
"Honeymoon apaan, gara-gara kamu juga aku dan mas Abhi gak jadi liburan untuk Honeymoon," pekikku dalam hati.
"Kini ku senderkan tubuhku ke punggung kursi melepas ketegangan yang baru saja terjadi,"
"Tunggu sebentar," mas Abhi menarik pedal kursi hingga kini aku bisa terbaring dengan baik lalu menyuruh pak Tarno mengecilkan volume AC, mas Abhi memberikkan bantal untuk menyanggah kepalaku lalu mengambil selimut yang di sediakan Andi karena sebelumnya mas Abhi request agar membawa selimut.
"Makasi, mas." Mas Abhi membelai wajahku dengan senyumnya yang menyejukkan hati.
"Duh, kenapa di kecilin sih AC nya...! Andi menoleh kepada mas Abhi kemudian menoleh ke arahku yang mencoba memejamkan mata lalu tak bisa berkata apa-apa Andi hanya diam dan kembali ke posisinya melihat lurus ke depan tanpa mau memperpanjang, berdebat hal yang tak berarti.
"Mungkin karena ia kasian, sepanjang perjalanan di pesawat aku tidak bisa tidur entah kenapa, rasanya badanku tidak enak sekali." Gumamku dalam hati.
Malam yang melelahkan, aku mencoba memejamkan mataku terasa berat sekali. Beberapa kali lampu jalanan tol memantulkan cahaya nya hingga sesekali mengenai wajahku. Mas Abhi yang tahu itu langsung menutupkan tirai yang tersedia di dalam kaca mobil.
"Mas, bagaimana mega proyeknya sukses?" tanya Andi membuka pembicaraan.
"Ya Alhamdulillah," jawab mas Abhi.
"Ketemu dengan Mr. Jorge gak?"
"Hmm ..," jawab mas Abhi singkat.
Perjalanan akan sedikit panjang beruntung tengah malam begini jalur tol tidak macet, hanya di beberapa jalan raya saja yang macet.
"Apa kalian lapar, aku lapar banget nih " Celetuk Andi yang sepertinya sudah tidak ada pembahasan lagi atau entah memang karena lapar.
"Kamu mau makan?" tanya mas Abhi.
"Hmm, memangnya ada yang buka jam segini?" tanyaku setengah sadar karena memang akupun sedikit lapar di pesawat aku tidak terlalu fokus pada makanan karena keberadaan Hendra.
"Ada di tempat tongkrongan banyak cemilan dan jajanan berjejeran di pinggir jalan," balas Andi sigap.
"Gimana mau, atau mau istirahat saja?" tanya lagi mas Abhi padaku.
"Hmm, boleh." Sebenarnya aku benar-benar sudah ngantuk berat hingga sepertinya akupun menjawab pertanyaan dari mas Abhi dengan sadar tidak sadar.
Aku kembali memejamkan mata sedangkan mobil melaju menuju tempat tujuan untuk mengisi perut, Andi memberitahukan rutenya kepada pak Tarno. Hingga kamipun sampai di tempat yang di maksud Andi langsung menyinggahi warung pecel lele yang hanya berdirikan tenda. ada beberapa jajanan di sana di antaranya, sate, maranggi, bakso, martabak manis, telor nasgor, nasi uduk, ayam bakar dan lainnya.
"Han, sudah sampai. Yuk kita isi perut dulu," suara halus melambai masuk ke kupingku aku mengerang manja.
__ADS_1
"Hmm... aku masih ngantuk. Makan disini saja,"
"Kamu mau pesan apa?"
"Ada apa saja?" tanyaku melemah. Mas Abhi pun memberi tahuku apa-apa saja yang ada di sana hingga aku tertarik dengan maranggi dan ayam bakar.
"Aku mau nasi uduk putih sedikit saja pakai maranggi dan ayam bakar. Nanti ayam bakarnya pesan juga yang utuh untuk di bawa pulang, mas. Besok aku mau makan itu," pintaku pada mas Abhi yang sudah memanggil meminta tolong ke pak Tarno.
"Mas hayu kesana," tawar Andi.
"Disini saja,"
"Honey biarkan saja dia tidur, ayok." tawar Andi lagi sambil melengos pergi.
"Sialan nih anak, aku bisa dengar yah." pekikku dalam Hati.
Tak berlangsung lama pak Tarno membawakan pesenanku dan mas Abhi. Mas Abhi memesan nasi goreng seafood tanpa pedas juga air putih.
"Pak ini," pak Tarno menyodorkan pesanannya.
"Terima kasih, pak. Pak Tarno sudah pesan?" tanya mas Abhi.
"Sudah,pak. Sedang dibikinin," lalu pak Tarno kembali ke posisinya untuk memakan pesenannya.
"Kenapa mas gak kesana saja, kasian Andi sendiri gak mungkin sama pak Tarno?" tanyaku padahal aku hanya mengujinya.
Dan seperti yang kuduga jawabannya pasti "Tidak usah, mas disini saja" ia tidak mungkin mau meninggalkanku.
Setelah selesai menyiapkan punyaku mas Abhi mulai membuka pesenannya. Ia makan dengan lahap enteh karena lapar atau suka dengan nasi goreng seafoodnya.
