Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Apartemen mas Abhi


__ADS_3

Kami pun sampai di apartemen tempat mas Abhi tinggal. Mas Abhi tinggal di salah satu apartemen berbintag, yang selalu ditinggali para pengusaha-pengusaha kaya juga sultan-sultan. Adapun beberapa para artis lokal, bisa memiliki apartemen mewah ini. Apartemen mas Abhi terdapat di lantai 9 no 39A, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu bawah. Saat masuk perlu menggesekkan kartu masuk sebagai kunci ataupun menggunakan sidik jari cukup dengan menempelkan jempol ke sensor, atau bisa juga menggunakan kode rahasia.


Saat masuk kami disambut langsung dengan tempat penyimpanan sepatu di bawah tangga di sisi kanan dan sisi terdapat lemari buku-buku sepertinya koleksi mas Abhi berjejer rapi.


lalau masuk ke dalam di sebelah kanan ada ruang dapur khusus memasak dan saat ke arah kiri ada ruang tamu, lalu satu kamar tamu dengan jendela besar yang tak dapat di geser. Saat menaiki tangga kita akan langsung di sambut dengan ruangan kuarga sepertinya, lalu satu kamar utama. Disana aku dan mas Abhi akan tidur. di ruang atas ada balkon menghadap ke arah taman dan satu balkon menghadap ke arah kota dan jalan bisa menikmati indahnya lampu malam.


Ada satu kamar mandi yang luas dan mewah dengan bedtube seperti di tempat-tempat spa yang suka ada lilin aroma terapinya dan terdiri satu ruang shower juga tempat BAB.


Mas Abhi mengambil remote lalu menghidupkan AC dan membuka layar jendela balkon. Tempat tidur yang luas dengan sprei berwarna putih menghiasi tempat tidur mas Abhi.Aku tertuju dengan hiasan bunga mawar merah yang di dekor sedemikian rupa.


"Happy Married and Happy Honeymoon." Itulah tulisan yang dapatku baca berhiaskan taburan bunga mawar merah juga terdapat parcel yang terbungkus dengan hiasan pita ku ambil dan ku lihat ternyata itu berisi minyak untuk khusus wanita agar wangi **** * nya. Kulemparkan semua itu, kemudian kulihat ada sebuah kotak berwarna merah yang berhiaskan swarovski, dibukanya kotak itu yang di dalamnya berisi kalung permata lengkap dengan gelang dan cincin. Aku sedikit tertegun dengan nya.


"Jika di jual, sepertinya bisa untuk beli rumah 2 dan juga tanah 1 hektar," fikirku.


Mas Abhi mengambil kotak itu lalu memakaikan kalung serta cincin dan gelang yang berhiaskan diamond kepadaku.


"Cantik," kata mas Abhi dan tersenyum melihat wajahku yang tersipu malu.


Aku buru-buru melepasnya dan ku simpan kembali dalam kotak itu. Kulihat raut wajah mas Abhi berubah, ia mengerutkan keningnya melihatku menyimpan kembali perhiasan mahal itu.


"Aku tidak pantas memakai perhiasan mewah seperti itu, lebih baik di simpan saja untuk keperluan." jawabku.


"Mas, aku ingin bicara sebentar saja" aku memberanikan diri.


Mas Abhi duduk di sofa yang terdapat di sisi dekat balkon.

__ADS_1


"Kita menikah, karena suatu ketidak sengajaan. Itu semua ketidak sengajaan, baik mas Abhi ataupun aku tidak menginginkan pernikahan itu. Akupun masih muda, mas Abhi pun sama. Kita masih mempunyai cita-cita dan mimpi yang belum sempat terwujudkan atau di lakukan," aku coba menjelaskan. Mas Abhi hanya duduk dengan tenang dan memperhatikan.


"Lalu maumu apa?" tanya mas Abhi.


"Aku..., aku ingin kita seperti biasa saja. Seperti sewaktu kita tidak kenal, seperti waktu kita perrama bertemu." Aku melihat raut wajah mas Abhi yang masih datar.


