
Pagi ini adalah hari pertamaku masuk setelah sepekan lebih libur, sudah pasti segudang pekerjaan menumpuk. Benar saja, di meja kerjaku beberapa file yang menumpuk dengan tidak rapih menggunung, aku sampai melongo melihat kondisi mejaku yang tidak tertata rapi seperti sebelumnya.
"Bagaimana bisa mejaku seberantakkan ini," pekikku kesal.
Aku ke ruang kerjaku duluan sedangkan mas Abhi langsung menemui klien untuk membahas sesuatu, aku menolak untuk ikut karena memang sedang tidak mood juga karena masih ingat kejadian di pondok.
Kulihat terselip kertas memo warna merah yang di himpit oleh tumpukkan file disana.
"Kerja yang bener usahakan jadi sekertaris teladan agar bisa membeli barang branded, hahahah," di sisi kanan bawah tertulis nama Si keponakan tersayang tantenya Andi.
"Anak ini, awas aja kamu kalau kita ketemu!" pekikku dalam hati. Tak lama bu Mastani datang menghampiriku menawarkan bantuan untuk membereskan semua kekacauan ini. Selama kami pergi ke Cirebon bu Mastani ataupun karyawan lain tak berani masuk ke ruangan kami tak terkecuali OB di kantor ini, karena sudah peraturan dan juga di tambah Andi lah yang memberikan peraturan itu karena itu setiap ada laporan dan file yang harus di serahkan, Andi sendiri yang menyimpannya. Padahal kalau di fikir, letak kantor kami cukup memakan waktu belum lagi macet " apa dia gak cape bolak-balik terus mengurus dua kantor?" gumamku.
"Tidak usah repot-repot, bu. Ini biar saya saja yang beresin," kucoba menolaknya secara halus karena tidak enak kalau bun Mastani yang harus bantu.
"Tidak apa-apa,bu. Saya juga tidak ada pekerjaan lain alias sedang nganggur," memang bu Mastani ini orangnya tekun dan tidak mau diam. Di kantor ini tidak jarang bu Mastani juga ikut membereskan meja-meja teman se pekerjaannya yang tidak rapi, entahlah mungkin bawaan karena sudah tua atau memang kebiasaannya seperti itu.
" Karena biasanya kan kalau sudah berumur seperti itu gak mau diam,heheh."
Pada akhirnya kami berdua pun mulai membereskan semua kekacauan di ruanganku dan juga mas Abhi.Menyusun semua dokumen dan file sesuai urutan jadwal dan di beri cover yang berbeda warna dan juga di tulis jam dan hari untuk memudahkan saat mengambilnya agar tidak tertukar.
Ku serahkan sebagian pekerjaan kepada bu Mastani karena aku harus membereskan ruangan mas Abhi. Sebelumnya bu Mastani ku ajak untuk ikut membereskan ruangan mas Abhi tapi ia menolak halus karena tidak berani.
"Ruangan mas Abhi tidak terlalu berantakan seperti ruanganku, mungkin karena letak ruanganku di luar atau karena ini ruangan khusus bos jadi gak ada yang berani masuk," gumamku.
__ADS_1
Ku bereskan semua alat tulis yang tersimpan berserakan di atas meja,ku bukakan tirai yang masih menutupi ruangannya agar cahaya matahari masuk ke dalam ruangan dan tidak lembab. Ku nyalakan AC agar terhirup udara segar saat mas Abhi masuk ruangan nantinya.
Bukk.... selembar kertas terjatuh saat mencoba membersihkan lemari di atas menggunakan kemoceng.
"Apa ini?" ku angkat selembar kertas segi empat berukuran 3R itu yang ternyata kertas foto ku balikkan foto itu dan betapa tersentak hatiku, tubuhku serasa di sengat oleh kejut listrik, tanganku bergetar tubuhku serasa lemas, dadaku sesak seketika. Disana terdapat gambar suamiku mas Abhi dengan wanita lain berdampingan mengumbar senyum bahagia, wanita itu tidak lain adalah Aisyah.
"A, aisyah!" Bak disambar petir, aku tidak tahu harus bagaimana kakiku lemas hampir terjatuh.
