
Kapal-kapal itu bergerak perlahan seolah enggan untuk berpisah dengan orang-orang yang mengasihi mereka. Dari sejak lahir, baru kali ini mereka merasakan kesedihan perpisahan, itu bukannya berarti mereka belum pernah meninggalkan keluarga dan orang - orang yang mereka kasihi tetapi kepergian kali ini terasa berbeda karena mereka tidak tahu kapan mereka bisa kembali.
Joan dan Andi sambil memeluk bahu berdiri di geladak menyaksikan siluet bayang-bayang dari orang-orang yang mereka kasihi yang akhirnya semakin lama semakin kabur dan menghilang dari garis pandangnya.
Ombak tenang dan cuaca cerah, angin laut berhembus menyapu wajah Joan, dia menghirup nafas panjang kemudian melepaskannya dengan kuat seolah melepas semua beban di hatinya. Andi menatap dan tersenyum kepadanya.
"Kita akan cukup lama berpisah dengan mereka, bagaimana perasaan mu".
"Ehm, sedikit sedih tetapi juga senang karena kamu ada bersamaku untuk berbagi bebanku".
Balas Joan menjawab pertanyaan Andi.
"Tentu saja aku akan ada bersamamu untuk berbagi semua yang kumiliki denganmu".
Kata Andi sambil mengecup pucuk kepala Joan
Joan masih memandang dikejauhan seolah enggan melepaskan pandangannya. Andi menggenggam tangan Joan, merangkul bahunya dan membawanya kembali ke dalam kamar kabin di kapal itu.
Rambut Andi dan juga semua laki-laki yang ikut dalam pelayaran itu di potong pendek sehingga itu tidak membuat kerepotan mereka untuk mengurus rambutnya. Model rambut pendek ini memang menjadi trend baru di desa Genteng, lebih ringkas dan praktis, tidak perlu digelung atau dikuncir sehingga tidak merepotkan dalam pertempuran.
Eh kok ngurusin soal rambut, balik dalam pelayaran perdana itu satu hari dilalui tanpa kesulitan. Awak ketiga kapal itu sudah cukup trampil untuk menguasai tehnik menjalankan kapal mereka. Meskipun mereka sebelumnya tidak pernah menjalankan kapal tetapi melalui pelajaran yang diberikan oleh Joan yang dia dapatkan dalam buku-buku perkapalan yang ada di ruang dimensinya, mereka sudah bisa menguasainya.
Berdasarkan peta yang Joan temukan dibalik lukisan keluarganya itu, mereka harus berlayar ke utara untuk menemukan sebuah negara yang bernama negara Kertanegara di pulau besar yang bernama pulau Borneo.
Kapal-kapal itu berlayar dengan tenang dibantu oleh angin yang mengembangkan tiga layar. Semua orang senang mengamati pemandangan yang baru mereka lihat pertama kalinya.
__ADS_1
"Lihat banyak ikan yang berterbangan di sana".
"Lihat ikan-ikan itu betapa lucunya, mereka sudah mengikuti kita dari tadi".
Kata berapa orang saat melihat ikan lumba-lumba yang berenang mengikuti mereka.
"Astaga, besarnya ikan itu, lebih besar dari kapal kita".
Mereka tertegun melihat ikan paus raksasa yang kebetulan melintas di daerah itu, untungnya ikan itu terlihat tidak perduli dengan mereka, coba bayangkan kalau ikan itu menabrak dan menenggelamkan kapal-kapal mereka.
Mereka benar-benar terpesona dengan semua apa yang mereka lihat dalam pelayaran perdana mereka. Joan tentu saja hanya dapat tersenyum melihat pemandangan itu, buatnya itu hal yang sudah biasa dia lihat dalam kehidupannya sebelumnya.
Berapa hari pelayaran itu berjalan, mereka hanya melihat air laut saja, tidak ada pulau yang terlihat, tidak juga ada kapal lain. Tidak lama kesenangan yang mereka rasakan mulai padam. Meskipun jenuh tetapi itu tidak membuat mereka merasakan ketidaksenangan, mereka tetap bersemangat seperti biasanya.
