Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Nenek besar pulang


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Han, ibu dengar dari bapak katanya nenek nya nak Abhi meninggal?" Ibu menelpon dan mendengar kabar kalau neneknya mas Abhi meninggal.


"Hus, ibu ini kata siapa, ibu dapat info darimana. Nenek mas Abhi gak meninggal,bu. Hanya kemarin sempat tak sadarkan diri karena jatuh dari kamar mandi dan di larikan ke rumah sakit. Tapi Han dengar hari ini nenek mas Abhi bisa pulang ke pondok," jelasku.


"Oh begitu ya nak, syukurlah kalau begitu. Eh tapi kamu sudah bertemu dengan pak Kiayi mertuamu itu?" suara ibu begitu nyaring terdengar di telingaku.


"Sudah,"


"Terus gimana,"


"Gimana apanya bu, ya begitu saja salaman dan tegur sapa. Emang kenapa?"


"Nggak apa-apa cuman ibu takut kalau pak kiyai akan memasang wajah tidak sukanya kepadamu,"


"Nggaklah, bapak Kiyai begitu baik dan wibawa masa bisa sejahat itu," tegasku.


"Syukurlah kalau begitu,"


"Hmm, bu bagaimana kabar si bungsu bagaimana sekolah nya, ngajinya?" dengan rasa khawatir sebagai seorang kaka aku menanyakan keadaan adikku Ririn.


"Baik, dia makin aktif saja. Alhamdulillah dia sudah masuk juara umum se kecamatan,loh."


"Juara umum apa bu?" tanyaku penasaran.


"Lomba MTQ," Perasaan bangga menyelimutiku, rasanya tak sia-sia aku banting tulang menjadi pengganti kepala keluarga dirumah demi membantu adikku bersekolah di sekolahan yang terbaik dan unggul.


"Alhamdulillah," kulihat mas Abhi sedang menyapa para santri di bawah.


"Kapan kamu kesini, nak, ibu kangen." Suara ibu terdengar sedikit di tekan seolah menahan rasa sedih yang menyelimutinya sekarang.


"Sama dong bu, Han juga kangen sama ibu bapak dan juga si bungsu Ririn. Nanti Honey ajak bicara mas Abhi deh, sekarang kan Han sedang di pondok, lagipula Han sekarang bekerja di kantor juga,"


"Kerja?"


"Iya, kerja di kantor mas Abhi, karena aku terus-terusan minta ingin bekerja jadi mas Abhi memasukkannya di kantor, jadi sekertaris pribadinya," ku pelankan suaraku saat menyebut kata terakhir takut ada yang dengar padahal tidak ada siapa-siapa.


"Ya udah bu, sudah dulu ya, sepertinya neneknya mas Abhi sudah pulang aku harus turun," ku tutup telponku dan turun ke bawah.


"Han," mas Abhi memanggilku ketika melihatku turun. Segera ku dekati mas Abhi, Aisyah sedang sibuk membantu nenek mas Abhi untuk duduk di sofa.


"Terima kasih Sah," Nenek memberikan senyum kepada Aisyah lalu ia pergi untuk mengambilkan air.


"Nek," sapa mas Abhi lalu menyalaminya dan membenarkan bantal kursi yang menopang punggungnya saat duduk.

__ADS_1


"Kenapa gak di kamar saja istirahat,nek." Akupun menyalami nenek.


"Nek," kucium tangannya yang lembut dan putih itu.


"Kamu masih muda ternyata," ucap nenek itu, aku ikut tersenyum saat melihat wanita paruh baya itu tersenyum menunjukkan gigi gingsulnya itu.


Terdengar suara mobil di depan ternyata bapaknya mas Abhi. Segera beliau menciumi tangan ibunda tercintanya itu.


Aisyah datang membawakan minum, ia sempat melirikku lalu meletakkan minumannya di atas meja.


"Terima kasih Sah," nenek besar kelihatannya sangat akrab dengan Aisyah, seperti tak ada jarak diantara mereka.


"Sejak kapan kamu kesini, ingat juga kamu sama nenekmu yang tua ini bhi," dengan ketus nenek berkata.


Nenek besar alias nenek mas Abhi sekaligus ibundanya bapak kiyai ini sepertinya orang yang sangat berperan penting bukan hanya di pondok tapi juga di rumah ini.


"Abhi harus mengurus sebagian perusahaan yang di kelola bapak agar kembali stabil,nek. Jadi, Abhi belum bisa mengunjungi nenek."


Tangan nenek memberikan isyarat seolah semua pegawai yang ada dirumah harus segera keluar termasuk Aisyah yang sedang membantu disana.


"Nenek ini sama dengan orang tua kamu, bhi. Nenek juga ingin melihat cucu nenek yang sudah lama ninggalin pondok,kuliah, sekarang masih tidak bisa liat nenek nya saja sebentar, hanya waktu pulang dari kuliah saja itupun hanya satu hari," wanita paruh baya itu merajuk.


"Maaf,nek." Hanya itu yang diucapkan mas Abhi tanpa melawan.


"Sibuk apanya, bulan kemarin ibu dengar dia ini nganterin Aisyah pulang sampai beberapa hari bukannya tidur di rumah utama, entah dimana tidurnya itu " Wajah nenek terlihat sangat kesal saat mengatakannya, nenek pun spontan menghentikan omongannya dan melihat ke arahku.


"Jadi teman yang diantar mas Abhi itu Aisyah?" tiba-tiba bayangan saat Andi bicara kalau mas Abhi mengantarkan wanita, terbayang.


