Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Andi, hampir saja...


__ADS_3

"Mana Lia dan bagaimana bisa ponselnya ada di kamu lalu mau apa kamu kemari?" beberapa pertanyaan langsung ku lontarkan pada Andi.


Tapi bukan Andi namanya jika tak berulah, ia melirik pada bungkusan kertas roti yang ku pegang langsung menyambarnya kemudian membuka dan memakannya aku yang melihat itu melotot dengan kelakuannya.


"Jawab dulu pertanyaanku...!" pekikku kesal.


"Hmmm....enak juga," dengan lahap tanpa merasa berdosa ia melahap sandwichku sampai habis.


"Duh seret, minumnya mana?" sambil mengusap-usap tenggorokkan ia melihat kedua sisi tanganku kaalau-kalau aku bawa minum mungkin.


"Gak ada, lagian gak sopan banget maen ambil-ambil aja punya orang," Ketusku kesal. Dan sudah di duga tanpa merasa bersalah Andi pun pergi menghampiri kios minuman otomatis dengan hanya memasukkan kartu seperti ATM menekan sandi kemudian menekan nomer minuman apa yang dimau akan langsung jatuh tersedia di laci lemari nya .


Glek...glek...glek...


"Aah... seger banget, orang kamu bilang. Bukannya kamu ini tante iparku?" celetuk Andi yang kembali meminum minuman botolnya.


"Apaan sih..." gumamku.


"Kamu marah kenapa lagi pada mas Abhi?" tanya Andi tiba-tiba yang kemudian menutup botol minumannya yang sudah kosong.


"Hah, sok tahu. Siapa bilang aku marah pada mas Abhi...!" tukasku.


"Lalu kenapa kau disini bukannya kerja?" tanya Andi lagi.


"Aku cuma ingin menghirup udara segar."


"Kenapa kau menelpon temanmu dan menyuruhnya menemuimu sampai-sampai harus meninggalkan pekerjannya?"


"Itu karena Lia bilang pekerjaannya bisa selesai lebih cepat."


"Kenapa kau tak bersama suamimu?"


"Karena mas Abhi harus meeting jadi dia tidak bisa menemaniku, lagipula bebas dong aku mau kapan keluar aku kan istrinya mas Abhi pemilik dari perusahaan ini."


"Oh begitu..." Akupun mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Kau tidak bohong?


"Nggak...!"


"Hmm...mas Abhi menelponku dan menanyakanmu, mungkin dia fikir kau menemuiku." Seketika aku melotot tak bisa menjawab dan wajahku tegang karena berbohong dan mengelak.


"Apa kau mengatakan kalau aku ada disini sekarang?" tanyaku lesu Andi melirikku.


"Bagaimana bisa aku chat dia, dari semenjak datang sampai sekarang aku tidak bisa membuka ponselku.


"Kenapa tidak bilang saja?" celetukku Andi segera mengambil ponselnya dan menelepon mas Abhi.


"Halo..ya mas Abhi nih si Honey..." buru-buru ku tarik lengannya dengan panik.


"Apa?"


"Jangan telpon gila kamu yah..!" pekikku sambil mencoba mengambil ponsel Andi.


"Kau yang gila, kau fikir aku orang bodoh...!" ternyata Andi hanya menggodaku dan aku terdiam.


"Apa karena mbak Aisyah?" Andi melirikku memastikan reaksiku tapi tak ku jawab.


"Ayo..." ajak Andi sambil berjalan.

__ADS_1


"Kemana, jangan-jangan mau kembali ke kantor. Gak mau aku...!" gumamku sembari menyilangkan kedua tanganku layaknya orang marah.


Aku tak menjawab dan memilih mematung sedangkan Andi berjalan ke depan perlahan sambil memasukkan ke dua telapak tangannya ke masing-masing saku celana di kedua sisi nya.


"Ayo..." Andi berbalik kemudian berjalan kembali.


"Ikut atau aku telpon suamimu sekarang?" sekali lagi Andi membalikkan badannya tanpa fikir panjang akupun mendekatinya memilih mengikuti Andi daripada harus berhadapan dengan mas Abhi.


Di kantor


Tok...tok...tok...


