Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Mimpi lagi


__ADS_3

"Bagaimana dengan keadaan nenek, mas?" aku mencoba mencairkan ke tegangan.


"Alhamdulillah, katanya nenek besar sudah sadar, hanya saja perlu beberapa tes dan cek terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan berbahaya yang mungkin akan terjadi di rumah, karena itu perlu tinggal untuk beberapa hari lagi di rumah sakit.


"Oh," jawabku singkat, wanita itu sedikit mengerutkan keningku ketika mendengar jawabanku yang seolah tak sesuai ekspetasinya.


"Lebih baik seperti itu, kalau buru-buru dipulangkan takutnya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," dengan serius mas Abhi menjawab.


"Iya, mas. Takutnya hal yang tidak diinginkan terjadi, jika ada dirumah sakit baiknya di periksa kembali takut ada hal-hal yang tertinggal," mendengar hal itu mas Abhi mengangguk.


"Terima kasih banyak, Sah karena sudah menjaga nenek dengan baik." Serasa di acuhkan akupun memutuskan untuk pergi.


"Mau kemana,Han." Mas Abhi memegangi tanganku,ku lihat Aisyah memalingkan wajahnya saat melihat mas Abhi mencegahku.


"Aku mau tidur duluan, mas. Aku sudah mengantuk juga,"


"Assalamu'alaikum..." Suara pria yang nyaring dan halus terdengar dari balik pintu.


"Wa'alaikum salam," aku, mas Abhi dan juga Aisyah serentak menjawab.


"Pak, bagaimana kabarnya, bagaimana perjalanannya?" Mas Abhi mencium tangan Bapak Kiyai, mertuaku.


"Alhamdulillah, bagaimana kabarmu,nak." Pak kiyai melihat ke arahku, akupun berniat menyalaminya hanya saja pak Kiyai hanya melipatkan kedua tangannya sambil tersenyum. Aku lupa kalau mertua laki-laki dengan menantu perempuan tidak boleh bersentuhan, begitupun sebaliknya. Karena malu dengan tingkahku kepada mertuaku di depan Aisyah dan juga mas Abhi akupun menundukkan pandanganku.


"Tadi bapak sudah lihat nenek dirumah sakit, beliau sudah sadar dan bosa di ajak bicara. Nenek sudah tahu mengenai kedatangan mu dengan istrimu ini, jadi beliau ingin cepat-cepat pulang ingin melihatmu dengan istrimu." Pak kiyai menebarkan senyum yang menyejukkan hati sambil melirik ke arahku.


"Iya, pak."


"Kamu mau berapa lama disini, 1 bulan?" tanya pak Kiyai.


"Tidak sampai 1 bulan sepertinya, karena banyak sekali pekerjaan yang masih belum di selesaikan," kini Abhi mengembangkan senyum terhadap bapaknya.


Mereka bapak dan anak mempunyai perawakan tinggi kekar, hanya saja wajah mas Abhi cenderung lebih ibunya sepertinya, karena wajah mas Abhi lebih ke soft namun gagah, beda dengan bapaknya yang mempunyai wajah tegas namun sebenarnya lembur.


Walaupun mereka tinggi dan kekar, tapi mas Abhi lebih unggul tingginya di banding pak Kiyai.


"Sah, sudah kamu siapkan semua kebutuhan mereka?" tanya pak Kiyai kepada Aisyah.


"Sudah semuanya," jawabnya. Aisyah pun sampai menundukkan pandangannya karena kharisma yang di punya bapak mertua sangat kuat.


"Kalau begitu, saya mau istirahat dulu," ucap pak mertua lalu pergi menuju kamar nya.


"Kalau begitu aku juga mau tidur duluan saja karena sudah ngantuk juga," jawabku lalu pergi sendiri ke atas.


***

__ADS_1


" Aduh gak nyaman sekali, " setelah ku lepaskan BH yang ku pakai beserta jilbabnya.


