Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar

Petualangan Cinta Honey Dan Abhizar
Kamar mandi


__ADS_3

"Kamu bangun, apakah aku membangunkan mu?" Mas Abhi melipat sajadahnya. Aku tidak menjawab, aku balikkan tubuhku membelakanginya.


"Sebentar lagi adzan subuh, bangun yuk kita shalat berjamaah," ajak mas Abhi padaku. Tetap tak ku indahkan ajakkannya.


Mas Abhi duduk di sofa dapat ku dengar karena suara sofa saat ada orang mendudukinya terdengar suara sret...


Adzan pun berkumandang, terdengar dari suara ponsel mas Abhi sepertinya. Dia menyalakan alarm berbunyikan suara adzan. Karena itu ponselnya akan melantunkan suara adzan tiap waktu shalat tiba, karena di pusat kota besar, yang mana bangunan-bangunan kokoh berdiri jarang sekali suara adzan terdengar. Kecuali bangunan itu bukan berada di tengah kota seperti ini suka terdengar suara adzan namun kecil suaranya.


Aku bangun dan mengambil wudhu, mas Abhi menungguku untuk shalat berjamaah. Akupun mau tidak mau shalat berjamaah, sepanjang shalat air mataku tak terbentung jatuh berurai. Sampai saat salam terakhir, aku tak sanggup menahan air mata yang jatuh,aku tak mampu menahan isak tangisku.


Tiba-tiba aku teringat ibu, bapak dan adik kesayanganku Ririn. Mas Abhi menyadari itu, dia mendekat.


"Ada apa, kenapa menangis?" tanya nya.


Aku masih menangis sesegukkan, tak ku indahkan pertanyaan ma Abhi. Mas Abhi pun mengerti, dia menungguku sampai puas menangis. Mas Abhi pun bertanya kembali,


"Kenapa?" kali ini pertanyaannya berbeda tapi dengan maksud yang sama.


"Aku tidak ingin menikah, aku masih ingin tinggal dengan ibu dan bapak," jawabku dengan suara yang serak dan menaham tangis.


"Kamu mau tinggal sama bapak dan ibu?" kata mas Abhi. Akupun menggelengkan kepalaku, bukan tidak ingin, tapi bapak dan ibu pasti marah saat aku tetep kekeh tinggal bersama ibu dan bapak karena seornag istri harus tetap ikut dengan suaminya kemanapun suaminya pergi.


"Kamu mau mas tidur di bawah?" tanya nya lagi. Dan lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku seperti anak kecil.


"Lalu, apa maumu?" tanya nya dengan yakin. Aku pun diam sebentar menyiapkan diri untuk berbicara apa yang ada di dalam hati yang selama beberapa hari ini ingin ku keluarkan.

__ADS_1


"Aku ingin mas Abhi menceraikanku," jawabku.


Aku tahu mas Abhi memperhatikanku, dia mengerutkan keningnya.


"Gila kamu!" pekik nya.


"Kau ingin tinggal dirumah orang tuamu aku akan mengijinkanmu, kau inginpisah ranjang akupun tidak apa-apa. Kalau kau tahu hukum pisah ranjang pisah rumah itu sama saja kau tidak mengurus suamimu, itu dosa Han!" Mas Abhi berdiri dan menjauhi ku membiarkan diriku menunduk terduduk.


"Apalagi menalak seorang istri tanpa alasan, dimana akal sehat mu, apa yang kau pelajari selama ini dari kecil hingga sebesar ini tentang agama?" Aku tersentak dan berdiri ketika mendengar mas Abhi menanyakan tentang agama kepadaku.


"Jangan pernah bicara tentang apa yang sudah aku pelajari tentang agama, bapak dan ibuku mengajarkanku dengan benar, mas." jawabku dengan wajah tersangarku ku tampilkan saat itu juga di depan wajah suamiku, mas Abhi.


"Lantas apa yang kau saring selama ini tentang agama?" mas Abhi pun pergi keluar kamar dengan amarahnya. Aku ditinggalkan sendiri saat mentari mulai memantulkan cahayanya melalui kaca balkon. Aku kembali duduk kali ini di sofa, ku lihat selimut yang bekas mas Abhi pakai selama tidur di sofa lalu memandang ke arah kasur yang aku gunakan semalam.


"Apa yang harus aku lakukan agar semua ini cepat berakhir?" gumamku. Kulihat ponselku yang tergeletak di atas kasur, akupun mengambilnya.


"Honey....., kamu ini kemana saja bla...bla...bla..." Lia memarahiku lewat telpon sampai ke dasar kupingku rasanya suara Lia.


"Maaf banget bukan maksud tidak ingin menghubungimu, baiknya kita ketemu saja ya. Kamu bisa kan ke jakarta?" tanyaku.


"Apa! jakarta, lagi ngapain kamu dijakarta?" Lia masih tetap berbicara dengan nada tingginya.


