Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Di London


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya aku akan menaikki burung besi terbang alias pesawat. Meskipun berbagai kedaraan mewah maupun non mewah pernah dirasakan, hanya pesawat dan kapal laut lah yang belum aku rasakan. Bukan tak bisa atau tak mampu, aku bisa merasakannya hanya dengan meminta para lelaki yang jatuh ke perangkapku untuk mengajakku jalan-jalan ke suatu tempat dengan menaikki kapal laut ataupun udara ataupun bisa menggunakan uang tabunganku. Tapi, ada hal yang lebih penting lagi yang harus aku penuhi yakni keubutuhan keluargaku.


"Mas," aku memegang tangan suamiku mas Abhi ketika pesawat mulai naik, bukan apa-apa aku takut jatuh. Aku memejamkan mata dan mengencangkan peganganku.


"Tidak usah takut, baca bismillah saja insya Allah kita akan terlindungi dari marabahaya." Ucap mas Abhi sambil menepuk-nepuk tanganku menenangkanku, setelah pesawat lepas landas dan telah berada di atas, mas Abhi menyuruhku membuka mata.


Jarak tempuh dari jakarta ke London membutuhkan waktu kurang lebih 13,5 jam dengan satu kali transit. Melihat mas Abhi yang begitu sibuk sampai di pesawatpun ia harus tetap membuka lembar demi lembar dokumen, dan kebetulan mas Abhi memilih class bisnis untuk tempat duduk karena itu aku merasa nyaman tersedia beberapa keunggulan yang jauh lebih baik dari class ekonomi, tentu saja harganya pun cukup merogoh kocek bagiku.


"Silahkan..." seorang pramugari mengantarkan menu hidangan yang telah di sediakan untuk kami mengisi perut. Ada buku menu yang dapat kita pesan disana salah satunya selain menu khas indonesia ada juga menu khas dari beberapa negara, seperti sussi dan kare dari jepang, kue ikan berisi kacang merah dan mie dingin dari korea, bakpau dengan berbagai varian rasa di dalamnya, dimsum, steak, spageti dan juga roti-rotian. Karena aku di tawari mas Abhi mau maka apa selain pesanan gratis akupun memilih memakan roti keju yang lumer di dalamnya.


"Kamu suka keju?"


"Huuh, aku suka sekali keju," ucapku sambil memakan makanan yang telah dihidangkan.


"Mau minum apa?" tanya pramugari itu dengan pandangan menggodanya kepada mas Abhi.


"Aku kopi saja,"


"Sampanye nya, tuan."


"Saya tidak minum, maaf."


"Wah, selain tampan dia juga tidak suka minum." Bisik pramugari itu kepada salah satu teman se profesinya.


"Kalau begitu cuci mulutnya mau makan apa. Tersedia jelly,buah dan juga berbagai kue manis," tukas pramugari itu.


"Aku apel saja 1 buah tolong di potong kulitnya,ya."


Pramugari itu mengangguk lalu bersiap akan pergi.


"Tunggu dulu, istriku juga akan memesan." Ketika mendengar kata istri, kedua pramugari itu langsung terdiam dan saling menoleh satu sama lain seolah mereka bilang. "Hah istrinya gak salah, gue kira tadi bukan istrinya gue kira tadi pembantunya," yah begitulah kira-kira apa yang mereka katakan dalam otakku terlintas seperti itu.


"Aku mau cheese cake dan juga buah jeruk dan apel, biar suamiku yang bayar jika harus bayar," ucapku dengan sinis.


"Wah, ibu makannya banyak juga yah. Permisi," Para kedua pramugari itu seolah meledek karena tubuh mereka yang tinggi dan semampai hingga bisa membuat para lelaki mabuk akan pesonanya, kulihat hanya 2 orang lelaki di sekeliling sejajar dengan tempat dudukku yang dingin dengan para pramugari itu, lelaki tua yang sedang bersama istrinya dan juga suamiku mas Abhi.


"Memangnya ada apa denganku yang badannya semok, apa aku semok yah atau genduk," aku memanyun kan kedua bibirku sedikit kecewa dengan tubuhku yang serba montok depan belakang.

__ADS_1


"Muacchh..."


"Semok dan montok justru idaman para lelaki, mereka belum tahu saja bagusnya tubuh kamu.


