Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Nego


__ADS_3

"Jadi, selama ini mas Abhi dan, dan Honey?" ucap Aisyah yang juga ikut terkejut dengan pernyataan mas Abhi yang tib-tiba.


"Apa maksud dari omongan kamu, mas?" Mas Abhi tak mengindahkanku ia berjalan meuju Aisyah yang sedang memegang kertas HVS itu, kertas perjanjian yang aku buat kertas berisikan kebodohan yang dihasilkan dariku. Kertas yang bisa saja mengakhiri semuanya.


Ia berjalan dengan tatapan matanya yang tajam, mas Abhi semakin dekat dan dekat dengan Aisyah. Ia meraih kertas itu dari tangan Aisyah kemudian membaca ulang isi dari kertas itu dan...


Srett...srett...! Kertas itu robek menjadi beberapa potong, mas Abhi merobeknya sampai menjadi potongan-potongan kecil kemudian menjatuhkannya ke lantai. Aisyah melihat itu, ia bengong sama sepertiku yang melihatnya.


"Mas..." kata Aisyah.


"Perjanjian ini sudah berakhir, semuanya sudah usai, begitupun dengan kami. Kau yang menjadi saksi kami, aku akan menyuruh pak Tarno mengantarkanmu ke pondok sudah tiga hari kau bertamu di rumahku," mas Abhi kemudian naik ke atas ke kamar kami.


Aku mengikuti mas Abhi dari belakang tanpa menghiraukan Aisyah yang tersenyum seolah puas dengan pernyataan dari mas Abhi.


"Mas, apa yang kamu katakan baru saja. Apa kau benar-benar ingin kita berakhir sampai disini, apa kau benar akan menalakku, apa hanya karena Andi kita akan berakhir, mas...mas...mas..." tangisku pecah dengan sesegukkan aku berkata pada mas Abhi meski kekuatanku seolah lenyap, ku kerahkan semuanya untuk dapat menanyakan apapun yang bisa aku tanyakan untuk meyakinkan semuanya dan mempercayai apa yang baru saja mas Abhi katakan di bawah.


"Mas...," suaraku melemah.


Mas Abhi berdiri di dekat pintu kaca balkon kamar kami, ia membelakangiku entah apa yang ia pandang di depan.


"Sebaiknya kita merenungkan apa yang baru saja terjadi, aku tidak suka di bohongi apalagi di khianati, dan juga tidak di percayai."


"Aku tidak pernah bermaksud berbohong pada suamiku sendiri,"


"Kurangnya kepercayaanmu terhadapku sudah cukup menjawab kalau memang kita tak sejalan."


"Jika memang tak sejalan dari awal kenapa mas masih tetap melanjutkan?"


"Kita renungkan semua ini baik-baik, aku dan kamu harus sama-sama merenungkannya."


"Tapi, apa kau akan menalakku. Bukankah usia pernikahan kita belum satu tahun?"


"Tidak sah hukumnya jika seorang suami menalak istrinya dalam ke adaan emosi, karena itu lebih baik kita sama-sama merenung saja seperti awal aku akan tidur di bawah dan kamu disini. Tunggu sampai emosi mereda," sarannya.


"Mas fikir semua ini bisa di jadikan permainan, bukankah baru saja mas mengatakan di bawah kalau hubungan kita akan berkahir sampai disini, bukankah itu arti nya cerai?"


"Aku tidak pernah berkata cerai," ucapnya singkat kemudian berbalik dan mengambil sweater nya.

__ADS_1


"Mas," ku cegah tangannya agar tidak melewatiku.


"Kita harus mengantar Aisyah sampai ke mobil,"


"Aku...kita berpisah saja, sepertinya memang kita tidak seharusnya bersatu." Ucapku dengan sedikit keberanian yang tersisa.


"Kita, hubungan kita berakhir hanya sampai disini sa..." belum aku selesaikan dengan kalimat terakhirku, mas Abhi mendorongku hingga punggungku membentur pintu. Mas Abhi menciumku dengan ganas, ia memegang kedua belah pergelangan tanganku dengan satu tangan hingga aku tak bisa berontak. Air mataku terjatuh, aku tak mengerti dengan apa yang dilakukan mas Abhi terhadapku sekarang.


Hah...hah..mmmhah... aku terengah.