"Masuk,"


"Pak ini berkas yang bapak pinta," sekertaris yang bernama Sinta itu nenyodorkan berkas yang di minta pimpinan kantor itu.


"Simpan saja di meja," kata Abhi yang masih serius dengan laptopnya.


"Mmm...Pak, hari ini kenapa istri bapak...Maksud saya Bu Honey tidak datang apa dia resign?" Melihat reaksi Abhi yang langsung meliriknya si centil Sinta itu langsung salah tingkah karena takut.


"Bu,bukan itu maksud saya biasanya bu Honey kan selalu barengan ke kantor dengan bapak, apa beliau sakit?" dengan atau tanpa di sengaja Abhi tak melihat sedikitpun ke khawatiran di mata sekertarisnya itu.


"Ada, istri saya sedang ingin menghirup udara segar setelah kepulangan kami dari London." Ucap Abhi datar.


"Jika sudah selesai silahkan pergi," perintahnya lagi dan Sinta pun langsung pamit pergi dengan wajah kecewanya.


Back to Honey


"Ayo turun," ajak Andi ketika sudah sampai di sebuah tempat wisata salah satu pantai. Memang dari pas pintu masuk sudah terlihat sisi-sisi lautan yang bergelombang. Akupun turun mengikuti Andi berjalan menyusuri jalanan aspal dari parkiran hingga di depan pantai.


Banyak muda mudi yang berlalu lalang bersama pasangan mereka. Ada juga beberapa bule dan juga tukang foto yang tersebar di antara bibir-bibir pantai mencari pelanggan dan pasangan kekasih untuk mengabadikan momen mereka.


"Memangnya kamu tidak senang?" kata Andi.


"Panas disini," ucapku yang membuat wajah Andi seketika mengerut.


"Cewek aneh memang," tukas Andi yang mendekatiku kemudian menyubit pipiku yang chubby hingga aku merengek kesakitan.


"Aduh,duh...sakit tahu..!" ku tepiskan tangannya.


"Biasanya kalau cewek di bawa ke tempat seperti ini akan bereaksi takjub dan terharu tapi memang kau ini cewek aneh," godanya sambil berjalan menyusuri pantai.


"Memangnya apa yang aneh?" ku hentikan langkah Andi dengan membalikkan badanku di depan Andi membuat Andi terpaku sebentar hingga ia terfokus ke anak kecil yang sedang bermain pasir di belakangku.


"Boleh kaka ikutan main pasir dan bikin istana." Ajak Andi kepada kedua anak itu.


"Memangnya om bisa?" tanya kedua kaka beradik itu.


"Hahaha..," aku tertawa mendengar kata om dari kedua anak itu hingga andi melirikku.


"Lucu?" ucapnya bete seketika membuatku diam dengan menahan tawa agar tak terbahak.


"Ada tukang es kamu mau?" ajak Andi kemudian kami meninggalkan anak kecil itu untuk membeli es potong.


Suasana panas di pantai tak menyurutkan para penikmat liburan untuk menikmati deburan Ombak yang cukup besar.Hingga hari berangsur sore tapi tetap saja tak menyurutkan hawa panas menjadi sejuk.


"Aku dengar sebelum menikah dengan mas Abhi, kamu anak matre dan juga play girl, yah?" tanya Andi tiba-tiba berjalan disisiku kebetulan saat itu matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, yang tinggal menyisakan lukisan warna orange di langit.


"Kata siapa. Hmm....pasti Lia yang bilang," Sesekali ku kailkan jari kakikku hingga menusuk sedikit ke dalam pasir pantai hingga pasir itu menjalar menggelitiki pergelangan kakikku.

__ADS_1


"Pengalamanmu tentang lelaki tentu saja banyak dan tahu sifat-sifat dari setiap laki-laki yang pernah dekat denganmu, Han." Andi tak mengindahkan pertanyaanku ia masih terus berjapan pelan di sampingku sambil menikmati musik dari deburan ombak di pantai.


