Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Di kantor


__ADS_3

"Maaf Han, kali ini tidak ada toleransi lagi di hubungan kita,"


"Tapi," kataku dengan cemas.


"Kita sudahi saja semua hubungan ini," mas Abhi meyakinkan.


"Tapi, kenapa mas?" tanyaku sambil menggenggam tangan mas Abhi.


"Karena perjanjian konyol itu, mas hampir setiap hari memikirkan hal yang tak sepantasnya di fikirkan. Bahkan mas tidak berani sama sekali menjadikanmu tempat ku berkeluh kesah, padahal status kamu adalah istriku. Karena itu jangan salahkan kalau sekarang mas sudah ada seseorang yang mengisi semua kekosongan hati mas," jelas mas Abhi.


"Tapi, mas. Siapa wanita itu, apakah dia yang akhir-akhir ini sering telpon mas, apa dia pelakornya?!" Aku masih tak terima, mencoba mencegah mas Abhi yang berusaha pergi.


"Lepaskan...! jika kamu tidak mau melepaskan, sekarang mas tanya apakah kamu benar mencintai mas, jika iya batalkan semua perjanjian kita, lalu mas akan kembali kepadamu dan kamu harus menerima mas dengan hati.


Aku tak bisa berkata-kata ketika tangan mas Abhi langsung meraba ke arah tangan atasku dan mendekatkan wajahnya kepadaku.


Gubrak....! Aku terbangun dan jatuh ke lantai kamar.


"Ya Allah, Alhamdulillah hanya mimpi." Kulihat sekitar, lalu melihat satu jam kecil yang terletak di sisi meja ranjang menunjukkan jam 03:00 dini hari.


"Astaghfirullah tumben mimpi begitu, jam segini."


Setelah Andi minta ijin untuk merenovasi apartemen dan tinggal di rumah temannya untuk sementara, mas Abhi sudah mulai tidur di lantai bawah lagi. Kini aku tidur sendiri di kamar atas yang besar ini.


Aku turun untuk mengambil air minum, karena persediaan air di kamar habis dan lupa beli jadi terpaksa harus turun menuruni tangga.


Ku dengar suara lantunan ayat Al-qur'an dari kamar mas Abhi. Pintunya sedikit terbuka, mungkin tadi mas Abhi keluar juga.


Sambil memijit-mijit kepalaku, ku buka kulkas dan mengambil air putih.


"Aaahh, rasanya seger sekali," ucapku lalu kembali menutup kulkas.


"Belum tidur?" Suara mas Abhi membuatku kaget.


"Sudah, tapi terbangun." jawabku singkat.


"Tadi mas mendengar suara benda jatuh di atas, apa yang jatuh?" tanya nya memastikan.


"Aku yang jatuh dari ranjang," dengan sedikit wajah bete karena mengingat kejadian tadi.


"Tidak apa-apa kan kamu, Han?" Ku gelengkan kepalaku.


"Mas gak tidur?" tanyaku balik.


"Nanti habis subuh baru tidur,"


"Oh," akupun perlahan mulai menuju lantai atas, sedangkan mas Abhi melihatku naik tangga.


"Mas," kubalikkan pandanganku.


"Ya," kulihat mas Abhi tak jadi masuk kamar untuk menjawabku.


"Kenapa, gak tidur di,...di, anu"


"?"


"Se,selamat malam aku mau tidur kembali kalau gitu," akupun berjalan menuju kamar atas, sampai akhirnya ku tutup kembali pintu kamarku." Apa yang aku katakan barusan," sambil menepak-nepak bibirku.


Karena selama beberapa bulan Andi di sini, selama itu juga mas Abhi tidur di ruangan yang sama, di kamar ini, walaupun tidak dalam satu tempat. Sejak Andi sibuk me renovasi apartemen nya, mas Andi pun tidur di kamar bawah.

__ADS_1


"Padahal hanya baru 2 hari saja tapi rasanya aneh, entah kenapa." Akupun kembali menyelimuti diri dan berbaring di atas kasur.


****


Hari ke 3 bekerja di kantor mas Abhi, masih kikuk dan tidak nyaman. Mungkin ada salah satu karyawan wanita yang menonjol disana yang seolah-seolah terganggu dengan hadir diriku di kantor mas Abhi.


Menurut berita yang beredar, Sinta ( nama karyawan itu ) selalu berusaha mendekati mas Abhi. Ia juga beberapa kali merekomendasikan dirinya sendiri untuk menjadi sekertaris mas Abhi, beruntung mas Abhi tidak tergoda.


"Padahal aku rasa ia cantik dan pintar, punya body goal," gumamku saat sedang memfoto copy salah satu file mas Abhi.


"Cantik juga bukan asli," seseorang di belakangku berbisik ke telingaku, sontak aku kaget.


"Astaghfirullah," ku elus-elus dadaku.


"Selamat pagi, bu," ucap bu mastani salah satu karyawan mas Abhi yang tekun. Bu mastani kini usianya sudah menginjak 45 tahun, tapi ia masih produktif sekali dan juga cekatan.


"Selamat pagi juga," Ku kembangkan senyum termanisku walau agak kaku.


"Jangan takut, pak Abhizar itu orangnya soleh, baik, dia mampu menjaga pandangannya dari yang bukan muhrimnya," tukas ibu Mastani.


Akupun setelah mengangguk, pamit pergi karena sudah selesai memfoto copy file yang di butuhkan.


