
Semua orang yang ada di kampungku sudah mulai sibuk. Aku lebih memilih pulang ketibang jalan-jalan, karena tahu ibu pasti sudah mulai sibuk.
"Aduh,berat sekali. Dek..., bawakan kaka ini," Ririn segera beranjak keluar membantuku membawakan kantong belanjaaan yang di belanjakan Sandy semalam.
"Banyak sekali belanjaan nya, kak. Berat lagi," Ririn tertatih membawa salah satu kantong yang isinya memang berat.
" Udah bawa sana, kakak juga lebih berat. Nih!" Adikku Ririn dengan tubuh kecilnya membawa satu kantong berat dengan tertatih masuk rumah.
"Han, udah pulang?" teriak salah satu tetangga yang sedang membantu kerja bakti di halaman rumah.
"Anak perawan baru pulang, kerja apa ya?" ku dengar bisikan dari salah satu tetangga kepadaku.
"Hush, itu bukan urusan kita udah jangan hiraukan kerja saja mendingan." Salah satu teman mereka mengingatkan. Aku yang mendengar itu tak menghiraukan nya.
"Bodo ah, gak minta makan sama mereka ini." Gumamku dalam hati sambil masuk ke rumah, walau sebenarnya agak sedikit jengkel. ingin rasanya ku timpali dengan kata-kata yang riskan.
"Assalamu'alaikum...!" Aku langsung pergi ke kamar dan merebahkan diri setelah menyimpan kantong belanjaan.
"Aduh, anak perawan ibu sudah pulang to nak." Ibu langsung masuk ketika melihatku terlentang di atas kasur.
"Plak!"
" Anak perawan gak boleh tidur ngangkang begitu," ibu memukul paha mulusku.
"Aduh sakit bu, inikan asetku bu jangan di pukul. Tuh kan jadi merah," aku merajuk sambil mengelus-elus pahaku dan kembali duduk.
"Aset apa to nak, paha kok aset. Aset untuk calon imam mu iya kan?" Tanya ibu sambil mengelus paha ku yang memerah.
"Kak, bawa apa itu?" tanya Ririn.
"Oh, ini? Nih kantong ini untuk kamu," Ku berikan kantong yang bewarna pink yang berisikan gamis baru dan juga sendal baru.
"Yang ini untuk ibu," Ku berikan sama dengan adikku cuman di tambahkan dengan ciput untuk daleman kerudung. Kulihat ciput ibu sudah tidak layak pakai.
"Wah..., kaka abis gajian ya belanja segini banyak nya?" tanya Ririn.
" Iya nak, uang dari mana, kamu kan baru satu minggu kemarin uang gajinya di kasihkan ke ibu?" ibu pun ke heranan.
"Udah pakai saja, Han punya temen yang baik kebetulan Han juga ikut arisan jadi pas Han menang sebagian Han belanjakan kemudian di tambahin temen kekurangannya," aku mencari alasan agar ibu tidak curiga kalau semua itu dari hasil menggaet cowok tajir.
"Masa iya kak, baik banget temennya. Eh tapi, temen apa demen...?" Rayu adikku. aku yang sedikit panik mencoba menarik baju Ririn tapi sayang ia keburu pergi ke kamar untuk mencoba bajunya setelah bilang terima kasih.
"Ya udah nak, ibu mau bantu-bantu dulu beresin pekarangan rumah. Soalnya nanti malam kata bapak pak kiyai dan anaknya mau datang.
"Hah, kata ibu kan besok, gimana sih ibu ini," aku sedikit bete karena pasti rumah ini akan ramai.
__ADS_1
"Iya tadi ibu lupa kalau pak lurah bilang pak kiyai nya bisa hari ini sampai, kalau gak sore ya malam, begitu ibu dengarnya. Terus nanti kamu bereskan kamar ini, kamu bawa beberapa baju ke kamar adekmu untuk kamu ganti. Karena tamu nanti tidurnya disini" Ibu menjelaskan kemudian pergi setelah menaruh makanan yang aku bawa.
"Tapi bu, kenapa harus kamar Honey, kalau tahu gitu Han gak usah pulang saja!" teriakku kepada ibu yang sudah pergi keluar.
Aku pun kembali membaringkan tubuhku, di kasur sebelum membereskan rumah dan kamar untuk menginap anaknya pak kiyai Asrori.
"Kalau anaknya menginap disini, kamar ini harus di beresin. Aduh males banget," pekikku.
***
Malam pun tiba, aku sudah mengambil baju tidur dengan segala make up yang aku butuhkan untuk nanti kalau mau tidur harus membersihkan dulu wajahku.
Jarum jam sudah menunjukkan ke angka 7, ada beberapa mobil yang datang ke halaman rumah sepertinya untuk parkir. Kulihat ada mobil avanza hitam 2 dan 1 mobil alphard, sepertinya di mobil alphard pak kiyai dan anaknya itu.
"Han, tolong ibu sebentar simpan aqua gelas ini di meja depan," panggil ibu, aku pun meng iyakan dan langsung pergi menemui ibu.
