
"Mas berteman dengan Aisyah sejak masih kecil, kami di besarkan dalam pondok pesantren yang sama. Aisyah perempuan yang rajin,pintar dan juga sopan, ia menonjol diantara santriwati lain. Tapi, Aisyah mempunyai ambisi yang berlebihan dalam mencapai sesuatu sehingga ingin lawannya sampai tumbang dan tidak berkutik, selalu ingin berada di atas awan melebihi yang lainnya," Aku mendengarkan dan memperhatikan dengan baik, kemudian mas Abhi pun melanjutkannya.
"Aisyah sudah mas anggap sebagai adik mas sendiri tidak lebih. Suatu hari Aisyah di jodohkan oleh ibunya, karena ibunya adalah sahabat ibu mas Abhi merekapun akrab bak sodara. Aisyah di jodohkan dengan orang yang cukup berumur saat itu, beliau termasuk orang yang terpandang dan memiliki berbagai sumber penghasilan sehingga banyak orang yang menyeganinya, beliau juga menjadi salah satu donatur tetap di pondok Darussalam. Ibunya Aisyah juga termasuk orang yang ambisius mungkin karena itu Aisyah menuruni sifat dari ibunya. Akhirnya mereka menikah, Aisyah menjadi istri muda bapak itu.Tapi tak berlangsung lama, kurang dari satu tahun Aisyah pun di ceraikan suaminya. Alasannya karena Aisyah tidak bisa mempunyai anak, dokter mengklaim kalau Aisyah terserang kanker rahim stadium awal." Mendengar itu akupun terkejut, bukan hanya karena ternyata Aisyah adalah janda tapi juga penyakitnya.
"Astaghfirullah," ucapku saat mendengar kabar itu.
"Aisyah sangat terpuruk saat itu, hingga mas ajak pergi ke London untuk konsultasi disana sekalian agar Aisyah bisa sedikit tenang. Itu foto yang kamu lihat saat mas dengan Aisyah berfoto, karena suami Aisyah meminta rujuk, Aisyah memberitakan bahwa mas dan dia berhubungan. Mas tidak berani mengatakan apa-apa tidak berani menolaknya tidak juga mengiyakan karena alasan sakitnya. Karena itu mas minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini."
"Kalau begitu kenapa mas tidak menjelaskan semuanya keadaan kita, dan juga kenapa tidak terbuka sebelumnya. Pantas saja selama aku di pondok Aisyah seperti membenciku tiap kali melihatku," mas Abhi kembali membelai rambutku.
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan," mas Abhi mengangguk meninggikan kedua alisnya.
"Apa yang di maksud mas Abhi mengantarkan teman ke cirebon adalah Aisyah?" mas Abhi mengangguk.
"Dimana mas Abhi menginap sampai beberapa hari?"
"Hotel terdekat," ucapnya.
"Kenapa mas tidak bilang kalau kesana mengantarkan Aisyah?"
"Kau tidak pernah menanyakan hal itu kepadaku, dan saat mas Abhi pernah menceritakan kegiatan mas pun kamu menolak dan tidak ingin mendengar," aku terdiam merenungi memang salahku telah membuat perjanjian itu.
__ADS_1
"Kita menikah sudah 5 bulan lebih, " Mas Abhi beranjak dari duduk nya lalu pergi membuka nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. Ia mengambil secarik kertas yang tidak asing lagi bagiku.
"Sudah lebih dari 3 bulan sesuai yang kau janjikan, kertas ini sudah tidak berlaku. Sekarang, apa boleh mas menyobeknya?" ia menyodorkan kertas HVS itu yang berisi perjanjian yang ia dan aku tanda tangani.
"Aku...."
"Mas sudah sabar selama ini, bolehkah mas memastikan sesuatu?" Entah mengapa perasaanku seolah tidak enak saat mas Abhi berkata seperti itu, aku meremas jari jemariku karena gugup. "Apa yang akan mas Abhi tanyakan, apakah ia akan menceraikanku, apa maksudnya dengan perjanjian itu," beberapa pertanyaan menghampiri otakku, yang tadinya sudah terasa tenang sekarang seolah di pancing untuk gugup lagi layaknya sedang di tanyai ujian tanya jawab oleh guru.
"Selama 5 bulan lebih ini, bagaimana perasaanmu terhadapku?"
"Deg..."
"Mas, mengenai itu..., bisakah beri aku waktu satu bulan lagi?" aku meminta kompensasi waktu karena belum begitu yakin dengan perasaanku.
"Aku menolak," jawabnya.
"Aku butuh jawaban itu sekarang," tegas mas Abhi.
