Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
belanja dengan mas Abhi


__ADS_3

Ini adalah hari ke dua ku bekerja di kantor mas Abhi, dan tepat Hari ini mas Abhi dan aku akan pergi belanja kebutuhan untuk kerjaku nanti selain laptop, dan yang lainnya.


Pagi ini aku menyiapkan sarapan nasi goreng dengan ceplok telur di pisah, karena mas Abhi tidak terlalu suka pedas, aku memberi tambahan cabe rawit kecil di piringku belakangan. Ku siapkan juga susu coklat Ultramilk yang rasa coklat swiss karena mas Abhi tidak suka susu putih, anyir katanya.


"Jangan terlalu banyak makan pedas pagi-pagi, nanti sakit perut," Sambil mengambil suapan pertama.


"Nggak kok, cuman sedikit, abis kalau gak makan pedas rasanya hambar sekali," ucapku. Mas Abhi hanya diam tak menjawab lagi karena dia tahu sepertinya percuma jika harus berdebat denganku, apalagi masih pagi begini,hehehe.


***


"Hari ini kita belanja untuk kebutuhan kan, memangnya mas Abhi gak ada acara?" tanyaku.


"Nggak mas tunda untuk satu hari ini,"


"Loh, kenapa di tunda. janganlah mas, nanti takut ya penting kan?"


"Nggak apa, hanya ketemu klien rutinan tiap satu minggu sekali," jawabnya.


Setelah selesai kami pun berangkat sama-sama ke tempat tujuan.


"Mas..."


"Hmm?"


"Jangan marah ya, tapi" kataku meminta syarat.


"Marah kenapa, gak ujug-ujug marah" Mas Abhi balas senyum.


"Sudah beberapa hari Andi tidak kelihatan, ia juga tidak pulang ke apartemen," tanyaku saat dirasa mas Abhi memang tidak akan marah, setahuku selamat 5 bulan kami bersama, tidak pernah terlihat sebegitu marahnya mas Abhi. Ia sangat pandai menyembunyikan amarah ya, kecuali saat di mall itu aku hampir di lecehkan oleh lelaki itu.


"Hmm, Andi sekarang sudah mulai membenahi apartement nya di tempat lain," jelas mas Abhi dengan tetap tenang menyetir.


"Hah, pindah apartemen?" Mas Abhi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kok aku tidak tahu?" tanyaku.


"Memang Andi belum pindah, ia hanya sedang merenovasi dulu dan tinggal di apartemen temannya sementara. Nanti kalau sudah beres, ia akan pamitan sama kita. Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, bukannya dia akan kembali lagi ke london yah?"


"Sepertinya tidak,"


"Kenapa?"


"Entah," jawabnya singkat.


***


Kini kami sedang berada di toko khusus smart gadget, yang menyediakan berbagai alat2 canggih yang dibutuhkan pada jaman globalisasi dan modernisasi saat ini kalau kata vicky prasetio,hehehe.


Drrr...drrr...drrr...


"Siapa, mas?" tanyaku.


"Teman," jawab mas Abhi singkat.


"Kenapa tidak di angkat saja,"


"Nanti saja, gak terlalu penting," lalu mematikan ponselnya.


Aku dan mas Abhi pun lanjut mencari-cari laptop yang cocok untuk didirikan di mejaku nanti. Mas Abhi melirik sebuah ponsel yang bermerk Iphone uang baru launcing, dengan harga fantastis menurutku. Ia pun melirik satu laptop yang super duper mahal, jika di kampung di pakai untuk menggadaikan sawah.


"Bagus," mas Abhi melihat ke arahku sambil tersenyum.


"Terlalu mahal, mas. Beli yang agak murah saja, lagipula cuman untuk data-data saja kebanyakan, sedangkan ini spek untuk gamer. Sudah yang biasa saja," ucapku.


"Tapi, kakau di banding beli barang branded mending beli ini saja, bisa untuk menambah pemasukan, hehehe," aku hanya diam dan tersenyum.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pembayaran, akupun lanjut ke toko khusus perentelan kebutuhan sekolah dan lain-lain, Toserba ( Toko serba murah). Aku ajak.mas Abhi ikut pergi kesana.


