Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Halusinasi


__ADS_3

Pasukan prajurit dari pangeran pertama sudah tiba seluruhnya di kota Krikilan bersama dengan kelompok pembunuh bayaran Atap Langit ada sekitar sepuluh ribu prajurit. Penasehat militer Pangeran pertama mengatakan untuk membunuh burung kecil tidak perlu dengan meriam cukup satu batu ketapel saja, yang akan dihadapi mereka hanya desa yang berpenduduk sekitar dua ribu orang, bukan prajurit yang terlatih jadi akan membuang uang dan tenaga saja kalau harus membawa ratusan ribu prajurit.


Sepuluh ribu prajurit sudah cukup untuk meratakan desa Genteng apalagi Pangeran pertama mengikutsertakan dua ribu prajurit elitnya untuk memperkuat pasukan ini. Juga organisasi pembunuh Atap Langit juga mengirimkan pembunuh eselon pertamanya sebanyak dua ratus orang. Sebenarnya para prajurit itu tidak senang dengan perintah itu, mereka lebih senang kalau diperintahkan untuk menghadapi musuh dari negara lain daripada menghadapi rekan sebangsa tetapi sebagai prajurit, mereka tidak bisa menolak perintah. Sudah tertanam dalam jiwa mereka untuk tunduk pada perintah atasan.


Para prajurit itu tidak segan-segan untuk membunuh, meratakan dan membumihanguskan kota-kota dari musuh mereka tetapi ini dari bangsa mereka sendiri dan dengan alasan yang mereka tidak mengerti, bagaimana sebuah desa kecil yang sedang berkembang dan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat serta setia membayar pajak kepada negara dikatakan akan memberontak.


Mereka tidak mengerti, tidak perlu juga untuk memahami, hanya perlu tahu saja, perintah ini datang dari ibukota, dari atasan tertinggi mereka yaitu Kaisar. Orang yang makan dengan sendok emas, yang tidak tahu perjuangan masyarakat bawah, yang tidak mengerti bagaimana masyarakat bawah berjuang untuk menghadapi tekanan kehidupan.


Mereka menjadi penyumbang pajak dan devisa negara tetapi justru seringkali negara hanya menjadikan mereka sapi perahan yang akan diperas susunya dan jikalau susu habis, dagingnya akan dimakan. Seperti saat-saat genting seperti ini, masyarakat akan diwajibkan untuk membantu para prajurit yang akan melewati daerah mereka, menyediakan perbekalan. Masyarakat jugalah yang akan pertama kali menghadapi penderitaan akibat perang yang berkecamuk.


Apakah pemerintah pusat akan perduli dengan hal ini. Para pejabat pengambil keputusan hanya tahu bagaimana memenangkan peperangan tetapi tidak mau mengerti bahwa harga mahal yang harus dibayarkan berasal dari masyarakat jelata ini.


Sepuluh ribu prajurit elit sudah disiapkan, kebanyakan diambil dari prajurit Kabupaten Kubar, sisanya dari prajurit kediaman Pangeran pertama dan organisasi Atap Langit yang akan menjadi garda terdepan untuk menghadapi musuh.


Mereka punya kesombongan tersendiri, merasa lebih hebat dari prajurit yang berasal dari provinsi di pelosok negara itu. Mereka berpikir mengapa harus mengerahkan begitu banyak pasukan untuk menghadapi dua ribuan orang desa saja yang tidak pernah menghadapi peperangan.


Ini panggung mereka, para prajurit itu hanya akan menjadi umpan meriam bagi mereka, kalau perlu menjadi korban dari harga kemenangan mereka. Tentu saja kalau para prajurit dari kabupaten Kubar ini mengetahui apa yang dipikirkan oleh prajurit elit dari ibukota ini, mereka pasti akan lebih suka berbalik dan kembali menikmati kehangatan keluarga mereka.


Itu hanya seandainya karena meskipun mereka tahu sekalipun, mereka tetap tidak akan bisa pulang karena mereka terikat dengan sumpah jabatan mereka. Mereka harus tetap mentaati pasukan dari Pangeran pertama karena mereka datang untuk memimpin para prajurit dari provinsi Kubar dibawah komando pasukan ibukota ini.


Pasukan itu sudah bersiap di perbatasan kota Krikilan. Berbaris rapi dengan seragam dan sepatu yang masih berkilap, pasukan pembawa panji-panji berbaris di depan, dibelakangnya dua ribu pasukan kavaleri berkuda dari pangeran pertama dan sisanya pasukan berjalan kaki dari provinsi Kubar sebagai pasukan pendukung.


Masyarakat penduduk kota Krikilan mengantarkan keberangkatan pasukan ini dengan doa dan air mata karena mereka tahu bahwa peperangan akan selalu mendatangkan korban.


Tidak ada Yel-yel dan sorak kegembiraan karena mereka benar-benar tidak mengerti mengapa Kaisar mengeluarkan dekrit tentang pemberontakan Badan Otorita Desa Genteng. Masyarakat kota Krikilan memiliki hubungan yang baik dengan penduduk desa Genteng bahkan ada beberapa puluh orang yang memiliki anggota keluarga di kota Genteng.