Andi yang saat itu entah sejak kapan berada disana menahan tubuhku agar tidak jatuh. Andi dengan sigap buru-buru menyenderkanku ke sofa yang tersedia di ruangan mas Abhi.
"Sejak kapan, apa kau tahu semua ini dari awal?" ku lontarkan pertanyaan pada Andi yang ada dihadapanku.
"Aku membencimu!"
"Lepaskan!" Dengan segenap tenaga ku ayunkan tanganku agar terlepas dari genggamannya tapi apalah daya besarnya kekuatan wanita tak sebanding dengan lelaki sekalipun lelaki itu bertubuh kecil, apalagi Andi yang mempunyai perawakan yang ideal.
"Han, dengar dulu. Han," Andi menahanku, menyudutkanku ke sisi ruangan hingga tubuhktu terhimpit diantara dua dinding.
"Aku tidak butuh penjelasanmu, lepaskan aku, Andi!" percuma saja dari luarpun sekencang apapun suaraku tidak akan sampai pada karyawan yang sedang sibuk mondar mandir mengurusi pekerjaan mereka masing-masing, tak terkecuali bu Mastani yang sudah dari tadi tidak ada di tempat karena ruangan mas Abhi kedap udara.
"Aaaaaaa!!!" aku berteriak sejadi sekencang-kencangnya aku kecewa aku menangis, dadaku sesak hatiku sakit rasanya, aku menangis di pelukkan Andi, ku pukuli dada Andi tapi ia tetap kokoh berdiri di hadapanku lalu merangkul dan menelukku dengan erat seolah bisa merasakkan rasa sakitku.
Aku tidak tahu pasti apa yang dimaksud dengan foto itu, tapi mereka terlihat bahagia. Mereka tertawa bersama seolah tidak ada beban, di sebuah taman entah kebun bukan di indonesia, sepertinya di luar kota entah luar negeri.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan, apa yang sebenarnya yang aku tidak tahu?" fikiranku kacau, Andi masih mencoba menenagkanku.
Cekrek.... Pintu terbuka, mas Abhi kembali. Ia tersentak kaget saat melihat Andi memelukku.
"Apa yang kalian lakukan!" Suara keras yang mas Abhi lontarkan, yang selama pernikahan tidak pernah ku dengar nada tinggi darinya. Ia memisahkanku dengan Abdi, ia mendorong Andi hingga tersungkur di atas kursi, mas Abhi hampir memukul Andi sampat ku cegah mereka.
"Hentikan!"
"Jangan lukai Andi, ia tidak bersalah." Ku berlari ke arah Andi agar mas Abhi tidak memukulnya. Mata mas Abhi yang selaku terlihat sayu menyejukkan seketika itu berubah menjadi merah, wajahnya yang putih kini seperti udang rebus, kedua alisnya terkerut giginya ia katupkan menahan amarah.
"Awas, Honey atau kau akan..."
"Pukul saja aku, jangan Andi!"
"Jangan membelanya atau selama ini kau ada hubungan terlarang dengannya!" Bak di sulut api tak tahu apa yang harus kulakukan.
"Apa yang mas lakukan, jangan sakiti Honey," kini giliran Andi yang pasang badan di depanku takut mas Abhi berbuat apa-apa, tatapan mas Abhi yang biasa kulihat begitu lembut kini berubah saat marah, aku takut, kakiku bergetar melihatnya,lemas.
Mas Abhi mencengkram tanganku lalu menyeretku ke luar, entah akan di bawa kemana diriku ini, kami menaiki lift sampai kami kini berada di atas gedung kantor ini. Aku berdiri mematung, mas Abhi mencoba meminta penjelasan tapi aku menghindarinya.
"Apa yang terjadi, kenapa kau bisa berpelukkan dengannya, Honey! kau ini istriku, istri sah ku apa kau tidak malu melakukan ini dengan keponakanku dendiri!" Suara mas Abhi seolah memecah keheningan di atas gedung.
Kulemparkan foto ke arah mas Abhi agar ia mengambil dan melihatnya. Benar adanya, ia mengambil kertas foto yang tergeletak di bawah kakinya lalu ia melihatnya. Seketika ia mematung, tak bersuara, lagi-lagi mengerutkan kedua alisnya, membulatkan matanya,seolah memastikan apa yang ia lihat itu.
__ADS_1