"Tapi, aku belum begitu yakin dengan perasaanku, tentang pernikahan kita, tentang semuanya." Mas Abhi memegang wajahku, aku menatap wajahnya dan matanya begitu tajam menusuk ke dalam kalbu, mata yang hangat, sendu, namun menyejukkan.
"Aku lelaki, aku normal, aku juga punya batas kesabaran. Han, aku butuh jawabanmu sekarang, aku tidak ingin menunggu lagi," kini laki-laki ini untuk pertama kalinya memelas seolah meminta belas kasihku untuknya.
__ADS_1
Memang diantara semua laki-laki yang pernah aku temui, belum pernah ada lelaki sebegitu sabarnya seperti dia. Aku menolaknya ia sabar, aku mengajukkan komitmen aturan-aturan yang tidak masuk akal di dalam sebuah pernikahan ia masih saja diam walau sempat tak setuju. Bahkan ia masih dengan tangan terbuka ia rangkul keluargaku, ia hidupi, ia cukupi, ia tanggung yang seharusnya aku yang menanggungnya. Kini ia mengambil alih tanggung jawabku.
" Dia apakah mencintaiku, apakah benar dia menyayangiku, apakah benar dia adalah jodohku, belahan jiwaku, apakah benar dia adalah suratan takdir untukku untuk hidup dan matiku. Ya Allah jawaban apa yang harus aku beri untuk lelaki yang begitu mulia ini?" Isi kepalaku berdebat, tapi hatiku ingin terus bersamanya.
"Han," aku tersentak dari pertengkaran batinku yang sedang beradu argumen antara menerima atau tidak. Kami terdiam, mas Abhi seolah menunggu jawabanku, ia menggenggam erat tanganku seperti tidak ingin melepaskanku.
"5 bulan sudah, tidak cukupkah bagimu untuk menentukkan hatimu, Han?" mas Abhi masih merajuk meminta jawaban dariku.
"Aku mantap memilihmu dari sejak kita bertemu di rumahmu, aku yakin kaulah belahan hatiku."
"Apa ini, apa dia sedang menggombal, bagaimana mas Abhi mengatakan itu dalam keadaan sekarang geli sekali aku mendengarnya," gumamku. Aku sedikit menahan senyum dihadapannya karena aku tahu untuk mas Abhi hal ini adalah hal pertama baginya mengungkapkan perasaannya kepada seorang wanita, beda denganku yang sudah puluhan kali mendapatkan rayuan gombal dari berbagai macam hidung belang.
Ia masih terus menggenggamku, meunundukkan kepalanya menekankan dahinya ke tanganku. Seperti sedang memohon.
Aku yang melihatnya bukannya iba, malah ingin tertawa melihat tingkahnya yang sepertinya konyol untukku. Tapi aku sadar, ini bukan saatnya untuk itu. Tak dapat di pungkiri akupun seorang wanita yang sudah dewasa, aku di dewasakan oleh lingkungan, aku mungkin bahkan lebih dewasa dari mas Abhi karena pengalamanku dalam menghadapi berbagai jenis lali-laki.
"Mas, Aku ingin bertanya satu hal." Ia memperhatikan seperti anak kecil yang akan mendengarkan dongeng dari ibunya.
"Sebelumnya aku ingin kau tahu kehidupanku dan lingkunganku. Kehidupanku tidaklah sama seperti mas Abhi. Lingkunganku pun tak seperti lingkungan mas Abhi. Bapak dan Ibuku bukan dari orang yang serba berkecukupan, kami dari keluarga sederhana. Bapak di PHK dari kerjanya sejak aku masih menduduki bangku SD. Aku belajar dan bersekolah di sekolahan negeri yang mendapat kompensasi dari pemerintah sehingga sekolahku gratis, dan tentu saja fasilitasnya pun terbatas tidak se komplit seperti di pondok pak Kiyai," mas Abhi masih tetap mendengarkan dengan serius.
"Aku mau tidak mau, suka tidak suka di besarkan dalam lingkungan yang mengharuskan kita jadi kuat dan mandiri. Aku dan ibu berdagang, aku mencari sambilan dengan bekerja sambilan ke orang yang membutuhkan bahkan sampai SMA kelas 1. Saat kelas 2 SMA beruntung ada owner yang memperbolehkanku bekerja di sebuah cafe. Aku punya adik, aku juga tidak mau terus menerus melihat mereka keluargaku hidup dalam keadaan seperti itu. Aku bekerja di Cafe awalnya memang untuk kebutuhan, tapi seiring berjalannya waktu gaji UMR yang aku dapat dai cafe itu tidaklah bisa menutupi kebutuhan kami. Hingga suatu saat ada seorang pria yang berani menggaetku memberikanku uang dan juga memenuhi kebutuhanku, saat itulah aku," Kata-kataku mulai tersendat, aku takut saat akan mengungkapkannya.
__ADS_1