"Duh...berisik sekali, udah deh kesini aja nanti aku kirim alamatnya ya. Ya udah bye..." telponpun aku tutup tanpa menunggu jawaban dari Lia mau tau tidak dia ke jakarta. jarak dari kost an Lia ke jakarta butuh 1 jam belum lagi kalau datang ke apartemen mas Abhi butuh 30 menit untuk sampai, belum lagi kalau macet bisa lebih dari itu.


Akupun bersiap mandi, sengaja tak ku tutup pintu kamar mandi karena aku tahu mas Abhi sudah pergi, entah pergi kemana mungkin bekerja atau menemui klien, karena sebelumnya pak kiyai mengatakan hari ini mas Abhi harus menemui kliennya untuk urusan bisnis.

__ADS_1


Akupun mencoba berendam di bedtube yang cukup untuk berdua itu, karena semalam aku menggunakan shower untuk mandi.


Ku lihat ada beberapa sabun mandi yang sepertinya sudah di sediakan khusus untukku. Ada garam khusus mandi, lulur, shower gel dan berbagai macam lagi peroduk-produk khusus untuk wanita. Aku tidak pernah berfikir itu punya sodara nya mas Abhi atau kerabat perempuannya atau bahkan wanita nya mas Abhi karena dilihat dari sikapnya mas Abhi, sepertinya mas Abhi bukan tipe laki-laki yang suka membawa wanita.


"Bahkan aku kira dia gak mungkin banget punya pacar, secara bersentuhan saja dengan yang bukan muhrim sangat anti. Sebelumnya saja dia tidak ingin sekali kulitnya terkena denganku. Tapi setelah sah jadi istri dia bahkan mampu mendorongku, contohnya saja semalam dia mendorongku untuk menjelaskan bahwa kita sudah menikah, hehehe..." aku sedikit tersenyum saat mengingat kejadian semalam sambil berendam dengan air wangi yang sudah aku campur dengan segala macam yang tersedia di atas bedtube itu, tak lupa ku nyalakan juga lilin aroma therapy yang membuat harum seluruh ruangan kamar mandi.


Aku berendam sambil memikirkan rencana yang harus aku lakukan agar bisa terlepas dari semua ini sesegera mungkin. Akupun belum berani memutuskan Sandy karena rasanya aku masih membutuhkannya untuk dapat memenuhi kebutuhanku.


"Sayang baru saja 3 hari pacaran masa harus sudah di putuskan," gumamku.


"Lagipula aku tidak mungkin minta sama mas Abhi kan, apa jadinya nanti yang dia fikirkan, gak.mau ada di pernikahan ini tapi masih meminta segala kebutuhan padanya, gengsilah aku." Aku berbicara sendiri karena membayangkan apa yang akan mas Abhi katakan.


Setelah di kira selesai berendam, akupun berdiri berniat mengambil handuk. Saat aku berdiri dan baru melangkahkan satu kaki, betapa kagetnya aku lihat mas Abhi berada di dalam dengan memegang sebuah kantong di tangannya berdiri kaku menghadapku yang sedang berdiri. Akupun seketika nge freeze sebentar sontak menceburkan diri kembali ke dalam bedtube dan mas Abhi pun terlihat panik dengan mondar mandir mencari jalan keluar dari kamar mandi dengan tangan yang seolah meraba-raba berudaha menemukan daun pintu, padahal jelas-jelas pintunya ada di sebelah kanannya. Dia dnegan paniknya dengan menutup kedua wajahnya dengan satu tangan dia meminta maaf.


"Maaf,maaf, aku tidak bermaksud. Pintunya terbuka lalu, aku hanya ingin menyimpan ini. ini... ini aku..." Mas Abhi pun akhirnya menemukan pintu keluar dan sesegera keluar dari kamar mandi.


Aku yang masih nge freeze di bedtube tidak bisa berfikir, aku hanya diam tanpa suara untuk beberapa saat sampai aku bisa kembali berfikir


"Aduh bagaimana ini, aku keluar gak yah?" Aku mondar mandir di depan wastafel tempat cuci muka dan gosok gigi dekat dengan pintu. Karena bingung harus keluar atau tidak.


"Bagaimana tidak, kalau aku keluar aku akan lihat mas Abhi kalau tidak aku bisa mati kedinginan. Duh, mau ditaro dimana mukaku ini. Walaupun sudah suami istri tapi aku dan mas Abhi belum sah secara hati dan bathin," Akupun terus bergumam sampai beberapa menit memikirkan keluar atau tidak. Saat ku dengar suara pintu terbuka, akupun memberanikan diri keluar karena aku yakin mas Abhi pasti sudah keluar.


Aku langsung mengambil air minum dan duduk di sofa,menenangkan diri.


"Kenapa selalu saja terjadi hal seperti ini, jadinya aku terlihat bodoh di depan mas Abhi. Dasar bodoh," aku memukul kepalaku atas kelakuanku.

__ADS_1


Setelah dirasa sudah tenang, akupun memakai baju dan bersiap-siap untuk bertemu dengan Lia.


Bersambung....


__ADS_2