
"Sudah jam 11 malam, ibu sama Ririn kenapa belum juga pulang yah?" akupun merebahkan diri setelah selesai membereskan kekacauan yang ada dirumah.
Aku baru tahu ternyata kiyai Asrori adalah teman bapak dulu di pesantren. Dulu bapak bilang pernah di pesantren Darussalam bapak pernah mondok, tempat nya berada di cirebon, dan ternyata pak kiyai ini adalah anak ke 2 dari 9 sodara dari anak pemilik pesantren darussalam ini. Tak heran jika tadi pak kiyai dan juga bapak tidak canggung berbincang.
"Badanku terasa lengket, sudah hampir tengah malam badanku keringetan sekali. Mungkin karena tadi aku beresin rumah sendiri jadi keringetan badan. Mandi ah..." Akupun pergi ke kamar mandi membersihkan diri.
Ku dengar suara pintu di buka, terdengar samar suara bapak sedang mengobrol dengan nada pelan. Akupun bergegas menuju kamar adikku untuk memakai baju tidur yang tadi aku siapkan.
"Ih jorok, udah dari luar gak mandi," gumamku saat melihat adikku Ririn sudah asyik dengan dunia mimpinya.
"Eh, aku lupa membawa dalamanku. Mana mungkin aku pake punya Ririn, ih jijay." Aku mengidig saat membayangkan memakai daleman punya Ririn. Lagi pula BH nya tidak akan cukup karena ukuranku lebih besar dari dia yang hanya anak kelas 6 SD.
"Pak, anak pak kiyai sudah pulang?" kulihat bapak membaringkan tubuhnya yang keliatan lelah di kursi depan.
"Sepertinya belum," bapak memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar.
"Akupun merasa aman ketika mengambil dalaman. Aku pergi ke kamarku untuk mengambil dalaman, ku bukakan pintu dan ku cari kontak yang terhubung ke lampu untuk menghidupkan lampu. Aku meraba-raba dari sisi satu ke sisi lain dan...
" Cetrek"
Sontak aku ingin berteriak ketika di hadapanku seseorang yang sedang bertelanjang dada.
"A....p!" mulutku seketika di tutup penuh oleh tangan nya.
"Anak pak kiyai, kapan dia kekamar?" pekikku.
Diapun sadar sedang memegang dan membekapku langsung ia lepaskan.
"Astaghfirullah, maaf aku refleks" katanya lalu buru-buru memakai kembali pakaian nya.
__ADS_1
Aku terdiam, tidak tahu kata apa pantas keluar dari bibirku ini. Handukku terjatuh sehingga nampak dua gunung tertempel montok di balik baju tidurku yang tipis, dia tak sengaja melihat jatuhnya handukku langsung memalingkan wajah dan badannya membelakangiku. Akupun buru-buru mengambil handukku,.kembali ku tutupi tubuhku.
"Jangan salah paham, aku kesini karena ada yang ingin aku ambil." sentakku padanya.
"Lelaki kurang ajar berani sekali membalikkan tubuhnya di depanku!" amarahku saat itu memuncak, entah karena malu atau karena memang marah karena sikap dari anak pak kiyai itu. Akupun berniat pergi sampai kaki ku tak sengaja menyenggol kakinya saat aku akan terjatuh, lelaki itu bermaksud menahanku dengan menarik tanganku, sayangnya dia malah menarik bajuku hingga kancing pakaianku terbuka lebar buah dadaku menyembul. Kami terjatuh tepat di ataskasur dengan posisi dia diatasku, aku tergencet badannya.
"Brak!"
"Ada apa ini rame-rame?" Sontak bapak kaget ketika melihat keadaan ku yang bajunya terbuka tertindih anak pak kiyai di atas kasur pula.
Lelaki itu langsung bangun membelakangiku tak ingin melihat kesucianku. Akupun langsung membereskan pakaianku menutupnya kembali, saat itu pak kiyai pun melihat ke kamar.
"Astaghfirullah hal'adzim...plak!" tamparan keras mendarat di kedua pipi lelaki itu.
"Pak, maaf Abhi jelaskan dulu," dia coba menjelaskan.
"Sudah cukup Bhi, bapak kecewa padamu!" bentaknya. Wajah pak kiyai merah padam seperti udang rebus, matanya merah, sangat terlihat jelas ia marah pada anaknya.
"Plak!" satu tamparan keras mengenai pipi kiriku dan membuat kupingku berdengung. Bapak menamparku, aku sangat kaget karena selama ini bapak tidak pernah memarahiku dan kali ini aku langsung dapat tamparan kebencian dari bapak.
