
"Maaf yah, rencana untuk satu minggu gagal karena Andi bilang mau jenguk mama nya yang sedang sakit. Jadi di tunda dulu honeymoon nya," ucap mas Abhi sambil merangkulku saat kami duduk berdekatan di salah satu restoran yang tersedia di dalam area bandara.
"Sebenarnya aku masih betah, masih ingin liburan. Tapi, karena kasian juga sama Andi yang ibunya sedang sakit akupun mau gak mau mengalah," bathinku.
"Honey...!!" terdengar teriakkan seorang pria yang ku kenal memanggilku.
Aku dan mas Abhi spontan menengok ke belakang memastikan siapa yang memanggilku.
"Hendra...!?" bathinku. Ia melambaikan tangannya seraya mendekatiku dan entah ada angin apa tiba-tiba mas Abhi kini menurunkan tangannya lalu mendekapku melewati pinggangku aku sontak melirik ke arahnya.
"Hei, kalian sedang makan disini, kalian baru pulang yah?" kini Hendra duduk di kursi makan kami sebelah ku.
"Iya kami tidak sempat makan tadi jadi makan disini," jawabku.
"Wah kebetulan sekali akupun sama pulang ke Indonesia hari ini,"
"Kamu sendiri saja?" tanyaku karena ku lihat selain Hendra yang masuk ke dalam tidak ada orang lain yang mengikutinya dari belakang atau menyusulnya.
"Heee..., iya cuman sendiri."
"Pak Abhizhar belum mengambil makanan, biar saya duluan kalau gitu. Eh Han, lu...eh maaf maksudnya kamu juga belum makan yah biar sekalian aku ambilkan."
"Tidak usah...!! biar aku sendiri yang ngambil," jawab mas Abhi.
"B-biar nanti aku saja yang ambil sendiri," jawabku akan segera beres semuanya.
Entah kenapa tiba-tiba saja mas Abhi bersikap seperti itu padahal sebelumnya dia baik-baik saja.
"Jangan-jangan apa karena dia cemburu?... ah gak mungkin mas Abhi itu kan termasuk orang yang kalem. Tapi kalau tidak apa-apa masa pas ada Hendra saja dia seperti itu dan ke rekan bisnis lainnya tidak seperti itu?" Bathinku.
"Atau jangan-jangan... mas Abhi tahu kalau dulu kami....,"
Setelah beres aku mengambil makanan beserta dessertnya kamipun mulai makan.
"Dulu aku dan Honey berteman saat SMP,"
Kulihat mas Abhi masih asyik dengan menu yang ia makan, sedangkan aku yang seolah was-was jangan sampai hal yang di takutkan di katakan Hendra.
"Kami juga sempat pacaran, iya kan Han...,"
"Triingg... sebuah sendok yang sedang aku suapkan ke dalam mulutku karena memakan dessert tiba-tiba jatuh. Ibarat sedang meriang, keringatku bercucuran tapi tidak dingin, wajah dan tubuhku terasa panas padahal sudah jelas di dalam restoran begitu dinginnya,"
__ADS_1
Mas Abhi dan juga Hendra langsung menancapkan mata mereka kepada diriku yang menjatuhkan sendok.
"Ma, maaf..." lalu aku mengambil sendok yang jatuh tadi dan memberanikan diri melirik ke wajah mas Abhi yang dari tadi tidak berkedip melihatku.
"Benar?" tanya mas Abhi dan di balas dengan anggukkan dariku "Be, benar...Ta, tapi kami hanya sebatas ci, cinta monyet. Iya c,cinta monyet heee...maklum waktu kelas 2 SMP lah. Iya kan Hend....," ku alihkan pandanganku kepada Hendra dengan sedikit membelalakkan mataku kepadanya berharap ia tahu dengan posisiku yang sedikit terancam.
"A...oh iya bener, waktu itu kami cuman SMP ya kan. Yah...wajar saja hanya pegangan tangan pegang ini itu dan ki, kiss...," sambil memonyongkan bibirnya ke arah mas Abhi sehingga membuat mas Abhi seketika itu berdiri dan menggembrak meja.
Brakk....!! Hendra dengan masih memonyongkan bibirnya seketika itu dia diam, apalagi aku langsung syok seakan jantungku copot seketika.
"Hendra, anjir...!!! apa maksud dari omongan lu yang tiba-tiba ini," Pekikku dalam hati.
"Ma,mas... ki,kita pergi saja kita siap-siap mengantri." Aku yang takut dengan ragu memegang tangan mas Abhi mengajaknya pergi dari situasi ini.
"Beruntung sekali kalau begitu," teriba mas Abhi mengeluarkan kata-katanya setelah ia tadi syok dengan pernyataan Hendra.
"Beruntung ia tidak meneruskan nya dengan bocah sepertimu, beruntung sekali dia memilihku yang kini menjadi suami resmi, halal dan mempunyai sertifikat resmi dari KUA...!" ucap mas Abhi dengan nada yang sedikit di tekan. Kulihat Hendra langsung mengembalikan kemonyongan bibirnya dan sedikit menelan ludah.
"Y, yah... benar juga ya, hehehe" aku tidak tahu apa yang ada di fikiran Hendra saat itu kepada kami. Ia begitu berubah dulu ia tidak seperti itu, selalu berhati-hati dalam berbicara.
Di pesawat pun lagi-lagi ada sosok yang kini aku anggap sebagai pengganggu. Baru saja aku dan mas Abhi meregangkan otot-otot karena kejadian tadi kini kami bertemu kembali dengan Hendra.
Aku mencoba memelototi Hendra agar ia mengerti.
