Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Keponakan mas Abhi


__ADS_3

"Say, kamu mau pilih yang mana untuk cemilan di dalam nanti?" Bobi sedang berada di salah satu kios yang di sediakan di depan bioskop.


"Aku apa saja yang penting bisa nonton bareng,he he.." jawab Lia.


"Sepertinya aku akan jadi kacung disini" gumamku.


Pada akhirnya aku ikut juga nonton movie bersama Lia dan Bobi.


"Eh, jangan gitu kan ada kita disini bersama kamu." Lia dan Bobi menimpaliku bebarengan.


Aku lebih memilih membeli popcorn dan es jeruk ku simpan di gelas plastik di tempat penyimpanan di sisi kursi kananku sedangkan popcorn aku pegang.


"Duh hampir saja telat," Seorang lelaki baru saja duduk di sebelahku. Film pun di mulai pada pas pembukaan lampu pun di padamkan, ku lihat Bobi dan Lia mulai dengan drama romantis mereka.


"Terima saja lah Han, jadi kacung mereka," mataku pun mulai ku fokuskan ke layar yang ada di depan kami sekarang.


"Wah, pembukaan saja sudah seperti ini. Seru...seru...seru...," kata lelaki di sebelahku.


Lelaki itu mengambil popcorn yang sedang aku pegang, mencomot lalu memakannya. Aku yang tahu itu langsung mengerutkan alisku dan sontak melirik lelaki yang berani memakan yang bukan miliknya.


"Hai," lelaki itu tesenyum dengan wajah tak bersalah.


"Kau, laki-laki yang tadi siang di bawah apartemen," tak sadar aku menunjuk wajahnya.


"Wah, kenapa bisa kebetulan kita bertemu disini, yah?"


Kali ini ia mengambil minuman ku dan menyeruputnya.


Slurp...slurp...


"Kau!" Semua orang yang berada di bioskop langsung mengubah arah pandangannya jadi padaku dengan wajah yang merasa terganggu.


"Ma, maaf" Aku tundukkan wajahku lalu kembali duduk.


Aku lirik lelaki itu, masih dengan senyumnya yang lebar dengan wajah tak bersalah nya.


"Kenapa kau disini," aku membisikkannya karena takut yang lain dengar.


"Aku mengenalmu?" Mataku sontak memelototinya


"Hei, gadis cantik. Jangan begitu aku jadi takut," ucapnya sambil terus memakan popcorn milikku.


"Pelit sekali," ucapnya saat aku menarik popcorn ku dari nya.

__ADS_1


"Lelaki ini, berani sekali dia!" gumamku dalam hati. Mataku sudah terbuka lebar melotot padanya.


"Jika gak ada penonton udah aku hajar nih orang!" gumaku. Aku kembali menenangkan diri dan melirik ke arah Bobi dan Lia yang melihat tingkahku dengan heran juga sedikit jengkel, bisa dilihat dari cara mereka berdua memandang "Creepy...!"


****


Film pun berakhir, tak ada satupun adegan disana yang membuat terkesan dan menempel di otakku aku dan kedua temanku berjalan keluar.


"Heh,Han. Kamu ini di dalem apa-apaan sih, bikin malu aja, untung saja duduk kita berjauhan jadi aku bisa pura-pura gak kenal," ketus Lia yang masih dengan raut wajahnya yang kesal.


"Ya maaf, aku juga gak tahu bakal gak kontrol sama emosi sendiri," sanggah ku.


"Ini gara-gara lelaki sialan itu!" pekikku dalam hati.


Dret....dret...dret...


"Eh, mas Abhi. Ada apa nelpon?"


"Halo, ya mas ada apa?" ku angkst telpon lalu menyapa nya.


"Aku baru keluar dari bioskop dengan Lia dan Bobi. Aku di bioskop x, tidak usah jemput, aku masih ada acara," aku masih mencari alasan supaya tidak terlalu banyak mengobrol dengan mas Abhi. Rasanya hatiku belum siap untuk ngobrol dengan nya sekarang.


"Kenapa gak mau di jemput sama suami mu?" Bobi sepertinya mendengar obrolanku dengan mas Abhi.


"Terus kamu mau pulang gimana, naek grab atau di anter?" Lia menawarkan, aku menolak Lia karena memang rencana untuk naik grab saja.


"Han, serius gak mau dianterin, nanti mas Abhi marah" Wajah Lia temanku tampak khawatir.