Mas saja sampai gak bisa berpaling," ucap mas Abhi setelah mencium bibirku.


"Mas, kita ini di pesawat malu kalau ada yang lihat," ucapku sambil menahan malu karena ucapan maut mas Abhi yang langsung menyentuh hatiku.


"Kenapa,kamu istriku gak ada larangan mencium atau menyentuhmu" ucapnya.


"Tapi gak di depan umun juga,"


Setelah lama menunggu sampai 15 jam karena sempat transit akhirnya kami pun sampai di London negara tujuan. kami ke salah satu hotel termewah yang ada disana namanya Hotel Cafe Royal dengan budget 18 juta lebih permalam. Kelas mewah tentunya aku tercengang ketika sampai di sana dengan nuansa mewah bak kastil dan bangunan-bangunan mewah pada jaman dulu tapi versi modern nya.


Ketika masuk kami langsung di sambut oleh lampu besar panjang yang menjuntai seperti kelambu. Mas Abhipun ke receptionis untuk mengambil kunci berupa kartu untuk bisa masuk ke kamar hotel yang kami pesan sebelumnya.


"Mas,"


"Hmm,"


"Hotelnya besar dan mewah. Wah... berapa per malamnya?" aku meminum air aqua yang tersedia di meja duduk.


"Kamu tidak apa-apa?" mas Abhi yang kaget karena ku.


"Tidak, bukankah uang segitu mahal sekali mas."


"Klien kita di salah satu hotel ini, jadi kita akan bertemu disini nanti malam sekitar jam delapan malam, sekarang kita istritahat dulu, sudah jam 10 siang.


Lagi-lagi aku di kejutkan dengan suasana kamar hotel yang begitu luas dan mewah, kamar mandi yang 2x lipat lebih luas dari kamar mandi di apartemen, kamar hotel yang begitu luas seperti lapang bola futsal itu hanya untuk kamarnya saja tersedia ruang tamu yang tak kalah mewah juga disana.


Malam hari pun tiba kita bersiap-siap untuk pergi dinner sekaligus bertemu klien yang di maksud.


"Hello, Mr. jorge ,"


"Hello Mr. Abhi"


"This is my wife"

__ADS_1


"Hello nice to meet you,"


"Wow, nice to meet you too."


"This is my secretaris," tuan jorge itu memperkenalkan.Aku melepas senyum kepada wanita yang sexy dan cantik itu.


Kamipun duduk di sebuah meja makan dan memesan menu sekaligus menunggu 3 klien nya lagi.


Setelah di rasa semuanya sudah datang merekapun mulai berunding dan menyepakati sesuatu yang sudah tertulis dan telah di putuskan bersama.


"Mas, yang tadi di bawa Mr. Jorge wanita itu sekertarisnya?"


"Huuh,"


"Bule memnag cantik dan seksi yah apalagi orang London sepertinya tidak ada produk gagalnya," ucapku yang sedang mengeringkan rambutku karena kami sudah mandi dan membersihkan diri. Seharusnya kami jangan dulu kembali karena mereka mengajak mas Abhi untuk berpesta di sebuah klub tapi mas Abhi menolak.


"Kenapa tidak ikut mereka ,katanya mau berpesta."


"Malas,"


"Malas apa emang gak suka?"


"Gak suka, karena minum itu haram dan mas gak suka minum,"


"Kalau minum kopi?"


"Suka tapi aku lebih suka minum susu," ucapnya yang membuatku salting.


"Su, susu apa?" mas Abhi yang membantuku mengeringkan rambutku memakai hairdryer tersenyum.


"Maunya?"


Mas Abhi langsung membawaku ke pembaringan, kamipun memadu kasih. Anggap saja kami sedang Honyemoon karena yang dulu tertunda.


"Baru saja keramas sudah disuruh keramas lagi," pekikku.


"Memangnya kenapa, karena kemarin di rumah bapak dan ibu mas tidak bisa menyentuhmu. Disini harus pasrah ya kamu," gelak tawa campur nafsu beriringan.

__ADS_1


Sungguh malam yang bahagia, malam di saat keberhasilan karena kami mendapatkan tender besar.


"I Love You..." mas Abhi mengecup keningku kemudian kami terbuai ke alam mimpi masing-masing.


__ADS_2