
Setelah mereka tiba di rumah selir Ouyang, Andi tinggal beberapa waktu untuk berbincang dengan keluarganya. Setelah itu dia kembali ke istana, Andi tidak tidur di rumah selir Ouyang. Tidak ada kamar untuknya karena kamarnya ditempati oleh Joan dan dari kecil, dia biasa tidur sendiri jadi dia tidak mau tinggal untuk tidur di kamar adiknya.
Lagipula bukan hal yang normal pada jaman itu untuk pria dan perempuan yang berpacaran untuk tinggal di rumah yang sama apalagi di satu kamar yang sama, itu adalah hal yang tabu bagi masyarakat di jaman itu meskipun bukan berarti tidak ada yang pernah melakukannya.
Andi juga bertekad untuk menunggu malam pernikahan sebelum memetik bunga (istilah untuk mengambil keperawanan seorang perempuan). Dia merasa jika dia sungguh-sungguh mencintai seseorang maka dia harus menjaga kehormatannya sampai dia resmi menikah dengannya.
Andi kembali ke istana di tengah malam, saat hendak masuk ke dalam paviliunnya, seorang Kasim kecil datang menemuinya dan mengatakan bahwa Kaisar ingin menemuinya di ruang belajarnya.
Andi batal masuk ke dalam paviliunnya, dia berjalan menuju paviliun Kaisar, paviliun yang paling besar dan megah di istana tersebut. Andi masuk ke ruang belajar Kaisar tetapi saat sampai di sana, dia tidak menemukan Kaisar, jadi dia duduk di kursi untuk menunggunya.
Sebuah dupa menyala di meja yang ada di depannya. Bau yang harum menyergap penciumannya, aneh dia merasakan pikirannya melayang, dia merasa sedikit pusing. Setengah dupa habis, Kaisar juga belum terlihat, jadi Andi memutuskan untuk kembali ke paviliunnya sendiri, dia berjalan dengan gontai.
Merasa tubuhnya agak hangat, dia mempercepat langkahnya. Di tengah lorong koridor istana, dia melihat seorang perempuan muda berpakaian merah menyala berjalan melintas bersimpangan jalan dengannya, perempuan itu menatapnya sambil tersenyum.
Pandangan Andi agak kabur.
"Joan...."
Panggilnya, tenggorokannya terasa kering, matanya juga terasa kabur. Andi menepuk kepalanya.
"Bukankah dia tadi mengantarkan Joan ke rumah selir Ouyang".
Itu terlintas dalam pikirannya.
Andi merasa matanya sangat berat, rasa kantuk yang berat menggayuti matanya. Aneh, apa ada orang yang membius nya. Apakah Kaisar? Untuk apa Kaisar melakukannya. Pikiran itu melintas di otaknya.
Andi mencoba untuk mempertahankan kesadarannya tetapi tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya dia roboh tak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
Beberapa orang muncul dari kegelapan, mengangkatnya dengan hati-hati, mereka adalah beberapa orang pengawal istana. Mereka membawanya ke dalam sebuah kamar yang terlihat cukup mewah, meletakkannya di atas ranjang dan meninggalkannya sendiri di sana.
Seorang perempuan tengah baya yang masih terlihat cantik dengan penampilan tubuh yang tidak kalah menarik dengan perempuan muda dewasa muncul dalam keremangan kamar yang diterangi berapa mutiara malam.
Perempuan itu memperhatikan tubuh Andi yang terbaring di atas ranjang itu, Andi merasa gelisah dan tubuhnya terasa semakin memanas, dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Gairahnya menyala seperti api dalam dadanya.
Perempuan itu menelan air liurnya yang hampir saja keluar dari mulutnya, dia cukup tertarik melihat pesona dari postur tubuh Andi tetapi tentu saja dia tidak berani melakukan apa-apa terhadap Andi
Perempuan itu menepuk tangannya perlahan dan dua perempuan muda berusia dua puluhan muncul dari balik pintu, seorang diantaranya adalah perempuan yang dilihat Andi di lorong itu.
Dua perempuan muda itu melihat dengan penuh semangat kepada tubuh Andi yang terbaring di ranjang itu.
"Lakukan".
"Siap nyonya".
Mereka dengan senang hati menuruti perintah itu meskipun ada juga ketakutan di hati mereka, kalau-kalau Andi bangun dari tidurnya, mereka percaya mereka pasti akan mati tanpa kuburan.
Konon dari desas-desus yang mereka dengar, pangeran ketiga ini tidak memiliki hubungan apapun dengan perempuan manapun sejak kecilnya. Dia belum pernah memetik bunga dimanapun.
