Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
penjelasan


__ADS_3

*Flash back*


Mas Abhi berhenti dan melepaskan genggamannya. Terasa sama sakitnya saat Sandy menggenggamku. Tapi entah kenapa aku merasa nyaman. Mungkin mas Abhi seperti itu karena ia marah padaku.


"Mas," aku mulai membuka pembicaraan dengan ragu sambil mengusap-usap pergelangan tanganku yang sakit. Mas Abhi hanya diam, aku tahu dia menunggu penjelasan dariku.


"Sebenarnya, aku sebelum menikah dengan mas Abhi memang sedang punya pacar." Entah kenapa bicaraku tiba-tiba lancar saja tanpa di rangkai terlebih dahulu.


"Aku ketemuan hari ini memang berencana untuk putus," kulihat raut wajah mas Abhi tapi tak ada reaksi, ia masih tetap diam.


"Aku tidak tahu kalau hal yang di luar dugaanku akan terjadi,"


"Diamlah, jelaskan saja nanti di rumah. Temanmu datang dan sekarang kita makan malam," mas Abhi pun ijin pergi untuk mengambil mobilnya di parkiran. Aku disuruh menunggunya di depan pintu masuk.


"Han...!" Lia mendekat, aku sedikit kesal dengan Lia yang susah sekali di hubungi.


"Kamu ini kemana saja, aku hampir di perkosa Sandy kalau mas Abhi gak datang entah apa yang akan terjadi!" aku meluapkan emosiku kepada Lia.


"Hah,yakin kamu mau di perkosa sama Sandy? terus bajingan itu kemana? jawab Lia yang panik saat mendengar itu.


"Akupun tidak menjawab, Lia tahu reaksi yang ku keluarkan dan Lia pun langsung diam.


Mobil mas Abhi pun sudah berada di depan. Aku duduk di depan dan Lia seperti biasa duduk di belakang.


*Cerita saat ini*


kami berhenti di salah satu restoran yang tadi siang kami kunjungi.


"Kita makan disini saja, restoran disini makanannya lumayan enak," tawar mas Abhi pada Lia dengan senyum ramah yang ia keluarkan yang sudah ku bilang pasti akan membuat hati wanita seketika meleleh. Tapi wajah mas Abhi seketika berubah saat melihatku. Aku yang tadinya mau tersenyum kepada mas Abhi langsung memanyunkan kembali bibirku.


Kami ber tiga pun memesan makanan dan makan malam disana. Sampai jam 10 malam kami sudah sampai di apartemen, aku mmberi tahu Lia untuk tidur di bawah. Akupun naik ke atas untuk memebersihkan diri, ku lihat mas Abhi menyimpan kunci mobil di atas meja.


Akupun bersiap untuk mandi,ketika langkahku terhentj atas pertanyaan mas Abhi.


"Jelaskan kenapa kamu berbohong," tanya mas Abhi. Hanya dengan membelakanginya saja bisa tercium aura kemarahannya mas Abhi.


"Eh... aku mandi dulu setelah selesai mandi baru aku jelaskan. Akupun pergi kekamar mandi,saat aku bermaksud untuk menutup pintu kamar mandi, mas Abhi menahan pintu dan masuk ke kamar mandi lalu menguncinya.

__ADS_1


"Ma,mas...ada apa?" tanyaku heran.


"Apa mas mau mandi lebih dulu?" tanyaku memastikan. Tapi mas Abhi masih tidak menjawab, ia malah semakin dekat denganku.


"Kalau, mas Abhi mau mandi duluan, aku keluar dulu." Saat bermaksud keluar, aku tertahan karena tanganku di tahan mas Abhi.


"Apa saja yang sudah kau lakukan dengan lelaki itu," kini giliran mas Abhi yang bertanya. Aku diam seribu bahasa tidak ingin sama sekali menjawabnya.


"katakan," tatapan mas Abhi begitu tajam. Aku mencoba untuk memalingkan mataku ke arah lain tapi tetap saja pada akhirnya melihat ke arah mas Abhi.


Mas Abhi mendekatiku perlahan, akupun memegang dadanya yang bidang. Segera ku lepaskan dan melangkah mundur perlahan menjauhi mas Abhi.


"Katakan dengan jujur, apa kau tahu jika seandainya aku tidak disana apa yang akan terjadi denganmu?, kenapa dia mengatakan belasan juta. Apa kau meminjam uang darinya? katakan,katakan sejujurnya apa saja yang sudah kamu lakukan dengannya." Desak mas Abhi menghujamkan pertanyaan yang tiada henti padaku.


."Aku tidak melakukan apapun, hanya berciuman saja. Itupun aku tidak membalasnya." Akupun bicara jujur.


" Saat itu aku menganggap, itu sebagai tanda terima kasih karena dia membelanjakanku sampai belasan juta.


"Semurah itukah kamu?" mas Abhi menatap tajam.


