
"Assalamu'alaikum," aku dan mas Abhi ketika sampai di rumah utama.
"Wa'alaikum salam," Wanita itu menjawab karena di rumah tidak ada siapapun.
"Kami pun masuk ke dalam." Suasana rumah sederhana nan mewah, dari luar terlihat rumah kayu biasa seperti di desa-desa. Tapi saat sampai di dalam di suguhkan nuansa modern klasik dengan barang-barang seperti kursi lemari klasik tapi interior modern terlihat mewah.
"Taruh di kamar atas saja," kata mas Abhi kepada pak Tarno.
"Mas, mau minum apa?" tanya perempuan yang bernama Aisyah itu.
"Han, mau minum apa?" wanita itu langsung mengarahkan matanya kepadaku saat mas Abhi menawariku.
"Euh, tidak usah biar nanti saya yang ambil sendiri. Di sebelah mana dapurnya?" tanyaku.
"Tidak usah biar Aisyah yang mengambilkannya untukmu," mas Abhipun melihat ke arah Aisyah dan Aisyah pun mengerti tanpa basa basi langsung mengambilkan air putih untukku dan mas Abhi dan menaruhnya di meja.
"Bapak?"
"Kiyai sedang ada urusan di surabaya, karena itu beliau tidak bisa segera datang, mungkin besok." Aisyah membukakan beberapa kue yang ada di toples.
"Assalamu'alaikum, nak Abhizar bagaimana kabarnya. Sudah lama sekali ya nak Abhi belom kesini lagi ada sekitar 3 tahun yah?" seorang ibu yang sudah berumur yang tiba-tiba datang menyapa mas Abhi.
"Wa'alaikum salam,bi. Alhamdulillah saya sehat wal'afiat, iya sekitar 3 tahun Abhi belom mengunjungi pondok lagi," dengan ramah mas Abhi menyapa dan mengembangkan senyum manisnya.
"Ini...?"
"Oh, ini Honey, istri saya. Saya rasa bibi sudah dengar dari bapak." Akupun menyalami bibi itu yang aku ketahui itu adalah ibunya Aisyah, wanita yang dari tadi sibuk dirumah utama pondok ini.
"Oh, saya ibu Aisyah teman nya nak Abhi dari kecil," wanita tua itu mengembangkan senyum sedikit tak ikhlas setelah melirik anaknya.
__ADS_1
"Ada apa?" gumamku dalam hati.
***
"Bagaimana dengan pondok ini?" kata mas Abhi. Aku ke atas dengan mas Abhi untuk beristirahat, tapi tak jadi karena pemandangan dari atas pondok melihat para santriwati berseliweran.
"Bagus, tapi mas, bukankah biasanya pondok santriwati itu terletak sedikit jauh dari pondok santri?" tanyaku.
"Iya sebelumnya begitu, tapi karena ada beberapa santriwati yang dari luar kota nekat kabur dari sini, jadi terjadi musyawarah yang sepakat bahwa santriwati lebih baik di dekatkan saja. Sebagai gantinya kami buat tembok besar sebagai pemisah mereka," aku mengangguk angguk ketika mendengar penjelasan dari mas Abhi.
"Bapak mertua, maksudku pak kiyai dulunya menikah dengan santri sini atau orang luar?" tanyaku penasaran.
"Dengan santri sini, karena dulu bapak juga mondok di tempat santri laki-laki. Tapi, statusnya di rahasiakan bahwa bapak adalah anak dari yang punya pondok ini, karena bapak tidak ingin di bedakan dari santri lain hanya karena mereka tahu kalau bapak adalah anak dari pengurus pondok ini.
"Terus, bagaimana bisa pak Kiayi bertemu dengan ibu mas Abhi?" mas Abhi menyuruhku duduk dengan menggeserkan kursi yang terbuat dari kayu keras kepadaku, kayu jati.
"Nah, ibu saat itu dikenalkan ke beberapa calon yang begitu menjanjikan. Ada pengusaha mapan, bisnis man, dan juga yang lainnya yang kriteria sesuai keinginan mereka, tak lupa yang utama soleh. Tapi memang jodoh itu tidak ada yang tahu, ternyata Allah sudah menuliskan garis jodoh ibu itu adalah bapak si anak dari pemilik pondok ini." Mas Abhi tersenyum seolah membayangkan napak dan ibunya.
