Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Diserang


__ADS_3

Mendengar penjelasan Ji Gong bahwa ada kota pelabuhan di dekat sana yang hanya berjarak dua ratus kilometer, Joan segera memerintahkan mereka untuk berkemas dan melanjutkan kembali pelayaran mereka setelah cukup beristirahat.


Dengan cepat semua tenda dibongkar, dilipat dimasukkan ke dalam cincin ruang. Meja, kursi, semua alat-alat disimpan dalam cincin ruang. Coba kalau author punya cincin seperti ini, pasti tidak perlu repot-repot sewa truk buat pindahan rumah.


Dengan menggunakan sekoci-sekoci, mereka kembali ke atas kapal mereka. Mengembangkan layar kapal, nahkoda mengarahkan kapal ke arah yang di tuju dengan menyusuri garis pantai.


Di sepanjang garis pantai itu dipenuhi dengan pohon-pohon bakau, mereka bisa melihat monyet-monyet kecil berlompatan di pohon-pohon itu sedang dikejar oleh seekor ular piton. Tentu saja mereka tidak berusaha untuk menolong monyet, biarlah alam mengambil jalannya sendiri.


Setengah hari perjalanan, tampaklah pelabuhan itu dari kejauhan, sebuah kota yang terlihat cukup makmur. Dari kejauhan tampak kerumunan orang dalam jumlah besar berdiri di pelabuhan itu, ada berapa kapal yang sedang berlabuh di sana.


Joan, Andi, Jendral Loe Som Bong dan berapa perwira berdiri di anjungan kapal melihat ke arah pelabuhan itu.


Mendekati jarak lima ratus meter dari pelabuhan itu, tiba-tiba dari pengintai di atas tiang puncak kapal berseru;


"Awas ! Serangan".


Dari kejauhan tampak ribuan titik-titik hitam dengan nyala api diujungnya terbang ke arah kapal mereka. Tidak mengerti apa yang terjadi, Jendral Loe Som Bong berteriak;


"Aktifkan perisai".


"Wunggg"


Sebuah sinar keemasan meluncur ke langit membentuk kubah yang menyelimuti ketiga kapal itu. Ribuan anak panah itu langsung terpental begitu menyentuh kubah perisai itu berjatuhan di laut.


"Jess"


Suara api yang padam terkena air laut terdengar dimana-mana tetapi serangan panah api itu tidak berhenti di situ, ribuan panah api kembali terbang ke arah kapal itu, semuanya kembali dimentahkan oleh kubah perisai keemasan itu.


Saat serangan itu berhenti, Jendral Loe Som Bong segera mengerahkan suaranya ke arah pelabuhan itu


"Tolong hentikan serangan, kami datang dengan maksud damai".


Suara jendral Loe Som Bong menggema di atas udara pelabuhan itu.

__ADS_1


Orang-orang di pelabuhan segera menghentikan serangan mereka dan seseorang yang rupanya adalah pemimpin mereka membalas perkataan jendral Loe Som Bong.


"Kalian dari pihak mana, maaf kami tidak mengenal kalian".


Jendral Loe Som Bong kembali membalas ucapan ini.


"Kami dari angkatan laut kekaisaran Langit di Benua Etam meminta ijin penguasa pelabuhan ini untuk datang dalam rangka membina persahabatan dengan negara-negara lain di sini"


"Oh maaf, kami sudah bertindak kasar, kami pikir kalian adalah perompak bajak laut tengkorak hitam".


Kata pemimpin itu lagi.


"Silahkan sandarkan kapal-kapal kalian di pelabuhan kami, kami menyambut kalian dengan tangan terbuka ".


Jendral Loe Som Bong menarik kembali kubah perisai itu, meskipun tidak mengendurkan kewaspadaan. Mereka membawa kapal-kapal itu untuk mendekati pelabuhan, tidak ada lagi serangan panah sehingga mereka percaya bahwa orang-orang di pelabuhan itu memang salah paham dengan maksud kedatangan mereka.


Ada sekitar dua ratus orang berdiri di pinggir pelabuhan itu, seratus orang diantara memegang senjata panah jenis crossbow yang bisa meluncurkan sepuluh anak panah dalam satu kali tembakan, sisanya yang lain memegang pedang dan tombak.


Awak kapal melemparkan tali dan beberapa orang di pelabuhan itu membantu untuk mengikat tali pada kayu pancang yang ada di sana.


Setelah mempersilahkan mereka semua untuk duduk, tuan kota itu memberkati sambutannya.


"Maafkan penyambutan kami yang tidak ramah tadi, semoga tuan-tuan tidak memasukkannya di hati".


"Tidak apa-apa tuan kota Jin, kami bisa mengerti".


Kata Joan, mendengar Joan yang menjawab perkataannya, tuan kota segera menyadari bahwa pemimpin orang-orang ini bukan jendral Loe Som Bong tetapi nona muda yang berbicara dengannya saat ini. Sikapnya pun menjadi jauh lebih hormat kepada Joan.


