Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Ketemuan dengan Lia


__ADS_3

dret...dret...dret...


[ Assamu'alaikum ]


[ .... .... .... ..... ]


[ ini aku mas Abhi, ada makanan di atas meja makan di bawah untuk sarapan. Mas pergi dulu untuk ketemu klien...Assamu'alaikum ]


Mas Abhi mengirim Whatshap kepadaku.


"Kenapa tidak menelpon saja, apa karena dia masih malu?" Teringat kembali kejadian tadi aku langsung mengusap wajahku lalu aku pergi ke bawah untuk sarapan, sebelumnya aku membereskan kamar mandi dan tempat tidur terlebih dahulu, karena aku tidak suka kalau satu tempat dirumah berantakan. Akupun turun ke bawah untuk sarapan.


"Eh, darimana mas Abhi tahu nomerku ya, mungkin dari ibu dan bapak,"Fikirku.


****


[ Mas,....]


tak lama langsung aku hapus kembali pesan yang akan aku kirimkan kepada Mas Abhi.


"Gimana ya ngomongnya, apa mas Abhi masih marah atas kejadian tadi subuh?" Aku berfikir keras untuk menemukan cara agar bisa keluar menemui sahabatku Lia.


Ku lihat sudah jam 11 siang,


"sahabatku Lia sebentar lagi akan sampai di tempat yang kita janjikan," akupun masih menciba mengetik membuat kata-kata yang sebagus mungkin untuk meminta ijin. Tapi setiap selesai mengetik kata Mas selalu langsung aku hapus kembali.


Akupun mencoba menelpon mas Abhi karena dirasa lebih sopan jika meminta ijin lewat telpon, tapi segera aku matikan saat baru saja memncet panggilan beberapa ku lakukan hal itu. Sampai pada saat terakhir aku mencoba menelpon Mas Abhi masih saja ku matikan sebelum telponnya diangkat mas Abhi.


Dret...dret....dret....dret...


Sebuah telpon masuk menghentakan lamunanku.


"Mmmas Abhi! duh gimana angkat gak yah?" akupun mengambil nafas beberapa kali dan mengeluarkannya sampai terasa tenang akupun mengangkatnya.


"Ha, halo...Mas," sapa ku saat ku angkat telpon dari mas Abhi yang menjadi suamiku sekarang.


"Assalamu'alaikum..." Mas Abhi pun memberi salam.


"Wa,wa'alaikum salam heee," jawabku.


"Ada apa mas,? tanya ku.


"Loh, bukannya kamu yang menelpon mas, dari tadi sampai 7 panggilan. Maaf barusan mas rapat jadi tidak membawa Hp, mas simpan di meja kantor." mas Abhi menjelaskan, mungkin takut aku marah.

__ADS_1


"Oh... iya gak apa-apa," jawabku seakan tidak ada jawaban lain.


"Ada apa, tadi sudah sarapan. Sekarang sudah hampir jam makan siang, mau makan siang bareng?" Mas Abhi menawarkan tanpa rasa beban.


"Sepertinya mas Abhi sudah melupakan kejadian saat di kamar mandi tadi, buktinya dia malah menawarkan untuk makan siang bareng," gumamku. Dirasa ini kesempatan bagus untuk meminta ijin keluar akupun mulai bicara dengan segenap keberanianku.


"Mas," tanyaku.


"Ya," jawabnya. Akupun memberanikan diri untuk bicara.


"Temanku yang bernama Lia akan datang kesini. Dia mau menemuiku dan aku meng iyakannya. Kami pun berencana bertemu di satu restoran sekalian makan siang. Hmm.... aku mau minta ijin ketemu dengan Lia," Akupun menunggu jawaban mas Abhi yang dirasa cukup lama menjawab.


"Dengan siapa lagi?" tanya nya lagi.


"Sepertinya sendiri, kalau pun tidak sendiri paling dengan tunangannya," akupun menjawab semampuku mencoba untuk jujur.


Lama mas Abhi menjawab sampai akhirnya...


"Boleh," singkat padat jelas. Tanpa basa basi mas Abhi menjawab.


"Iyesss..." gumamku sambil mengepalkan satu tangan karena berhasil meminta ijin.


"Makasi ya mas," akupun menutup telponku dan memutuskan percakapan ku dan mas Abhi.


Secepat kilat aku langsung ganti baju dan bersiap untuk pergi, kebetulan sekali Lia kirim WA memberi tahuku bahwa dia 10 menitan lagi sampai ke tempat tujuan. Kami janjian di restoran terdekat sekalian makan siang. Akupun pergi untuk menemui Lia menggunakan gojek agar bisa sampai lebih dulu dari Lia sekalian memesankan makanan untuk Lia.


Tak lama akupun sampai di sebuah restoran, hanya membutuhkan sekitar 7 menit dari apartemen untuk sampai di restoran. Akupun tak banyak diam langsung memesankan minuman dan makanan untuk kami ber tiga. Aku memilih duduk yang pas menghadap jendela agar bisa melihat pemandangan orang berlalu lalang di jalan sampai ku lihat ada mobil yang aku kenal parkir di depan restoran.


