
Matahari telah meninggi, sinarnya telah masuk dari balik pintu kaca balkon mengenai wajah tampan yang kini berada di sebelahku. Ku tutupi dengan lima jariku agar sinar itu tidak tembus mengenai wajah tampan itu. Kumainkan tanganku agar sesekali sinar mentari mengenai wajah mas Abhi. Ia tersadar, matanya di kerutkan karena sinar menatari memantulkan cahaya terkena ke wajahnya, aku tersenyum simpul melihatnya.
Mas Abhi yang sadar karena di jaili merangkul dan memelukku.
"Aaa," Aku berteriak manja padanya. Tangannya begitu kuat sehingga dalam satu dekapan mampu mengubah posisiku jadi membelakanginya.
Aku tersentak kaget saat bokongku tak sengaja menyentuh bagiannya, mas Abhi buru-buru menjauh dan berbalik.
"Apa itu tadi, hey" Aku menggoyangkan badannya agar mau menghadapku.
"Bukan apa-apa," tukasnya dengan malu.
"Apa ayo kasih lihat aku, itu apa wortelkah?" aku mengekeh menggodanya. "Ayo sini," paksaku.
"Gak mau!" tegasnya.
"Ayo sini," rayuku. Ia tetap tidak mau lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat layaknya anak kecil, lucu.
"Sini, ayo gak usah malu,"
"Kamu pasti sudah tahu memang lelaki seperti ini kalau pagi," imbuhnya
"Mana aku tahu, adikku kan perempuan, mana mungkin aku melihat bapakku,ha ha ha" Aku terbahak-bahak membayangkannya.
"Dosa loh, ngomongin bapak nanti kupingnya panas," akhir ya ia berbalik juga.
"Aku kan gak ngomong yang gak baik sama bapak. Eh mas, kita ke rumah bapak sama ibu yuk. Rasanya sudah lama tidak kesana, aku juga kangen adikku Ririn. Kemarin waktu masih di pondok ibu menelpon dan bilang kangen ingin ketemu suruh kesana langsung. Tapi aku bilang nanti bilang dulu mas Abhi,"
"Baiklah, minggu depan insya Allah kita kesana,yah. Minggu ini kita bereskan dulu pekerjaan di kantor," aku mengangguk manja lagi-lagi ia mencium keningku, aku tersipu malu.
"Eh, ngomong-ngomong..."
"Hmm?"
"Kenapa laki-laki setiap pagi selalu begini," aku mengacungkan satu telunjuk jarikku memperagakkan.
__ADS_1
"Kamu ini, mau merasakannya lagi,hah?" rayunya.
Aku yang masih terasa sakit dan takut langsung menggelengkan kepalaku.
"Kenapa, masih sakit?" tanya nya akupun mengangguk.
"Mas, sudah dua kali memangnya tenagamu masih ada apa?" tanyaku yang penasaran.
"10 Ronde pun jadi," jawabnya. Aku yang mendengar itu langsung melotot mas Abhi yang melihat reaksiku tertawa puas.
"Nggak lah, hanya saja mungkin ini pertama kalinya mas melakukan jadi berasa kuat,"
Akupun beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai giliran mas Abhi yang pergi aku membereskan semua bekas kekacauan yang terjadi pada malam hari tadi. Ku ganti sprei dengan yang baru, ku bereskan semua dan bersihkan kecuali kamar mandi. Dirasa sudah beres akupun turun ke bawah menyiapkan makanan untuk sarapan kami di pagi ini.
Kulihat di dalam kulkas kosong tidak ada apa-apa. "Apa yang mau di masak kalau kosong gini," gumamku.
"Kita sarapan di luar saja kalau begitu," tawar mas Abhi yang tiba-tiba sudah berada di belakangku dengan rambut basahnya berantakan tidak beraturan. Aku tiba-tiba terbayang saat malam tadi melihatnya bertelanjang dengan keadaan rambut basah. Segera ku kibaskan kepalaku untuk menghapus ingatan itu.
"Bo, boleh. Eh, sekalian belanja. Aku ingin memasak sudah lama gak masak," ucapku dan mas Abhi mengangguk tanda setuju.