Setiap pagi, olahraga pagi yang biasa dilakukan di desa Genteng, mereka juga lakukan di atas kapal. Makanan mereka juga tetap bervariasi seperti yang biasa mereka makan di desa Genteng. Dengan semua bahan makanan yang bisa Joan bawa di ruang dimensi pertaniannya, bagaimana mereka tidak bisa mendapatkan makanan segar.
Berapa hari lagi berlalu, suatu malam mereka menghadapi badai yang sangat dahsyat, awan hitam bergulung-gulung seperti mulut naga yang mau menelan kapal-kapal itu, lidah-lidah petir yang melesat di dalam kegelapan itu menimbulkan rasa takut yang menggentarkan. Gelombang naik dalam ketinggian yang menakutkan membuat kapal-kapal itu seolah sedang menaiki rollcoaster.
Dalam menghadapi badai seperti itu, tidak membuat mereka menjadi panik, hasil pelatihan yang mereka kerjakan setiap hari membuat mereka tetap tenang dan
mempraktekkan apa yang mereka sudah latih berkali-kali, awak kapal segera menurunkan layar dan menggulungnya. Mengkaitkan kapal dan mengikatnya dengan tali-tali yang kuat agar kapal tidak terpisah.
Meskipun demikian badai perdana itu memberikan mereka rasa tegang yang membuat mereka berkeringat dingin, mereka baru menyadari bahwa kekuatan alam memang tidak bisa diremehkan.
Untungnya badai tidak berlangsung semalaman, tidak berapa lama lautan menjadi tenang kembali. Setelah malam yang dipenuhi keputusasaan, pagi ini matahari bersinar cerah membawa kehangatan bagi semua orang yang lelah.
__ADS_1
Ketiga kapal itu dipisahkan kembali, satu tiang patah, untungnya mereka membawa tiang cadangan. Yang lebih penting lagi tidak ada satupun awaj yang hilang meskipun ada beberapa dari mereka yang terluka.
"Jendral, ada pulau terlihat di kejauhan"
Awak kapal yang berdiri di tiang atas memberikan laporannya.
"Baik, perintahkan pendayung untuk mendayung kembali".
Kata Jendral kepada pimpinan pendayung
Semua orang yang lelah karena mengalami ketegangan di malam harinya menjadi lega setelah mengetahui bahwa mereka sudah dekat dengan daratan.
Meskipun terlihat dekat ternyata masih dibutuhkan waktu setengah hari untuk kapal mereka dapat mendekati daratan pulau tersebut. Mereka membuang jangkar untuk menambatkan kapal , karena kapal tidak bisa mendekati daratan itu, mereka menurunkan sekoci untuk memeriksa keadaan pulau itu.
Mo Yi memimpin duapuluh orang untuk menyelidiki keadaan pulau tersebut sementara yang lain tetap di atas kapal untuk sementara waktu.
Sekoci itu melaju dengan cepat dan sebentar saja mereka sudah sampai di pantai pulau tersebut. Tidak ada orang di pantai itu, juga tidak ada tanda-tanda ada pemukiman di sekitar situ. Keduapuluh orang itu segera berpencar untuk memeriksa keadaan di sana.
Tidak berapa lama mereka semua kembali, ternyata memang tidak ada pemukiman penduduk di sekitar pantai itu sampai sejauh dua kilometer. Jadi mereka memberikan tanda agar rekan-rekan mereka yang di atas kapal bisa segera turun.
Sekoci-sekoci diturunkan dan mereka semua kecuali beberapa orang yang ditugaskan dalam perawatan kapal mendarat di pulau tersebut. Joan memutuskan untuk mereka mendirikan tenda di tempat itu.
Mereka perlu beristirahat dulu berapa hari sebelum memutuskan untuk pergi ke tempat yang lain karena mereka juga tidak terburu-buru.
Ada banyak pohon kelapa di pinggir pantai, itu membuat mereka menjadi senang.
__ADS_1
Sebentar saja ratusan buah kelapa diturunkan untuk mereka nikmati.