhan mereka melihat perkemahan besar itu dan mengira bahwa itu perkemahan prajurit dari desa Genteng.


Jendral Wong tidak mengirimkan utusan untuk berunding dengan pimpinan desa Genteng sebaliknya justru dia sendiri bersama dengan berapa perwiranya langsung mendatangi perkemahan musuh karena dia tidak mau meremehkan musuh yang kelihatan nya tidak berarti.


Pembawa bendera mengibarkan tongkat bendera putih sebagai tanda bahwa mereka ingin memulai perundingan. Prajurit dari Jendral Loe Som Bong melihat tongkat bendera putih itu dan melaporkan kepada jenderal Loe Som Bong.


Prajurit itu berlari masuk ke dalam tenda perwira, dia berlutut menekuk sebelah kakinya dan mengepalkan kedua belah tangan nya sebagai tanda penghormatan.


"Lapor Jenderal, pihak prajurit ibu kota mengirimkan tongkat bendera putih untuk bernegosiasi dengan kita, apa yang akan kita lakukan".


"Baiklah, terima utusan itu, mari kita keluar untuk menemui mereka".


Prajurit itu berdiri, jendral Loe Som Bong diikuti oleh Letnan Jenderal Loe Soe Sha dan berapa perwira lain berjalan keluar perkemahan. Saat mereka melihat bahwa prajurit yang membawa tongkat bendera putih itu diikuti berapa orang berpakaian perwira di belakangnya.


Jendral Loe Som Bong menjadi terkejut, dia cepat-cepat berlari dan menyambut jendral Wong Nge Dan, dia menundukkan diri dan menekuk satu lututnya, mengepalkan tangannya dan memberi penghormatan kepada jenderal Wong


Tindakan ini diikuti oleh Letnan Jenderal Loe Soe Sha dan perwira lain yang mengikuti dibelakangnya. Jendral Wong bersama dengan perwira yang lain turun dari kudanya. Jendral Wong yang mengira jendral Loe Som Bong tertawan musuh menjadi terkejut karena melihat nya menjemput mereka sendiri.


Memang isu yang tidak bisa dipercaya, siapa yang mengabarkan berita yang salah ini. Orang itu patut dihukum penggal kepala.


Jendral Wong menjadi sangat senang, dia menghampiri jendral Loe Som Bong dan menepuk bahunya.


"Kalian semua boleh berdiri, terimakasih karena sudah menyambut ku".


Jendral Loe Som Bong dan perwira yang lain segera berdiri kembali. Jendral A Bong lalu mengajak tamu-tamunya untuk memasuki tenda perwira.


Dia mempersilahkan jendral besar Wong untuk duduk di kursi utama, sedang dia duduk di kursi yang terletak dibawahnya. Perwira yang lain duduk di hadapan mereka.

__ADS_1


"A Bong, aku tidak mengerti, aku mendengar kabar dirimu dikalahkan dan tertawan oleh musuh sehingga aku sendiri yang datang untuk membebaskanmu tetapi apa yang kulihat, kamu terlihat justru lebih bugar dari sejak kita terakhir bertemu. Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada kabar darimu sehingga markas besar di ibukota mengira kamu sudah dikalahkan oleh musuh".


Jendral Wong membuka percakapan mereka di tenda perwira itu.


Jendral Wong meneruskan ucapannya:


"Aku sebenarnya tidak percaya kamu bisa dikalahkan oleh desa kecil yang bahkan tidak ada di peta negara ini".


Mendengar itu jendral Loe Som Bong merasa sedikit malu tetapi dia tidak menunjukkan di wajahnya, dia menjawab dengan lugas.


"Tidak Jendral besar, berita itu tidak benar, justru kami menemukan hal yang menarik di desa Genteng, itu yang membuat kami tidak melancarkan serangan ke desa ini dan kami memang menunggu kedatangan pasukan besar dari ibukota untuk menunjukkan hal itu karena aku mendengar bahwa jendral besar Wong sendiri yang ditugaskan untuk memimpin pasukan prajurit kekaisaran Langit untuk datang ke tempat ini".


Jendral Loe Som Bong berhenti sejenak, wajahnya dipenuhi senyuman lebar dan dia melanjutkan perkataannya.


"Sebenarnya desa ini tidak hendak memberontak, mereka sangat setia kepada kekaisaran Langit, hanya seseorang telah memfitnah mereka di hadapan Kaisar sehingga Kaisar menurunkan dekrit untuk membinasakan penduduk desa. Lihat apa yang dikirimkan sebagai upeti dari desa itu kepada kita"


Jendral Loe Som Bong segera memerintahkan dua orang perwira di sampingnya untuk mengangkat sebuah peti yang terlihat sangat berat.


Mereka berdiri bersama, berdiri dihadapan peti tersebut. Jendral Loe Som Bong membuka peti itu dan mengambil segenggam garam, menyerahkannya kepada jenderal Wong.


Jendral Wong mendekatkan garam itu kemulutnya, mengecapnya.


"Ini garam, darimana kalian mendapatkanya"


Garam sangat mahal di negara itu karena mereka harus mengimpornya dari negara lain karena mereka tidak memiliki lautan di negara Kekaisaran Langit. Itu perkiraan mereka selama ini


"Benar jendral ini garam, desa Genteng memproduksi garam di desa mereka".


"Bagaimana mungkin, bukankah negara kita tidak memiliki garis pantai".

__ADS_1


"Yah itulah yang menarik Jendral, sebenarnya kita memilikinya hanya kita tidak pernah menyadarinya. Badan Otorita Desa Genteng lagi yang menemukannya waktu mereka mengekplorasi hutan larangan .


Malam, besok lanjut ya udah jam 22:34 di sini, mimpi indah dan jangan lupa bahagia


__ADS_2