"Kata siapa?" tanyaku lagi. Kini aku duduk di sisi pantai karena terasa lelah, para pengunjung perlahan menyepi setelah pus berfoto ria mengabadikan momen indah di saat senja yang mulai berganti malam. Menikmati sunset mereka ada yang bersama pasangannya dua sejoli yang sedang asyik berpacaran mengabadikkan moment indah mereka lewat kamera ponsel dengan memeluknya yang kemudian di akhiri dengan ciuman dari mulut ke mulut.


Aku dan Andi yang sedang kebetulan berada sejajar di belakang mereka, sontak langsung tertegun melihat pemandangan yang menurut kami aneh.


"Gila nih pasangan di depan aku sama Andi lagi, gak malu apa mereka?" pekikku dalam hati dengan tingkah yang kebingungan seketika otakku blank saat memikirkan sesuatu agar suasana bisa cair tapi tentu saja tidak bisa.


"Han,..."


"Yah...?"


Deg... Wajah Andi begitu dekat denganku, ia mendekatkan diri hingga wajahnya denganku kini hanya tinggal beberapa centi saja.


",A,a,ap,apa?" tanyaku polos padahal dalam hati tegang. Andi tak menjawab ia barukali ini menatapku dengan tatapan serius dari matanya seolah ingin mengatakan sesuatu, aku terdiam seperti patung tak bisa berkutik sedangkan wajah Andi yang kian mendekat hingga sampai bersentuhan hidungku dengan hidungnya.


Terasa panas hembusan nafas Andi dari hidungnya seolah bergantian dengan hembusan dari hidungku, ia memiringkan kepalanya aku tahu apa yang akan ia lakukan padaku tapi kenapa aku tak bisa menghindar, terasa berat rasanya bergerak. Apa yang harus aku lakukan dalam keadaan seperti ini, mas Abhi.. !" gumamku dalam hati.


Dan....


Drr...drr...drr...


"Ah, Ha, halo...maksudku Assalamu'alaikum..." jawabku yang ku ketahui bahwa yang nelpon adalah mas Abhi.


"Dimana?" tanya mas Abhi.


"Ehh, aku, aku, aku ada, di...." Ku lihat waamjah Andi yang sedikit kecewa tapi menunggu diriku.


"Aku sedang ada urusan,mas. Nanti telpon saja lagi ya" Jawabku.


Tut...tut...tut...


Tiba-tiba mas Abhi memutuskan komunikasi kami.


"Mas Abhi?" tanya Andi tanpa basa-basi.


"Iya," jawabku.


"Pulang, yuk?" kataku yang masih dalam keadaan wajah terasa panas dan merah padam karena malu.


"Tunggu..." Andi memegang tanganku ketika aku berniat berbalik untuk ke mobil. Betapa kagetnya, sosok pria tinggi putih berkemeja tanpa jas berdiri rapi dan tegas ia berjalan mendekati kami tanpa aba-aba kepalan tinju melayang di wajah Andi hingga seketika membuatnya tersungkur sontak ku tutup mulutku yang menganga.


"Andi...! Astaghfirullah apa yang kamu lakukan, mas. pekikku berniat mendekati Andi untuk membantunya bangun tapi mas Abhi keburu menyambar tanganku dan menahannya.


Uhuk..uhuk... Darah segar sedikit keluar dari hidung dan sisi bibirnya karena pukulan mas Abhi tadi.


"Andi, kamu tidak apa-apa kan? mas Lepaskan tanganku. Tapi mas Abhi tak melepaskannya malah pegangannya semakin kuat membuatku sedikit meringis kesakitan.


Andi menggelengkan kepalanya agar sekedar membuatku tidak khawatir dengan keadaannya.


"Tak tahu diri...!" Teriak mas Abhi kencang.


Andi tak melawan ia terdiam sambil sesekali mengelap darah yang keluar dari sisi bibirnya.


"Mas..." cegahku dengan memegang tangannya.


"Kau...!" pekik mas Abhi, matanya mengeluarkan amarah,.begitupun dengan wajahnya yang memerah.


Mas Abhi menarikku membawakku hingga ke dalam mobil tanpa pamit terlebih dahulu kepada Andi.

__ADS_1


Kulihat Andi bangun dan melihat ke arah mobil kami yang perlahan pergi meninggalkannya sendiri tanpa ingin ia mengejar kami.


__ADS_2