Mas Abhi tidak terlalu suka kerumunan, ia tidak biasa. Karena itu ketika ku ajak ke Toserba, mas Abhi sedikit linglung dan terasa tak nyaman. Aku memberanikan diri menggenggam tangan mas Abhi, walau awal pertama ia terlihat kaget dan menatapku sedikit lama, akhirnya ia terbiasa dengan tanganku. Kini malah sebaliknya, mas Abhi yang memegang tanganku, aku sedikit tersipu dengan senyum kecil penuh arti.


Kamipun berjalan mengitari satu demi satu bagian rak yang berisikan berbagai macam barang. Lalu aku mengambil barang satu demi satu untuk keperluanku di mejaku, dan beberapa hiasan agar tidak terasa bosan dengan suasana meja yang kutatap tiap hari itu. Boar ada suasana lucu,unik dan bagusnya gitu.


"Ini sepertinya bagus," ucapku saat melihat hiasan dinding bertuliskan bacaan al-qur'an ayat kursi.


"Untuk?" tanya mas Abhi.


"Di ruang mas, kan belum ada tempelan seperti ini." Mas Abhi pun tersenyum dan meng iyakannya. Akhirnya kami pun membeli semuanya yang di rasa butuh untuk di ruanganku termasuk kursi duduk untukku atas permintaan mas Abhi agar aku merasa nyaman saat berjam-jam harus duduk seharian. Meski sempat ku tolak karena tempat duduk yang lama pun masih sangat nyaman dan layak pakai, tapi mas Abhi kukuh ingin menggantinya, alhasil kamipun membeli yang seharusnya tidak kami beli.


Sepanjang di dalam toko, tiap hawa yang baru masuk ataupun di sekitar termasuk penjaga toko nya tak henti-hentinya mata mereka melirik ke arah mas Abhi, mungkin karena kharisma mas Abhi sayang untuk di lewatkan dari pandangan mereka.


"Jangankan mereka, aku uang setiap hari saja melihatnya tetap saja kalau melihatnya tak jarang suara jantungku berdegup gk beraturan, apalagi pas di tatap balik," gumamku yang langsung terkagetkan oleh kesadaranku.


"Total berapa?"


"Sekian puluh juta," kasir itu menyebutkan sambil menundukkan wajahnya dan sesekali melirik ke arah wajah suamiku mas Abhi. Mungkin atas alasan ini juga mas Abhi tidak terlalu suka keramaian apalagi di sekitar banyak kaum hawa nya.


"Salah sendiri kenapa kharisma kamu kuat sekali, akhirnya mereka semua terpesona, hihihi," gumamku dalam hati.


"Oke, saya bayar, ini," mas Abhi mengeluarkan credit card nya lalu menbayarnya. Setelah selesai tak terasa hari sudah sore menunjukkan pukul 03.00. Saking asyiknya memilih-milih dari satu toko ke satu toko lain kami sampai lupa makan siang. Mas Abhi pun mengajakku untuk makan siang setelah meminta maaf karena tak ingat waktu.


Drr...drr...drr...


Ponsel mas Abhi kembali berbunyi setelah tak lama di hidupkan kembali dan mas Abhipun kembali me reject panggilan dari seseorang itu.


"Mau makan apa?" tanya mas Abhi setelah kami duduk di restoran sunda.


"Mau ayam bakar," memang ayam bakar adalah kesukaanku dari sejak kecil sampai sebesar ini tidak bosan- bosan.


Kami pun pergi memilih-milih makanan yang kami suka, karena model retoran sunda di mall di pasang seperti prasmanan dengan versi modern saat ada hajatan jika di kampungku, aku menolak di ambilkan mas Abhi makanan karena tak enak saja. Tentu ayam bakar yang menjadi incaranku, tak lupa mengambi lalapan timun,dan juga sambal tak lupa juga kerupuk tentunya. Sedangkan mas Abhi mengambil ikan gurame goreng dengan sambal jahe nya tak lupa juga seafod yang dimasak dengan bumbu padang.

__ADS_1


__ADS_2