
Cincin telah terpasang di jari tengahku,karena di jari manis kelonggaran. Kini aku sudah resmi menikah, kini aku telah di persunting oleh anak dari seorang kiyai tersohor.
"Aku adalah wanita nakal, tak pantas rasanya jika harus bersanding dengan anak dari seorang kiyai, apakah bisa?"
Kini, aku berada dalam satu kamar. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 subuh, lelaki itu beranjak dari duduknya untuk menunaikan shalat subuh, ia pergi bersama bapaknya menuju masjid. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. Akupun kembali menangis atas apa yang telah terjadi.
"Seandainya aku tidak perlu diam-diam mengambil dalamanku, sendainya aku tidak mengambilnya. Harusnya aku tidur saja di kamar adikku tidak usah keluar, semua ini tidak akan pernah terjadi," terbayang kembali raut wajah bapak dan ibukku yang kecewa termasuk adikku Ririn. Sakit sekali rasanya hatiku, kecewa karena ibu dan bapak tidak mempercayaiku. kecewa karena lelaki itu tidak memperjuangkan kebenaran.
***
Matahari sudah mulai meninggi, ku dengar seseorang membukakan gorden dan membukakan jendela sehingga sinar matahari masuk tepat ke arah wajahku. Akupun sedikit menyipitkan mataku.
"Aduh, bisa kau tutup lagi jendelanya aku masih ngantuk." Perintahku pada lelaki itu. Dia tidak menggubrisku sampai aku bangun dan mengumpulkan nyawa. Saat aku mau bangun dia mendekatiku, aku sontak menutup kan badanku dengan kedua tanganku.
" Abhi, namaku Muhamad Abhizar Albiru. Sekarang aku adalah suamimu maka taati aku." Jelasnya, kini wajahku dengan lelaki ini berdekatan sekali.
"Kini aku dapat melihat wajahnya dengan baik. Bulu matanya begitu lentik, hidungnya yang mancung seperti orang arab dengan tatapan matanya yang begitu sendu namun dapat meluluhkan setiap wanita," Aku segera mengedipkan mataku, dan memalingkan wajahku darinya takut dia tahu wajahku memerah.
Ku alihkan pandanganku ke arah jendela, menatap silaunya cahaya matahari yang masuk menembus ke berbagai sudut kamar.
"Benar, kini aku sudah menjadi seorang istri. Hanya dalam satu malam saja, aku kini berbeda status," Fikirku. Aku segera bangun dan alangkah kagetnya ketika ku lihat bercak merah yang menempel di sprei yang aku tiduri.
"A, apa itu...apakah itu," ku selidiki dengan seksama dan ku lihat dengan teliti.
" Iya, itu darah. Benar itu darah! bagaimana bisa hanya dalam semalam aku dan dia sudah..." Fikiranku dan perasaanku tak tentu kaget dan merasa tidak mungkin. Seketika itu amarahku memuncak, tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ingin sekali aku mengumpat sekarang juga, tapi terasa sebuah tangan melingkar di pinggangku.
"Lepaskan aku, bajingan!" amarahku yang masih memuncak menyebabkan tanganku reflek menyikut perutnya. Aku mencoba melepaskan diri hingga ia memegang tanganku dan mengarahkannya untuk memegang handuk yang lingkarkan di pinggangku.
"Pakai ini, sepertinya kamu sedang ada tamu tak di undang," bisiknya dengan lembut.
Alangkah kagetnya aku setelah sadar ku mengaca dan benar saja, darah datang bulanku sudah menembus ke baju tidurku. Saat aku sadar, segera ku lihat dia sedang mengusap-usap perutnya. Sepertinya kesakitan karna tadi aku beberapa kali menyiku perutnya, karena aku kira dia mau melakukan hal yang tak senonoh.
"Sakit?" tanyaku ketika melihat ia mengelus perutnya.
"Sedikit," dia menjawab lalu menebar senyumnya.
"Maaf, aku kira kau mau melakukan sesuatu hal yang..." kataku tersendat sampai sana, tak habis fikir rasanya kalau aku curiga pada anak seorang kiyai.
"Tidak apa-apa," jawabnya.
__ADS_1
Akupun segera berlari menuju kamar mandi, ku lihat bapak sedang menonton tv dan ibu sedang sibuk di dapur sedang Ririn adikku sudah berangkat sekolah.
Buru-buru aku tutup pintu kamar mandi lalu menguncinya.
"Dasar bodoh, bagaimana bisa ini terjadi." Akupun mulai membersihkan diri.
***
dret...dret....
[ Yank, hari ini kita jadi ketemu yah. Aku membawakan sesuatu untukmu, pokoknya hadiah special ]
Setelah selesai, akupun masuk kamar dan menyuruh dia untuk pergi keluar.
"Aku mau ganti pakaian, bisakah kamu keluar dulu?" akupun menyuruhnya keluar sebentar.
Ku periksa pesan kali saja ada yang WA aku.
Tok...tok...tok
"Han," panggil ibu dari luar.