***


"Ini, mas, eh pak. File yang di butuhkan untuk meeting nanti," sambil ku letakan file yang di perlukan di atas meja mas Abhi.


"Oh iya, terima kasih banyak." Lalu membuka file itu sambil duduk.


"Kenapa berdiri, duduk saja?" ucap mas Abhi yang melihatku yang masih berdiri kaku di depan mejanya.


"Ah, tidak usah, aku mau pergi dulu. Tadi ada bu Mastani yang...,"


"Seseorang menelpon mas Abhi lagi," gumamku. "Siapa?" fikirku.


Ingin aku melihat, karena tiap ada aku di dekat mas Abhi, telpon itu tak pernah di indahkan mas Abhi. Akupun permisi untuk pergi dari ruangan itu.


"Benar saja, mas Abhi langsung menelpon. Ada apa, apa yang di sembunyikannya dariku, kenapa harus seperti itu," Tak ingin terbawa suasana karena masih pagi, akupun lanjut mengerjakan tugasku sebagai sekertarisnya. Mempersiapkan yang akan di butuhkan pada saat meeting nanti.


Drr...drr...drr...


"Lia, Halo Li,"


"Han, lagi ngapain,"


"Lagi rebahan..., udah tahu sekarang aku lagi ngapain," jawabku sedikit jengkel.


"Hehehe, iya jangan marah. Eh, Han, makan siang bareng yuk berdua aja," ajak Lia.


"Pengen, tapi aku gak janji karena ada meeting jam 9 nanti dengan mas abhi."


"Yah, padahal aku kangen udah beberapa minggu gak ketemu,"


"Baru aja 5 hari, lebay banget sih," ucapku.


"Hehehe, ya udah kalau kamu bisa kabari yah, biar aku gak nunggu,"


"Oke," lalu menutup telpon.


kring...kring...

__ADS_1


"Halo,"


"Assalamu'alaikum, Han." Mas Abhi menelpon lewat telpon kantor.


"Eh wa'alaikum salam. Ya mas, eh pak, ada apa?" tanyaku.


"Mas saja, aku kan suamimu."


"Gak enak kalau di kantor,"


"Tolong ambilkan berkas di karyawan bernama Sinta, bisa?" tanya nya.


"Oh, iya baik." Setelah menutup telpon, akupun langsung bangkit untuk pergi menemui Sinta.


***


"Selamat pagi, bu,"


"Mohon maaf umur saya baru 26 tahun dan juga belum menikah," dengan nadanya yang angkuh.


"Oh, iya maaf barudan pak Abhi menyuruh saya untuk mengambil berkas yang pak Abhi bilang," ucapku.


"Sebentar!"


"Idih, nih perempuan kurang ajar banget sama istri bos nya. Awas aja," pekikku dalam hati. Akupun pergi setelah ku terima berkas itu. "Jangan karena istri bisa seenaknya, harusnya jangan malu-maluin yah, hiji" ku dengar ucapannya setelah beberapa langkah ku berniat pergi.


"Mohon maaf apa yang barusan anda bilang?" tanyaku memastikan.


"Cuman mengingatkan saja bu," ucapnya singkat sambil berlalu pergi entah mau kemana.


"Perempuan ini...,!" gumamku kesal menekan suaraku.


"Sabar, bu. Sinta emang wataknya sableng seperti itu, berani sekali dia bicara seperti itu kepada istri bos nya. Tentu saja bu Honey tidak akan membuat malu pak bos karena pasti sudah berpengalaman, iya kan bu," ucap Bu Mastani yang kini berada di dekatku. Karyawan sekitar melihat ke arahku dengan lirikkan mata mereka, meskipun wajah mereka tertuju ke komputer, tapi aku bisa merasakannya sorot mata mereka.


Aku hanya diam tak menjawab, karena tahu ini pertama kalinya aku bekerja di kantor, jadi belum tahu mengenai tugas-tugasnya, apalagi status ku sebagai sekertaris.


Bruk....!


"Ini, berkas yang anda minta dari Sinta!" nadaku sedikit di tekan masih menahan amarah.


Mas Abhi melirikku dengan aneh.


"Terima kasih banyak,"


"Sama-sama," aku berniat pergi ke ruanganku tapi tanganku keburu di tarik mas Abhi.


"Ada apa?" tanya mas Abhi heran karena datang-datang memasang wajah masam.


"Tidak ada,"


"Ada apa, katakan, ada yang menyakitimu?" tanyanya kukuh.


"Nggak, aku hanya kesal saja denganku, karena tidak tahu yang harus di lakukan sebagai sekertaris mas," jawabku karena tidak ingin membuat masakah lebih besar.


"Loh, namanya juga kan kamu karyawan baru, apalagi belum ada pengalaman. Ya nggak apa-apa, kan sambil belajar juga," mas Abhi membenarkan rambutku yang terlihat keluar.


Seketika mas Abhi melepaskan sentuhannya ke wajahku, kamipun berubah menjadi kikuk. Rasa amarahku yang tadi sempat berkobar seketika nyess... dingin.


"Ka, kalau begitu aku ke ruanganku untuk melakukan tugas lalin," setelah mas Abhi megangguk tanpa menjawab akupun kembali ke ruanganku. Kulihat wajah mas Abhi memerah, begitupun aku.

__ADS_1


__ADS_2