"Itukan, itukan mobilnya Sandy," dan betapa kagetnya saat kulihat memang benar Sandy yang keluar dari mobil dan yang lebih kagetnya ternyata Lia juga keluar dari mobil yang sama.


"Sandy,Lia," itulah kata-kata yang keluar dariku saat melihat mereka berdua.


Merekapun berjalan mendekatiku. Sudah kulihat amarah terpancar pada diri temanku Lia walau masih dari kejauhan.


"Han, kamu jelaskan sekarang juga pada kami. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa kamu sudah resign dari cafe tempat kamu bekerja dan sekarang dapet kerjaan baru di kota. Lalu kenapa tidak memberi tahuku!" Lia melemparkan sejuta pertanyaan kepadaku saat mereka sampai.


"Sudah, duduk dulu ya Li. Jangan teriak-teriak malu diliat orang," rayuku dan benar saja pengunjung yang ada di restoran sana sedang memperhatikan kami.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tidak mengabariku?" Lia masih dengan pertanyaannya.


"Sudah tenang dulu, minum dulu kendalikan emosimu, kan malu sama pengunjung lain. Aku jelaskan deh pokoknya," akupun memberikan satu gelas jus mangga yang ku tahu Lia memang suka sekali jus mangga.


"Han," kini giliran Sandy yang bertanya hanya dengan menyebut namaku dari matanya aku sudah bisa menebaknya seakan diriku menjadi seseorang yang bisa melihat mata hati dan fikiran hingga bisa tahu apa yang mereka fikirkan,heheheh.

__ADS_1


"Sand, kenapa kemari?" tanyaku.


"Kamu ini udah jelas-jelas kami kesini minta penjelasan dari kamu!" jelas Lia.


"Diam dulu kenapa Li, aku bertanya pada Sandy."


"Aku butuh penjelasan darimu sama seperti temanmu Lia," jawabnya.


Aku merasa bingung bagaimana cara menjawabnya. seakan ingin menghilang saja saat itu juga untuk menghindari pertanyaan mereka agar tidak usah menjawab.


"Duh si Lia ngapain sih ngajak-ngajak si Sandy, kan jadi bingung gimana jelasinnya," gumamku dalam hati.


"Maaf ya Sand, aku gak bilang dulu sama kamu. Aku mendadak harus mengambil pekerjaan disini karena gajinya yang lumayan. Karena terburu-buru akupun tidak sempat mengabari kalian, karena aku rasa ini kesempatanku." Ku hentikan perkataanku hanya untuk meilhat reaksi Sandy, setelah dirasa sandy memepehatikan dengan serius akupun melanjutkan bicaraku.


"Lia juga tahu kalau aku memang sedang berjuang untuk keluarga apalagi adikku sebentar lagi masuk SMP jadi harus ekstra kerja keras. Kamu tahu kan kebutuhan anak jaman sekarang." Aku pun menjawab semampuku yang terlintas di fikiranku.


"Iya kan Li," tanyaku mengarah pada Lia sambil mengedipkan mataku agar si Lia juga mengerti.


"Apaan sih, kenapa kamu kelilipan yah?" tanya Lia yang heran saat aku memberi kode yg tidak ia mengerti.


Sampai akhirnya ku injak kakinya, diapun kesakitan langsung memelototiku.


"Ah, oh iya bener. Dia bekerja keras untuk adiknya, Sand." Lia pun akhirnya mengerti dengan injakanku itu dan membantuku memberi alasan.


"Bukannya ada aku, aku bisa membantumu, Han." jawab Sandy dengan memelas.


"Euh, a..,aku tidak mau merepotkan yang lain. Lagipula kita itu baru berpacaran kan, mana mungkin aku berani meminta sesuatu sesuka hati padamu," jawabku ngasal.


"Bbuahahhahaa...." Lia tertawa sast baru meminum sstu teguk jus mangganya yang untung tidak muncrat ketika mendengar alasanku, aku langsung menyikutnya dan seketika itu dia diam. Aku tahu dia sedang meledekku karena dia tahu mana mungkin aku tidak berani meminta sesuatu pada orang yang statusnya pacar. Apalagi pacar itu tajir melintir, yang ada disikat apapun yang dimau harus dilaksanakan.


"Hmm, habis ini kamu mau kemana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin menginap di tempat kamu tinggal sekarang, gpp dengan Lia pun," jawabnya seenaknya.


"Gila kamu yah, mana mungkin. Gak mau aku," jawabku jelas.


"Enak aja ingin nginep, yang ada aku nanti di raba-raba lagi. Emangnya kamu mas Abhi yang tidak akan macam-macam sama cewek," gumamku dalam hati.


"Ya udah, maunya kamu aku gimana. Aku gak mau pulang," jawab Sandy membuatku semakin illfeel.


"Idih, nih anak manja banget. jadi jijik aku," pekikku lagi dalam hati.


"Hei hei hei... ngobrol aja terus gak usah pedulikan aku ya," Lia yang bete karena kami, dan memotong pembicaraan.

__ADS_1


"Entahlah, aku sendiri pun pusing memikirkannya harus bagaimana." Aku bergumam dan bertengkar dengan hati dan fikiranku saat itu, entah apa yang harus dilakukan.


Bersambung...


__ADS_2