"Han, kamu disini pindah." Posisiku yang tadinya di sisi dekat jalan keluar kini harus berganti posisi menjadi dekat jendela. Bukan tidak mau, tapi aku juga tidak mau para pramugari berdekatan dengan mas Abhi apalagi seoerti saat kemarin sengaja pinggul-pinggulnya atau bokong di deket-deketin ke kursi mas Abhi. Yah walaupun mas Abhi menjauh dan cuek tetap saja tidak biaa di biarkan.
Catatan : tidak semua pramugari seperti itu... hanya saja ada beberapa oknum termasuk pernah terjadi kepada om saya.
"Hendra menjengkelkan sekali, bagaimana bisa ia berubah 180° seperti itu. Aku saja sampai kanget, ingin rasanya cepat sampai dan ketemuan dengan Lia." Kini sabuk di pasangkan oleh mas Abhi setelah terdengar pengumuman bahwa pesawat akan mulai persiapan lepas landas.
"Mas,"
"Nanti saja jangan bicara sekarang,"
"Tapi, mas marahkan?"
Ia tidak menjawab hanya fokus dengan memperbaiki sabukku. Mau tidak mau aku tidak mengajak ngobrol mas Abhi, karena tahu kalau dia sedang tidak mood.
Tapi kemudian..."Mas...," kulihat kini ia memejamkan matanya dengan menyenderkan punggungnya di punggung kursi.
Pesawat lepas landas, jantungku mulai terpompa tak beraturan. Aku mulai tegang ku pegang dengan kasar tangan mas Abhi tapi tak mendapatkan respon. Saat ku sadar ku pejamkan mataku lalu ku singkirkan tanganku daei mas Abhi dan tiba-tiba tangan mas Abhi dengan sigap meraih tanganku dan menggenggamnya.
__ADS_1
Senyum tergambar dari wajahku, ku pandangi ke arah mas Abhi tak ada respon senyum darinya. "Setidaknya ia tak mau melepaskan tanganku," bathinku.
Tak sengaja saat ku pandangi Mas Abhi mataku dan Hendra berpapasan, ia (Hendra) mengerenyitkan bibir atasnya dengan senyum yang seolah tidak tulus.
"Si Hendra, awas aja kau...!!" pekikku dalam hati.
Sampai saat ini aku masih heran dengan kelakuan Hendra yang begitu berubah tak sama seperti saat SMP entah apa niat sebenarnya di balik sikap nya yang seperti itu.
"Biar aku yang bawa," mas Abhi segera mengambil tas jinjing yang berisi beberapa sebagian oleh-oleh untuk ku berikan ke bapak dan ibu serta teman kantorku. Sangat banyak buah tangan yang aku bawa beda saatas Abhimmasih single palingan ia hanya membawa sekedarnya untuk dirumah dan pak Tarno. Karena bila di bawa kepondok merekapun sudah bosan dengan oleh-oleh karena bukan pertama kalinya ia berkunjung ke London karena ibunya Andipun sempat menetap di sana.
"Halo kita ketemu lagi dan semoga bukan yang terakhir,yah." Senyum merekah tergambar di wajah usilnya Hendra yang entah apa maksud dan tujuannya.
Mas Abhi hanya diam tak menanggapi, akupun sama hanya mata lah yang sedikit bekerja memberikan isyarat kalau Hendra harus pergi.
"Ayo..." ajak mas Abhi sambil merangkul tanganku untuk mengikutinya sedang tangan sebelahnya mas Abhi membawa koper.
"Eitts...tunggu dulu," Hendra mencegah dengan berdiri di depan kami.
"Ada apa?" dengan wajah yang seketika berubah menjadi masam pada Hendra.
"Mohon maaf saya ada perlu ke Honey." Akupun sontak membelakakan mataku sambil menunjuk diri sendiri." Aku...?" di balas dengan anggukan oleh Hendra.
"Kitakan sudah lama banget tidak bertemu, untuk menjalin silaturahmi minta nomer WA kamu." Celetuknya tanpa merasa sungkan atau kagok denganku ataunmas Abhi.
"Ni anak apa-apaan sih...demam kali nih anak ya?!" bathinku.
Aku terdiam tak menjawab untuk beberapa saat, tubuhku membeku bukan karena mas Abhi tapi karena Hendra yang tak habis fikir seperti itu.
Ketika ku berniat memberikan nomerku dengan memberikan ponselku tiba-tiba mas Abhi menyela lalu mengambil ponselku dan Hendra hingga kami berdua bengong. Ia mengetik sesuatu di ponsel Hendra kemudian memberikannya kembali pada Hendra.
"Jika ada perlu dengan istriku, itu nomer ponselku. Hubungi aku jika kau perlu," mas Abhipun tanpa ada aba-aba dia menarikku keluar dari zona tegang itu dan aku hanya menoleh Hendra ke belakang sambil mengisyaratkan meminta maaf tanpa suara, Hendra hanya tertawa lalu melambaikan tangannya.
Di parkiran pak Tarno sudah menunggu dengan Andi.
"Eh ada si Andi juga," gumamku. Ia melambaikan tangannya dan menyapa ketika kami mendekati sedangkan pak Tarno sigap dengan 2 koper dan beberapa tas serta bingkisan yang kami bawa untuk oleh-oleh.
"Kamu dengan Andi sana, mas bantu pak Tarno dulu menaikan barang-barang ke mobil.
"Wah yang habis liburan, Honeymoon nih yeh..." celetuk Andi menggoda.
"Honeymoon pala lu peang..., aku tuh kerja bukan senang-senang!" jawabku sambil berlalu menaikki mobil di susul Andi yang duduk di depan.
__ADS_1