"Oh, begitu. Tak jauh beda dengan kita,ya. "Mas Abhi melihat ke arahku membuatku sedikit kikuk.
"Maksudnya begini,kita juga menikah bukan sesuai keinginna kita, tapi secara tidak langsung di jodohkan karena suatu sebaab," dalihku.
"Sistem perjodohan bapak dan ibu bukanlah sistem perjodohan seperti kisah siti nurbaya, mereka saling suka sejak lama walau hanya beberapa kali sempat saling melihat. Beda dengan sistem siti nurbaya yang di kawinkan paksa tanpa rasa suka terlebih dahulu. Kan suka ada istilah taaruf agar bosa saling kenal dulu dan melihat satu sama lain. Jika di rasa cocok kedua belah pihak boleh memutuskan meneruskan pernikahan, sambil menyeruput teh yang tersedia yang di bawa mas Abhi tadi dari bawah.
"Kalau tidak?" tanyaku.
"Ya jangan di lanjutkan," jawabnya.
Kalau salah satu saja yang mau tapi yang satunya tidak mau bagaimana?" tanya ku lagi karena masih penasaran.
__ADS_1
"Boleh memutuskan tidak melanjutkan ke pernikahan, agar tidak ada yang tersakiti atau terpaksa salah satunya."
"Jangan melihat ke bawah," mas Abhi memegangi pundakku ketika aku berniat melihat ke bawah ingin melihat santrinyang sedang berlalu lalang. Setelah mas Abhi mengibaskan satu tangannya ke arah bawah, akupun di lepaskannya.
"Jadi begitu," ucapku. Mas Abhi menyodorkan teh hangat yang tadi sempat di hidangkan wanita yang bernama Aisyah itu, tapi aku menolaknya kemudian mas Abhi kembali menyimpannya.
" Berarti tidak sama dengan kita,ya." Seketika itu aku tak berani melihat wajah mas Abhi.
"Karena itu, jangan sampai ada yang terluka diantara kita, kamu ataupun mas," jawabnya lirih. Aku terdiam seketika ketika mendengar ucapan mas Abhi. Seolah jadi pecut, aku terasa di ingatkan dengan hal itu.
***
[ Mas... ]
Aku mengirim pesan kepada mas Abhi.
[ Iya, ada apa ] balasnya.
[ Aku tidak bawa baju ] terpaksa ku beranikan diri mengirimnya walaupun malu, apa boleh buat "Dari pada aku kedinginan di kamar mandi, pekikku dalam hati.
Tak lama mas Abhi mengambilkanku pakaian daster pajang lengkap dengan kerudung panjangnya. Akupun keluar berbalutkan daster, sedikit kikuk karena aku tidak terlalu nyaman dengan pakaiannya. Bukan karena daster, tapi karena BH yang aku pakai terlalu kecil, rasanya sesak dan sempit, jadi tidak mampu menopang keseluruhan beban yang aku punya, untungnya jilbab panjang ini menolongku menutupi buah dadaku.
"Pakaian ini punya siapa?" tanyaku saat ku dekati mas Abhi yang sedang duduk di ruang tengah bersama Aisyah.
"Punya Aisyah," Mas Abhi tersenyum begitu pula dengan wanita itu. Entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman ketika melihat mas Abhi dan wanita itu duduk berdekatan. Seakan mereka sangat akrab sekali.
"Oh, terima kasih banyak sudah meminjamkanku baju,yah." jawabku sedikit ketus, tak ku lihat wajahnya hanya fokus melihat ke arah suamiku mas Abhi walau sebenarnya ini pertama kalinya aku seperti ini kepada mas Abhi, dan juga memberanikan diri duduk di samping mas Abhi berdekatan.
"Gimana, nyaman?" tanya Aisyah. Sekarang aku sedikit melihat ke tidak nyamanan dari Aisyah melihatku duduk dekat mas Abhi, begitupun mas Abhi seolah tidak nyaman seperti kagok.
__ADS_1