Aku melihat raut wajah bapak yang kecewa, dia tidak berkata apa-apa. Akupun tak bisa menjelaskan karena percuma, posisiku dengan laki-laki yang tadi menuebutkan nama Abhi itu sangatlah rawan. Setiap orang yang melihat pasti akan berfikiran sama dengan orang tuaku dan juga Abhi.
Kulihat ibu dan adikku Ririn menangis di kursi. Sedangkan bapak, pak kiyai dan juga anak lelakinya sedang merembukkan sesuatu. Lelaki itu hanya terdiam tertunduk tak berani sedikitpun menoleh ke arah pak kiyai ataupun bapakku.
"Bawa masuk," ibuku pun menghampiriku dan mengajakku masuk ke kamar, Ririn pun ikut mengantarkanku.
"Bu, percayalah ini bukan seperti yang ibu dan bapak kira. Aku hanya ingin mengambil dalaman karena lupa mengambil, tak tahu kalau di dalam ada anak pak kiyai sampai Honey sadar, Honey berusaha pergi tapi tersandung hingga terjatuh di atas kasur. Percayalah pada Honey bu," aku mencoba menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya aku tahu pasti tidak akan berguna.
"Tersandung dan terjatuh dengan bertelanjang dada, di atas kasur lagi dengan posisi di tindih anak pak kiyai?" ibu meneruskannya dengan wajahnya yang kecewa.
__ADS_1
"Bu, aku ini anak ibu kan. Ibu harus percaya pada Han," aku mencoba memegang tangan ibukku yang di simpan di atas pahanya. Ibu menghindari genggaman tangan dariku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku tahu se kecewa apa ibu dan bapak saat ini. Aku menangis tak kuat menahan air mata jatuh, Ririn adikku hanya memperhatikan. Walau dia masih kecil, tapi dia sudah mengerti. Dia mencoba menenangkan ibu yang sesegukan menangis.
"Bu, maafkan aku...huhuhu. " Aku menangis tak sanggup lagi berkata-kata.
Tak lama bapak memanggilku keluar, kulihat ada pak RT dan juga 2 orang lelaki yang ku ketahui salah satunya adalah amil. Akupun duduk dengan pasrah di samping anak pak kiyai. Aku seolah sedang di hardik melalui mata batin, tatapan mereka yang kecewa sangat membuatku jijik.
"Bagaimana sekarang, apa sudah siap?" tanya lelaki tua itu yang ku dengar dia adalah amil.
"Pak, Abhi mohon ini semua salah paham," lagi-lagi lelaki itu mencoba menjelaskan dan tentu saja di tolak bapaknya.
"Pak..." aku memelas, tak sanggup lagi berbicara. Kenapa kejadian ini harus menimpaku, sakit sekali rasanya saat melihat kedua orang tuaku kecewa. Aku hanya menundukkan diri dengan berurai air mata. Air mata yang tak berguna lagi tak akan bisa membuat orang tersayangku percaya.
"Baiklah,.ijab qabulnya akan di laksanakan seksrang. Nak Abhi apakah sudah siap?" tanya amil itu. Lelaki itu tak bisa melawan dan menerima kertas yang di berikan oleh bapakku kepadanya. Ternyata itu adalah nama lengkapku bersama dengan Binti ku. Akupun menangis sesegukkan menarik tangan bapakku.
"Pak, Honey gak mau nikah. Honey masih ingin berbuat banyak untuk bapak sama ibu, Honey masih ingin bahagiain bapak sama ibu." Aku bersimpuh di kaki bapak sambil menangis, sakit sekali rasanya di umurku yang baru 19 tahun harus melepas masa lajangku.
"Jika memang kamu sayang bapak dan ibu, turuti semua proses ini. Baru bapak akan memaafkanmu, bapak tidak ingin anak bapak melahirkan seorang anak tanpa bapaknya!" jelas sekali kata-kata bapakndi keluarkan untukku.
"Beri aku waktu berfikir pak, pak kiyai tolong percaya saya. Saya dan anak pak kiyai tidak melakukan apa-apa," kucoba menjelaskan pada bapak lelaki itu tapi hasilnya nihil.
Akupun di bangunkan ibu untuk duduk di kursi sebelah anak pak kiyai. Setelah di rasa amil siap, kepalaku dan anak pak kiyai di tutupi pashmina dan...
"Saya terima nikahnya Honey fitria binti Pamungkas dengan mas kawin berupa cincin di bayar tunai..."
Allahu akbar Allahu akbar....
"Deg..."
__ADS_1
ijab itu selesai bersamaan pas adzan subuh.
Bersambung....