"Iya gak apa-apa kalian pulang saja duluan, aku udah pesen grab kok."


Lia dan Bobi pun pergi setelah pamit denganku. Kini tinggal aku seorang disini menunggu grab datang. Suasana Mall memang sudah sepi, hanya terdapat beberapa penjaga dan cleaning service yang masih sibuk berkeliaran.


"Sendiri saja," aku di kagetkan dengan suara laki-laki yang tiba-tiba saja menyapaku dari arah samping.


"Ternyata laki-laki tadi!" pekik ku.


"Di tanya diam terus malah masang muka suram dan menakutkan, iihh." Kedua bahunya ia angkat seolah mennadakan ia takut entah jijik.


"Kau...!" Aku melotot bukan main padanya seolah sampai akan keluar kedua bola mataku.


"Ini saatnya aku lakukan pembalasan," gumamku.


"Kau, kenapa kau ini. Ada apa sebenarnya dengannmu, kenapa terus menganggu dan membuntutiku!" Ku kaitkan kedua tanganku bertolak pinggang.

__ADS_1


"Ada apa kamu ini, aku tidak melakukan apapun" jawab tenang lelaki itu.


"Jangan bohong, katakan saja kau ini penguntit. Kamu mau apa kenapa menguntitiku!"


"Galak sekali, awas cepat tua nanti," lelaki itu masih dengan tenangnya meledekku.


"Kau...!" Emosiku seolah tidak tertahankan ingin sekali rasanya menerkamnya. Tapi di hentikan oleh klaksonan mobil yang datang.


"Mas Abhi...!" kata itu keluar sesaat setelah melihat mas Abhi turun dari mobilnya. Bukan hanya itu, ternyata suara dengan menyebut mas Abhi bukan hanya aku yang menyebutkan tapi lelaki yang kini ada di sampingku menyebutkan kata yang sama sehingga otomatis membuat kami saling menatap heran.


"Han, barusan mas telpon tapi tak kamu angkat. Aku mau menjemputmu sekalian mau menjemput keponakan mas juga disini."


"Tapi kok, kenapa kalian berdua disini sedang mengobrol, kalian sudah saling kenal, ya?" tanya mas Abhi.


"Kami tidak sedang mengobrol, kami juga tidak saling kenal," kalimat itu keluar dari bibir kami berdua, lalu saling menatap tajam penuh kekesalan.


"Tunggu, keponakan. Jangan-jangan..." tak ku teruskan aku langsung menatap ke arah lelaki di sisiku mas Abhi.


"Iya lelaki di sebelahmu adalah keponakan mas, namanya Andi," rasanya sejenak detak jantungku berhenti.


"Lelaki ini keponakan mas Abhi?" gumamku.


"Hey, aku mendengarmu ya" jawab lelaki itu.


****


"Bagaimana bisa, lelaki itu adalah keponakan mas Abhi?" fikirku.


"Kenapa kamu tidak hubungi mas dulu kalau mau pulang indo, kan bisa mas jemput di bandara," mas Abhi sambil menyetir. Hari ini pak Tarno tidak menyupiri sampai larut karena tadi dia ijin untuk pulang ke kampung selama 1 minggu.


"Jadi, istri mas yang di belakang ini?" Lelaki itu menunjukku dengan telunjuknya membuatku tidak nyaman.


"Dasar gak sopan," pekikku.


"Iya," jawab mas Abhi.


"Lalu bagaimana dengan mbak..." Lelaki yang bernama Andi itu tidak meneruskan kalimatnya ketika melihat mas Abhi melirik ke arah nya.


"Baiklah kalau gitu aku nanti tidur dimana?" tanya Andi.


"Di apartemen mas saja dulu, lagi pula apartemen mas kan kondusif dekat kalau mau kemana-mana," tawar mas Abhi.


"Okelah," Andi mengarahkan kaca mobil ke arahku hingga nampak wajahku dan dia. Ia mengedipkan matanya seolah mengejekku. Ku balas dengan kedua mataku yang ku buat melebar agar ia takut dengan pelototanku. Tapi ia malah balas dengan kedipan nakalnya.

__ADS_1


"Dasar lelaki berengsek!" pekikku. Sepanjang jalan aku hanya tertuju ke arah jalan raya karena selain aku masih agak marah pada mas Abhi, sekarang aku juga kesal dengan keponakan mas Abhi yang bernama Andi ini.


__ADS_2