Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Diner dengan Lia


__ADS_3

"Mas Abhi pergi mengantarkan temannya, apa kamu sudah tahu?" tanya Andi.


"Sudah," jawabku masih dengan ketus.


"Judes sekali," pekik Andi.


"Lagipula mau apa kau kasih tahu aku kalau mas Abhi pergi dengan temannya ke cirebon, sebelum mas Abhi memberitahumu pasti aku istrinya juga sudah di beritahu terlebih dahulu oleh mas Abhi," jawabku agak kesal.


"Oh, berarti kau tahu mas Abhi pergi mengantarkan teman perempuannya ke cirebon." Sontak pandanganku mengarah kepada Andi seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Andi katakan kepadaku.


Aku berusaha untuk tidak kaget, karena memang bukan salah mas Abhi juga. itu karena salah aku juga tidak menanyakan mas Abhi pergi dengan siapa, perempuan atau laki-laki.


"Memangnya kenapa?" tanyaku balik.


"Tidak apa-apa hanya memberitahu saja, agar detail." jawab Andi lalu pergi meninggalkanku sendiri yang masih duduk.


"Dasar orang aneh...!" pekikku dalam hati


"Kukira ia mau meminta maaf atas kejadian waktu itu, ternyata, dasar orang aneh..!" ku bereskan bekas makan Andi tadi dengan sedikit rasa kesal mengganjal di hati. Sedangkan Andi masuk ke dalam kamarnya.


"Kesal sekali, bisa-bisanya mengatakan hal yang tidak penting. Lagipula mas Abhi pergi dengan siapa laki-laki ataupun perempuan bukan urusanku, karena perjanjian kami untuk tidak ikut campur masalah pribadi masing-masing. Dasar si Andi bikin kesal saja! " tak henti-hentinya aku bergumam berbicara sendiri dari membereskan dapur tadi sampai selesai dan kini aku berada di kamar. Membenamkan diriku ke atas kasur empukku.


"Mas Abhi dengan perempuan, apa dia pacar mas Abhi sebelum aku menikah, atau mungkin rekan kerjanya," fikirku.


"Ah sudahlah daripada memikirkan hal yang tidak penting mending tidur saja dulu," benar saja tak berapa lama akupun tertidur lelap di atas kasur.


Drett...drett...drett...


Getaran dari ponsel membangunkanku. Aku segera duduk dan mengambil ponsel yang ternyata telpon dari mas Abhi.


"Siapa yang menyelimutiku?" gumamku.


"Assalamu'alaikum, halo, mas," ucapku.


"Wa'alaikum salam, Han. Mas sudah sampai di cirebon," jelasnya mas Abhi memberitahuku.


"Oh, iya. Bagaimana mas tidak apa-apa, sudah makan?" tanyaku memastikan, karena perjalanan dari jkt ke cirebon lumayan memakan waktu apalagi di tambah macet. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 04.15 sore, sedangkan mas Abhi berangkat dari jakarta pukul 10.00 pagi mungkin macet juga di perjalanan.


"Mas baru sampai, sudah ketemu dengan bapak dan nenek juga, mereka nanyain kamu, kapan-kapan mas ajak kesini ya," jelas mas Abhi.


"Iya, boleh," jawabku singkat.


"Kamu sudah makan?" tanya lagi mas Abhi.

__ADS_1


"Belum, nanti aku berencana pergi makan malam dengan teman,"


"Oh ya sudah, jangan pulang terlalu malam yah,"


"Bagaimana dengan teman mas," sedikit tertahan saat ku mulai bertanya, takut mas Abhi tersinggung.


"Oh, dia sudah sampai dengan selamat juga," mas Abhi sedikit terdiam sebentar saat menjawab pertanyaanku.


"Oh, ya sudah, mas aku mau mandi dulu siap-siap dinner dengan Lia. Oh ya ada Andi disini, tadi aku buatkan mie goreng karena ia lapar dan Andi bilang mas Abhi pergi ke cirebon mengantarkan teman wanita mas Abhi." Entah mengapa begitu lancarnya ucapanku keluar begitu saja.


"Mas yang menyuruh Andi menemanimu disana,"


Mendengar jawaban mas Abhi aku sedikit tersinggung.


"Bagaimana bisa suami sendiri menyuruh orang yang hampir menggoda istrinya untuk menemaniku di apartemen yang sedang sendiri tanpa perlindungan, bagaimana kalau Andi macam-macam kepadaku lagi," pekikku kepada mas Abhi.


Lama mas Abhi menjawab, ia terdiam sedikit lama.


"Han," segera ku tutup telpon mas Abhi tak ku hiraukan kembali walau mas Abhi kembali meneleponku. Aku beranjak dari kasur lalu membersihkan diri bersiap untuk bertemu dengan Lia.


"Bagaimana bisa mas Abhi menyuruh Andi menemaniku,padahal jelas-jelas..." aku bergumam sendiri di kamar mandi sambil di guyur air yang memancar pecah dari shower. Sedikit lama ku terdiam hingga perasaanku sedikit dingin lalu setelah selesai aku bersiap-siap pergi.


"Hallo, Lia udah siap? oh ya udah aku mau jalan sekarang kok," ku tutup matikan ponsel setelah selesai menelpon Lia karena kita janjian dinner di salah satu restoran.


"Ayo," Andi mengambil kunci memobilnya, aku terbengong dengan ajakkannya.


"Ayo," sekali lagi Andi mengajakku setelah membukakan pintu apartemen .


