Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Berc**b*


__ADS_3

"Astaghfirullah yang benar , Han." Tanpa sadar Lia menggebrak meja saat mendengar ceritaku kemarin, beberapa pengunjung di salah satu restoran langsung melihat ke arah kami berdua.


"Iya, udah duduk malu diliatin orang," suruhku kemudian Lia kembali duduk sembari menundukkan kepala ke setiap orang yang ada di sana tanda meminta maaf karena membuat bising tiba-tiba.


"Tapi, kamu dengan mas Abhi sudah baikkan kan. Ternyata wanita yang bernama Aisyah itu tidak tahu malu,yah. Meskipun dia beriman tak pantas rasanya kalau dia berbuat seperti itu, melebihi wanita murahan saja," pekik Lia yang terlihat kesal. Wajar saja Lia ikut kesal hanya dengan mendengar cerita dariku, karena sebagai sahabat ia tidak ingin sahabatnya itu di sakiti oleh siapapun.


"Jangankan kau,Lia. Aku sampai hampir meminta memutuskan semuanya kepada mas Abhi, untung saja mas Abhi orangnya berwibawa setiap masalah di selesaikan dengan kepala dingin," ucapku kemudian meminum jus alpukat yang sudah tersedia di atas meja.


"Eh, tapi... suamimu itu tidak menuruti apa maumu kan dengan menceraikanmu?" aku menggelengkan kepala.


"Syukurlah, tidak mungkin suamimu itu dengan mudahnya akan menceraikanmu, sih " terlihat rasa lega di mata Lia saat mendengarnya aku bersyukur mempunyai sahabat seperti Lia yang selalu ada di saat aku membutuhkannya.


"Tapi, lain kali jangan pernah lagi kau ulangi di telpon gak di angkat-angkat kau ini kebiasan sekali kalau setiap ada masalah pasti menyendiri, aku kan khawatir bagaimana kalau kau memikirkan hal yang tidak-tidak, sebagai teman aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu," Lia memperingatkan, aku hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatku ini sebegitu khawatirnya ia kepadaku.


"Lalu... bagaimana dengan kau yang sekarang dengan mas Abhimu itu, aku lihat hari ini kau berbeda sekali, wajahmu berseri-seri," goda Lia membuatku kikkuk malu.


"Apaan sih," ucapku dengan tersipu malu.


"Berapa ronde bu dengan mas Abhi, wahh...dapat di bayangkan bagaimana kekarnya suamimu itu bertelanjang kan dada, tubuhnya yang tanpa busana..., bagaimana dengan ukuran itunya, besar atau kecil," Lia memoraktekan dengan tangannya.


"Apaan sih ngomong apa sih kamu," jawabku malu.


"Wah, sepertinya mas Abhimu itu gagah ya di ranjang,"


"Apanya, memang gagah tapi ia seperti anak kecil yang harus di ajari saja," cletukku.


"Yang benar, suamimu, diajari? hahahhaha," gelak tawa Lia yang meledekku wajahku sudah seperti udang rebus di buatnya karena malu.


"Tapi, biasanya murid selalu lebih lihai dari gurunya,kan?" Lagi-lagi Lia tertawa lepas seolah puas menggodaku.


"Udah ah jangan ngomongin yang begitu," imbuhku.


"Kenapa, punyamu basah yah," tanya Lia membuatku menohok melotot ku pukul ia menggunakan sendok hingga ia meringis.


"Kamu ini ngomong di jaga," pekikku.


"Sakit tau!" Lia mengusap-usap kepalanya yang terkena sendok yang ku layangkan di kepalanya agar dia diam.

__ADS_1


"Tapi, biasanya nih. Kamu kan sekertarisnya mas Abhi dan bosnya itu suamimukan, enak lah kalau begitu." kata Lia lalu memakan seblak level 3 yang ia pesan.


"Enak gimana?" tanyaku penasaran.


"Ya enak lah, suamimu gak perlu pulang dulu. Kalau mau langsung telpon suruh kamu ke ruangannya," Sekali lagi ku layangkan sendok ke kepalanya dengan sedikit bertenaga dari yang tadi.


"Kamu ini, tahu darimana yang begituaan..." pekikku.


"Aduh, aduh sakit tahu, ya aku membayangkan saja seperti yang di film-film biru. Lagi pula gak apa-apa juga kan kalian juga sudah sah suami istri," goda Lia.


"Udah ah, waktu istirahatku sudah mau habis harus kembali ke rutinitas yang menumpuk di kantor," jawab Lia kamipun segera pergi dan berpamitan ke kantor masing-masing.


"Minggu depan kalau jadi aku mau kerumah ibu dan Bapak dengan mas Abhi. Kamu mau menitipkan sesuatu ka mama mu?" tawarku.


