
Malam itu setelah selesai membereskan semua kekacauan bekas makan malam. Kuantarkan nenek Besar ke kamarnya untuk istirahat, ku selimuti tubuhnya agar ia merasa hangat.
"Terima kasih," ucap wanita paruh baya itu. "Kamu anak baik, jaga Abhi dengan baik. Meskipun terlihat kuat sebenarnya anak itu rapuh. Sifat nya yang penyabar membuat ia selalu mengalah dalam keadaan apapun kepada siapapun. Abhi yang tanpa didikan ibunya mampu menjadi pribadi yang begitu ber akhlak dan juga ber adab, tentu sepertinya ia menjadi suami yang bertanggung jawab kepadamu,bukan?" Aku mengangguk tanda meng iyakan, ku dengarkan semua rasa peluh yang berada dihati nenek. Ia begitu menyayangi mas Abhi bahkan sepertinya melebihi sayangnya kepada anak-anaknya.
Saudara-saudari pak Kiyai sangatlah jauh dan tidak terlalu berhubungan dekat dengan keluarga. Jauh dari bayanganku bahwa mas Abhi di lahirkan dari keluarga yang komplit dan bahagia secara materi dan juga secara kasih sayang. Bagaimana tidak, mereka kaya dan juga berpendidikan tinggi.
Ternyata seperti yang ku dengar dari nenek bahwa keluarga mereka tak seharmonis yang orang-orang fikir. namanya sifat manusia yang selalu tidak lepas dari khilaf dan salah.
"Besok kalian jadi pergi, kenapa tidak menginap lagi untuk beberapa hari saja," aku tersenyum saat nenek memelas memintaku dan mas Abhi untuk menambah hari tinggal di pondok Darussalam ini.
"Insya Allah nanti saya sampaikan ke mas Abhi ya nek." Jawabku sambil memegang tangan nenek yang halus.
"Kapan kamu kasih cicit untuk nenek," seketika itu aku terbatuk seolah ada yang nyangkut di tenggorokkan tiba-tiba saja gatal. Aku tak menjawab nenek, aku langsung memohon pamit untuk mencari mas Abhi.
"Sepertinya berat badanku sedikit naik, cincin pernikahan dari mas Abhi saat itu sekarang sudah cukup di jari manis," ucapku sambil jalan.
Saat ku berjalan di taman kecil belakang rumah utama berniat untuk cari udara segar sambil menunggu mas Abhi pulang dari pertemuannya dengan tamu,tak sengaja kulihat mas Abhi dengan Aisyah.
"Mas Abhi dan Aisyah, sedang apa di taman. Sepi lagi," gumamku.
Kulangkahkan kakiku mendekat karena penasaran dengan apa yang mereka obrolkan.
"Mas, kenapa seperti ini. Bukankah saat itu mas sudah janji?" kata Aisyah.
"Aku tidak pernah menjanjikan apapun kepadamu Aisyah,"
"Selama ini aku menunggu mas pulang, aku bahkan masih menyimpan cincin yang mas kasih waktu itu kepadaku." Mendengar Aisyah mengatakan itu sambil memegang tangan mas Abhi lalu memeluknya, aku sontak kaget dan langsung menutup mulutku.
"Aisyah memeluk mas Abhi, ia...." aku berjalan mundur perlahan kemudian berlari kecil saat dirasa sudah jauh dari mereka.
"Apa yang mereka lakukan, mas Abhi dan Aisyah, mereka...?"
"Apa yang kamu lakukan, Aisyah istighfar kita bukan muhrim!" Aisyah sedikit terhempas karena mas Abhi mendorong Aisyah yang memeluk Abhi.
Ku coba telpon Lia, tak menyambung. Akupun mencoba menelpon ibu rapi tak diangkat.
__ADS_1
Entah kenapa rasanya sesak dada ini, bukan karena cape berlari menuju rumah utama.
"Assalamu"alaikum," terdengar mas Abhi memberi salam dari belakang. Kutahan rasa sesak di dadaku dan menjawab salamnya.
"Nenek sudah tidur mas liat, sudah makan malamnya?" aku reflek melangkah ke belakang beberapa langkah ketika mas Abhi bermaksud membelai kepalaku.
"Emmm, aku ke dalam dulu. Jika mas lapar lauk di meja makan masih ada, mas bisa ambil sendiri kan, aku mau mandi?" Lalu iapun mengangguk kemudian aku bergegas pergi ke kamar untuk menghindarinya.
Malam ini, malam dimana tak seharusnya aku melihat nya. Aku, bagaimana dengan perasaanku ini? ku buat status di Whatsapp kata - kata itu.
Rasanya seperti hancur, tapi memang aku tak berhak. Seluruh tubuhku terasa panas hingga wajahku memerah tanpa ku sadari.
"Baik bertanggung jawab bagaimana, seharusnya nenek melihat apa yang mereka lakukan tadi," pekikku.
Pagi ini aku bersiap-siap untuk kembali ke jakarta. Membereskan semua pakaian yang di bawa sebelumnya. Aisyah membantu mas Abhi menyiapkan bawaan yang akan di bawa ke jakarta untuk oleh-oleh. Aku yang tak ingin melihat mereka pergi duluan ke bawah.
