
"Cekrek..." Terdengar suara pintu kamar terbuka, ku ambil ponselku, lihat jam sudah menunjuk ke angka 2 malam.
"Belum tidur, apa mas memgganggu?" Mas Abhi menyimpan kunci mobilnya.
"Tidak kok, aku terbangun karena haus mau minum." Segera ku keluar dan mengambil minum. Ku bukakan pintu kulkas ku ambil air dingin yang sudah tersedia lalu meminumnya.
"Kenapa aku malah kabur, kenapa tak ku tanya mas Abhi habis dari mana dengan siapa." Tapi ku urungkan niatku untuk bertanya karena dengan cepat teringat salah satu syarat yang tertulis di dalam buku perjanjian.
"Tapi, tadi dia pergi kemana ya?" Akupun kembali ke kamar, ku lihat mas Abhi baru saja selesai memakai kaos sedikit membuatku kaget. "Mungkin baru beres mandi," gumamku. Akupun menutup pintu kamar dan berjalan pelan.
Mas Abhi melirikku kemudian mengembangkan senyum padaku lalu kembali ke aktifitasnya membuka satu berkas lembar demi lembar ia lihat. Aku duduk di atas kasur memperhatikannya, cukup lama mas Abhi melihat isi berkasnya sampai ia menutupnya baru sadar aku memperhatikannya, tersentak dari lamunanku memperhatikan mas Abhi. Ingin rasanya ku bertanya kepada mas Abhi, tapi rasanya mulut ini terkunci tak bisa memulai kalimat.
"Ada apa?" tanya mas Abhi seolah dia tahu ada yang ingin ku tanyakan.
"Mas,..."
"Hmm?"mas Abhi mengambil ponselnya lalu duduk di sofa.
"Tidak ada, selamat malam." Ku baringkan ke atas kasur tubuhku dan ku kailkan selimut keseluruh tubuhku.
"Apa yang aku fikirkan, jangan melanggar perjanjian Honey, dasar bodoh." gumamku sambil berusaha ku tutup mata.
"Tapi, kalau tidak di tanyakan aku penasaran." Fikiranku teeus dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ku keluarkan dari mulutku ke mas Abhi.
Ku bangunkan kembali tubuhku hingga posisiku menjadi duduk. Mas Abhi menatapku heran sedikit kaget, akupun menatap mas Abhi dengan tatapan semangat untuk bertanya, tapi ku urungkan kembali niatku dan kembali menggulingkan tubuhku di atas kasur.
"Sudahlah, tidak mungkin aku bertanya hal seperti itu," pekikku dalam selimut.
"Tadi teman mas telpon, dia baru disini, dari Cirebon mau pergi makan tapi tidak tahu arah dan juga tidak ada yang anter, makanya mas anter dia makan sekalian makan malam sama teman mas itu." Seolah mas Abhi bisa membaca fikiranku, ia menerangkannya kepadaku.
"Oh begitu, tapi aku tidak menanyakan hal itu. Lagian itu sudah menjadi perjanjian kita di atas kertas itu kan, Jangan saling mengganggu privasi masing-masing." Jawabku, seakan mas Abhi lupa, ia mengeritkan alisnya seolah mengingat-ingat kembali isi perjanjian.
"Mas hanya berusaha untuk tidak menyembunyikan sesuatu diantara kita, karena walau bagaimanapun kita sudah terikat janji pernikahan."
"Lalu, bagaimana dengan status kita, kenapa saat itu mas bilang kita hanya teman?" Seakan kejadian itu masih mengganjal, tanpa sadar ku keluarkan malam ini kepada mas Abhi." Kulihat mas Abhi menghela nafas, akupun kembali tidur membelakangi mas Abhi yang sedang duduk di sofa menghadap ke arahku.
__ADS_1
"Bodoh...bodoh ..bodoh... kenapa kamu mengatakan itu Han," pekikku mengutuk diriku sendiri.
***
Pagi ini mas Abhi tidak membangunkanku untuk melaksanakan shalat subuh, jarum jam sudah menunjuk ke angka 7 pagi.
"Apa mas Abhi marah sehingga ia tidak membangunkanku?" gumamku.
Aku segera bangun dan membereskan kamar, lalu membersihkan rumah dan membuat sarapan pagi. Kulihat Andi sedang minum saat aku turun ke bawah, ku lihat tidak ada mas Abhi.
"Mas Abhi sudah pergi?"
"Hmm," jawab Andi yang sedang sarapan, kulihat ia sarapan dengan roti yang diisi daging cincang dan satu mangkuk salad.