"Oh begitu, mau dong nanti titip yah antarkan kerumah mama. Karena aku sedang gak bisa kesana," akupun menganggukkan kepalaku tanda setuju kamipun kembali ke kantor masing-masing.


Kulihat di ruang kerja mas Abhi masih belum ada siap-siapa, masih kosong.


"Sepertinya mas Abhi belum pulang," gumamku.


Tok...tok...tok


"Sinta ada apa kesini?" tanyaku.


"Aku kesini mengantarkan berkas ini," jawabnya.


"Kenapa masuk ke dalam, kenapa gak kamu taroh saja di mejaku," perintahku.


"Di meja tidak ada ibu, jadi aku masuk langsung saja memberikkan kepada pak Abhi tidak tahu kalau ternyata ini ada di dalam," deliknya.


"Ya sudah taro di meja, biar nanti saya yang bilang. Sekarang kamu kembali saja ke tempatmu dan kerjaksn tugasmu dengan baik," perintahku bak seperti nyonya besar yang memerintah pelayannya. Sinta pun undur diri dan menutup pintunya. Memang walaupun ruangan mas Abhi dari kaca tetap saja tidak tembus penglihatan seperti pada umumnya jadi wajar kalau Sinta tidak tahu ada orang di dalam.


Tak lama mas Abhi kembali dari rapatnya, ia mengembangkan senyumnya saat melihatku berada di ruangannya.


"Sudah ketemu dengan Lia nya?" aku pun selalu meminta ijin saat akan bertemu dengan temanku Lia karena bagaimanapun mas Abhi adalah suamiku patutnya kita selalu meminta ridho darinya, akupun mengangguk menandakan iya.


"Bagaimana dengan mas, sudah makan siang?" tanyaku balik.

__ADS_1


"Sudah," mas Abhi memelukku dari belakang. Aku yang baru saja membicarakan hal itu dengan Lia membuat fiiiranku traveling, hanya dengan sentuhan fisik saja rasanya ada setrum kecil yang menjalar ke seluruh tubuhku.


Ia mulai melancarkan aksi nafsunya, di tempat ini. Benar apa yang dikatakan Lia. Aku dan mas Abhi beruntung, kami satu pekerjaan dan satu kantor, kami suami istri dan kami memadu kasih di tempat ini, ruangan ini.


"Enak?" godakku.


"Iya, enak, surganya duniaku," ia mengecup kening dan bibirku, kami.


"Aku mau mandi," pintaku.


"Yuk, mandi bareng," goda mas Abhi.


"Gak mau!" tolakku. Tapi mas Abhi tetap mengikutiku ke kamar mandi dan tentu saja sesuai yang para pembaca fikirkan, perang suarapun terjadi lagi disana, he he he.


Kebetulan di ruangan mas Abhi sengaja di buatkan toilet karena mas Abhi suka shalat di ruangan jika waktu mepet. Jika shalat dzuhur ia pasti mandi dulu karena itu tersedia bedtube kecil di kamar mandi ruangan mas Abhi. Akupun jika ingin ke toilet selalu ke ruangan mas Abhi karena toilet karyawan baru berjalan ke luar ruangan, ke bawah menuruni lift dan lumayan jauh karena itu lebih memilih tempat yang dekat di tambah ini juga ruangan mas Abhi suamiku jadi tidak apa-apa.


Tok...tok...tok...


"Masuk," perintaj mas Abhi.


"Maaf pak, saya mencari nyonya Honey, apakah beliau ada disini?" tanya bu Mastani.


"Ada, dia sedang di kamar mandi. Ada apa?" tanyanya lagi.


"Itu, anu...saya mau mengambil berkas yang di pinjam sama Nyonya Honey untuk salinan."


"Oh, iya. Nanti saya sampaikan," bu Mastani pun pergi setelah memberi salam.


"Siapa, mas?" tanyaku yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bu Mastani, katanya mau mengambil buku berkas yang kamu pinjam untuk salinan."


"Oh, iya aku lupa mengembakikkannya lagi," akupun buru-buru keluar hingga mas Abhi tiba-tiba menarikku.


"Kamu mau keluar dalam keadaan seperti ini, mana jilbabmu, keringkan dulu rambutmu."


"Eh, iya aku lupa, dimana hairdryer nya?" tanyaku.

__ADS_1


"Di laci kamar mandi, hati-hati nyolokin kabelnya takut kesetrum," mas Abhipun kembali duduk akupun mulai mengeringkan rambutku setelah di rasa selesai, aku kembali ke stelan rapi dan pergi. Kini giliran mas Abhi yang membersihkan diri.


__ADS_2