"Maaf nona....".


"Oh maaf saya lupakan memperkenalkan diri, namaku Joan, aku adalah pimpinan di desa Genteng dan di sampingku ini adalah pangeran ketiga dari Kekaisaran Langit di Benua Etam ".


" Nona Joan, pangeran ketiga".

__ADS_1


Tuan Ji menganggukkan kepalanya dan kemudian melanjutkan perkataannya.


"Kami sudah mendengar kebesaran dari kekaisaran Langit. Negara yang paling kuat di Benua Etam, banyak pedagang-pedagang kami berdagang sampai ke negara Kekaisaran Langit tetapi maaf untuk desa Genteng, kami belum pernah mendengarnya, apakah itu desa di Kekaisaran Langit, tetapi maafkan kalau aku salah. Bukankah kekaisaran Langit tidak memiliki armada angkatan laut dan tidak memiliki garis pantai, mengapa kalian bisa memiliki kapal-kapal yang terus terang baru kali ini aku melihat kapal yang terlihat begitu tangguh".


"Memang tuan Jin, desa Genteng ini adalah salah satu desa di negara Kekaisaran Langit, tepatnya berada di kabupaten Kubar, justru kapal-kapal ini berasal dari desa kami, desa kami sebenarnya ada di teluk Blue Phoenix yang tersembunyi sehingga banyak negara lain mengira kami tidak memiliki garis pantai. Justru garis pantai kami ada di bagian ujung dari Benua Etam".


Joan menjelaskan panjang lebar mengenai desa Genteng sementara Andi yang memang tidak terlalu suka berbicara dengan orang asing hanya memperhatikan Joan dari samping. Andi suka sekali memperhatikan bibir Joan saat dia berbicara, selama perjalanan itu, dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk mencium Joan karena Joan tidur bersama dengan Mo Ying.


Joan teringat pada serangan sambutan yang mereka terima saat mau memasuki pelabuhan sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk menanyakan hal itu".


"Maaf tuan kota Jin, mengapa kalian menembaki kami dengan panah saat kapal-kapal kami mau memasuki pelabuhan "


Joan sudah mendengarkan perkataan pimpinan kota tentang perompak bajak laut tengkorak hitam tetapi dia pura-pura tidak mengerti.


"Ya, maaf kan kami sekali lagi nona, kami kira kalian adalah perompak yang paling menakutkan di semenanjung ini, mereka biasanya hanya menyerang kapal-kapal dagang tetapi entah kenapa akhir-akhir ini mereka juga mulai menyerang kota-kota pelabuhan, sudah ada lima kota pelabuhan yang mereka jarah dan mereka biasanya datang dengan tiga kapal besar dan mereka sudah mengirimkan berita kepada kami untuk menjawab tuntutan mereka dan menyediakan harta kekayaan dalam jumlah yang tidak mungkin kami penuhi, kalau tidak mereka akan membumi hanguskan tempat ini. Itu sebabnya kami mengira kapal-kapal kalian adalah perompak bajak laut tengkorak hitam".


Penjelasan tuan kota Jin membuat pihak Joan memahami alasan tuan kota memerintahkan penyerangan kepada mereka tadi.


"Sebenarnya kekuatan kami sama sekali tidak berarti, seandainya kalian adalah para perompak itu mungkin kami sudah habis binasa saat ini. Kota kami hanya memiliki dua ratus pengawal yang tidak memiliki kemampuan untuk menangkal serangan musuh yang kuat, kultivasi kami rata-rata hanya ada di peringkat rendah saja".


"Apakah kalian tidak meminta bantuan dari pejabat militer di kota provinsi atau ibukota negara kalian".


"Kami sudah memintanya tetapi sampai saat ini belum ada dari mereka yang datang, kota pelabuhan ini kita yang kecil dan tidak penting, jadi siapa yang mau repot untuk mengurus kami"


Lanjut tuan Jin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kapan mereka akan datang, kami akan membantu kalian membereskan masalah ini".


Kata Joan dengan tegas, tuan Jin memandang Joan, dia tidak melihat mata keraguan di mata nona muda ini malahan dia bisa melihat bahwa mata nona muda ini begitu tajam memancarkan aura yang kuat.


"Kami tidak tahu nona , mereka hanya mengatakan dalam minggu ini, itu sebabnya kami terus berjaga-jaga di pelabuhan, sedangkan sebagian penduduk kota ini sudah kuperintahkan untuk mengungsi, jadi maafkan kami kalau tidak bisa memberikan sambutan yang layak ".


"Oh tidak masalah tuan kota Jin, baiklah kami akan membuat pengaturan terlebih dahulu. Mari kita kembali ke pelabuhan dulu".

__ADS_1


Tuan Jin menganggukkan kepalanya, memimpin Joan dan lainnya untuk kembali ke pelabuhan.


Kata tuan kota menyambut kata-kata Joan


__ADS_2