"Bu," pak Kiyai terlihat memberi isyarat agar nenek besar tak meneruskan ceritanya dan nenek pun mengerti.


"Abhi minta maaf karena saat itu mendesak sampai tidak ingat untuk menghubungi nenek terlebih dahulu."


"Sebaiknya Ibu istirahat dulu biar pulih dulu," pak Kiyai membopong ibundanya ke kamar untuk istirahat lalu menyuruh aku dan mas Abhi pergi.


***


Kulihat Aisyah sedang membantu memasak saat aku sedang mencoba memberanikan diri melihat-lihat suasana pondok di tempat santriwati. Kebetulan aku salah arah dan masuk ke dapur umum santriwati. Mereka sedang menyiapkan masakan untuk makan siang.


"Eh, kak Aisyah itu siapa?" salah satu santri wanita yang bernama Ami menanyai Aisyah dan ia pun melihat ke belakang ke arahku.


"Assalamu'alaikum," sapaku mereka pun menjawab "Wa'alaikum salam."


"Kenapa kemari,Han," tanya Aisyah yang heran aku bisa ada di sini, ia melihat ke arah belakangku seperti sedang mencari seseorang.

__ADS_1


"Oh, jadi anda ini istrinya mas Abhi putra tunggal dari pemilik pondok ini?" ucap Ami yang lalu menyalamiku begitupun yang lainnya. Aku tak menjawab hanya memberikan senyum teranggunku kepada mereka.


"Ada keperluan apa kesini," celetuk Aisyah yang terlihat tidak senang denganku.


"Aku bosan di pondok terus,jadi memutuskan untuk jalan-jalan sekalian melihat-lihat pondok para santriwati."Jawabku pasti.


"Kalian kenapa pada diam, sebaiknya kembali bekerja sesuai tugas masing-masing," mereka pun langsung ke posisi mereka pertama berbagi tugas setelah Aisyah menegur mereka.


"Kalian mau masak makan siang?" tanyaku.


"Iya, kak " jawab Ami.


"Assalamu'alaikum," seseorang datang dari belakangku yang tidak lain adalah mas Abhi. Para santriwatipun tak ada yang tak membuka mulut mereka ketika melihat mas Abhi datang tak terkecuali Aisyah.


"Mas cari-cari ternyata disini," ucap mas Abhi ketika mendekatiku.


"Kalian sedang mengerjakan tugas memasak untuk makan siang?" merekapun mengangguk.


"Mas, kenapa kemari, disini dapur umum nanti kotor," ucap Aisyah yang menghampiri mas Abhi.


"Ini cewek apa maunya sih, waktu awal baik-baik aja kenapa sekarang sedikit bertingkah, yah." gumamku dalam hati sambil mengamati Aisyah yang memasang wajah penuh ke khawatiran.


"Saya mencari Honey," ucap mas Abhi. Kemudian mas Abhi mengajakku ke luar setelah memberikan salam.


"Ada apa mas mencariku?" tanyaku ketus.


"Loh, ya namanya istri gak ada dirumah tanpa izin tentu mas cariin," jelasnya sambil kami terus melangkah berjalan.


"Kamu kenapa bisa kesini?" tanya mas Abhi.


"Mau aja, bosen di dalam terus. Memangnya gak boleh?" masih dengan keketusanku.


"Bukan gak boleh, kenapa gak kasih pesan atau telpon mas dulu, nanti mas antar takutnya kan kamu ke sasar." Mas Abhi memegang tanganku agar sejajar dengannya.


"Emangnya aku anak kecil bisa ke sasar segala." Ku coba melepaskan pegangan tangan mas Abhi tapi tak bisa.


Memang di pondok ini terdapat 400 san murid wanita dan 300 murid laki-laki. Tentu saja wilayahnya cukup besar dengan tata letak yang tak berdempetan. Di pondok pesantren bapak mas Abhipun terdapat 1 taman yang cukup besar, 1 kebun khusus untuk bercocok tanam santriwati dan santri masing-masing terpisah. Di pondok ini juga terdapat sekolah khusus laki-laki dan perempuan begitupun dengan gurunya dan juga asrama tempat melepas rasa penat para santri.


Terdapat ekstrakulikuler seperti sekolah-sekolah umum sebelumnya. Hanya saja yang membuat unggul adalah disini juga ada tempat pacuan kuda,kolam renang terpisah dan juga olahraga memanah yang di ajarkan Baginda Rosulullah salallahu'alaihi wassalam. Disini juga alat-alat nya sudah terbilang canggih dan juga sudah terakreditasi. Karena itu tak sedikit para santri dan santriwati jebolan dari pondok ini bisa mendapat pekerjaan yang baik bahkan membangun bisnis mereka, apapun bisnis kecil ataupun besar, tidak heran jika memang mas Abhi orangnya pintar begitupun Andi, mereka dididik dengan fasilitas yang baik dan juga bekal agama yang baik juga.


"Berasa orang terpandang saja,setiap santri atau santriwati yang lewat memberikan salam kepada mas Abhi tentu sama saja berarti memberikan salam kepadaku,hihihi." Aku bergumam sepanjang jalan dalam hati sambil di gandeng mas Abhi.


"Mas, lepasin, malu diliat yang lain."

__ADS_1


"Loh kenapa, kamu kan istri mas," ia enggan melepaskan genggamannya kamipun terus melangkah sampai di rumah utama atau pondok utama biasa para santri menyebutnya.


__ADS_2