__ADS_1


Rupanya ini hanya kamuflase untuk menipu masyarakat kota Krikilan karena setelah pasukan itu memasuki lebih dari setengah perjalanan, barisan pasukan itu diatur ulang. Kali ini pasukan pendukung dari kota Krikilan dan Provinsi Kubar ditempatkan di barisan paling depan sesudah barisan prajurit pembawa panji-panji.


Pasukan ini mau digunakan untuk umpan meriam, mereka akan dikirimkan untuk berperang lebih dahulu dan sesudah pasukan musuh dilemahkan barulah pasukan inti akan mengumpulkan tanda jasa.


Keputusan ini meresahkan pasukan pendukung dari Provinsi Kubar khususnya mereka yang berasal dari kota Krikilan, tentu saja mereka hanya bisa diam-diam menggerutu di antara mereka sendiri tetapi sebagai seorang prajurit mereka tetap melaksanakan perintah atasan.


Komandan pasukan prajurit itu ada ditangan seorang Jenderal yang merupakan orang kepercayaan Pangeran pertama yang bernama Jendral Loe Som Bong, biasa dipanggil Jenderal A Bong.


Jendral A Bong memerintahkan delapan ribu pasukan pendukung itu untuk berangkat lebih dahulu ke desa Genteng dipimpin oleh pemimpin pasukan dari Provinsi Kubar yang berpangkat Letnan Jenderal bernama Loe Soe Sha.


Letjen Loe, begitu biasa dipanggil, mengatur pasukannya, dia tidak suka mengorbankan pasukannya dan ingin cepat menyelesaikan pertempuran pertama itu. Maka dia menaruh pasukan prajurit pemukul yang sudah berpengalaman dalam beberapa peperangan untuk maju lebih dahulu dan pasukan prajurit yang lebih lemah untuk maju kemudian.


Terompet dibunyikan, pasukan pemukul sebanyak dua ribu orang maju dengan semangat. Komandan memimpin mereka berlari sambil meneriakkan yel-yel dengan penuh semangat. Sesudah berlari sekitar dua kilometer, mereka heran sekali karena suasananya sunyi sekali.


Pos penjagaan itu tidak ada lagi di sana, jalan itu buntu tetapi ada jalan baru ke arah sisi kanan di antara pepohonan.


Mereka menjadi ragu-ragu, berhenti di sana memandang ke depan dan ke arah kanan ke jalan baru yang mereka lihat saat itu.


Letjen Loe di atas kudanya datang, melihat kepada para prajuritnya yang merasa ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan mereka melalui jalur jalan yang baru. Dia bertanya kepada komandan pasukan yang ada di dekatnya


"Mengapa berhenti, kita belum menemukan musuh!"


"Lapor Letnan Jenderal Loe, kalau tidak salah ingat, disini biasanya ada pos penjagaan. Gerbang desa ada berapa ratus meter lagi ke depan tetapi sekarang tidak ada lagi dan dulu jalan....".


Dia mau meneruskan ucapannya untuk memberitahukan bahwa jalan baru itu sebelumnya tidak ada di sana, jadi dia mau mengusulkan untuk mereka mengutus beberapa prajurit untuk memeriksanya tetapi Letnan Jenderal Loe yang ingin segera menyelesaikan tugasnya, memotong ucapannya.

__ADS_1


"Lewati jalan itu, mungkin mereka sudah memindahkan pos penjagaannya".


"Siap"


Mereka serentak menjawab, berjalan, mereka tidak berlari lagi karena mereka tidak tahu medan yang tidak mereka kenal sebelumnya. Dua ribu pasukan itu masuk lebih dalam ke hutan itu.


Tanpa mereka ketahui, sebenarnya duapuluhan meter di hadapan mereka, pos penjagaan itu masih ada di sana. Ratusan orang dengan senjata di tangan sudah bersiap menghadapi pasukan pemukul itu.


Beberapa dari antara mereka sudah berkeringat dingin melihat komandan prajurit yang ragu-ragu. Untungnya Letnan Jenderal Loe segera memerintahkan prajuritnya untuk menyusuri jalan baru itu.


Mereka tiba disebuah padang yang dipenuhi dengan bunga-bunga di pinggir kiri kanan jalan di padang rumput itu, jenis bunga Psychedelic plants, bunga yang menimbulkan efek halusinasi pada manusia.


Mereka berjalan dengan linglung, mata mereka tidak lagi fokus.


"Get On" Suara itu terdengar dari udara seperti suara merdu dari surga terdengar di telinga mereka.


Tiba-tiba barisan demi barisan lenyap dari pandangan orang yang berjalan dibelakangnya. Mereka tidak terlihat terkejut oleh karena pemandangan itu, mereka tetap berjalan memasuki ruangan yang tidak terlihat mata, dua ribu prajurit itu lenyap dan tempat itu sunyi kembali dalam keheningan.


Letnan Jenderal Loe yang tidak melihat ada prajuritnya yang kembali untuk melaporkan apa yang terjadi di dalam mengirimkan seluruh prajurit yang ada bersamanya. Dia sendiri berkuda paling belakang.


Tiba di padang rumput itu, dia melihat tidak ada satupun prajuritnya yang terlihat dihadapannya. Tidak ada sedikitpun tanda pertempuran tetapi dia seorang prajurit yang berpengalaman jadi dia tetap tenang, tetapi seperti para prajuritnya tiba-tiba dia juga menjadi linglung.


"Get On"....


Letnan Jenderal Loe pun lenyap.

__ADS_1


__ADS_2