"Bu, itu sepertinya pak kiyai dan anaknya sudah sampai," Bisikku.
"Benarkah, aduh gimana yah. Ibu gimana dandanan nya udah rapi belum?" Tangan ibu sambil merapikan pakaian dan kerudung syar'i yang aku belikan tadi.
"Iya, ibu gak dandan aja cantik apalagi sekarang pakai baju balu," rayuku sambil mencolek gadu ibu.
"Kamu ini, sopan sedikit sama orang tua" Ibu menyimpan kue ke dalam piring.
"Tapi bu, kenapa pak kiyai harus kerumah ini ya?" ibu ngeloyor saja mengacuhkan pertanyaanku sambil mengikuti ibu dari belakang.
***
"Iya, kita sudah lama sekali tidak bertemu," Bapak mempersilahkan pak kiyai itu duduk. Perawakan kiyai tidak terlalu tua juga, seperti bapakku. namun dia tinggi dengan jenggot dan rambut putih yang rapi di tutupi peci nya.
Yang aku risihkan ketika melihat orang di belakang pak kiyai itu, sesosok lelaki yang tinggi, sangat tampan dengan kulit bersih putih, hidung mancung seperti orang arab dengan bulu mata lentik seperti memakai eyelash ( tanam bulu mata).Dia tersenyum menyalami ibu dan bapakku, aku masih terdiam mematung tak merespon sampai saat lelaki tampan itu menyapaku dengan senyum dan dengan salam secara islam kepadaku.
"Itu, cepet kasih minum nya, dan senyum," ibuku menyiku tanganku memberi tanda.
"Maafkan anak saya ya," ibu meminta maaf karena sikapku yang tidak sopan. Akupun menaruh aqua gelas lalu duduk di sebelah bapak tanpa melihat ke arah lain, mataku tertuju kepada lelaki tampan itu.
"Tampan sekali, baru kali ini aku menemukan lelaki setampan dia. Enak sekali di pandangnya,"gumamku dalam hati.
Tanpa sadar bapak memelototiku ketika aku sadar memalingkan wajahku ke arah bapak.
"Kamu ini, cepet masuk!" perintah bapak dengan berbisik karena takut terdengar pak kiyai dengan anaknya.
"Eh, oh iya maaf, hehehe." Akupun sadar dengan lamunanku lalu pergi ke dapur menemui ibu dan Ririn.
Ku dengar pak kiyai tertawa melihat tingkahku dan bapak yang sedikit malu akan kelakuanku.
__ADS_1
"Kamu ini Han, jangan begitu sama anak pak kiyai gak sopan." Ibu memperingatiku tapi dengan senyum tipis.
"Ah kata siapa bu, biasa aja tuh gak ganteng-ganteng amat. Temen Honey aja ada juga yang lebih ganteng dari dia," pekikku berlalu pergi ke luar di temani Ririn.
"Dek, bantu kakak ambilin pisau." Perintahku setelah duduk di belakang dapur lalu menaruh kue yang mau aku makan.
Dret...dret... sebuah pesan datang.
[Han, sedang apa?]
Kulihat sebuah pesan Whatshap dari Sandy.
[ sedang sibu, sand.] jawabku
[ Aku kangen banget sama kamu, kamu kangen gak sama aku?]...
[ iya sama ]...
[ Besok aku pulang, nanti kita ketemu yah. Aku bawa oleh-oleh buat pacarku yang cantik ]
[ besok? ] tanya ku memastikan.
[ iya ] jawab Sandy.
[ oke, ]
"Sepertinya besok akan beres, aku bisa ketemu Sandy." Gumamku lalu menyimpan kembali Hp ku ke kantong.
"Maaf, kamar mandi dimana ya?"
"Astaghfirullah...! Uh kaget aku, ada apa!" aku membalikkan badanku ke belakang memastikan siapa yang bertanya. Betapa kagetnya ternyata yang bertanya adalah anak kiyai.
"Bagaimana ini, anak kiyai!" pekikku dalam hati.
"Oh, itu ada di dalam dekat pintu menuju dapur ada pintu warna biru," jawabku.
Ia pun mengangguk lalu tersenyum, seketika menusuk jantungku. Rasanya jantungku berhenti berdetak sebentar.
"Terima kasih, ia membalikkan badan dan pergi menuju kamar mandi yang aku tunjukkan tadi,"
"Duh, gantengnya..." aku bersiap duduk kembali sampai ku dengar suara lembut laki-laki itu kembali.
"Maaf, ini pisaunya. Tadi adikmu menitipkan ini untuk di berikan..." Lelaki itupun memberikan pisau itu kepadaku, akupun menerima nya. Dia pun kembali pergi, setelah di rasa sudah ku pastikan ia sudah pergi ke dalam dan masuk ke kamar mandi,aku kembali duduk.
"Hampir saja," aku mengusap-usap dadaku. Kemudian memotong kue dan memakannya.
__ADS_1
Bersambung.....