Pangeran yang lain di istana itu sudah sangat dikenal rakus terhadap kenikmatan, hanya pangeran ketiga yang bersih dari semua gosip seperti itu. Pangeran lain suka mengunjungi paviliun cinta, tempat prostitusi yang terkenal di ibukota tetapi tidak ada seorangpun di ibukota yang pernah mendengar Pangeran ketiga itu mengunjungi paviliun bunga.
Kalau pun mereka harus mati, itu tentu sepadan dengan apa yang mereka dapat rasakan malam ini. Mereka berdua tidak bisa melepaskan kesempatan berharga ini.
Ke dua perempuan itu segera melepaskan pakaian mereka sendiri, mereka naik ke atas ranjang itu, dengan trampil mereka menggunakan tangan dan lidah mereka untuk menjelajahi tubuh Andi.
Andi mendesah, dia menyebutkan nama "Joan" berulang kali di bibirnya.
__ADS_1
Dua perempuan muda itu merasa masam mendengar Andi berulangkali menyebut nama Joan tetapi itu bukan masalah, mereka tidak perduli dengan hal itu, mereka hanya akan melakukan tugas yang mendatangkan keuntungan ganda, uang dan kenikmatan.
Andi lebih kuat mendesah tetapi bukan desah kenikmatan, rasanya seperti kegelian karena Andi mulai terkikik, tawa yang pelan sampai kemudian menjadi semakin keras.
Dua perempuan muda itu terkejut dan tawa itu segera memadamkan semua gairah mereka. Mereka turun dari ranjang, membereskan pakaian mereka dan dengan rasa malu karena baru kali ini lah mereka sungguh-sungguh gagal melaksanakan tugas yang biasanya sangat mudah dikerjakan itu.
Apalagi Andi dibawah pengaruh obat bius perangsang yang kuat yang diracik oleh tabib kekaisaran.
"Maaf nyonya kami tidak berhasil membangunkan pohonnya".
"Ya nyonya, kami sudah menggunakan semua keahlian yang kami miliki tetapi dia tetap bergeming".
Kedua perempuan muda itu bergantian melaporkan situasi yang mereka hadapi kepada perempuan paruh baya yang mereka sebut nyonya itu.
"Apa pohonnya tetap tidak bisa bangun".
Nyonya itu tertegun dan tidak mempercayai apa yang didengarnya, ataukah dia harus mencobanya sendiri. Meskipun dia sangat menginginkan hal itu namun tetap saja dia tidak memiliki keberanian melakukannya.
Sekali lagi dia memandang tubuh Andi yang sudah setengah telanjang di hadapannya, dia merasa sayang sebenarnya, daging muda itu tersedia tetapi dia tidak bisa memakannya.
Dia memerintahkan kedua perempuan muda itu untuk membantu Andi mengenakan pakaiannya kembali. Kemudian dia memanggil para pengawal kekaisaran yang terheran-heran karena merasa bahwa kemeriahan itu terlalu cepat selesai.
Di luar pintu mereka tidak mendengar suara berisik dari ranjang yang berderit sebaliknya mereka mendengar suara tawa Andi yang berkepanjangan.
Para pengawal itu mengangkat tubuh pangeran ketiga itu kembali dengan hati-hati. Andi masih tertawa-tawa dalam tidurnya. Mereka mengembalikan dia ke kamar tidurnya sendiri dalam paviliunnya, melepaskan sepatu yang dia kenakan, kemudian meninggalkannya.
Keesokan harinya Andi terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat. Dia heran karena ada di kamarnya sendiri. Perasaannya berkata bahwa dia jatuh di lorong tadi malam, mengapa dia terbangun dari tidurnya dikamar nya sendiri. Pakaiannya pun masih lengkap tetapi dia mencium bau harum yang samar di tubuhnya.
__ADS_1
Semalam memang dia bermimpi aneh, dia bertemu dengan Joan di taman. Saat dia mau menciumnya seperti yang biasa dia lakukan. Joan justru menggelitiki tubuhnya dengan buluh bunga lalang yang dia petik dari lalang yang ada di situ sehingga dia tertawa kegelian.
Andi mandi, dia merendam tubuhnya dan menggosok badannya berulangkali seolah mau menghilangkan bau harum yang samar itu dari tubuhnya. Andi sungguh-sungguh melupakan apa yang dia alami tadi malam. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya tadi malam tetapi dia sungguh tidak dapat mengingatnya seolah ada seseorang yang sudah menghapus ingatannya.