"Kemana?" tanyaku heran dan masih mematung di depan pintu.


"Bukankah kau akan dinner dengan Lia?" ucapnya.


"Aku bisa sendiri, tidak usah mengantarkanku," jawabku ketus.


" Mas Abhi menyuruhku mengantarkanmu saat bepergian keluar."


"Aku hanya dengan Lia pergi berdua saja,"


"Tetap saja aku sudah meng iyakan perintah mas Abhi, dan harus sesuai janji jika tidak dia akan marah," ucapnya dingin lalu pergi.


"Dasar," mau tak mau akupun mengikutinya dan pasrah diantarkan Andi.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam tak bicara,tak ingin bicara juga. Aku duduk di belakang sementara Andi di depan menyetir.

__ADS_1


"Seperti sopir saja perasaan," celetuk Andi tapi tak ku indahkan sindiran Andi itu. Sampai kami sudah tiba di salah satu cafe anak muda, disana Lia melambaikan tangan menandakan tempat ia duduk. Terlihat Lia mengkerutkan dahinya saat melihat aku dan Andi keluar dari mobil.


"Han," ucap Lia sambil melirikkan matanya ke arah Andi yang sedang asyik melihat sekitar cafe.


"Ehem, sekarang aku sudah sampai kamu boleh pergi," ucapku agar Andi cepat pergi dari sini.


"Tak ingin diganggu dengan orang lain, pokoknya ini acara aku dan Lia, gumamku.


Dan seperti yang sudah di duga Andi tak akan segampang itu pergi. Banyak alasan yang aku buat agar ia cepat pergi,banyak juga jawaban yang Andi ucapkan untuk membalas alasanku, hingga akhirnya kami sepakat bahwa Andi tetap di cafe dengan kami tapi tidak satu tempat duduk dan tidak ingin diganggu, dan Andi pun setuju.


"Han, emangnya suami kamu yang ganteng itu beneran nyuruh pak Andi untuk jaga kamu? udah kaya apa saja harus di kawal," gelak tawa yang keluar dari Lia seolah meledekku.


"Tau ah, sebel aku" jawabku.


"Ya sudah, terus gimana kamu sudah ngomong sama suami kamu kalau Andi bilang tentang mengantarkan teman ceweknya?" tanya Lia.


"Kenapa?" Tanya lagi saat Lia melihatku menggelengkan kepalaku.


"Entahlah, rasanya aku tidak ber hak menanyakan hal privasi seperti itu. Lagipula itu sudah termasuk ke dalam salah satu perjanjian kami."


"Hmm," Lia tak berani menanyakan hal yang lebih lagi.


Makanan yang di pesanpun datang, kulihat Andi di belakangku di meja lain melakui layar ponselku. Ia sedang asyik dengan dunianya meminum minuman yang sudah ia pesan tadi. Buru-buru ku letakan ponselku di atas meja saat sadar Andi mulai melihat ke arahku.


"Han, sepertinya aku dan Bobi tidak akan sampai ke pelaminan," celetuk Lia saat mulai memasukkan makanan yang ia pesan ke dalam mulutnya.


"Hah, kenapa, kok bisa?" tanya ku kaget.


"Hmm, sepertinya kami sekarang sedang berada di ujung tanduk. Si sialan Bobi itu berkhianat kepadaku, bilangnya akan setia taunya dia malah selingkuh dengan teman kerjanya. Yang anehnya bisa-bisanya ia sebelumnya banyak menuding kalau aku yang selingkuh, kurang ajar kan dia!"


Aku mendengarkan ia berbicara, yang tak habis fikir bagaimana bisa Lia sekalem itu padahal dia akan segera menikah dengan Bobi yang sudah bertunangan dengan nya.


"Bagaimana bisa kamu se kalem ini,Lia?" tanyaku. "Padahal kamu akan segera menikah dengannya,"


"Mau bagaimana lagi, jaman sekarang yang sudah menikah pun bisa ber cerai apalagi yang baru tunangan walaupun hanya tinggal selangkah, namanya khianat ya khianat saja gak bisa di maafkan nanti kita yang berabe setelah sudah menikah, nanti ujung-ujungnya kita menyesal dan parah nya lagi anak yang jadi korban."


Jujur aku terkejut dengan ucapan Lia yang begitu simple tapi ngena banget. Memang tidak salah aku memiliki teman seperti Lia.


"Tapi, apa kamu tidak sedih?" tanyaku lagi memastikan.


"Tidak, tentu saja perasaan sedih kecewa pasti campur aduk, apalagi dua belah pihak keluarga sudah saling mengenal dan dekat. Tapi, aku tidak mau yang namanya penyakit di biarkan nanti lama-lama bisa jadi kronis, iihhh, amit-amit."


"Wah gak nyangka si pemalas, yang kotornya minta ampun, jorok pokoknya bisa.ngomong sebijak ini hahahhahah," tawaku buyar saat ku katakan hal ini kepada Lia.

__ADS_1


Seperti biasa Lia memasang wajah bete nya saat aku mulai mengatainya. Banyak sekali yang kami bahas saat itu dengan Lia tanpa menghiraukan Andi yang sedang asyik sendiri dengan dunianya, bersikap ramah terhadap cewek yang ia sapa walau ke banyakan para ceweklah yang banyak menyapanya duluan, bagaimana tidak ketampanan yang di miliki mas Abhi sedikit menurun kepadanya,hehe.


__ADS_2