Kamipun bersiap lalu pergi, mas Abhi menggandeng tanganku sepanjang perjalanan bahkan di mobilpun gandengannya tidak di lepaskan, dengan erat ia menggandeng tenganku. Pak Tarno yang melihat itu dari balik kaca mobil tersenyum simpul. Aku yang malu gelagapan langsung menarik tanganku tapi di tarik kembali mas Abhi ke pahanya.
"Mas, sini" mas Abhi yang mengetahui aku memanggilnya langsung mendekatiku.
"Aku mau maranggi," mas Abhi mengangguk.
"Berapa ini nek?" tanya mas Abhi.
"3 tusuk 6000 aja pak,"
"Aku mau 30 tusuk," pintaku, mas Abhi melotot ketika mendengar pesananku.
"Gak terlalu banyak, abiskah?" tanya mas Abhi.
"Mmm, tentu saja, aku suka sekali sate maranggi aku mampu memakan 10-20 tusuk sendiri, apalagi sekarang mas Abhi juga ikut makan. Nek tambah lagi 20 tusuk yah dan juga ketan bakarnya 20 sambal oncomnya banyakin yah."
__ADS_1
"Untuk pak Tarno, kan sekarang pak Tarno pasti cape mengantar kita berkeliling jalan-jalan. Anggap saja ini Honeymoon kita setelah menikah, hi hi hi." Gelakku, mas Abhi hanya tersenyum melihat tingkahku.
Saat nenek itu sedang menyiapkan marangginya, akupun permisi sebentar untuk membeli nasi uduk.
"Pak, nasi uduknya 3 yah," bapak itu mengangguk lalu memberikannya kepadaku kemudian mas Abhi membayarnya.
"Pak nih buat bapak." Setelah selesai aku memberikan sebagian marangginyang yang aku pesan kepada pak Tarno.
"Terima kasih banyak," pak Tarno menunduk tanda berterima kasih.
Setelah selesai makan, aku diantar mas Abhi pergi berjalan ke dalam pasar mencari sayuran.
"Pak Tarno tunggu dulu disini saya sama mas Abhi ke dalam dulu, yah." Pak Tarno pun mengangguk tanda mengerti.
Aku dan mas Abhi menyusuri pasar tradisional, membeli keperluan yang di perlukan di dapur nanti. Kebutuhan bumbu seperti bawang merah, putih, daun bawang, cabe besar, rawit, tomat dan yang lainnya. Aku juga membeli daging sapi giling, sayur mayur dan juga ayam, tak lupa ikan asin maklum orang sunda pasti suka ikan asin.
"Untuk apa itu?" mas Abhi menunjuk ke daging sapi yang sedang du giling.
"Buat bakso," kataku.
"Memangnya kamu bisa bikin bakso?" tanya nya.
"Hmm, belum tahu saja siapa aku," dengan sombongnya aku berkata, mas Abhi hanya tersenyum melihat tingkahku.
"Hah, akhirnya sampai juga,"
"Dasar ibu-ibu genit!" pekikku.
"Kenapa Han kok marah-marah," tanya mas Abhi.
"Memangnya mas gak lihat dari tadi ibu yang jualan ayam itu liatin mas Abhi Tees?" mas Abhi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Alah mas kan pura-pura saja itu,.mentang- mentang masih muda!" aku kesal karena ibu itu sok SKSD alias sok kenal sok dekat, dia terus menanyai mas Abhi berusaha mengajak ngobrol mas Abhi tapi untungnya mas Abhi tidak menghiraukannya.
"Loh, bener mas gak merhatiin lingkungan sekitar, lagi pula mas juga gak menghiraukannnyankan?" Memang benar bahkan mas Abhi tidak ingin mekihat ke arah wanita itu, tapi aku masih dengan kesal memonyongkan bibirku dan melipat kedua tanganku.
__ADS_1
"Ya sudah maaf, mas salah. Lain kali kita belanja di market saja,ya?" mas Abhi coba menenangkan. Entah kenapa sejak itu aku sering sekali cemburuan dengan mas Abhi apalagi si Sinta yang bekerja di kantor, genitnya minta ampun.
Aku mengangguk dengan usulan dari mas Abhi, akhirnya kami pergi dan kembali ke apartemen untuk menyimpannya di kulkas. Setelah itu kami pun kembali pergi jalan-jalan berdua, pak Tarno tak di ajak di suruh istirahat karena pak tarno pasti lelah. Dia di suruh menjaga apartemen kami.