
Malam itu langit mulai menampakkan sisi gelapnya dengan sempurna dan mulai lampu-lampu kecil bertebaran menghiasi dinding-dinging langit. Malam itu cerah tapi tak secerah Andi yang masih terduduk menghadap pantai, ia bangkit dan kembali ke mobilnya berniat untuk pulang.
Di bukanya pintu mobilnya dan duduk bersiap menyalakan mesin mobilnya, ia melirik ke arah samping terdapat tas hitam kecil milik Honey beserta tas bingkisan yang akan Honey berikan kepada Lia. Andi terdiam membeku sambil melihat kepada barang milik wanita yang baru saja di bawa kembali sang empunya nya.
"Ckk...apa yang gue lakukan barusan, dasar bodoh bisa-bisanya Honey mau gue cium...!" Andi menggosok-gosok rambutnya dengan cepat hingga dengan sekilat kini rambut rapi nya acak-acakkan tak beraturan.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Gumam Andi sambil menghidupkan ponselnya berniat menghubungi Honey tapi kemudian ia urungkan. Ia lemparkan ponselnya ke tempat duduk di belakang kemudian terdiam memejamkan mata sambil merebahkan diri ke punggung kursi mobilnya.
Sementara di perjalanan mobil melaju dengan kecepatan 100km/ jam fi jalan bebas hambatan itu ( jalan tol ). Mas Abhi menyalip kendaraan demi kendaraan yang berada di depannya. Ingin rasanya aku berkata " mas kurangi kecepatan takut celaka...!" tapi bibir ini tak sanggup lagi berucap, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Mas Abhi marah besar, bisa ku lihat dengan tatapannya tadi. Mungkin saja mas Abhi mengetahui kejadian kami berdua tadi di pesisir pantai. Aku yang paling suka melihat cahaya lampu2 jalanan pun tak ku hiraukan untuk saat ini, apa yang akan terjadi nanti, apakah mas Abhi benar-benar marah yang ada di kepalaku adalah perilaku yang akan mas Abhi tunjukkan kepadaku, apakah ngamuk, atau hanya marah saja atau akan biasa-biasa saja. Entah semua rasa bercampur aduk dalam fikiranku hingga tak sadar kami sampai di sebuah hotel mas Abhi keluar dari mobil dan tanpa menunggu mas Abhi membukakan pintu mobil untukku yang memang sudah biasa mas Abhi lakukan kepadaku, kini aku keluar sendiri membuka pintu sendiri.
Aku heran dan bertanya-tanya kenapa nas Abhi mengajakku ke hotel bukan malah ke rumah. Ia berjalan masuk kini tanganku di seretnya agar mengikutinya.
"Mau kemana, mas?" tanyaku yang tentu saja jangan berharap akan di jawab mas Abhi tanpa sepatah katapun tetap membawaku hingga di depan tempat pendaftaran. Setelah selesai mengurus semua mas Abhi kini membawaku ke atas lantai 42 nomer 208.
Cekrek....pintu di buka.
"Mas...," mas Abhi melemparku hingga aku terduduk di atas kasur.
"Apa yang ingin kau jelaskan, jelaskanlah?" kata mas Abhi setelah pintu hotel tertutup.
"Kenapa mas Abhi membawaku kemari," tanyaku yang tentu saja bukan ini yang ia ingin dengar.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak masuk kerja, kemana saja seharian ini?" desak mas Abhi.
"Aku hanya sedang malas saja," jawabku enteng.
"Aku menelpon Lia untuk bertemu sekalian memberikan bingkisan yang di beli saat di London, setelah itu aku berniat kembali ke kantor . Tapi Lia tak kunjung datang dan yang datang malah Andi, ia mengajakku jalan-jalan mungkin karena dia tahu mood ku sedang tidak bagus," jelasku pada mas Abhi yang masih saja berdiri.
"Dengan Andi yang bukan mahram mu, seharian?"
"Lalu bagaimana dengan mas Abhi, apakah tidak apa-apa berjalan dengan yang bukan maram dengan alasan berbisnis melayani klien?" aku merasa tertantang saat mas Abhi berkat seperti itu.
"Aku tidak pernah berdua dengan yang bukan mahramku," jawab mas Abhi.
"Benarkah, lalu bagaimana dengan saat mas dengan Aisyah waktu itu berduaan jalan di sepanjang mall dengan berkata pada Aisyah kalau aku adalah teman mas, bukan istri mas...!" teriakku kini air mataku mulai membanjiri kedua pipiku.