"Biar mas yang bawakan," tawar mas Abhi dan tanpa basa-basi ku tepiskan tangan mas Abhi.
"Tidak usah!" akupun langsung turun tanpa melihat wajah mas Abhi yang aku yakin sedang melongo kebingungan seperti orang bodoh, yang tidak tahu apa kesalahannya.
"Nanti kalau ada waktu Abhi kembali main kesini lagi ya nek," wanita itu merajuk dan tidak berbicara lagi.
"Ibu ini, abhi kan pergi juga bukan untuk liburan. Ia bekerja membangun perusahaan agar tetap stabil bahkan meningkat, kalau nggak nanti kita bisa berbagi bagaimana to bu." Pak Kiyai menimpali rujukan nenek kepada cucunya.
"Kapan kalian kasih cicit ke nenek, biar cicit nantinya diam disini nenek yang urus."
"Nenek itu ngaco, tentu saja cicit nenek itu ada ibunya. Sudah pasti ibunda tercintanya yang akan merawat cicit nenek," mas Abhi melihat ke arahku tapi aku langsung memalingkan wajahku.
"Oh, iya cincin. Bergegas jalan ke atas untuk mengambil cincin pernikahan kami yang ku taro di atas meja riasan di kamar." Betapa kaget saat kulihat cincin itu tidak ada disana,
"Kemana cincinnya perasaan tadi disimpan disini," gumamku.
"Ku cari-cari cincin sampai ku obrak abrik kembali tempat tidur yang sudah ku bereskan tadi.
"Dimana yah perasaan tadi disini, tapi kok gak ada," Mungkin karena terasa lama mas Abhipun menyusulku ke atas.
__ADS_1
"Ada apa, Han?"
"Cincin ku hilang, tadi ku simpan di meja rias ini, tapi gak ada." Mas Abhipun membantuku mencarikan cincin pernikahan kami.
"Aisyah, apa kamu lihat cincin Honey di meja rias?" tanya mas Abhi saat kami kembali ke bawah.
"Cincin, tidak mas aku tidak lihat ada cincin di sana," jawab Aisyah. Sebenarnya aku tahu kalau cincin itu Aisyah juga tahu, karena saat tadi di kamar saat membereskan tisu dan juga peralatan lain ia simpan di meja rias, mustahil kalau ia tidak lihat.
"Benarkah?" dengan seribu kecurigaan nadaku sedikit di tekan.
"Kalau begitu kalian menginap lagi saja sampai cincinnya ketemu," ucap nenek.
"Tidak bisa," Sontak semua orang melihat ke arahku.
"Kenapa, Han. Apa kamu tidak kerasan selama di nenek?" wajah nenek seketika itu memelas seolah kecewa padahal belum ku timpali perkataan nenek.
"Bukan tidak betah, tapi kami banyak pekerjaan di kantor. Sudah banyak kerjaan yang tertumpuk bahkan ter cancel beberapa karena kesini."
"Ia nek. Lain kali Honey kesini main makanya nenek harus sehat-sehat terus yah. Honey kerasan kok tinggal disini apalagi ada nenek, Honey senang karena nenek sangat ramah keada Honey yang baru disini,"
"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik. Hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut," Wanita itu seolah enggan melepaskan genggamannya dari tanganku.
Rasanya berat sekali meninggalkan nenek sendiri di rumah, meskipun ada pak kiyai dan Aisyah disini, tetap saja pasti nenek kesepian. Tapi apa boleh buat akupun tak mungkin terus menerus tinggal disini.
"Yang membuatku tidak betah bukanlah nenek tapi wanita tak tahu diri itu," pekikku dalam hati.
"Awas aja, kalau cincin itu sampai benar ada di kamu. Tidak akan ku maafkan!"
Disepanjang jalan tak keluar sepatah katapun dariku untuk menjawab semua obrolan yang di keluarkan oleh mas Abhi. Entahlah rasanya kesal saja, padahal aku tak berhak seperti itu.
"Jangan sedih, nanti mas suruh bi iyam mencarikan. Katanya bi Iyam besok kembali ke pondok setelah pulang kampung." Mas Abhi sepertinya mengira aku seperti ini karena cincin hilang. Memang sedih saat cincin itu hilang, tapi lebih sesak lagi saat pemandangan tak pantas itu terlihat oleh kedua mataku.
"Iya, bu. Nanti biar saya tanyakan bi Iyam," Pak tarno menyela. Pandanganku hanya lurus kedepan tanpa menoleh ke arah manapun. Ketika sampai pun aku langsung pergi ke kamar dan menutup pintu kamar.
Ku buka ponselku ada 4 panggilan tak terjawab dari Lia dan satu dari Andi. Hanya kulihat, tidak ku chat kembali atau apapun, lelah. Hatiku masih panas dan marah, ada seribu pertanyaan bersemayam di otakku untuk ditanyakan ke mas Abhi. Tapi aku tahu itu bukan hakku, ku benamkan kepalaku di atas bantal, tanpa mandi atau ganti pakaian kaupun terlelap dalam lamunanku dan perasaan yang bercampur aduk.
__ADS_1