"Mau, aaaa?" sambil menyodorkan sendok berisi nasi kemulutku aku menggelengkan kepalaku. Makananku tidak habis ku kembalikan ke dalam kresek tadi makanan yang tidak habis beserta lauknya. Bukan pelit karena ibu dan ayah pernah bilang "Jangan buang-buang nasi nanti nasinya nangis," maksud dan ungkapan yang sebenarnya dari itu adalah agar kita tidak membuang-buang rezeki dengan mubazir, banyak orang di luaran sana yang tidak segampang itu bisa mendapatkan makan malah ada yang makan rumput demi bertahan hidup.
Aku kembali berbaring tapi kali ini ku baringkan kepalaku ke paha mas Abhi ysng sedang makan sampai terkena nya dan spontan seperti seolah di setrum mas Bahi reflek kaget. Untung nasinya tidak jatuh ke wajahku, aku pura-pura tidak sadar dengan tetap memejamkan mataku.
Terasa benda lembut itu sedikit mengeras karena gesekan dari kepalaku mengenai bagian mas Abhi.mas Abhi yang sedikit panik mulai berusaha menahan kepalaku agar tidak terkena kepadanya. Hingga makanan mas Abhi sudah habis Andi dan pak Tarno yang selesai makan sedang asyik merokok hingga kepulan asap sesekali menutupi wajah mereka karena tak tersibak angin.
"Han, minggir sedikit."
"Hmm... gak mau," jawabku manja.
__ADS_1
"I,ini di mobil,"
"Ya memang di mobil,"
Kini mas Abhi melepaskan tangan yang menahan kepalaku untuk tidak mengenainya. Kini miliknya benar-benar sudah mengeras,aku tersenyum saat menyadarinya.
"Sempit,yah." Perlahan ku buka resleting yang menghalangi pergerakannya agar bebas.Entah kenapa tiba-tiba saja terlintas di otakku untuk ingin mencoba seperti ini seperti yang ada di film biru.
"Honey pernah nonton film biru kah...?!!!"
"Han, jangan disini." Mohon mas Abhi yang tentu saja tak akan ku dengar.
Perlahan ku buka dan akhirnya kini terlepas bebas. Mas Abhi yang kaget buru-buru menutupnya memakai selimut hingga kepalaku ikut terkurung. Mas Abhi mulai menutup kaca mobil dan lampu mobil.
[ Aku istirahat sebentar saja, cape. Honey juga tidur ]
Begitulah isi pesan yang di WA kan ke Andi. Andi yang polos membalas dengan menyetujuinya.
[ Tapi sebentar aja yah]
[Ya,] jawab mas Abhi.
"Aahhh....," suara lembut namun dalam mendesir di setiap sudut mobil membuatku semakin bernafsu. Mas Abhi memegang kepalaku dan sesekali melepaskannya memegang ke benda sekitar tempat duduk di sisinya.
Ku kencangkan speed nya hingga semakin lama mas Abhi memaksaku untuk bangun lalu mengulumku. Kini kedua tanganku di arahkannya ke benda berurat itu dan membimbingku untuk dapat bermain di dalamnya.
Semakin cepat dan semakin terasa nafas mas Abhi yang semakin terengah, hingga kini tangan mas Abhi menggeledah dua buah gunung yang tergantung di sana. Aku yang ikut bernafsu hanya bisa membasahi benda segitiga yang menutupi daging renyahku.
"A,a- ahhh...." Semburan lahar hangat menyembur mengenai tanganku. Buru-buru mas Abhi mengambil tissue yang tersedia di mobil dan mengelapnya.
"Ada tissue basah, maaf?" dengan panik mas Abhi membersihkan sisa-sisanya di tanganku lalu membuka tisu basah, mengelap mulut dan sekitar area selimut. kini ia menggulung selimut itu dan menyimpannya di belakang.
Ia mencium keningku" maaf yah, jadi kotor." Sebenarnya aku masih belum puas, tapi mau bagaimana mungkin mas Abhipun sedang panik hingga keluar cepat.
"Maaf yah mas, masalah aku dan Hendra. Jika Hendra menyinggung mas dan juga aku tolong di maafkan. Aku tidak ada sedikitpun perasaan kepada Hendra sekarang, karena sekarang ada mas Abhi." Ucapku berusaha menjelaskan sebenarnya inilah tujuanku merayu mas Abhi yang sedari tadi tidak bisa di ajak ngobrol.
"Mas bukan marah tentang itu, mas hanya sedikit kesal kenapa dulu bukan mas yang kenal denganmu duluan," ucap mas Abhi membuatku seketika tersipu malu karena mungkin jika saat itu aku dengan mas Abhi. Ia gak akan membiarkanku menjadi bulanan para lelaki dan akupun tak perlu mengincar banyak lelaki untuk mengeretnya.
"Makasih yah. Mas gak nyangka kamu bisa melakukan ini," aku tak menjawab hanya senyum simpul dengan rasa malu, tak lama kemudian Andi dan pak Tarno kembali dan kamipun meneruskan perjalanan menuju apartemen.
__ADS_1
Saat sudah sampai, akupun di pangku mas Abhi ke tempat tidur sedangkan Andi memilih untuk pulang dan pak Tarno mengantarkan Andi ke apartemennya sekalian menginap di sana.
"Han, bangun mandi dulu," mas Abhi membangunkanku untuk mandi besar lalu tidur. Meskipun aku ngantuk sekali tetap saja harus di lakukan kalau kata mas Abhi dosa jangan di lama-lama.