Petani Berkuasa

Petani Berkuasa
Godaan


__ADS_3

Saat Joan mau menjawab ajakan pangeran pertama, suara Andi terdengar menyela pembicaraan mereka.


"Tidak perlu mengajaknya ke taman Kekaisaran, pangeran pertama. Taman di desa Genteng jauh lebih indah daripada taman itu dan Puteri Agung tidak dapat menemani mu untuk berjalan-jalan karena dia bukan orang yang santai sepertimu".


Joan merasakan ada bau cuka dalam perkataan Andi, dia merasa geli sekaligus senang mendengar nada cemburu dari perkataan Andi


Tidak diduga, pangeran pertama tidak marah mendengar perkataan pangeran ketiga, malah dengan santai dia menjawab.


"Betulkah, wah aku sangat penasaran kalau begitu. Bolehkah aku mengunjungi desa Genteng secara pribadi untuk melihat apakah benar taman desa Genteng lebih indah dari taman kekaisaran ".


Andi sedikit tercengang melihat pangeran pertama begitu tenang menjawabnya, biasanya dia mudah untuk marah saat berbicara dengannya. Ini sungguh diluar dugaannya.


Tentu saja Joan tidak mungkin menolak permintaan pangeran pertama yang mau mengunjungi desa Genteng.


"Silahkan, kapanpun pangeran pertama mau datang berkunjung, kami persilahkan".


"Terimakasih, baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian lagi, aku permisi dulu, salam hormat nona-nona cantik ".


Pangeran pertama menjawab perkataan Joan dengan sopan, dia bangkit berdiri, memberikan salam hormat kepada perempuan-perempuan muda di sana, kemudian dia dengan langkah-langkah yang anggun selayaknya seorang pangeran, pergi meninggalkan mereka.


Hampir semua perempuan muda itu terpesona melihat betapa sopannya pangeran pertama memperlakukan mereka. Meskipun mereka berharap bahwa pangeran pertama akan melirik salah satu dari mereka dan membawanya pergi tetapi mereka dapat merasakan bahwa perhatian pangeran pertama hanya ditujukan kepada Puteri Agung saja.


Tidak pelak hal itu menimbulkan rasa iri di hati mereka, bagaimana mungkin Puteri Agung yang terlihat biasa-biasa saja, tidak menampilkan keanggunan seorang Puteri kerajaan, bahkan juga hanya memiliki kecantikan yang standar bisa membuat pangeran pertama dan ke tiga bersaing memperebutkannya.


Saat para perempuan muda itu masih menatap punggung pangeran pertama yang semakin menjauh. Andi memegang tangan Joan, menariknya berdiri bersamanya.


Joan segera memberikan salam hormat dan berpamitan kepada mereka. Dia kemudian pergi bersama Andi meninggalkan perjamuan itu. Acara perjamuan itu berakhir dengan sendirinya saat Joan meninggalkan tempat itu karena perjamuan itu memang diadakan untuk Joan.


Melly, Bai Ji Gur dan Mona berpamitan kepada Joan. Mona sudah tidak berminat kepada Andi setelah mengetahui bahwa Andi adalah pangeran ketiga, apalagi dia juga melihat bahwa Andi terlihat begitu mencintai Joan.


Di dalam kereta yang membawa mereka kembali ke rumah selir Ouyang, Andi menanyakan apa saja yang dibicarakan oleh pangeran pertama.


"Cemburu ya".


"Ah enggak, cuma pengen tahu saja".


"Enggak ada apa-apa yang dibicarakan, cuma percakapan ringan saja".


"Cuma nanya berapa lama perjalanan ke desa Genteng dan apa saja yang kita miliki disana".


"Ehm".


"Tidak ada yang penting ".


"Oh ya, sebelumnya saat kamu pergi, dia sudah datang kepadaku. Menanyakan hubunganmu dengan ku dan menanyakan kondisi kesehatan mu"

__ADS_1


"Terus".


"Ya kujawab bahwa hubungan kita baik-baik saja, kesehatanmu juga baik, kamu sudah sembuh dari penyakitmu dan sudah sangat kuat untuk mengangkat pohon".


"Mengangkat pohon?".


Andi mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Joan.


"Ya, dia bertanya apa kamu sanggup mengangkat pohonmu, aku katakan padanya kamu sangat kuat bisa tiga kali sehari mengangkat pohon".


Joan memperhatikan raut wajah Andi yang terlihat seperti sedang sakit perut.


"Kamu kenapa?".


Andi menyadari Joan tidak memahami istilah yang sering digunakan oleh para pria di negara itu, dia merasa ada hal yang lucu sudah terjadi di antara Joan dengan pangeran pertama. Menahan tawanya, dia terus bertanya.