"Semalam kau tidak bilang makan malam denganku pada mas Abhi?" tanya Andi tiba-tiba.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Kalian sudah menikah padahal, kenapa tidak saling membuka semua agar tidak terjadi suatu kecurigaan yang tidak berdasar," aku mengerutkan keningku memikirkan apa yang di maksud Andi.
Andi tak menjawab perihal itu, ia mendekatkan wajahnya kepadaku sehingga kami kini saling menatap.
"Hmm, begitu." Andi menatapku dengan sedikit senyum tersimpul di bibirnya. Tapi perasaanku seolah tidak enak bulu kudukku berdiri.
Andi pergi setelah mengucapkan salam padaku.
"Kerja yang bener dan beres," ucap Andi saat ia hendak pergi. Kini hanya tinggal aku sendiri dirumah, rasanya penat jika memang harus di rumah terus akupun mulai mebereskan semuanhmya termasuk kamar Andi tak luput dari tangan ajaibku, semua sela-sela di sudut semua rumah, semua ruangan ku bersihkan.
***
Tok...tok...tok...
"Masuk," Seorang wanita masuk ke ruang kantor mas Abhi.
"Mas," kata wanita itu, Abhi sedikit membulatkan kedua bola matanya karena kaget.
__ADS_1
"Kenapa ke sini?" tanya Abhi. Air mata wanita itu berlinang seolah tak bisa lagi terbendung, ia memeluk Abhi disana. Abhipun tak berusaha melepaskan dan tak juga merangkul tubuhnya tetap kaku diam tak bereaksi.
"Katakan ada apa Aisyah?" tanya Abhi, saat ini Abhi berada di sebuah rumah makan yang terletak tak jauh dari kantornya. Ternyata Abhi membawa wanita itu agar tidak membuat gaduh di kantornya. Wanita itu masih terisak di seberang mas Abhi duduk.
***
Ku pandangi orang-orang yang lalu lalang di depanku. Seperti biasa aku duduk di kursi taman di sekitar apartemen.
[Li, makan siang dimana?]
berharap Lia membalasku dengan cepat, aku ingin mengajak makan siang bareng karena di rumah terus terasa jenuh. Tapi sayang WA yang kukirimkan ceklis satu.
"Sepertinya dia sedang sibuk," gumamku. Kembali tatapanku mengarah ke depan melihat mereka yang sedang sibuk dengan anak nya ada juga yang sibuk menyuapi anak mereka.
Cess.... sebuah benda dingin menempel di pipiku, reflek ku jauhkan wajahku dari benda dingin itu yang ternyata hanya sekaleng minuman yang di bawakan Andi.
"Dingin tau!" pekikku. Ku usap telapak tanganku ke pipiku yang cuby, Andi kini duduk di sampingku dengan melempar senyum tipisnya.
"Seorang perempuan pengngguran duduk disini memandangi para pencari rizki yang sedang sibuk mengurus anak majikannya dan memandangi para pria gagah bercelana pendek dengan kaos oblongnya sedang joging mengelilingi jalan kecil ini, dan kamu duduk di kursi yang tepat posisinya di tengah-tengah taman ini, sehingga bisa memandangi mereka dengan mudah."
Aku langsung membulatkan kedua mataku, kaget dengan apa yang baru saja Andi katakan padaku, mengatakannya dengan lancar tanpa ada beban sedikitpun.
"A, apa yang kamu katakan, tak ku sangka kau berfikiran sejauh itu. Tidak terfikirkan olehku fikiran kotor seperti itu,"
"Lalu, kenapa kau duduk disini menyendiri oadahal tidak ada yang harus kau sesali bahkan kini hidupmu berkecukupan karena pamanku sudah menjamin semuanya."
"Kau, bagaimana bisa kau berkata seperti itu," lagi-lagi aku syok dengan pernyataan Andi yang keluar dari mulutnya.
"Kau fikir aku wanita matre, aku juga wanita pekerja, tabunganku sudah lumayan walau tak begitu besar bagi kalian orang kaya." Andi menyodorkan minuman dingin itu kepadaku sambil melempar senyum yang agak melebar.
"Apa ini?" nadaku masih ku tingkatkan karena masih jengkel pada Andi.
"Minumlah," akupun menurut membuka kaleng itu lalu meminum hingga habis, Andi tertawa kecil melihat tingkahku, akupun melirik sinis padanya.
"Sudah enak kalau sudah di keluarkan kekesalan," ucap Andi.
__ADS_1
"Huh?" aku bengong dengan pernyataannya sekarang. Akupun langsung diam dan bersikap santai kembali memandangi mereka yang ada di depan.