"Gak apa-apalah sekarang gak pakai juga, besok minta antar beli sama mas Abhi gitu ya?" Tak terasa akupun tertidur hingga ku kembali terbangun ternyata sudah jam 02:00 malam.


"Rasanya haus sekali," akupun beranjak dari kasur bermaksud untuk mengambil minum. Tak kulihat mas Abhi, sampai akhirnya tak sengaja ku temukan mas Abhi di luar teras dapur bersama dengan wanita yang ku kenal, Aisyah.


"Maafkan atas sikapku,mas."


"Aisyah memeluk mas Abhi," Spontan ku tutup mulutku ketika pemandangan yang hampir membuat jantungku copot itu ter pampang nyata di hadapanku.


Aku melangkah mundur seolah tak ingin mereka mendengar kemudian kembali ke kamar.


"Aisyah, wanita itu memeluk mas Abhi?" gumamku.


"Lepaskan, apakah kamu tahu apa yang kamu lakukan. Kita itu bukan muhrim!" pekik mas Abhi kepada Aisyah


"Honey, yang kamu sebut dengan wanita itu adalah istriku." jawab Abhi.


"Mas, sebelumnya kita dekat kenapa sekarang,"


"Aisyah, ilmu mu lebih baik dari istriku. Bagaimana bisa adab mu seperti ini!" pekik mas Abhi dengan kesalnya.


Seolah tak mendengar Aisyah memaksa untuk memeluk mas Abhi bahkan bermaksud menciumnya.


"Astaghfirullah hal'adzim!" teriakku tanpa sadar.


" Assalamu'alaikum, assalamu'alaikum." Bergegas mas Abhi menghampiriku ketika ia telah menyelesaikan shalat malamnya. "Ada apa, kamu bermimpi?" mas Abhi mengambil tissu yang terdapat di meja dan membantuku mengelapi keringatku.


"Apa yang kamu mimpikan?" mas Abhi memberikan air aqua yang tersedia di kulkas kamar.


"Tidak apa-apa, mas." Ku habiskan minuman satu botol sampai tak tersisa sedikitpun.


"Ada apa, cerita saja. Apa yang kamu mimpikan sampai seperti ini." Mas Abhi duduk mendekatiku dengan senyum kecil terkembang di bibirnya, mata mas Abhi begitu sayu dan menyejukkan hati.


"Aku bermimpi aneh," mas Abhi serius mendengarkanku dan memperhatikanku.


"Cerita gak yah?" fikirku.


"Nggak jadi, ah."


"Loh, kok gak jadi. Silahkan cerita saja, mungkin mas bisa bantu, kamu mimpi sampai keluar air mata seperti itu," ucapnya.


"Benar, air mataku keluar begitu saja. Mimpi itu terasa begitu nyata, kenapa, apa aku benar-benar takut kehilangan...mas...Abhi?"


"Hmm?" gumam mas Abhi.

__ADS_1


"Cerita?" aku menggelengkan kepala ketika mas Abhi terus mendesakku.


"Ya sudah, kalau begitu istirahat kembali, mas mau ngaji." Ia mengambil alqur'an dan bersiap melangkah keluar.


"Aku ingin tahu hubungan mas dengan wanita yang bernama Aisyah itu," ku tundukkan kepalaku dan mas Abhi berhenti melangkahkan kaki, ia berbalik mengarah kepadaku kemudian duduk kembali di sisiku.


"Kamu benar-benar ingin tahu, kenapa?"


"Hanya ingin tahu dan tolong jawab jujur. Aku tahu aku tak berhak untuk ini karena perjanjian," belom sempat menyelesaikan pembicaraanku mas Abhi menyelaku.


"Perjanjian, kita sudah suami istri jadi wajar saja seorang istri melontarkan sebuah pertanyaan seperti itu," tukasnya.