"Lalu apa yang terjadi".


"Yah dia pergi dengan tergesa-gesa, kelihatannya dia sangat marah karena wajahnya terlihat buruk".


Joan berhenti sejenak, sebelum melanjutkannya.


"Tapi tidak lama kemudian dia kembali dengan wajah yang sudah dicuci dan terlihat baru berganti pakaian. Dia terlihat senang dan tenang, pangeran pertama kemudian meminta ijin dengan sopan untuk bisa duduk bersama kami".


"Aneh, itu bukan gayanya selama ini".


Andi memandang Joan dengan pandangan yang mencari tahu kebenarannya.


"Mengapa kamu memandangku seperti itu. Itu tidak seperti dugaanmu. Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya".


Andi memang sedikit curiga bahwa Joan sudah mempengaruhi pangeran ketiga, kalau tidak!, mengapa dia terlihat seperti orang yang berbeda.


Bukankah selama ini orang-orang jahat yang bertemu Joan pasti akan berubah karakternya setelah dipengaruhi oleh Joan, jadi tadinya dia pikir Pangeran pertama juga sudah dipengaruhi oleh Joan.


"Oh belum ya, aku pikir kamu sudah mempengaruhinya, kan bagus juga kalau kamu mempengaruhinya".


"Pangeran pertama tidak melakukan hal yang berlebihan kepadaku, bagaimana aku bisa mempengaruhinya".


Jawab Joan, lalu dia meneruskan perkataannya.


"Memang sedikit aneh melihat perubahannya tetapi sepertinya dia tidak bermaksud jahat kepadaku. Aku hanya merasa bahwa pangeran pertama hanya ingin lebih dekat padaku, meskipun itu juga hal yang aneh karena sebelumnya jelas-jelas dia menundukkan kalau dia tidak menyukaiku".


"Ingin lebih dekat padamu! Aku tidak akan mengijinkan mu untuk dekat padanya. Kamu milikku!".


Seiring perkataan itu, Andi menarik Joan ke pelukannya. Jaon yang tidak siap terkejut dengan tindakan Andi. Dalam kemarahan dan kecemasannya kalau Joan akan tertarik kepada pangeran pertama, Andi menegaskan kepemilikannya terhadap Joan dengan menciumnya dengan kuat seolah mau menyatukan Joan dengan dirinya.

__ADS_1


Joan tersengal-sengal kehabisan oksigen, Andi menciumnya sedikit lama sebelum dia melepaskannya. Wajah Joan memerah dan dengan sengit, dia berkata kepada Andi.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak lagi menciumku dengan tiba-tiba dan melakukan dengan lembut. Lihat bibirku menjadi sedikit bengkak, bagaimana aku bisa menghadapi bibi dengan wajah seperti ini".


"Ehm maaf, aku sedikit terbawa emosiku. Aku takut kamu akan terpikat oleh pesona pangeran pertama dan meninggalkan aku".


"Bagaimana mungkin kamu tidak percaya diri seperti itu. Lihatlah, apa yang istimewa dari diriku sehingga pangeran pertama akan tertarik padaku".


Kata Joan.


"Oh Joan kamu sangat istimewa bagiku, tidak ada perempuan lain di seluruh dunia yang seperti dirimu. Aku sangat terpesona dengan mu. Bagaimana kamu bilang kamu tidak istimewa".


"Gombal ".


Joan tersenyum malu-malu mendengar perkataan Andi sambil memukul dadanya dengan ringan.


"Pegang kata-katamu, kalau kamu melirik gadis lain. Aku akan pergi meninggalkanmu".


"Tidak, aku tidak akan berani dan juga tidak ada perempuan lain yang bisa menarik perhatian ku lagi selain ibu dan adik perempuan ku".


Kata Andi.


"Kamu memang tidak bisa dipercaya, kamu bilang hanya aku, ibu dan adikmu. Aku lihat masih ada perempuan lain yang dekat dengan mu".


"Siapa?".


Wajah Andi sontak kebingungan, dia mengangkat dua jari tangan kanannya untuk bersumpah.


Joan tertawa, dia hanya menggoda Andi, siapa tahu dia begitu serius menanggapinya.


Joan menarik tangan Andi dan berkata.


"Sudah, aku percaya padamu tetapi memang benar ada perempuan lain yang saat ini dekat padamu".


"Sssiapa?".


Andi kebingungan, dia tidak dapat menebak siapa perempuan lain selain Joan, ibu dan adiknya.


Joan tertawa sebelum dia mengatakannya.


"Perempuan itu adalah ibuku".


"Ha ha ha ha".


"

__ADS_1


Joan melanjutkan.


__ADS_2