"Lalu, bagaimana dengan mas Abhi mengantarkan Aisyah ke pondok hanya berdua saja, apakah itu yang di namakan bukan mahramnya..!"
"Selama aku belum sah dengan seorang wanita, aku tidak pernah berduaan dengan yang wanita. Aku mengantarkan Aisyah ke pondok bersama pak Tarno, aku pun jika meeting dengan klien wanita akan selalu ada perwakilan dari kantor laki-laki untuk menemaniku. Di mall uyang kau sebut-sebut berdua disana ada Andi menemaniku hanya dia sedang membayar makanan yang kita makan di sebuah restoran. Bahkan aku kerumah mu pun dengan bapakku tidak berdua saja. Sedang kau?" mas Abhi tak meneruskan omongannya.
"jadi, mas menuduhku dengan Andi hanya karena suatu hal yang mas lihat tadi, kau mencurigaiku?"
"Nyatanya yang ku lihat seperti itu, Han." jawab mas Abhi, bagai di sanbar petir hatiku hancur se hancur-hancurnya mas Abhi mengatakan hal itu ibarat sudah tidak ada lagi kata percaya di matanya.
"Lalu, tanpa mas mau mendengar penjelasanku?"
__ADS_1
"Seorang wanita beriman tahu bagaimana cara menjaga kehormatannya di saat imam nya tidak ada di sisinya dan mampu menjaga pandangan terhadap yang bukan mahram nya. Aku bahkan tidak berani menerima makanan yang susah payah Aisyah hidangkan karena kamu pergi begitu saja." kekecewaan mas Abhi terlihat dari raut wajahnya yang tak ingin melihatku.
"Bagaimana bisa kamu membahas tentang wanita yang pernah begitu dekat dengan mu di depanku istrimu,mas. Lalu membahas apa yang terjadi tadi pagi?" mas Abhi terdiam ia tak menjawab.
"Kita pulang kerumah aku akan mengantarkanmu pulang," kemudian hanya sebentar kami berdebat di hotel itu mas Abhi memgajakku kembali pulang ke apartemen.
"Aku dan Andi tidak ada hubungan apapun, aku bahkan tak menganggapnya sebagai seorang lelaki karena ia sepupumu, mas."
"Seharusnya saat kejadian di kamar mandi itu, kau harunya sudah sadar dan mulai menjauhinya, Han hingga tak akan ku lihat pemandangan seperti itu. Kau tidak tahu betapa hancurnya aku sebagai seorang imam sekaligus suamimu melihat hal itu, bagaimana jika pemandangan itu kau lihat aku dengan Aisyah?"
"Mas ingin seperti tadi bersama Aisyah, apa begitu yang mas mau... jadi Aisyah memang tidak pernah mati di hati dan fikiran mas pantas saja saat Aisyah di suruh pulang mas tidak mau." Aku kembali memanas mendengar ucapan dari suamiku padahal bukan itu yang di maksud mas Abhi.
Mas Abhi tak menjawab apapun untuk membalas kata dariku, ia pergi diikuti denganku. Setelah sampai di apartemen Aisyah sedang duduk di kursi meja makan, ia berdiri ketika melihat kami sampai dan masuk ke dalam apartemen. Kulihat ia memegang sebuah kertas HVS di tangan kanan nya, ku lihat dengan sesama seperti aku mengenalnya.
"Mas..." ucap Aisyah lalu menyodorkan HVS yang kami ketahui sebuah perjanjian yang seharusnya aku buang karena sudah tidak berlaku. Aisyah mendekati kami, ia menyerahkan kertas itu pada mas Abhi hingga mas Abhi melihatnya tapi tak ada respon.
"Sudah habis waktunya, kami akan berpisah..." kata mas Abhi tanpa ekspresi.
"A, apa maksud mas?" tanyaku.
"Aku dan kamu sudah selesai sesuai perjanjian berakhirnya di kertas ini, kita sudah terlalu jauh ikut campur mengenai kehidupan satu sama lain."
Mulutku menganga, mataku kaku terfokus hanya pada wajah mas Abhi berharap bahwa ini hanya sebuah prank, ia menatapku dalam dan dingin tidak ada tatapan hangat nan sendu yang selalu ia tujukan kepadaku, aku terdiam.
__ADS_1