"Jangan sampai kau ucapkan kalimat itu lagi," ucap mas Abhi dengan menatapku.


"Apa maksudnya, mas aku tidak mengerti."


"Maafkan aku, semua ini salahku karena kurang peka dan kurang memperhatikanmu, mas Abhi memelukku ia merangkulku dengan erat hingga ku sulit bernafas.


Aku yang semakin bingung dengannya berusaha melepaskan pelukannya.


"Lepaskan aku mas, aku serius jika memang sudah tidak ada ke cocokan kita lebih baik..." lagi-lagi ia mengulum bibirku.


"Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu tadi?"


"Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa merobek kertas bodoh itu, sudah ku bilang untuk membuangnya kenapa tak buru-buru kau buang?" tanya nya.


"Tadinya mau ku buang tapi keburu ke London dan lupa," ucapku mulai memanja.


"Mas Honey tidak turun?" tanya Aisyah ketika ia melihat mas Abhi turun sendiri untuk mengantarkan Aisyah.


"Sudah siap?" tanya mas Abhi, di bawah sudah ada pak Tarno bersiap untuk membawakan barang -barang Aisyah.


Aisyah pun mengangguk tanda sudah siap kemudian merekapun pergi dengan pak Tarno ke bawah ke tempat parkiran mobil.


"Pak, tolong antarkan Aisyah sampai pondok. Ini Kartu saya, gunakan jika pak Tarno lelah pakai menginap di salah satu hotel jangan di paksakan kembali jika sudah mengantarkan Aisyah besoknya pak Tarno baru kembali." jelas mas Abhi kepada pak Tarno yang di balas dengan anggukan.


"Baik pak," ucap pak Tarno.


"Mas," Aisyah seolah enggan pergi dan berharap mas Abhi mencegahnya. Ia memelaskan wajah dan matanya agar mas Abhi mengasihaninya.

__ADS_1


"Jangan pernah berharap kepadaku lagi, aku sudah ada Honey."


"Tapi bukankah kalian..."


"Pisah tidak nya kami tidak akan merubah perasaanku padamu sejak dulu. Kita hanya sebatas teman bahkan sodara, kau sudah ku anggap sebagai adikku sendiri jadi jaga sikapmu dan anggaplah Honey sebagai kaka iparmu sekarang."


"Tapi,"


"Atau, kau bisa mencari tempat baru untuk kau tinggali dan mendapatkan pasangan sehidup sematimu di tempat baru," Aisyah terdiam sejenak terpaku dengan apa yang baru saja Abhi katakan.


"Kenapa kau begitu membelanya, padahal aku yang lebih kenal dan tahu bahkan kebaikan dan keburukkanmu,"


"Karena perkenalan di awal akan menyakitkan dan terasa membosankan. Bahkan dengan orang baru kita bisa menata kembali kehidupan yang lebih baik lagi jauh meninggalkan masa lalu yang tak pantas untuk di ingat."


"Apa yang sudah kau ceritakan pada pujaanmu itu, Abhizar." Dengan tatapan tajam Aisyah seolah menggertak lelaki itu.


"Jangan berharap menghancurkan apa yang sudah kumiliki, atau kau akan tahu akibatnya."


Kini wajah Aisyah kembali.memlas seolah takut oleh ancaman Abhi.


"Kau akan menyesal telah mengabaikanku, semoga keponakan tersayangmu itu tak mengulangi kesalahan kedua kalinya untuk merebut kepunyaan pamannya." Aisyah meminta pak Tarno cepat untuk pergi, dan mereka pun mulai pergi meninggalkan Abhi yang masih berdiri di parkiran sampai mobil itu tak terlihat itu.


"Keluarlah, aku tahu kau disana," tak lama sosok lelaki muda keluar dari balik tihang parkiran mobil, ya Andi keluar dari persembunyiannya dari tadi.


"Ternyata paman masih peka, yah." Ucap Andi tanpa merasa takut.


Abhi pun berbalik, kini mereka saling berhadapan.


"Kau, jangan coba-coba mengganggu kami,"


"Teegantung, bagaimana situasinya."


"Honey bukanlah boneka yang bisa kau mainkan kemudian di buang setelah bosan," cetus Abhi.


"Sayangnya Istrimu tak ku anggap sebagai boneka seperti kepada mbak Aisyah."


...........

__ADS_1


__ADS_2