Dia mendekatkan wajahnya ke padaku hingga kini nafas kita beriringan satu sama lain saking dekatnya. Tubuhku menegang dan kaku, aku memejamkan mataku bersiap dengan kemungkinan yang ada. Sampai ku dengar kata dari mas Abhi.


"Astaghfirullah hal"adzim...." Mas Abhi melepaskan cengkramannya dariku lalu pergi meninggalkanku.


Ada perasaan kecewa dalam hati ketika mas Abhi memilih mundur.


"Semenjijikan kah aku bagimu mas," Akupun lanjut mandi memebersihkan badanku.


Lia pun akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi bagaimana bisa sekarang tinggal di apartmen mewah ini. Tak terasa aku dan Lia bercerira sampai mau subuh. Aku dan Lia pun tertidur, seakan ada yang membawaku mengangkat dan memindahkanku ke kamar mas Abhi lalu menyelimutiku.


Sampai pagi menjelang aku tertidur pulas. Mas Abhi pun tidak membangunkanku untuk shalat subuh. Tak lama akupun terbangun, setelah selesai membersihkan diri, akupun turun ke bawah untuk membangunkan Lia.


Tok...tok...tok


"Li, kamu sudah bangun?" akupun memanggil nama Lia setelah mengetuk pintu.


"Hmm...masuk," ku dengar suara pelan dari dalam kamar.

__ADS_1


Akupun masuk dan mendapati Lia yang masih tertidur berselimutkan di atas kasur.


"Udah siang loh, ayo bangun" akupun mengangkat selimut Lia saat ku lihat berantakan sekali kamar yang di tiduri Lia. Tisu yang berserakan, pakaian yang berserakan di sepanjang kamar termasuk **********. Yang aku heran kenapa sepatu kotor bisa ada di atas kasur, bagaimana di melepas sepatunya.


"Berantakan sekali, sampai ini ya ampung sepatu ada di atas kasur!" bentakku pada Lia yang nyawanya belum kumpul 100%.


"Ayo bangun udah siang, kita sarapan." Akupun memaksa Lia untuk bangun.


"O,ya sebelum pergi bereskan dulu kekacauan yang ada di kamar ini, nanti mas Abhi pulang malu aku punya temen jorok kayak kamu," gumamku.


"Adu...duh...sombongnya yang udah punya suami," ledek Lia padaku.


"Hey, apa yang kalian lakukan semalam hayo sampe mas mu itu gak membiarkan kamu tidur disini denganku. Pasti suamimu itu nagih jatah ya,hahahha" gelak tawa Lia memenuhi ruang kamar.


"Apaan sih kamu, emang mas Abhi yang memindahkanku ke kamar atas yah?" tanya ku.


"Gila aja kalau kamu sendiri berjalan ke kamar atas sambil merem,serem sekali ngebayanginnya. Ya iyalah suamimu yang mengangkatmu kesana, dia udah pasti itu gak mau sendirian tidur jadi dia bawa kamu ke atas padahal kamu sudah pulas sekali loh semalam denganku." Jelas Lia, akupun terdiam sambil berfikir.


"Syukurlah mas Abhi tidak marah," gumamku dalam hati.


"Eh, tapi mas Abhi mu itu ganteng sekali,ya. Matanya bisa menghipnotis setiap perempuan yang melihat kayaknya. Beruntung sekali kamu punya suami seperti mas Abhimu itu," jelas Lia lagi.


"Apaan sih kamu, aku ini masih ingin bebas gak mau terikat pernikahan. Aku juga masih ingin nyenengin kedua orang tua ku dengan hasil kerja kerasku." Jawabku dengan yakin.


"Kamu ini dari dulu gak berubah, kalau ada yang di tuju harus tercapai. Kalau kamu gak mau nikah ya udah lakuin perjanjian seperti yang si drama-drama korea itu." Lia pun bangun dan mulai membereskan kekacauan yang ada di kamar.


Saat Lia mengatakan itu, akupun seolah di berikan cahaya ilham yang menyinari kepalaku hingga tembus ke otakku mencairkan darah yang beku kini bisa mengalir lancar sehingga aku bisa berfikir.


"Benar juga ya saran dari kamu,Li." Akupun menyeringai tersenyum jahat sambil menganggukkan kepalaku.


"Gila kamu, Han. Jangan bilang kamu akan...., gak bersyukur kamu punya suami ganteng, intelek, cerdas, jebolan mahasiswa luar negeri dan aku liat dia juga taat agama sopan lagi. Kurang apalagi, malah mau memanfaatkan situasi. Kalau kamu gak mau ya udah buat aku saja," Lia kini bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kalau kamu mau ya boleh, tapi Bobi mau di kemanain...?" Lia tidak menggubris omonganku, dia sudah langsung menghidupkan shower untuk mandi.


Setelah makan dan jalan sebentar, Lia pun pamit pulang pakai Grab agar lebih aman. Kami pun berpisah dan kini jam sudah menunjukkan jam 3 sore, akupun pulang dan merencanakan apa yang sudah ada di benakku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2