"Kamu nanti keluar, kata bapakmu ada yang mau di bicarakan," Ibupun pergi setelah ku jawab iya.
***
Kulihat bapak sedang duduk bersama dengan Abhi yang kini menjadi suamiku, kelihatannya mereka serius.
Akupun menghampiri mereka dan duduk di sana, agak berjauhan dengan bapak. Karena aku tahu bapak masih marah terhadapku atas kejadian semalam. Cukup lama kami diam hingga Abhi mulai membuka percakapan.
"Ada apa ya pak?" tanya nya.
"Begini, bapak minta maaf atas sikap bapak semalam dan juga bapakmu. Kini semua sudah terjadi, jadi kalian ataupun bapak dan bapakmu kiyai Asrori harus bisa ikhlas. Mau tidak mau, suka tidak suka kalian berdua pun harus bisa menerimanya dan mulai membiasakan diri kalau sekarang hidup kalian tidak sendiri lagi." Bapak mengambil kopi dan menyeruputnya.
Aku hanya terdiam dan menunduk. "Percuma saja berbicarapun, yang ada bapak nanti marah lagi," pekikku.
"Nak Abhi, bapak titip anak bapak. Honey anaknya memang susah di atur, tapi bapak sangat menyayanginya. Honey anak bapak, kini bapak serahkan semua tanggung jawab bapak kepada nak Abhizar.
Bapak menahan rasa sedihnya dengan sesekali menahan kata-katanya agar tidak meluap rasa sedihnya, ku coba memberanikan diri melihat wajah bapak. matanya sendu, ada air yang tertahan di matanya. Akupun mulia berurai air mata, aku tidak ingin sama sekali meninggalkan bapak dan ibu, aku belum siap.
__ADS_1
"Pak," omonganku tertahan karena menangis. Aku tak kuat saat melihat itu, ibu memelukku. Akupun menangis sejadi-jadinya di pelukan ibu.
"Ibu titip anak ibu ya Honey, jangan sakiti Honey, sudah cukup Honey selalu menderita karena harus bekerja keras banting tulang untuk membiayai kehidupan kami, dia pula yang membiayai sekolah adiknya Ririn. Ibu memelukku dan perkataannya sesekali terhenti tertahan karena tangisannya.
"Baik bu, pak. Saya akan mencoba bertanggung jawab atas semuanya terhadap Honey. Biaya sekolah adik Honey akan saya tanggung juga, dan biaya kehidupan bapak dan ibu.
"Tidak usah, bapak juga masih bisa kerja walaupun serabutan. Bapak hanya minta kalian bisa saling menjaga, mengerti jangan saling menyakiti.
"Begitupun Honey, kini kamu sudah sah dan resmi menjadi seorang istri. Hidup kamu sudah tidak sendiri lagi, kamu harus nurut dan taati suamimu jangan membantah, panggil nak Abhi dengan sebutan yang sopan,boleh memanggilnya dengan sebutan mas atau apapun yang penting sopan" Kata bapak kepadaku.
"Mas saja, pak." jawab Abhi, akupun memeluk bapak dan menangis sejadinya.
"Maafkan Honey pak!" cukup lama aku dan bapak menangis. Mas Abhi yang kini menjadi suamikupun hanya terdiam menonton kesedihan kami.
Sampai akhirnya semua selesai, sudah di putuskan bahwa aku akan ikut dengan mas Abhi karena kini aku telah menjadi istri sah nya.
Akupun bermaksud kembali ke kamar untuk membereskan sprei yang tadi terkena noda darah.
"Bu!" bukan maen aku kagetnya ketika melihat ibuku sudah menggantikan sprei.
"Han, kamu sudah mau ngasih cucu sama ibu ya?" Ibuku sambil ngeloyor ke dapur untuk mencuci sprei.
Aku bermaksud menjelaskan kepada ibu bahwa itu bukan darah perawanku tapi terhenti karena ada telpon masuk.
"Halo,"
"Han. Dimana kamu gak kerja?" Lia menelponku.
"Nggak, aku sudah izin gak masuk kerja selama dua hari. Kenapa emang?"
"Si Sandy nyusul kamu ke tempat kerja, kebetulan kami teman sekantor makan siang di cafe tempat kamu kerja karna itu tadi aku lihat Sandy. Pas aku tanyakan pada Rian katanya cari kamu." Jelas Lia.
"Lalu Rian bilang apa?" tanyaku penasaran
"Rian bilang kamu lagi izin ada kepentingan keluarga. Terus katanya Rian menyarankan menelpon kamu, tapi katanya WA kamu gak di bales, telpon kamu gak di angkat. Ya udah aku mau kembali ke kantor,nanti kita ketemu yah pulang kerja," Lia pun menutup telponnya sebelum ku jawab ajakannya.
"Wa, telpon.Aku bahkan tidak tahu kalau ada yang menelpon atau kirim WA," ku buka kembali Whatsap tidak ada WA dikirim dari Sandy.Tapi kalau telpon ada 6x panggilan tak terjawab.
Bersambung...
__ADS_1