"Mas Abhi punya teman dan pacar, akupun punya pacar," saat ku katakan aku juga punya pacar, mas adi sedikit berubah raut wajahnya dan kembali ke awal dengan cepat seperti biasa, kalem.


"Intinya, aku ingin kita menjalani keseharian seperti biasa sebelum kita menikah." jelas ku.


Mas Abhi mendekatiku perlahan lalu mendorongku ke atas kasur hingga aku jatuh terduduk. Mas Abhi pun mendekatkan diri.


"Kita sudah berstatuskan suami istri dan itu tidak bisa dirubah kecuali aku menalakmu," jawabnya.


"Aku tidur di bawah," aku memulai pembicaraan setelah kami terdiam lama. Akupun pergi dan mas Abhi tidak mencegahku ataupun menyuruhku. Aku membawa koperku ke lantai bawah ke kamar tamu, saat ku buka kamar tamu memang luas, tapi hawa nya tidak enak dan terasa bau debu seolah sudah lama tak di tempati.


"Brukk!" Ku taruh koperku kembali ke kamar utama. Aku membuka koperku lalu mulai mengeluarkan pakaian satu demi satu. Ku lihat mas Abhi tersenyum saat melihatku kembali ke kamarnya.


"Takut?" mas Abhi bertanya dengan nada ledekannya di tambahi dengan senyumnya yang seolah-olah tidak bersalah.


"Nggak!" jawabku singkat lalu membereskan pakaian ke dalam lemari. Saat ku buka satu kantong keresek terdapat lingeri yang aku beli untuk tidur.


"Kenapa ada ini?" aku melebarkan baju haram itu "Siapa yang memasukkannya," tanya ku dalam hati.


"Mungkin ibu. Duh... bagaimana bisa anakmu memakai pakaian seperti ini, walau kami sudah resmi gak mungkin aku memakai pakaian ini di depan mas Abhi," aku bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Pakaian apa ini?' tanya mas Abhi yang mencoba membantu membereskan pakaianku. Segera ku ambil dan ku uwel-uwel kembali ke dalam kantong plastik kecil.


Mas Abhi hanya melirikku, diapun tak berani untuk bertanya. Dia meninggalkanku yang sedang beres-beres pakaian. Sampai akhirnya selesai akupun mengambil pakaian dan bersiap mandi.


Setelah selesai mandi dan ganti pakaian, akupun pergi mengambil ponsel. Mas Abhi sedang sibuk membuka-buka majalah.


"Mas, aku mau telpon dulu seseorang. Mas Abhi mengangguk lalu akupun pergi ke balkon untuk menelpon bapak dan ibu memberikan kabar kepada mereka kalau aku sudah sampai. Setelah selesai akupun langsung naik ke atas kasur dan tidur tanpa banyak kata.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 2:40 malam, aku terbangun. Kulihat mas Abhi sedang shalat sunat, aku memperhatikan shalatnya. Selesai shalat ia berdzikir dan mengaji, serasa di nyanyikan lagu nina bobo.


Aku tidur di tempat tidur sendiri tanpa di temani mas Abhi. Mas Abhi tidur di sofa, awalnya aku yang ingin tidur di sofa, karena mungkin mas Abhi gak tega karena aku terus bersi keras ingin tidur pisah ranjang, mas Abhi pun mengalah tidur untuk tidur di sofa.


Aku hanya merasa tidak nyaman saat harus ada seseorang yang tidur denganku dalam satu kasur. Apalagi aku belum begitu mengenal mas Abhi, memang sepertinya orang baik. Tapi aku tidak tahu kedepannya, bagaimana bisa seseorang menikah tanpa di dasari perkenalan dahulu, atau istilahnya PDKT.


Ku tengok ponselku yang ku simpan di meja kecil sisi kasur tempat menyimpan lampu tidur, ku hidupkan kalau-kalau ada telpon atau WA. Benar saja setelah ku tengok ada 37 panggilan masuk dan 10 pesan dari Sandy.


[ Aku menunggumu, ]


[ Han, dimana?]


[Honey?]


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2