"Maaf,"


"Kenapa harus meminta maaf. Aisyah adalah sahabat kecil ku, ia wanita yang ceria dan baik hati. Aku dekat dengannya karena saat masih kecil cuman Aisyah yang aku kenal, itupun karena ibunya Aisyah sahabat ibu." Aku serius mendengarkan.


"Aku tidak tahu benar atau tidaknya. Sudah banyak laki-laki yang di maksudkan untuk di jodohkan dengan Aisyah, tapi Aisyah menolak. Bahkan sempat ibunya Aisyah meminta bapak dan ibu untuk menjodohkanku dengan anaknya."


"Lalu?" saking tak sabarnya akupun meminta jawaban dsri mas Abhi.


"Saat itu aku belum siap sama sekali, jadi mas lebih memilih meneruskan sekolah karena kebetulan mas mendapati beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Karena itu,"


"Mas menolaknya?" jawabku dan mas Abhi mengangguk tanda iya.


"Itu sebabnya sampai sekarang ia maiah menjomblo,padahal mas sudah menikah denganku. Apa jangan-jangan ia menunggu kita cerai?" tanyaku .


"Benarkah?" jawabnya penuh dengan intimidasi. "Kalau begitu kamu mau cerai dengan mas?" aku tak menjawab pertanyaan mas Abhi bahkan aku tak mampu menatapnya. Mas Abhi memang orang kalem di luar sana tapi saat berdua kadang mata nakalnya itu bermain mengintimidasiku sampai aku sendiri jadi tak karuan.


"A, aku bagaimana saja di bawanya oleh lelaki. Sesuai syariat islam, bahwa yang berhak men talak di sebuah pernikahan adalah laki-laki, wanita gak bisa apa-apa" jawabku tak mau kalah, mas Abhi tersenyum kecut mendengar itu.


"Lalu, bagaimana jika memang kita diharuskan berpisah, apa yang akan kamu lakukan" tanya mas Abhi yang seketika itu juga membuat pertanyaan.


"A, aku..."


"Hehe, pernikahan adalah hal yang paling sakral di dalam berumah tangga. Sebelum melaksanakan itu, di butuhkan mental yang matang sebelum kita memutuskan menikah. Jadi tak bisa di buat mainan. Karena, kita akan hidup dengan pasangan seumur hidup kita beserta keturunan-keturunan,"


"Lalu, kenapa mas mau menikah denganku. Padahal kita baru bertemu, apa mungkin karena orang tuaku juga berteman dengan pak Kiyai?" ku taruh jari telunjukku ke dagu seolah sedang berfikir.


"Ehem, mas harus ngaji nanti keburu subuh, kamu tidur lagi atau mau shalat sunat? kalau mau tidur nanti subuh mas bangunkan," dan akupun memilih tidur kembali.


Mas Abhi tak pernah memaksaku untuk mengikuti dan melakukan apa yang ia lakukan, kecuali fardu karena wajib. Akupun di selimuti mas Abhi, lalu ditinggalnya untuk mengaji bersama santri-santri lain.


Dan aku yang baru sadar bahwa tidak memakai BH terus mengobrol dengan mas Abhi.


"Apa yang baru saja aku lakukan, apa mas Abhi lihat?"

__ADS_1


"Aduh bagaimana ini. Ah tidak tidak tidak, mas Abhi tidak melihat, karena dari tadi kami ngobrol ia hanya melihat lurus ke arah mataku tanpa melirik-lirik ke arah lain seperti biasanya. Tu tunggu hanya menatap ke arahku tanpa lirik ke arah lain. Apa jangan-jangan ia sudah sadar sejak tadi hanya saja tak berani menegur hingga ia hanya gokus melihat ke wajahku saja?" gumamku.


"Aduh, bgaimana ini...ba bagaimana ini, dasar Honey bodoh bodoh bodoh," seolah seperti orang gila ku yepuk2 kepalaku, hingga mas Abhi kembalipun aku tak tidur.


__ADS_2